MasukLara, 19 ans, élève brillante mais tourmentée, n’avait jamais imaginé qu’un simple cours d’anglais bouleverserait sa vie. Andrew Miller, professeur charismatique, froid et mystérieux, fait tourner toutes les têtes… mais c’est à elle qu’il propose un jeu dangereux, brûlant et interdit. Ce qui ne devait être qu’un arrangement purement physique devient vite incontrôlable. Entre jalousie, secrets, attirance magnétique et tensions sexuelles, les limites s'effacent. Mais jusqu'où Lara est-elle prête à aller pour un homme qu’elle ne devrait jamais désirer ? Et que cache réellement Monsieur le Professeur derrière son regard glacial ? Interdit, passionné, dangereux… Monsieur le Professeur est une histoire où les règles explosent, où les cœurs se consument, et où l’amour pourrait être la plus grande erreur de tous.
Lihat lebih banyak"Kamu sepertinya menikmati sekali mandi keringat begitu, Rus."
Suara itu terdengar lembut, namun dampaknya seketika membuat tubuh Rusdi membeku. Gunting rumput di tangannya berhenti di udara. Lantas, saat ia berbalik badan, napasnya langsung tercekat karena melihat siapa yang berdiri di sana.
Ternyata itu Nyonya Vivian.
Akan tetapi, penampilannya hari ini sungguh berbeda. Tidak ada pakaian kantor yang kaku atau gaun pesta mewah seperti biasanya.
Kali ini, hanya sehelai lingerie sutra merah menyala yang membungkus tubuhnya. Kain itu begitu tipis dan licin, jatuh pas mengikuti lekuk pinggang serta pinggulnya.
Apalagi ketika angin siang menyingkap sedikit ujung gaun itu, paha putih mulusnya terpampang nyata.
Pemandangan itu sangat kontras dengan tangan Rusdi yang kotor dan kasar akibat tanah kebun.
Rusdi merasa darahnya langsung naik ke wajah, lalu turun ke bawah perut dalam satu tarikan panas yang menyakitkan. Ia buru-buru menunduk, mencoba menghindari pemandangan itu, tapi sudah terlambat.
Bayangan tubuh Nyonya Vivian sudah muncul di matanya, lekuk pinggul yang menggoda, dada yang naik-turun pelan mengikuti napasnya, dan bibir merah yang sedikit terbuka seolah menanti sesuatu.
Pria normal jelas akan terbuai dengan kemolekan tubuh Vivian. Tak terkecuali Rusdi!
“Nyo—Nyonya?” suaranya serak, hampir pecah. Ia tahu diri, siapa dirinya saat ini.
"Kenapa menunduk?" Vivian terkekeh pelan seraya melangkah maju tanpa alas kaki. "Saya justru suka pemandangannya."
Sekarang jarak mereka hanya beberapa senti. Rusdi bisa melihat renda tipis lingerie itu dari dekat, bisa merasakan panas tubuhnya.
Vivian mengangkat tangan kanannya perlahan. Jari-jarinya hampir menyentuh dada Rusdi, tapi berhenti tepat sebelum bersentuhan.
Seketika itu juga, wangi parfum mahal menyerbu hidung Rusdi, mengalahkan bau tanah maupun sengatan matahari.
Rusdi menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi tanpa izin. Di bawah sana ada sesuatu yang mengeras di antara pahanya yang ia coba abaikan dengan sekuat tenaga.
Ini Nyonya Vivian, majikannya. Wanita yang selama dua tahun ini ia panggil “Nyonya” dengan hormat, yang selalu berdiri jauh di balik tembok es sikapnya yang dingin.
Para pekerja menyebutnya “Putri Salju” karena kulitnya yang pucat dan tatapannya yang tak pernah benar-benar melihat mereka.
Namun siang ini, tembok es itu seakan runtuh sepenuhnya.
"Gerah sekali ya ..." bisik Vivian.
Rusdi merasakan telunjuk Nyonya Vivian yang lentik menyentuh lengan. Sentuhan itu ringan, tapi langsung membuat otot lengannya mengeras.
Kulit Nyonya Vivian dingin dan halus, sangat kontras dengan lengan Rusdi yang kasar dan panas oleh matahari siang.
“I-iya, Nyonya. Panas,” jawab Rusdi. Suaranya parau, tenggorokannya mendadak kering.
Vivian tersenyum kecil, matanya menyipit sedikit. Ia menarik jarinya perlahan, seolah enggan melepaskan kontak itu.
Rusdi tak bisa menahan diri, pandangannya jatuh ke lingerie sutra merah yang menempel ketat di tubuh Nyonya Vivian.
Kain tipis itu mengikuti lekuk pinggang ramping dan pinggul lebar. Belahan dada dalam terlihat jelas saat ia condong sedikit ke depan.
Vivian tersenyum nakal, lalu menarik jarinya perlahan seolah enggan melepaskan kontak fisik itu.
Jantung Rusdi berdegup kencang, terasa sampai di telinga. Panas naik cepat dari dada ke bawah perut. Celana jeans terasa semakin sesak. Ia buru-buru menunduk, tapi gambar lekuk tubuh itu sudah terpaku di kepalanya.
“Apa Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Nyonya?” tanya Rusdi, suaranya masih serak.
Ia mencoba mengalihkan pikiran ke Tuan Adrian, suami Nyonya Vivian yang selalu sibuk, sering pergi ke luar kota atau luar negeri, meninggalkan rumah besar ini sepi.
“Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini, Rus,” jawab Nyonya Vivian dengan nada rendah dan tenang.
Nyonya Vivian melangkah setengah langkah lebih dekat. Wangi parfumnya langsung menyerbu hidung Rusdi, manis dan kuat, menutupi bau tanah dan keringat di tubuhnya sendiri.
“Oh iya, di kamar saya AC-nya dingin, Rus. Tapi rasanya sepi,” bisiknya lagi, suara penuh undangan. “Saya butuh laki-laki kuat untuk pijat kaki saya. Bukan laki-laki yang sibuk rapat terus. Kamu mau temani saya?”
Jantung Rusdi berdegup gila-gilaan. Walaupun logikanya berteriak bahaya karena takut dipecat jika tidak menuruti majikannya, tapi sebagai pria normal tubuhnya bereaksi lain. Godaan wanita yang biasanya angkuh ini terlalu sulit untuk ditolak.
Vivian tidak menunggu jawaban. Ia lantas berbalik dan membiarkan pinggulnya bergoyang lembut di balik sutra merah itu saat berjalan masuk.
"Jangan kelamaan mikir. Pintunya nggak saya kunci," serunya tanpa menoleh.
Rusdi menatap punggung itu menghilang di balik pintu kaca.
Akhirnya, persetan dengan logika. Ia meletakkan guntingnya di rumput, kemudian melangkah cepat menyusul majikannya. Begitu masuk, udara dingin AC langsung menyergap kulitnya yang basah.
Ketika sampai di dalam kamar utama, lampu temaram menciptakan suasana intim. Vivian sudah duduk di tepi ranjang besar dengan kaki disilangkan anggun sehingga gaunnya tersingkap tinggi.
"Masuk, Rus," perintahnya pelan saat melihat Rusdi di ambang pintu. "Dan kunci pintunya, karena saya nggak mau diganggu."
Rusdi menelan ludah sambil memutar kunci pintu dengan tangan gemetar.
Klik.
Suara itu terdengar sangat keras di telinganya.
Ia berbalik, tetapi langkahnya terhenti sebab ia sadar kondisinya saat melihat cermin besar di sudut kamar. Celana jeans penuh debu tanah, tangan kasar berlumur kotoran.
Di tepi ranjang, Vivian duduk. Ia menyilangkan kakinya, membuat paha mulusnya semakin terlihat. Bahkan, renda dari celana dalamnya sudah mengintip keluar.
Itu jelas membuat Rusdi semakin bergetar. Kapan lagi ia bisa melihat Nyonya-nya dengan pemandangan seperti ini?!
"Maaf, Nyonya," ucap Rusdi ragu sambil mencoba memalingkan wajahnya. "Saya ... saya kotor dan banyak keringat. Nanti seprai Nyonya kotor."
Mendengar itu, Vivian tertawa kecil dengan suara serak yang menggoda. Ia bangkit, lalu berjalan mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.
Wangi tubuh Vivian bercampur dengan aroma keringat Rusdi, menciptakan sensasi yang memabukkan.
"Siapa bilang kamu harus naik ke kasur sekarang?" bisiknya tepat di depan wajah Rusdi seraya mendongak, menatap matanya dengan lapar.
Vivian meletakkan tangannya di dada Rusdi yang bidang. "Lagi pula, saya bosan dengan segala sesuatu yang terlalu bersih dan rapi seperti suami saya. Saya suka kalau kamu kotor begini. Terlihat lebih... jantan."
Je reste un moment immobile, le souffle court. Son regard me transperce, sincère, presque suppliant. Je sens mes défenses s’effondrer lentement. Je ferme les yeux quelques secondes… puis je murmure : — D’accord, Andrew. Je reprends, cette fois plus clairement : — Oui, j’accepte. Un sourire traverse son visage, et dans ses yeux, je lis un mélange de soulagement et d’amour. Il se relève pour m’attirer contre lui. Son étreinte est chaude, protectrice. — Je te promets que cette fois, je ne laisserai rien ni personne nous séparer, dit-il à voix basse, tout près de mon oreille. Je ferme les yeux, laissant mes mains se perdre contre sa chemise. Une larme coule malgré moi… entre la peur, le soulagement, et l’amour que je ressens encore pour lui. Au fond de moi, je veux y croire. Je veux croire que cette fois… il tiendra parole. Il se penche vers moi et m’embrasse langoureusement. — Je ne serai qu’à toi, Lara, murmure-t-il contre mes lèvres. Je lui souris, glissant mes mains
Je me lève malgré moi, mes jambes tremblent. Je descends les escaliers et, d’une main hésitante, je déverrouille la porte. Andrew est là, debout sous la neige, le visage tendu. Ses cheveux sont humides, ses yeux brillent d’une inquiétude que je n’ai jamais vue auparavant. — Pourquoi tu ne réponds pas à mes appels ? dit-il, presque suppliante. Je reste muette, mes lèvres tremblent, mes yeux l’évitent. — Lara… murmure-t-il, avançant d’un pas. — Ne me ferme pas la porte. Pas ce soir. Mon cœur bat à tout rompre. Je voudrais lui crier ma colère, lui jeter mes doutes en plein visage, mais mes mots restent coincés dans ma gorge. Je finis par m’écarter, lui laissant le passage. Il entre, ses yeux cherchant désespérément les miens. Le silence entre nous est plus violent que n’importe quelle dispute. Andrew allume les lumières et balaie un moment la pièce du regard. Il prend mes mains dans les siennes. — Lara, j’aurais dû te dire toute la vérité, mais j’avais peur de ta réaction. Je
Je reste figée un moment, incapable de répondre. Le froid me transperce, mais ma fierté me retient encore. Henri attend, le regard rivé sur moi, ses mains toujours posées sur mes épaules comme pour me protéger du vent.— Lara… monte, murmure-t-il d’une voix plus douce. Je baisse les yeux, mordillant ma lèvre. Finalement, je cède.— D’accord.Il esquisse un sourire soulagé et m’ouvre la portière côté passager. Je m’installe, serrant son manteau contre moi. L’air chaud de la voiture me réchauffe immédiatement, contrastant avec mes doigts encore glacés.Henri démarre lentement, jetant de temps en temps des coups d’œil dans ma direction.— Tu veux m’expliquer ce que tu faisais dehors, dans cet état ? souffle-t-il.Je détourne le regard vers la vitre, observant les lumières de la ville filer.— Ce n’est rien.Il insiste, la voix plus ferme :— Rien ? Tu tremblais, tu avais l’air… perdue. Lara, qu’est-ce qui s’est passé ?Je secoue la tête, coupant court.— Je t’ai déjà dit que je ne voula
Mais personne n’a la réponse. Le doute s’installe dans mon esprit, et je sens la tension monter.Je prends une grande inspiration, puis me lève de la table. Mon cœur bat à toute vitesse, mais j’essaie de garder une allure calme. J’avance vers Andrew, qui discute encore avec deux collègues.— Andrew… je peux te parler ? dis-je d’une voix posée.Il tourne la tête vers moi, surpris par mon ton sérieux.— Bien sûr, répond-il immédiatement avant de s’excuser auprès des autres. Vas-y.Je l’entraîne légèrement à l’écart, là où la musique est un peu moins forte. Mon regard se plante dans le sien.— J’ai entendu quelque chose tout à l’heure à table, commençais-je, essayant de garder mon calme. On m’a dit… qu’il y a deux ans, tu devais te marier. Et que tu as annulé au dernier moment.Un léger voile passe dans ses yeux. Son sourire disparaît, remplacé par une expression fermée.— Qui t’a dit ça ? demande-t-il, la voix plus grave.— Peu importe, Andrew. Ce que je veux, c’est la vérité. Tu me doi


















Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
Ulasan-ulasan