Se connecterTelepon di meja resepsionis benar-benar berdering. Ajeng refleks meluruskan punggungnya, melirik Tante Sarah dan Marni yang berdiri tak jauh darinya.Marni mengangguk kecil.“Angkat aja. Santai.”Ajeng menarik napas, lalu mengangkat gagang telepon.“Butik Selaras, selamat siang,” ucapnya, suaranya masih terdengar hati-hati.Dari seberang terdengar suara perempuan bertanya soal jam buka dan koleksi baru. Ajeng mendengarkan sambil menekan ujung pulpen ke buku catatan. Sesekali ia melirik ke arah Marni, memastikan jawabannya benar.“Iya, Bu. Untuk koleksi baru rencananya minggu depan sudah mulai display,” kata Ajeng, sedikit lebih percaya diri. “Jam buka dari jam sepuluh pagi sampai delapan malam.”Telepon ditutup. Ajeng meletakkan gagangnya pelan, lalu menghembuskan napas lega.Tante Sarah tersenyum.“Nah, gitu. Udah mulai kebiasa, kan?”Ajeng mengangguk sambil tersenyum tipis. “Deg-degannya masih ada sih, Tan.”“Itu wajar,” sahut Marni sambil menarik kursi dan duduk sebentar di depan m
Keesokan harinya, pagi Luki kembali tenggelam dalam rutinitas kantor. Sejak tiba, ia langsung membantu Gladys menyiapkan beberapa dokumen. Tangannya sigap memilah map, sesekali berdiri mendekat ke meja Gladys untuk menjelaskan poin-poin kecil yang perlu direvisi. Gladys beberapa kali mengangguk sambil mengetik, sementara Luki berdiri di sampingnya, tubuhnya sedikit condong ke depan, fokus. Menjelang siang, setelah satu meeting singkat selesai, suasana ruangan agak lengang. Gladys menyandarkan punggung ke kursinya, melepas kacamata, lalu menoleh ke Luki yang masih berdiri sambil merapikan berkas. “Luk,” panggil Gladys. “Kamu kelihatan banyak pikiran dari tadi. kenapa?” Luki mengangkat kepala, tersenyum tipis. “Enggak, Dys. Aman.” Ia ragu sebentar, lalu melangkah lebih dekat ke meja Gladys. Nada suaranya diturunkan. “Oh iya, Dys. Siang ini aku izin keluar sebentar ya.” Gladys menatapnya. “Mau kemana?” Luki mengusap tengkuknya, gestur kecil yang jarang ia lakukan. “Aku ad
Oke, gue revisi dan rapihin, nadanya tetap intim tapi implisit, tanpa detail vulgar. Fokus ke gerak tubuh, jeda, dan dialog yang ngalir. Setelah suasana kembali tenang, Luki dan Tante Sarah duduk berdampingan di ruang tamu. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu sudut yang membuat ruangan terasa hangat. Tante Sarah bangkit lebih dulu, berjalan ke dapur tanpa berkata apa-apa. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan dua cangkir kopi. Salah satunya dia letakkan di meja kecil di depan Luki, gerakannya pelan, nyaris hati-hati. “Luk,” katanya sambil duduk kembali, menyandarkan punggung ke sofa, “gimana kabar papah? Sehat?” Dia melirik Luki sekilas. “Tante denger kamu abis besuk kemarinan.” Luki meraih cangkir kopi itu, menghembuskan napas pelan sebelum menyeruput sedikit. “Baik, Tan. Alhamdulillah sehat.” Tante Sarah mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. Tangannya merapikan rambut sendiri, seolah menutupi rasa lega. “Syukurlah.” Ada jeda sebentar
Luki baru saja menyelesaikan makan malamnya. Piring di depannya sudah hampir kosong, sendoknya berhenti di tangan saat layar ponsel di samping piring menyala. Nama Tante Sarah muncul, membuat Luki menegakkan punggungnya sedikit. Tante Sarah: “Luk, ke rumah tante malam ini ya. Tante kangen.” Luki membaca pesan itu dua kali, lalu menarik napas pendek sebelum mengetik balasan. Ia menyandarkan punggung ke kursi makan, ekspresinya melembut. Luki: “Iya Tan, nanti Luki ke sana.” Ia meletakkan ponsel di meja dan menoleh ke arah dapur. Mbak Ajeng masih berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk membilas piring, suara air mengalir pelan. “Mbak,” panggil Luki sambil berdiri, mengambil gelas dan membawanya ke dapur. Ajeng menoleh sebentar, alisnya terangkat. “Iya, Luk?” “Tante Sarah ngajak aku ke rumahnya malam ini,” kata Luki, bersandar di ambang pintu dapur. “Katanya mau ngopi, sekalian ngobrol katanya.” Ajeng mematikan keran, mengeringkan tangannya dengan lap dapur, lalu mena
Luki baru saja menyelesaikan makan malamnya. Piring di depannya sudah hampir kosong, sendoknya berhenti di tangan saat layar ponsel di samping piring menyala. Nama Tante Sarah muncul, membuat Luki menegakkan punggungnya sedikit. Tante Sarah: “Luk, ke rumah tante malam ini ya. Tante kangen.” Luki membaca pesan itu dua kali, lalu menarik napas pendek sebelum mengetik balasan. Ia menyandarkan punggung ke kursi makan, ekspresinya melembut. Luki: “Iya Tan, nanti Luki ke sana.” Ia meletakkan ponsel di meja dan menoleh ke arah dapur. Mbak Ajeng masih berdiri di depan wastafel, tangannya sibuk membilas piring, suara air mengalir pelan. “Mbak,” panggil Luki sambil berdiri, mengambil gelas dan membawanya ke dapur. Ajeng menoleh sebentar, alisnya terangkat. “Iya, Luk?” “Tante Sarah ngajak aku ke rumahnya malam ini,” kata Luki, bersandar di ambang pintu dapur. “Katanya mau ngopi, sekalian ngobrol katanya.” Ajeng mematikan keran, mengeringkan tangannya dengan lap dapur, lalu mena
Lampu temaram restoran hotel bintang lima itu memantul di permukaan meja marmer. Gunawan duduk dengan punggung tegak, jasnya rapi, satu tangan menopang gelas wine yang belum ia sentuh sejak lima menit lalu. Di seberangnya, pria paruh baya bernama Peter menyandarkan punggung ke kursi, dua bodyguard berdiri agak jauh di belakang mereka, berpura-pura tak peduli. Peter mengangkat gelasnya perlahan, memutar cairan merah di dalamnya sebelum menyesap sedikit. “Jadi gimana, Bung Gunawan,” katanya datar, tatapannya tak lepas dari wajah Gunawan, “apa kita bisa percaya begitu saja sama Maria?” Gunawan menghembuskan napas lewat hidung, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia baru menyesap wine setelah itu, seolah memberi jeda sebelum menjawab. “Tenang saja, Bung Peter,” ucapnya santai, suaranya rendah tapi mantap, “semua sudah saya atur.” Ia menaruh kembali gelasnya, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja. “Kalau Maria berani macam-macam,” lanjutnya, nada suaranya tetap ringan, “kita pu