Short
بعد سنين، تلاشى الدخان وتبددت الغيوم

بعد سنين، تلاشى الدخان وتبددت الغيوم

Oleh:  البرتقال المُرّTamat
Bahasa: Arab
goodnovel4goodnovel
10Bab
1.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

في يوم تسجيل الزواج، وضعتُ شهادة الزواج بجانب عشاء على ضوء الشموع، وكنت أستعد لالتقاط صورة ونشرها على حسابي في مواقع التواصل الاجتماعي. لكن جواد اللواتي فتح فمه فجأة وقال: "الشهادة مزيفة." تجمدت في مكاني. في اللحظة نفسها، جاء صوت امرأة مذعورة من هاتفه. "ماذا؟ لماذا أخبرتها بهذه السرعة؟ لقد أفسدت المتعة!" عبس جواد بلامبالاة، وقال: "لقد كانت غبية لدرجة أنها لم تكتشف الأمر حتى الآن، فما الحاجة إلى الاستمرار في التمثيل؟" "اعتبري الرهان منتهياً لصالحك، هل يكفيك هذا يا آنسة يارا؟" لكن المنشور كان قد نُشر بالفعل. الجميع كانوا يهنئونني أنا وجواد، ويقولون إن علاقتنا التي استمرت سبع سنوات وصلت أخيراً إلى نهايتها السعيدة. أما المرأة الموجودة على الطرف الآخر من الهاتف، فقد تركت تعليقاً مليئاً بالسخرية، تماماً كما فعلت عندما كانت تتنمر عليّ في الماضي: "أوه، لقد حصلتما على شهادة الزواج بالفعل؟ متى ستقيمان حفل الزفاف وتدعواننا للاحتفال معكما؟ ههه." فكرت قليلاً، ثم كتبت لها: "الأسبوع القادم."

Lihat lebih banyak

Bab 1

الفصل 1

“Argh!”

Mataku yang baru saja terpejam kini melebar mendengar suara orang menjerit. Diiringi suara isak tangis.

Kutajamkan pendengaran untuk memastikan apakah itu benar adanya atau hanya halusinasi saja. Sebenarnya ini kali kedua aku mendengar itu dan posisinya sama, saat Mas Nata tidak ada di rumah.

Jantungku bertalu dengan riuh. Kulirik jam yang menunjukkan pukul dua belas malam lebih lima menit. Aku semakin merasa takut apalagi Mas Nata tidak ada di rumah, tadi dia bilang harus lembur makanya tidak pulang.

Sudah bukan hal aneh karena pekerjaannya begitu menumpuk, dia seorang CEO di perusahaan milik orang tuanya. Lelaki gila kerja yang tidak akan pernah mau beranjak dari tempat duduknya sebelum pekerjaan selesai.

“Arghhh!”

Jeritan selanjutnya kudengar begitu pilu. Aku sampai merinding dibuatnya. Apa orang itu disiksa sampai menjerit begitu? Tapi dari mana suara itu berasal?

Dengan cepat aku turun dari ranjang dan berlari menuju kamar putriku. Setidaknya di sana aku tidak sendiri.

“Mama kenapa?”

Yuna sampai terbangun karena aku yang grasak-grusuk naik ke tempat tidurnya.

“Papa belum pulang jadi Mama mau tidur di sini.”

Dia mengangguk lalu kembali memejamkan mata.

Aku tidak akan pernah bisa tidur jika tetap berada di kamarku sendiri karena suara itu terdengar sangat jelas. Aku bukan orang yang percaya hantu.

[Mas, kapan pulang?]

Saking takutnya aku langsung mengirimkan pesan pada Mas Nata.

Padahal sebelum-sebelumnya tidak ada hal janggal seperti ini. Aku sudah tujuh tahun menghuni rumah ini semenjak menikah dengan Mas Nata.

[Mas di jalan, sayang. Sebentar lagi sampai.]

Sekarang baru aku bisa bernapas lega setelah membaca pesan darinya.

Mataku tidak bisa terpejam kembali karena mendengar suara itu, padahal tadi sudah ngantuk berat. Perutku bermasalah sampai harus bolak-balik ke toilet dan sekarang baru merasa lebih baik.

Aku, Hana Latifa Zahwa seorang ibu rumah tangga yang awalnya hanya staf biasa di kantor Mas Nata dan menjelma menjadi istrinya, sebuah takdir yang tidak pernah kusangka.

Sekarang Yuna sudah mulai masuk taman kanak-kanak. Dia sangat aktif dan ceria. Kehadirannya menambah kebahagiaan rumah tanggaku dan Mas Nata.

Deru suara mobil terdengar membuatku gegas keluar untuk melihat karena sebenarnya itu sudah pasti Mas Nata.

“Mas.”

Aku langsung berhambur memeluknya saat dia membuka pintu.

“Kenapa?”

“Aku tadi dengar suara aneh, Mas. Tidak mungkin rumah ini ada hantunya ‘kan.”

“Ngaco! Mana ada hantu.”

“Aku serius, Mas. Ini sudah kedua kali aku mendengar, sebelum ini juga pernah.”

“Dimana kamu dengar? Coba aku mau tahu.”

“Saat aku pindah ke kamar Yuna, suara itu tidak terdengar lagi. Tapi saat di kamar kita suaranya sangat jelas. Sepertinya kita harus adakan pengajian deh, Mas. Takutnya memang ada yang menunggui di sini, aku takut.”

Mas Nata terkekeh, dia mengacak rambutku pelan, “Ada-ada saja. Ya sudah, ayo tidur lagi. Aku mau mandi dulu.”

“Mas, ini tengah malam loh. Masa mau mandi.”

“Gerah, sayang. Biar tidurnya nyenyak juga.”

Kulihat juga Mas Nata tampak berkeringat padahal aku malah merasa dingin.

Dia meraih tanganku, bergandengan tangan menuju kamar. Ini yang kusuka darinya, sikapnya selalu manis tidak peduli dalam kondisi apapun. Keberuntunganku sudah terpakai dengan dinikahi lelaki ini.

“Kamu tidur duluan, aku mau mandi,” katanya sambil menangg*lkan kemeja yang dikenakan.

Mas Nata masuk ke dalam kamar mandi sedangkan aku duduk di tepi ranjang menunggunya.

Tidak ada lagi suara-suara itu kudengar. Apa mungkin hanya halusinasi saja? Entahlah. Aku enggan memikirkannya.

Di sebelah kanan kamarku itu ruang kerja Mas Nata sedangkan sebelah kiri ada kamar Yuna. Apa mungkin suaranya dari sana ya? Dari ruang kerja Mas Nata.

Aku jarang masuk ke sana juga soalnya.

Hanya beberapa menit Mas Nata mandi, dia keluar dengan rambutnya yang basah.

“Apa gerah banget sampai kamu keramas, Mas?”

“Hm.” Dia menyahut sambil mengeringkan rambutnya.

“Mas, lain kali kurangi begadangnya. Kamu juga harus pikirkan soal kesehatan kamu.”

“Iya, besok aku tidak akan lembur. Pekerjaan sudah selesai hari ini.”

Dia melangkah menuju walk in closet dan kembali dengan baju tidur yang sudah melekat di tubuhnya yang kekar.

“Besok emang libur, Mas. Jelas tidak akan lembur.”

“Berarti waktu kita untuk jalan-jalan ya?”

“Tentu saja. Kalau sampai kamu ingkar seperti minggu kemarin, Yuna pasti akan merajuk.”

***

Sambil menunggu Mas Nata dan Yuna yang sedang joging, aku membuatkan cemilan untuk mereka. Di rumah ini memang art hanya datang untuk membersihkan rumah saja, sedangkan soal memasak aku sendiri yang turun tangan. Aku ingin berperan dengan ibu rumah tangga yang sesungguhnya.

“Mas Nata tadi belum membawa keluar bekas kopinya.”

Aku berbalik menuju ruang kerjanya. Tadi dia memeriksa dokumen di sini sebelum pergi bersama Yuna.

Di atas meja kerja tidak ada cangkir kopi padahal belum dikembalikan ke dapur. Pandanganku menyapu ruangan dan mendapati cangkir itu ada di lemari tepat di samping patung kuda kecil. Mas Nata memang suka sekali barang-barang antik.

Kemarin Yuna melihat patung ini dan ingin memainkannya tadi tidak belum kesampaian karena kubilang harus izin dulu pada papanya. Sepertinya Mas Nata juga tidak akan keberatan kalau aku mengambilnya, nanti kubersihkan dulu karena tampak sedikit berdebu padahal sering dibersihkan.

“Loh, kok susah?” Aku mencoba menarik patung itu dari tempatnya namun yang terjadi malah lemari yang bergeser menampakkan tangga menuju sebuah ruang.

Aku bahkan baru tahu Mas Nata memiliki ruangan bawah tanah. Ternyata patung itu kunci untuk membukanya. Jadi penasaran apa isi di dalam ruang bawah tanah, pasti keren seperti yang ada di dalam film.

Bergeser untuk melihat isinya dan sedikit berjongkok.

Mataku terbelalak, refleks aku membekap mulut melihat isi ruang bawah tanah itu.

Hatiku mencelos mendapati pakaian d*lam wanita teronggok di sana bersebelahan dengan sebuah ikat pinggang yang kukenali itu milik Mas Nata. Aku bahkan belum pernah menginjakkan kaki di ruangan itu.

Apa yang sebenarnya dia lakukan di belakangku? Apa ada hubungannya dengan suara rintihan yang tadi malam kudengar?

“Sayang, kamu dimana?”

Deg!

Itu suara Mas Nata

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya
Tidak ada komentar
10 Bab
الفصل 1
"حسنًا، سأغلق الآن. أريد أن أحتفل بذكرى الارتباط."من الواضح أن يارا تفاجأت للحظة من الطرف الآخر للهاتف."ألن تنفصل عنها؟""لماذا أنفصل؟ وإذا انفصلتُ، هل سأكون معكِ؟ أنت ستتزوجين قريباً، أليس كذلك؟"أنهى جواد المكالمة بلا اهتمام، ثم فتح علبة الكعكة، ووضعها بعناية في منتصف الطاولة تمامًا.وكأنه لم يحدث أي شيء، أشعل الشموع ومدّ يده نحوي."سمر، تعالي بسرعة وتمني أمنية."شعرتُ بأن جسدي كله قد تجمد، نظرت مباشرة إلى عينيه.كانت نظرته هادئةً بلا أي اضطراب، خاليةً تمامًا من أي شعور بالذنب."هل كان خداعك لي طوال هذه السنوات ممتعًا بالنسبة لك؟"تلاشت ابتسامة جواد تدريجيًا."لا أظن أن ما فعلته يُسمّى خداعًا. حتى لو اضطررتُ للاعتراف بأنني خسرتُ أمامها، أردتُ أن أصارحك بالأمر، لأنني لم أشأ أن تتأثر علاقتنا. أليس هذا أكبر دليل على أنني أقدّركِ؟""ثم إننا لم نوثّق زواجنا رسميًا بعد، ولم أقل يومًا إنني سأتركك."كانت أمامي كعكة تتوسطها سبع شموع.تذكّرني بوضوح.كان ذلك العام السابع من الخداع. لم يكن دفءُ لهب الشموع كافيًا.لكنه أيقظ الحكة في الندوب القديمة في ذراعي التي التأمت منذ زمن.لم يخطر ببالي حت
Baca selengkapnya
الفصل 2
"سمر، هل يمكنكِ أن تكفّي عن العناد بسبب هذه الأمور التافهة؟"غادر جواد وهو يصفق الباب بقوة.جلست بهدوء على الأريكة، ونزعت الضماد الذي لففته حول يدي عدة مرات، ثم وضعتُ لاصقًا طبيًا جديدًا.كان يجب أن ألاحظ منذ زمن.نحن ببساطة لسنا من عالم واحد.حتى إنه لا يعرف كيف يضمّد جرحًا بطريقة صحيحة.ذلك الذي كان يعجز حتى عن إعداد المعكرونة سريعة التحضير بطعم مقبول.لكنه هذه المرة تولى أمر عشاء على ضوء الشموع بنفسه، وقال إنه سيعد لي أكلاً شهياً.ضلوع بقر مستوردة من أستراليا، وزجاجة نبيذ فاخر معتّق من أحد المزارع الخاصة، وكعكة مخصصة من طاهٍ خاص.من الواضح أن كل شيء تم طلبه من مطعم فاخر.حتى الشموع كانت شموعًا عطرية من علامةٍ فاخرة.بمجرّد أن قلب جواد الطاولة بلامبالاة، تحطّمت على الأرض أشياءٌ تساوي راتب ثلاثة أشهر بالنسبة إليّ، وأصبحت بلا قيمة.تناثرت بقع النبيذ الأحمر على الحائط.كنتُ حتى أفكر في أن صاحب العقار لن يعيد لي قيمة التأمين بعد الآن.في وسط هذا الخراب، بدأتُ أجمع أغراضي.أرسلتُ رسالة إلى صاحب العقار لطلب فسخ العقد.رنّ الهاتف.ما إن أرسلتُ الرسالة حتى سمعتُ صوت الإشعار من خلفي.التفتُّ.
Baca selengkapnya
الفصل 3
ركبتُ سيارة الأجرة، وأعطيت السائق العنوان.التفتَ السائق إلى الخلف، نظر إلى حالة الحي المهترئة، ثم غمز بعينيه وقال بابتسامة ذات معنى:"يا آنسة، واضح أن نقلة السكن عندكِ كبيرة جدًا."ألقيتُ نظرة هادئة خارج النافذة، ثم عدتُ إلى الرد على الرسائل."نعم، أنتقل لأعدّ للزفاف مع خطيبي.""مبروك إذن! من يسكن هنا لا بد أنه من كبار رجال الأعمال."لم أردّ، بل عدّلتُ بعض التفاصيل في برنامج حفل الزفاف الذي أرسله مقدّم مراسم الزفاف.ثم أعدتُ توجيهه.بعد أن نزلتُ من السيارة، جررتُ حقيبة السفر ومشيتُ قليلاً داخل حي الفيلات.فجأة، سمعتُ صوت كبح حادّ وصياحاً غاضباً خلفي."سمر، كيف عرفتِ أنني أعيش هنا؟ هل حقّقتِ في أمري؟"عندما رأى حقيبة سفري، ازداد غضبه أكثر."جرأتِ وجئتِ مباشرة إلى والديّ لتطالبيهم بالاعتراف بكِ؟ هل جننتِ؟"هززتُ رأسي بهدوء."لا، أنا لم أكن أعرف أنك تعيش هنا."تجهم وجهه تدريجياً، ثم أمسك بمعصمي بقوة وسحبني نحو السيارة."عمّ تتظاهرين؟ لماذا لم ألاحظ من قبل أنكِ بهذه الدرجة من الدهاء؟"لم أستطع إلا أن أبتسم بسخرية."قبل قليل قلتَ إنني غبية، والآن تقول إنني ماكرة، جواد، في نظرك، أيُّ شخصٍ أ
Baca selengkapnya
الفصل 4
لم أكن أعرف عنوان منزل جواد، فاضطررتُ إلى البحث في حساب يارا على وسائل التواصل الاجتماعي.كانت جميلة ومن عائلة ثرية، ولديها الكثير من المتابعين على حسابها في موقع التواصل الاجتماعي.هي التي لا تنشر سوى محتوى المكياج.اليوم فجأة نشرت فيديو شكوى."يا أحبابي، والله أموت من الضحك! لم أرَ في حياتي امرأة ترمي نفسها على رجل بهذا الشكل!""لو لم أدفع المال لأحصل على موعد حفل زفافها وبرنامجه، لما صدّق صديق طفولتي أنها بدأت التحضير للزفاف لوحدها!"مجرد النظر إلى وجهها طويلًا كان يثير الغثيان في نفسي.بحثتُ بسرعة عن المواقع التي نشرتها سابقاً.أخيراً وجدتُ جواد في النادي الذي اعتادا ارتياده.ما إن خرجت من المصعد حتى سمعت ضحك يارا المتكلّف."في ذلك اليوم، سأبثّ حفل الزفاف مباشرة. جواد، لا تذهب، دعها تنتظر حتى تفضح نفسها أمام الجميع."جاء صوت فتاة أخرى مترددة وضعيف."ألا يبدو هذا سيئاً يا يارا؟ حسابكِ لديه مئات الآلاف من المتابعين، إذا فعلتِ ذلك حقاً، كيف ستواجه الناس بعد ذلك؟""جواد، ألا تتحدث معها مرة أخرى؟ أعطها تعويضاً أو شيئاً من هذا القبيل."صمت جواد للحظة، ثم ضحك بسخرية."افعلوا كما قالت يارا
Baca selengkapnya
الفصل 5
لم يكن الفيديو الذي ظهر ذلك الألبوم الرومانسي الذي أُعدّ بعناية لاستعراض ذكريات الحب.بل كانت يارا ترتدي الزي المدرسي للمرحلة الثانوية، ووجهها يعبر عن الغطرسة."سمر، أنتِ أبلغتِ المعلمة أنني أتنمر عليكِ، أليس كذلك؟ كيف يمكن ذلك؟ كنا نمزح بين زملاء الدراسة لا أكثر!"كانت الفتاة ذات الخدود المغطاة بالكدمات محاصرةً بجانب حوض الغسيل في الحمام.عيناها كانتا لامعتين وعنيدتين.عندما لامس مكواة الشعر يدها، عضّت على شفتها بقوة دون أن تصدر صوتاً.سال الدم من طرف شفتها.ارتجف قلب جواد.سمر.لم يكن يعلم أبداً أن سمر تعرضت لعنف بهذا القدر الشديد في المرحلة الثانوية.كان يتذكر فقط استيقاظها من الكوابيس.ظهرها النحيل يرتجف في راحة يده.أسنانها تصطك، ولا تستطيع النطق بكلمة واحدة.لم يسألها يوماً عما حدث فعلاً.كان فقط يعيد ويكرر كلمات التعزية التي لم يكن يصدقها هو نفسه:"الخطأ ليس منكِ، بل منهنّ."لكن من كان يقصده في الحقيقة هي يارا، صديقة طفولته.بالطبع لم يكن يصدق أن يارا يمكن أن تفعل شيئاً شريراً كهذا مع فتاة في نفس المدرسة وبنفس العمر.لكن، هل كانت الحقيقة كما تخيّلها؟حوّل جواد نظره نحو يارا.كان
Baca selengkapnya
الفصل 6
في فترة الثانوية كان جواد في الخارج.كان يعرف فقط من كلام يارا أن هناك طالبة كانت تستهدفها في كل فرصة.اسمها سمر.خلال برنامج التبادل الدولي، رأى تلك الفتاة لأول مرة.كانت تتحدث بطلاقة، وتطرح آراءها بثقة واتزان.أعجب بها كثيراً، وبعد انتهاء الخطاب أراد الاقتراب منها ليتبادل معها بضع كلمات.لكنه رأى بطاقة الاسم المعلقة عليها.هذه هي الفتاة التي قيل له إنها سلبت مقعد يارا.وعندما عرفت يارا بالأمر، رتبت بحماس."جواد، اذهب وواعدها! كانت دائمًا تتصرف وكأنها لا يمكن أن تعترف بخطئها أبدًا، ومجرد النظر إليها يثير الاشمئزاز.""أريد أن أرى ماذا سيحدث لها عندما تعرف أنها خدعت من قبل صديقها. هل ستظل بهذا الهدوء؟""ما رأيك أن نتراهن؟"دون أن يدري، قبل الرهان.لكن مع مرور السنين وتطور علاقتهما، أصبح قلبه أثقل فأثقل.كان الرهان كقنبلة موقوتة، كان العدّ التنازلي يمضي ثانيةً بعد ثانية.لكنه لا يعرف متى ستنفجر.لأنه لم يكن يعرف متى ستخبر يارا سمر بالحقيقة.حتى أعدت له يارا شهادتي زواج مزيفتين.وكما في السابق، أرادت أن ترى سمر وهي تتعرض للسخرية.شعر وكأن الحمل الثقيل على قلبه على وشك أن يُرفع.تساءل في ن
Baca selengkapnya
الفصل 7
انتهى حفل الزفاف، وأتنقّل بين الضيوف لأحيّيهم وأقدّم لهم نخب الزفاف.فجأة جاءت ضجة من الباب.رفعتُ رأسي، فرأيت جواد يركل أحد العاملين الذي حاول منعه.في اللحظة التي التقى فيها نظرنا، تجمد في مكانه."سمر، ألا تفسرين لي؟ خدعتني وجعلتني أحضر إلى حفل زفافكِ، وتسخرين مني كأنني أحمق!""أخبريني، كيف تزوجتِ منه؟"وضعتُ الكأس ببطء، وقفت أمامه بهدوء، وقلتُ:"ليس خداعا تماما، ألم أخبرك دائما أنني سأتزوج الأسبوع القادم؟""لكنك لم تصدّقني."تراجع خطوة إلى الخلف، مصدوماً، وكان جسده كله يرتجف."كنتُ أظن...""ماذا تظن؟ تظن أنني لا بد أن أتزوجك أنت؟""جواد، أنت رأيت الندوب على جسدي، لكنك اخترت أن تتجاهلها، واستمررت في مساعدة يارا.""وبالإضافة إلى ذلك، كنتم تخططون أصلاً لإذلالي أمام الجميع في حفل زفافي. الآن الذي أُذل هو هي، ما الأمر؟ هل تشعر بالألم عليها؟"كاد يتوسل إليّ أن أتوقف عن الكلام."لا...ليس كذلك...""لو كنتُ أعرف الحقيقة، لما ساعدتُها على ظلمك.""كنتُ أنوي الزواج منكِ فعلاً، صدقيني يا سمر. في هذه الأيام، كنتُ متردداً قليلاً، لكن النتيجة جيدة، لقد أدركتُ حقيقة مشاعري بوضوح.""أعرف أن هذا الحفل
Baca selengkapnya
الفصل 8
في ذلك الوقت، كنت قد بدأت عملي في الشركة الجديدة للتو، ودخلت المستشفى بسبب حساسية حبوب اللقاح.لم أكن أعرف أن هناك شخصين جاءا لزيارتي ذلك اليوم.بجانب جواد، كان هناك شخص آخر.شاكر.كان قائدي في الشركة الجديدة.هذه كانت أول شركة ناجحة أسسها بعد أن انفصل عن عائلة اللواتي وبدأ مشروعه الخاص.عندما أغمي عليّ في المكتب بسبب الحساسية، كان هو يعقد اجتماعاً في غرفة الاجتماعات.عندما سأل عما حدث، رأى ابن أخيه يحملني متجهاً إلى المستشفى.كان يعرف شخصية جواد جيداً.كان لا يفارق فتاة عائلة اليامي.بل إنه ذات مرة سرق أسرار الشركة لمساعدة شركة عائلة اليامي في الحصول على تمويل.رجل يفعل كل شيء من أجل يارا.والآن، صديقته التي يحملها في حضنه هي شخص آخر.بدافع الفضول، وبعض الحذر أيضاً.تبعنا إلى المستشفى ليرى ما هي قصتي بالضبط.لكنه سمع بالصدفة حوار جواد ويارا.كان بإمكانه أن يتجاهل الأمر، لكن قدراتي في العمل كانت مميزة جداً.لم يرد أن أنهار نفسياً فجأة عندما أعرف الحقيقة ويتأثر عملي.حاول تحذيري بطرق مباشرة وغير مباشرة، لكنني لم أصدقه.في ذلك الوقت، كنتُ أعيش مع جواد أسعد أيام علاقتنا.كنتُ أرى أنه كرئي
Baca selengkapnya
الفصل 9
بعد انتهاء شهر العسل.قبّلني شاكر قبل أن يخرج إلى العمل، وبقيتُ في المنزل أنتظر خبير ترميم تجميلي الذي حجزتُ موعداً معه.رن جرس الباب، فذهبتُ لأفتح.لكن من وقف أمام الباب لم يكن الطبيب، بل جواد.دفعني بقوة إلى الحائط، ونهش عنقي بنهم مجنون، يحاول محو آثار القبلات التي تركها شاكر.صفعتُه بقوة، وارتجف جسدي كله."جواد، أنتَ مجنون!"وكانت عيناه محمرّتَين ومحتقنتين بالدم."هل أنتِ سعيدة معه؟ ها؟ هل تعلمين أنني أفكر فيك كل يوم، إلى درجة أنني لا أستطيع النوم!"حاولت أن أدفعه بعيداً، لكنه كان أقوى مني.فأطبقتُ أسناني بعنف على كتفه."جواد، عندما كنت تلعب بي، كان يجب أن تتوقع أن تنتهي علاقتنا بهذه الطريقة."ضرب بقبضته الحائط بلا قوة.رفع جواد كمه، فظهرت على ذراعه عشرات الندوب الطولية الناتجة عن الحروق."انظري، هناك 31 ندبة. أخيراً أستطيع أن أشعر بما عانيته سابقاً. هل تسامحينني الآن؟"حولتُ وجهي بعيداً، غير راغبة في النظر إليه."أنا متزوجة، جواد.""سمعتُ أن يارا تم فسخ خطوبتها، والآن يمكنك أخيراً أن تكون معها."بسبب الفضيحة الإعلامية التي تعرضت لها يارا، انهار سعر سهم شركة خطيبها.وأصبحت سيئة السم
Baca selengkapnya
الفصل 10
أخيراً وصلت الطبيبة إلى الفيلا.بعد أن حقنتني بالمخدّر.كنتُ أشعر بالدوار أمام عينيّ، لكنني رأيتُها فجأة تخلع الكمامة.كشفت عن وجهٍ مشوَّهٍ بالغضب والجنون.كانت يارا تمسك بالمشرط ورفعته استعدادًا لطعني في عنقي."سمر، لم تتوقعي هذا، أليس كذلك؟ حتى لو دمّرت حياتي، لن أدعك تعيشين بسعادة!"أردتُ أن أصرخ طلباً للنجدة، لكن لم تكن لديّ أي قوة.في اللحظة التي هوت فيها السكين، قفز رجل أمامي.اخترقت السكين جسده بقوة.سقطت دماؤه الدافئة عليّ، لكنه رفع يده بلطف ومسح الدم عن زاوية شفتيه.همس لي بصوت رقيق وحنون:"سمر، لو كان بإمكاننا العودة إلى الماضي حقاً...""لكنتُ أنقذتك عندما كانوا يؤذونك، مثلما أفعل الآن."شحب وجهي، وناديته بصوت أجش:"جواد..."كانت يارا لا تزال كالمجنونة، ترفع المشرط مرة بعد مرة، تحاول طعني.لحسن الحظ وصل الحراس في الوقت المناسب، وسحبوها خارجاً.بعد قليل وصلت سيارات الشرطة والإسعاف معاً.كان جواد ملقى على الأرض، يفتح جفنيه الثقيلين بصعوبة."سمر، أنا آسف...أتمنى لكِ حياة سعيدة في ما تبقى من عمرك."شعرتُ وكأن سكيناً طعن قلبي بقوة.حتى عندما عاد شاكر واحتضنني برفق ليواسيني، بقيتُ
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status