ُتِلتُ على يد ألفاي، وعُدتُ من أجل الانتقام

ُتِلتُ على يد ألفاي، وعُدتُ من أجل الانتقام

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-11
โดย:  Bree Seraอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Arab
goodnovel18goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
138บท
2.2Kviews
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

«لقد عهدت إليه بشعبي، ولقبي، وحياتي. وقد دمر هذه الأمور الثلاثة جميعها.» **** كافحت لوسيا إيفرتون أكثر من أي شخص آخر لحماية ما تبقى من البشرية. وعندما عرض «ألفا» ريس مادوكس السلام بين البشر والذئاب، اعتقدت أن تصبح «لونا» له هو السبيل الوحيد لإنقاذ شعبها من الانقراض. كانت مخطئة. لم يكن ريس يريد السلام أبدًا. كان يريد السيطرة. لم تكن لوسيا سوى رمز لجعل البشرية تركع طواعية أمامه. عندما تكشف الحقيقة، يدمر ريس المدينة الجنوبية، ويقتل كل من تحب، ويقتلها باستخدام المركب المضاد للذئاب الذي صنعته هي لمحاربة الذئاب. لكن لوسيا تستيقظ. لقد عادت إلى البداية، إلى اليوم الذي سبق أن ساءت فيه الأمور، وهذه المرة تعرف بالضبط من هو ريس مادوكس وما هو قادر على فعله بالضبط. هذه المرة، عندما يأتي إليها بعرض التحالف، ستكون مستعدة له. لديها خطة، ومركب كيميائي قادر على إخضاع أقوى الذئاب البشرية، وانتقامًا كان يحترق داخلها منذ لحظة وفاتها. ما لم تخطط له هو رايان. بارد، حذر، ويحمل جراحه الخاصة، رايان هو الشخص الوحيد الذي قد يكون قادرًا بالفعل على مساعدتها في كسب هذه الحرب. لكن كلما اقتربا من بعضهما، كلما ظهرت المزيد من الأسرار، وبعضها خطير بما يكفي لتدمير كل ما عملت من أجله. لقد قُتلت مرة واحدة لثقتها بالرجل الخطأ. لا يمكنها تحمل ارتكاب نفس الخطأ مرتين.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

الفصل الأول

"Mawar ... apa yang kau lakukan? Apa kau ... kau ingin memperkosaku??"

Suara Robert meledak keras, bergema di kamar yang semula sunyi. Getaran kemarahan dan kepanikan menyertai setiap kata.

Pasalnya, dia baru saja membuka mata, dan mendapati pemandangan yang diluar nalar.

Tubuhnya tergeletak di atas kasur yang empuk, namun kedua tangan dan kaki terikat erat dengan tali tebal yang mengelilingi besi ranjang. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Dia benar-benar telanjang bulat.

Udara dingin kamar seketika menyentuh kulitnya, membuat dia merinding tapi bukan karena dingin, melainkan karena ketakutan yang membanjiri dada.

Di depannya, Mawar berdiri. Lingerie merah menyala yang dikenakannya tipis seperti sutra, menyoroti bentuk tubuhnya yang meliuk-liuk. Jari-jarinya yang halus meluncur ke gagang pintu, dan menguncinya. Cahaya lampu meja di sudut kamar memantul pada rambutnya yang hitam mengkilap, membuat wajahnya tampak samar dan penuh misteri.

"Malam ini Pak Bos nggak bisa lagi jual mahal pada saya, karena malam ini Pak Bos akan menjadi milik saya seutuhnya!"

Dengan gerakan yang penuh kepercayaan diri, Mawar melangkah mendekat, lalu naik ke atas ranjang.

Robert menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya, menetes perlahan ke atas kasur. Tubuhnya mulai berontak, namun tali itu terasa terlalu kuat, tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk lepas.

Baru kali ini dalam hidupnya, dia merasakan ketakutan yang luar biasa, bahkan lebih dari saat menghadapi bahaya terbesar. Dan yang paling mengagetkannya, ketakutan itu datang dari Mawar—pembantu barunya sendiri.

"Jangan gila kau, Mawar! Aku bisa membu*nuhmu!" ancam Robert dengan nada tinggi, matanya melotot penuh emosi.

"Hahaha ...." Bukannya takut, Mawar justru tertawa. Dia menganggap kata-kata ancaman Robert terlalu lucu, seolah omong kosong yang tidak berarti.

Perlahan-lahan, dia naik ke atas tubuh Robert. Jari-jarinya yang hangat mulai meraba-raba dada bidangnya, melintasi tulang rusuknya, lalu meluncur perlahan ke bawah ke perutnya yang kotak-kotak.

Tubuh Robert seketika berdesir. Sentuhan lembut Mawar seolah menyala di kulitnya, membuat panas tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuh. Dan tanpa dia sadari, miliknya pun ikut bereaksi—suatu hal yang membuat dia malu dan marah pada dirinya sendiri.

"Waahhh... apa-apaan ini? Pak Bos sudah terangsang saja, padahal saya belum ngapa-ngapain." Mawar langsung menyentuh ujung milik Robert. Pria itu terkejut, matanya membulat, dan napasnya terhenti sejenak. "Mau pemanasan dulu apa langsung nih, Pak?"

***

Sebelumnya....

"Kamu nggak usah masuk kerja hari ini, Mama akan mengajakmu pergi."

Langkah kaki Mawar yang baru saja hendak melangkah keluar rumah seketika terhenti tepat di ambang pintu.

Suara itu—suara Aulia, mamanya. Dia datang dari arah dapur. Mawar menoleh, dahinya langsung berkerut rapat. Rasa curiga dan kekhawatiran seketika menyelimuti hatinya, mengingat apa yang pernah terjadi dalam seminggu yang lalu.

"Ke mana? Kalau Mama memintaku jual diri lagi, aku nggak mau!" tegasnya.

Mawar tentu saja masih ingat. Seminggu yang lalu, karena desakan ekonomi yang terus menghimpit, Aulia sempat memintanya umtuk jual diri. Dengan nada yang penuh keputusasaan dia mengatakan bahwa gaji Mawar yang bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran dirasa tidak cukup.

Uang yang didapatkannya seolah hanya lewat sebentar, belum cukup untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, membayar hutang, apalagi untuk membayar sewa rumah kontrakan yang sudah beberapa bulan tertunggak.

Tekanan hidup yang terus membebani membuat mamanya sampai berpikir ke arah itu, meski saat itu juga Mawar sudah menolaknya dengan tegas.

"Tenang saja, Sayang. Ini bukan soal jual diri."

Melihat raut wajah anaknya yang tegang, Aulia segera melangkah mendekat. Senyumnya melebar, seolah berusaha meyakinkan, lalu tangannya terulur menyentuh lembut pundak kanan Mawar, berusaha menenangkan.

"Tapi kamu harus melakukan misi. Kalau misimu berhasil... bukan cuma kamu yang akan jadi kaya, tapi Mama juga," lanjutnya dengan nada yang terdengar penuh harapan.

Mata Mawar menyipit, rasa curiganya makin bertambah. "Mama mau melakukan pesugihan?" tebaknya dengan nada ragu, mengingat cerita-cerita yang pernah dia dengar tentang cara-cara instan yang berbahaya dan salah.

"Ih bukan, Sayang!" Aulia segera menggeleng cepat, wajahnya terlihat sedikit terkejut mendengar dugaan itu. "Mana mungkin Mama lakukan hal yang tidak baik begitu."

"Terus apa?" tanya Mawar, nadanya masih belum sepenuhnya percaya. Dia ingin mendengar penjelasan yang jelas, agar hatinya bisa sedikit tenang.

"Pokoknya kamu ikut saja, nanti kamu tau sendiri. Tapi sebelum itu ... kamu ganti baju dulu dan dandan yang cantik. Jangan sampai orang yang mau ketemu sama kita kecewa."

"Tapi Mama nggak aneh-aneh, kan? Pokoknya aku nggak mau kalau ...."

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Aulia sudah lebih dulu menyambar tangannya, lalu menariknya masuk kembali ke dalam kamar. Gerakannya cepat dan antusias, seolah sudah tidak sabar untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Wanita itu segera berjalan menuju lemari pakaian milik Mawar, lalu membukanya lebar-lebar. Tangannya bergerak menyusuri setiap helai baju yang tergantung di sana, memilih satu per satu seolah sedang mencari sesuatu yang layak dipakai.

Namun setelah dicari-cari dengan teliti, ekspresinya perlahan berubah menjadi kecewa. Ternyata, tidak ada satu pun baju yang terlihat bagus atau layak untuk dipakai ke acara penting. Semuanya terlihat sudah usang, ada yang warnanya sudah pudar, ada yang bahannya sudah menipis, bahkan sebagian besar adalah pakaian bekas yang dulunya dipakai oleh Aulia sendiri.

Sejak dulu Mawar memang tidak pernah membeli pakaian baru, karena uang yang dimilikinya selalu dipakai untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

"Astaga... bajumu ternyata gembel semua, Sayang. Nggak ada yang bagus," ujar Aulia sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku 'kan nggak pernah beli baju, Ma."

Aulia pun berjalan menuju meja rias sang anak. "Kalau begitu kita pergi ke salon saja, buat sewa baju dan sekalian make up di sana. Alat make up-mu juga nggak lengkap, hanya bedak bayi dan lipstik doang, mana cukup untuk membuatmu terlihat menawan."

Mawar diam sejenak, lalu menatap mamanya dengan tatapan yang penuh tanya dan ragu. "Sebenarnya kita mau ke mana sih, Ma? Kenapa sampai harus pakai baju bagus dan make up segala?"

"Kita akan bertemu orang penting."

"Siapa?"

"Udah ayok ikut saja!"

Tanpa memberi kesempatan bagi Mawar untuk bertanya lebih lanjut, Aulia langsung menggenggam tangan anaknya erat-erat, lalu menariknya berjalan cepat keluar dari rumah kontrakan yang sempit itu.

Tak lama kemudian, sebuah angkot lewat di depan mereka, dan Aulia segera mengangkat tangan memberi isyarat agar kendaraan itu berhenti. Begitu pintu terbuka, dia segera menuntun Mawar masuk ke dalamnya.

"Memangnya Mama ada uang, buat bawa aku ke salon? Kita makan aja setiap hari cuma pakai mie instan, sekalinya makan ayam ya ayam tiren."

Baginya, apa yang dikatakan mamanya saat ini terdengar seperti lelucon belaka—sesuatu yang mustahil terjadi, mengingat kondisi keuangan mereka yang serba kekurangan.

"Ada kok, Sayang."

"Uang dari mana, Ma?" tanyanya pelan, suaranya terdengar penuh kekhawatiran. "Mama jangan ngutang terus sama orang ah, hutang kita 'kan udah banyak banget. Malu jadi omongan tetangga terus, Ma."

Aulia hanya tersenyum mendengar kekhawatiran anaknya, lalu menepuk tangan Mawar dengan lembut seolah sedang menenangkan anak kecil.

"Nggak apa-apa. Ini 'kan buat modal, Sayang," jawabnya dengan nada yang penuh keyakinan. "Asalkan misimu berhasil ... bukan cuma hutang ini, semua hutang kita saja pasti lunas, bahkan lebih dari itu. Kita akan jadi orang kaya, hidup enak, nggak perlu lagi memikirkan uang makan atau sewa rumah."

Mawar hanya terdiam. Dia sama sekali tak mengerti misi apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh mamanya, namun untuk saat ini dia memilih untuk tidak menolak lebih jauh. Ada rasa penasaran yang tumbuh di hatinya, membuatnya ingin melihat ke mana sebenarnya mamanya akan membawanya, dan apa yang sebenarnya akan terjadi selanjutnya.

***

selamat datang yang baru singgah, jangan lupa tinggalkan jejak komen, kasih ulasan bintang 5 dan gem-nya, biar Author semangat update.... ☺️☺️

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ
ไม่มีความคิดเห็น
138
الفصل الأول
من وجهة نظر لوسياسقط الكوب من يدي وتحطم على الأرض.عند سماع الصوت، قفز ريس وكاثي بعيدًا عن بعضهما، وما زالا يلهثان من قبلةهما.«ما هذا بحق الجحيم، ريس؟!» صرختُ، وأنا أقتحم الغرفة.«لوسيا، انتظري»، قال وهو يربط حزام بنطاله. «أستطيع أن أشرح...»"تشرح ماذا؟! لقد رأيت للتو قضيبك بين يدي امرأة أخرى." التفتت إلى كاثي. "وأنت أيتها العاهرة–"صفعتي على خدي قطعت كلامي قبل أن أتمكن من إنهاء جملتي. تعثرت إلى الوراء، ورفعت يدي إلى وجهي."هل... هل صفعتني للتو؟"اشتعلت عينا ريس الكهرمانيتان غضبًا. "كيف تجرؤين على وصف كاثرين بالفاسقة؟""أنا زوجتك، لونا الخاصة بك"، قلت، والذهول والألم الحاد يملآن صوتي. "وستصفعني بسبب امرأة أخرى؟"ضغط ريس على جسر أنفه.فجأة، أطلق ضحكة عالية أرسلت قشعريرة باردة تسري في عمودي الفقري."زوجة؟ لونا؟" قال بنبرة ساخرة. "أنتِ لا تصدقين ذلك حقاً، لوسيا.""عفواً؟"بدأ يتجول في الغرفة كقائد عرض. "كنتِ قائدةً أنتِ نفسكِ. الاتحادات الاستراتيجية هي الصيحة السائدة. ما هي الطريقة الأسرع للتسلل إلى صفوف البشر من الزواج بقائدة التمرد نفسها؟"التسلل إلى الصفوف؟ارتجفت يداي وأنا أحاول اس
อ่านเพิ่มเติม
الفصل الثاني
من وجهة نظر لوسيا«لوسي»، نادى أحدهم اسمي بنبرة غنائية.انغلق باب بقوة على الحائط. قفزت على قدمي، ممسكة بمسدسي.كان دانيال واقفًا، ينظر إليّ بعيون مفتوحة على مصراعيها.مهلاً لحظة. دانيال؟تدفقت ذكرياتي بسرعة شديدة لدرجة أن رأسي دار.ريس. كاثي. الانفجارات و... موتي.لقد مت، وانفجرت أعضائي الداخلية بسبب آثار حبة LP-124.وضعت يدي على وجهي. لم يكن هناك دم. ولا حتى ألم بسيط في جسدي."لوسيا؟""دانيال!" صرخت وأحضنته.دمعت عيناي عندما ملأت صورة المخبأ رقم 1 وهو ينهار وينقلب ذهني.أخي الصغير. ظننت أنني لن أراه مرة أخرى."لوسي، ما الذي يحدث؟" سأل دانيال لكنه احتضنني على أي حال.كانت يداه دافئتين، حقيقيتين لدرجة لا يمكن أن تكونا حلمًا. انحنيت للخلف ووضعت يدي على خديه."أنت على قيد الحياة،" همست.عبس دانيال. "أنا؟"تراجعت إلى الوراء، وعقلي يدور في محاولة لفهم ما يجري. جالت عيناي في أرجاء الغرفة، لتستقر أخيرًا على التقويم المعلق فوق مرآتي.فبراير من السنة الثالثة عشرة للانتفاضة.السنة الثالثة عشرة؟كان ذلك قبل خمس سنوات."ريس." التفتت إلى أخي. "هل تعرف ريس؟""من هو ريس؟" أمسك دانيال بي. "هل أنت بخ
อ่านเพิ่มเติม
الفصل الثالث
من وجهة نظر لوسيا«ظننت أنني سأموت»، قال دانيال وهو ينتحب على كتفي.رفعت عيني إلى السماء، وأنا أربت على كتفه. «هيا، هيا. لا بأس.»نظر بيتر إليّ من خلال مرآة الرؤية الخلفية مرة أخرى. «هل هناك مشكلة؟» سألته.«تبدين مختلفة، لوسيا.»لو لم يلاحظ بيتر ذلك، لربما شعرت بخيبة أمل."لماذا تقول ذلك؟""قبل بضعة أيام فقط، كنتِ متحمسة جدًا لفكرة إبرام تحالف مع المستذئبين. لو لم أكن أعرفك جيدًا، لظننت أنكِ ذهبتِ إلى هناك لشن حرب."ضحكت. "أليس شن الحرب هو الخيار الأفضل لنا في الوقت الحالي؟"كيف سأستعيد كل ما أخذه ريس وحيوانات قطيعه منا بخلاف ذلك؟شددت قبضتي على العقد الذي في يدي.على عكس المرة السابقة، لم يقترح ريس الزواج بل عقدًا تجاريًا. الحبوب مقابل العطر المضاد للذئبية.كان هذا ممكنًا فقط لأن البشر في حياتي السابقة لم يكن لديهم أي نفوذ حقيقي على الذئاب واضطروا لقبول رغبتهم في التحالف كخدمة.ليس بعد الآن."هل كان إعطاؤهم صيغة العطر فكرة جيدة حقًا؟ ماذا لو صنعوا مضادًا له؟"ابتسمت بسخرية. بحلول الوقت الذي يكتشفون فيه كيفية تحييد هذا، سأكون قد قمت بالفعل بتكرار النسخة المطورة."لا تقلق بشأن ذلك وثق
อ่านเพิ่มเติม
الفصل الرابع
من وجهة نظر لوسيااستيقظت وأنا أتلعثم بينما يُسكب الماء على وجهي.جلستُ، فوجدتُ نفسي أنظر إلى عينين غير مألوفتين بلون أخضر غابي. «من أنت بحق الجحيم؟» قلتُ بحدة.تشوه وجهه بامتعاض. «الشيء الصحيح الذي ينبغي أن تقوليه هو "شكرًا"».شددت على الحبال المربوطة حول جذعي. "يبدو أن الخاطفين هذه الأيام أصبحوا مثيرين للاهتمام. يتصرفون بأدب وكل شيء."سخر، واعتدل في جلسته. "هذه هي المرة الأخيرة التي أنقذ فيها حياة واحدة من أمثالك."أمثالك؟انتصبت الشعيرات في مؤخرة رقبتي. "ما أنت؟""شبح عيد الميلاد الماضي"، أجاب بسخرية، وهو يدحرج ما بدا وكأنه كرة من التراب بين كفيه. "افتح فمك.""ماذا تفعل بحق الجحيم؟" صرخت، وأنا أرتجف في مقعدي."افتح فمك اللعين"، قال، وهو يفتح فكي بالقوة. "قبل أن أمزقه."ثبّتني في مكاني وأجبرني على ابتلاع كرة التراب. ابتلعتها وبدأت على الفور أحاول أن أتقيأ."من أرسلك لقتلي؟" سألت، متسائلاً كم من الوقت سيستغرق السم ليبدأ مفعوله، وما إذا كنت سأتمكن من التفاوض على حريتي قبل ذلك. "كم دفعوا لك؟""أنت تبالغ في تقدير نفسك"، قال، وهو يمسح يديه بقطعة قماش.بعد أن تجول في الغرفة لبضع دقائق، أض
อ่านเพิ่มเติม
الفصل الخامس
من وجهة نظر لوسياارتطم ظهري بقوة بالأرض، ففقدت أنفاسي.صحتُ، وأجبرت جسدي على الجلوس.كانت كاثي تمسك بذراعها، وتدفع قدميها نحوي. وامتدت ندبة طويلة على وجهها، رافضة أن تلتئم من جراء انفجار القنبلة.«اقتلها»، همسَت كاثي، وعيناها ترمقانني بنظرات حادة كالخناجر."هل أنتِ متأكدة أن هذه فكرة جيدة؟ أعني، أنتِ أليفا، وقد طلبتِ يدي للتو."ترددت للحظة، ثم تصلبت عيناها. "قيدوها."قام الذئاب الذين لم يفقدوا وعيهم بسبب قنابل الدخان أو الرصاصات التي أطلقتها بتقييدي بحبل سميك.سخر أحدهم مني وهو يحشر كرة من الملابس في فمي.دست كاثي على راحة يدي بكعب حذائها. "كوني مطمئنة. سأستمتع بقتلك."تجولت عيناي حولي، محاولةً إيجاد مخرج.كانت ساوث سيتي لا تزال بعيدة، وكنت قد حذرت قومي صراحةً ألا يدخلوا هذه الغابات أبدًا.كان هو أملي الوحيد. نظرت في اتجاه منزله.هل هناك أي طريقة يمكنني من خلالها تنبيهه؟"إلى ماذا تنظرين؟" سألت كاثي، وهي تستدير في اتجاه نظري.وبينما كانت مشتتة، بصقت ما في فمي وقفزت إلى الأمام، وعضت الجرح الناتج عن الرصاصة في ساقها.صرخت، محاولة دفعي بعيداً، لكنني لم أتركها حتى قطعت قطعة من ساقها.ركل
อ่านเพิ่มเติม
الفصل السادس
من وجهة نظر لوسيا«أين هو؟» قلتُ، وأنا أجاهد للجلوس.أشار دانيال إلى خارج النافذة.كان رايان واقفًا على سطح المبنى المقابل للمستشفى. كانت عيناه حادتين وهو يطل على المدينة.وكأنه شعر بنظري، استدار ونظر إليّ مباشرة. استمر تواصلنا البصري لمدة دقيقة كاملة قبل أن يقرر النزول من السطح."من هو بحق الجحيم؟" قال دانيال بغيظ بينما دخل رايان إلى غرفتي بعد قليل."إنه أحد شركائنا الآن. كن لطيفًا،" وبختُه، وأشرتُ لدانيال أن يقترب.لم يتوقف دانيال عن التحديق في رايان حتى جلس بجانب سريري.رفع رايان حاجبه مستغربًا من تفاعلنا. "صديقك الحميم؟""أخي الصغير"، ابتسمت، وأمررت أصابعي عبر شعر دانيال. "ألا يبدو كطفل؟""توقفي عن الحديث عني وكأنني لست في الغرفة"، تذمر، لكنه انحنى نحو لمستي على أي حال.بعد أن فقدنا والديّنا قبل أربع سنوات، لم يكن لدينا سوى بعضنا البعض. لو أنني فكرت قليلاً أكثر في دانيال قبل توقيع ذلك العقد الغبي في حياتي السابقة."هل تعرفين من أين هو؟" سألني دانيال.عندما هززت كتفي، ضاقت عيناه وهو ينظر إلى رايان. "أعتقد أننا يجب أن نستجوبه. يبدو كجاسوس."نظرت إلى قوس رايان. إذا أردت فعلاً إخضاعه،
อ่านเพิ่มเติม
الفصل السابع
من وجهة نظر لوسياكنت أنا ومارا نلعب الورق عندما انفتحت الباب بضجة.«لوسيا! لوسيا!» صرخ بيتر، وهو ينظر حوله بذعر.«هنا»، صرختُ، داعية إياه إلى الغرفة الخاصة. «هل تريد مشروبًا؟»بدا بيتر وكأنه يريد أن يعلّقني رأسًا على عقب على حبل الغسيل. «مشروب؟ ألم... ألم يكن من المفترض أن تكوني في راحة سريرية؟! ""عفواً؟ أهذا كل ما لديك لتقوليه؟ لقد كنت أجن خلال الساعات الاثنتي عشرة الماضية وأنا أبحث عن...""بيتر."توقف. "آسف.""ما سبب حالة الطوارئ؟""ظهر رسول من الشرق عند حدودنا."تجمدت يدي في الهواء. هل حدث هذا في حياتي السابقة؟ لا أذكر ذلك.وقفت على قدمي، متكئة على عكازي. "ماذا يريد؟"التقط بيتر عكازي وحملني بين ذراعيه. "لقد جاء حاملاً راية بيضاء ورسالة من زعيمه.""ماذا تقول الرسالة؟""رفض تسليمها." شد بيتر فكيه. "لقد سأل عنك بالاسم."شددت شفتي في تفكير. لم أكن مشهورة بعد لدرجة أن الجنرال الشهير من الشرق يسأل عني بالاسم.ماذا يريد؟"خذني إليه"، قلت، وأومأ بيتر برأسه، وقادني إلى غرفة الاجتماعات.كان شاب مستلقٍ على أحد الأرائك، يلعب ألعاب الفيديو. وصل بيتر إلى المدخل وبلع ريقه.رفع الرجل رأسه، ولفّ
อ่านเพิ่มเติม
الفصل الثامن
من وجهة نظر لوسيا«لم ينزل كول لتناول العشاء مرة أخرى، أليس كذلك؟ أتساءل إن كان أسلوب تناول الطعام يختلف في الشرق.»كان رايان يهمهم، مقتنعاً بأن الدجاج أكثر إثارة للاهتمام بكثير من أي شيء أقوله.«رايان»، ناديته. لم يرد.وضعت أدوات الطعام جانباً. «رايان، لن أسألك عن كيفية معرفتك بكول.»عندها، ألقى عليّ نظرة خاطفة، والريبة تدور في عينيه. "لماذا لا؟""هل سيتسبب ذلك في مشاكل لي؟"صمت رايان لفترة أطول من اللازم قبل أن يعترف، "لا.""إذن، فهذا ليس مشكلتي،" قلت، عائدة إلى وجبتي بهدوء، وكأنني لا أموت من الفضول في داخلي.كنت قد انتهيت للتو من وجبتي عندما انفتحت الباب فجأة. وقف شخص من المختبر عند المدخل، وهو يلهث."آنسة إيفرتون، حدث اقتحام... في المختبر. اقتحم شخص ما المختبر."تجمدت عظامي. حبوبي.اندفعت خارج الغرفة وكنت على وشك الركض عندما بدأ الألم في ضلوعي."أبطئي،" قال رايان، وهو يساعدني على المشي.صرت أسناني بسبب بطء خطواتنا. كنت بحاجة ماسة إلى البدء في العمل على طريقة لتسريع شفاء البشر.كان جميع علماء المختبر يتجمعون أمام المختبر تحت الأرض، يتهامسون فيما بينهم. عندما رأوني، استقاموا، وصمتوا
อ่านเพิ่มเติม
الفصل التاسع
من وجهة نظر لوسياانهارت مارا بالبكاء عندما أنهت قصتها.«أقسم أنني لم أسرق شيئًا من المختبر. كان الباب مفتوحًا، فشعرت بالفضول لمعرفة مدى تقدم العمل على الحبوب. أنا آسفة حقًا، آنسة إيفرتون...»خلاصة الأمر أنها كانت تحاول الدخول لمقابلة شخص ما كان يتلاعب بمركبي. وقد أسقط الحبة قبل أن يتمكن من الفرار.تنهدت وأحضنتها، وأمسكت بشعرها برفق. "لا بأس. أنا أصدقك."دخلت ليزي إلى الزنزانة. "لوسيا، ربما تكون قد اختلقت ذلك."أثبتت الحبة التي في يدي عكس ذلك. لم يكن من الممكن بأي حال من الأحوال أن تتمكن طالبة جامعية في العشرين من عمرها من التغلب على تركيبتي في أقل من أربع وعشرين ساعة."ما أقوله لكِ لن يخرج من هذه الغرفة،" قلت.أشارت ليزي للفتيات الأخريات بالابتعاد ودخلت لتغلق الباب. ألقت نظرة منزعجة على رايان."دعيه يبقى،" أضفت.كنت بحاجة إلى يدين إضافيتين في هذه المشكلة."لقد نجحت في اختراع سم للذئاب البشرية. حبة واحدة يمكنها قتل أي ذئب، بغض النظر عن مدى ارتفاع رتبته،" بدأت.اتسعت عينا ليزي. "أه... هل يجب أن أسمع هذا؟""أنا أخبرك بهذا لأنني أثق بك... ولأنني أريدك أن تفهمي خطورة ما أطلبه منك. سيأتي ش
อ่านเพิ่มเติม
الفصل العاشر
من وجهة نظر لوسيا«شخص ما استخدم بطاقة هويته»، قلت.هز بيتر رأسه. «تحتاجين إلى بيانات بيومترية للدخول إلى المختبر، لوسيا.»«ربما سُرقت بصماته!»«وماذا عن شبكية عينه؟»صمتت، محاولة التفكير. لا بد أن هناك تفسيرًا ما لهذا الأمر.لن يدخل أخي مختبر أمي دون سبب، ناهيك عن إفساد تجربتي.بعد ساعة طويلة، وصل دانيال أخيرًا إلى المنزل."لوسيا، أنا أحبك"، قال وهو يدخل. "ليس لدي أي فكرة عما قلته للعميد ليسمح لي بمغادرة الحرم الجامعي قبل عطلة نهاية الأسبوع، لكن... ما الذي يحدث؟"حاولت أن ألين تعابير وجهي حتى لا أثير ذعره. "دانيال، اجلس. لدينا بعض الأسئلة نود طرحها عليك.""هل فعلت شيئًا خاطئًا؟" سأل بصوت خافت."هذا يعتمد،" قال رايان بوجه عديم التعبير."اخرس،" صرخت في رايان ثم التفتت إلى أخي. "هل ذهبت إلى المختبر في أي وقت أمس؟"اتسعت عينا دانيال. "كيف عرفتِ ذلك؟""إذن دخلت"، قال رايان بنبرة جعلتني أرغب في القفز نحوه وضربه بقوة حتى تسقط أسنانه.رفع بيتر يده نحو رايان. "هل أخذت شيئًا من المختبر؟"هز دانيال رأسه مرارًا. "لا. كنا في رحلة مدرسية. مررنا بالمختبر وأراد بعض الرفاق الدخول وسألوني...""وأدخلته
อ่านเพิ่มเติม
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status