เข้าสู่ระบบ«لقد عهدت إليه بشعبي، ولقبي، وحياتي. وقد دمر هذه الأمور الثلاثة جميعها.» **** كافحت لوسيا إيفرتون أكثر من أي شخص آخر لحماية ما تبقى من البشرية. وعندما عرض «ألفا» ريس مادوكس السلام بين البشر والذئاب، اعتقدت أن تصبح «لونا» له هو السبيل الوحيد لإنقاذ شعبها من الانقراض. كانت مخطئة. لم يكن ريس يريد السلام أبدًا. كان يريد السيطرة. لم تكن لوسيا سوى رمز لجعل البشرية تركع طواعية أمامه. عندما تكشف الحقيقة، يدمر ريس المدينة الجنوبية، ويقتل كل من تحب، ويقتلها باستخدام المركب المضاد للذئاب الذي صنعته هي لمحاربة الذئاب. لكن لوسيا تستيقظ. لقد عادت إلى البداية، إلى اليوم الذي سبق أن ساءت فيه الأمور، وهذه المرة تعرف بالضبط من هو ريس مادوكس وما هو قادر على فعله بالضبط. هذه المرة، عندما يأتي إليها بعرض التحالف، ستكون مستعدة له. لديها خطة، ومركب كيميائي قادر على إخضاع أقوى الذئاب البشرية، وانتقامًا كان يحترق داخلها منذ لحظة وفاتها. ما لم تخطط له هو رايان. بارد، حذر، ويحمل جراحه الخاصة، رايان هو الشخص الوحيد الذي قد يكون قادرًا بالفعل على مساعدتها في كسب هذه الحرب. لكن كلما اقتربا من بعضهما، كلما ظهرت المزيد من الأسرار، وبعضها خطير بما يكفي لتدمير كل ما عملت من أجله. لقد قُتلت مرة واحدة لثقتها بالرجل الخطأ. لا يمكنها تحمل ارتكاب نفس الخطأ مرتين.
ดูเพิ่มเติม"Mawar ... apa yang kau lakukan? Apa kau ... kau ingin memperkosaku??"
Suara Robert meledak keras, bergema di kamar yang semula sunyi. Getaran kemarahan dan kepanikan menyertai setiap kata. Pasalnya, dia baru saja membuka mata, dan mendapati pemandangan yang diluar nalar. Tubuhnya tergeletak di atas kasur yang empuk, namun kedua tangan dan kaki terikat erat dengan tali tebal yang mengelilingi besi ranjang. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Dia benar-benar telanjang bulat. Udara dingin kamar seketika menyentuh kulitnya, membuat dia merinding tapi bukan karena dingin, melainkan karena ketakutan yang membanjiri dada. Di depannya, Mawar berdiri. Lingerie merah menyala yang dikenakannya tipis seperti sutra, menyoroti bentuk tubuhnya yang meliuk-liuk. Jari-jarinya yang halus meluncur ke gagang pintu, dan menguncinya. Cahaya lampu meja di sudut kamar memantul pada rambutnya yang hitam mengkilap, membuat wajahnya tampak samar dan penuh misteri. "Malam ini Pak Bos nggak bisa lagi jual mahal pada saya, karena malam ini Pak Bos akan menjadi milik saya seutuhnya!" Dengan gerakan yang penuh kepercayaan diri, Mawar melangkah mendekat, lalu naik ke atas ranjang. Robert menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya, menetes perlahan ke atas kasur. Tubuhnya mulai berontak, namun tali itu terasa terlalu kuat, tidak memberi kesempatan sedikit pun untuk lepas. Baru kali ini dalam hidupnya, dia merasakan ketakutan yang luar biasa, bahkan lebih dari saat menghadapi bahaya terbesar. Dan yang paling mengagetkannya, ketakutan itu datang dari Mawar—pembantu barunya sendiri. "Jangan gila kau, Mawar! Aku bisa membu*nuhmu!" ancam Robert dengan nada tinggi, matanya melotot penuh emosi. "Hahaha ...." Bukannya takut, Mawar justru tertawa. Dia menganggap kata-kata ancaman Robert terlalu lucu, seolah omong kosong yang tidak berarti. Perlahan-lahan, dia naik ke atas tubuh Robert. Jari-jarinya yang hangat mulai meraba-raba dada bidangnya, melintasi tulang rusuknya, lalu meluncur perlahan ke bawah ke perutnya yang kotak-kotak. Tubuh Robert seketika berdesir. Sentuhan lembut Mawar seolah menyala di kulitnya, membuat panas tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuh. Dan tanpa dia sadari, miliknya pun ikut bereaksi—suatu hal yang membuat dia malu dan marah pada dirinya sendiri. "Waahhh... apa-apaan ini? Pak Bos sudah terangsang saja, padahal saya belum ngapa-ngapain." Mawar langsung menyentuh ujung milik Robert. Pria itu terkejut, matanya membulat, dan napasnya terhenti sejenak. "Mau pemanasan dulu apa langsung nih, Pak?" *** Sebelumnya.... "Kamu nggak usah masuk kerja hari ini, Mama akan mengajakmu pergi." Langkah kaki Mawar yang baru saja hendak melangkah keluar rumah seketika terhenti tepat di ambang pintu. Suara itu—suara Aulia, mamanya. Dia datang dari arah dapur. Mawar menoleh, dahinya langsung berkerut rapat. Rasa curiga dan kekhawatiran seketika menyelimuti hatinya, mengingat apa yang pernah terjadi dalam seminggu yang lalu. "Ke mana? Kalau Mama memintaku jual diri lagi, aku nggak mau!" tegasnya. Mawar tentu saja masih ingat. Seminggu yang lalu, karena desakan ekonomi yang terus menghimpit, Aulia sempat memintanya umtuk jual diri. Dengan nada yang penuh keputusasaan dia mengatakan bahwa gaji Mawar yang bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran dirasa tidak cukup. Uang yang didapatkannya seolah hanya lewat sebentar, belum cukup untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, membayar hutang, apalagi untuk membayar sewa rumah kontrakan yang sudah beberapa bulan tertunggak. Tekanan hidup yang terus membebani membuat mamanya sampai berpikir ke arah itu, meski saat itu juga Mawar sudah menolaknya dengan tegas. "Tenang saja, Sayang. Ini bukan soal jual diri." Melihat raut wajah anaknya yang tegang, Aulia segera melangkah mendekat. Senyumnya melebar, seolah berusaha meyakinkan, lalu tangannya terulur menyentuh lembut pundak kanan Mawar, berusaha menenangkan. "Tapi kamu harus melakukan misi. Kalau misimu berhasil... bukan cuma kamu yang akan jadi kaya, tapi Mama juga," lanjutnya dengan nada yang terdengar penuh harapan. Mata Mawar menyipit, rasa curiganya makin bertambah. "Mama mau melakukan pesugihan?" tebaknya dengan nada ragu, mengingat cerita-cerita yang pernah dia dengar tentang cara-cara instan yang berbahaya dan salah. "Ih bukan, Sayang!" Aulia segera menggeleng cepat, wajahnya terlihat sedikit terkejut mendengar dugaan itu. "Mana mungkin Mama lakukan hal yang tidak baik begitu." "Terus apa?" tanya Mawar, nadanya masih belum sepenuhnya percaya. Dia ingin mendengar penjelasan yang jelas, agar hatinya bisa sedikit tenang. "Pokoknya kamu ikut saja, nanti kamu tau sendiri. Tapi sebelum itu ... kamu ganti baju dulu dan dandan yang cantik. Jangan sampai orang yang mau ketemu sama kita kecewa." "Tapi Mama nggak aneh-aneh, kan? Pokoknya aku nggak mau kalau ...." Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Aulia sudah lebih dulu menyambar tangannya, lalu menariknya masuk kembali ke dalam kamar. Gerakannya cepat dan antusias, seolah sudah tidak sabar untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Wanita itu segera berjalan menuju lemari pakaian milik Mawar, lalu membukanya lebar-lebar. Tangannya bergerak menyusuri setiap helai baju yang tergantung di sana, memilih satu per satu seolah sedang mencari sesuatu yang layak dipakai. Namun setelah dicari-cari dengan teliti, ekspresinya perlahan berubah menjadi kecewa. Ternyata, tidak ada satu pun baju yang terlihat bagus atau layak untuk dipakai ke acara penting. Semuanya terlihat sudah usang, ada yang warnanya sudah pudar, ada yang bahannya sudah menipis, bahkan sebagian besar adalah pakaian bekas yang dulunya dipakai oleh Aulia sendiri. Sejak dulu Mawar memang tidak pernah membeli pakaian baru, karena uang yang dimilikinya selalu dipakai untuk kebutuhan yang lebih mendesak. "Astaga... bajumu ternyata gembel semua, Sayang. Nggak ada yang bagus," ujar Aulia sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku 'kan nggak pernah beli baju, Ma." Aulia pun berjalan menuju meja rias sang anak. "Kalau begitu kita pergi ke salon saja, buat sewa baju dan sekalian make up di sana. Alat make up-mu juga nggak lengkap, hanya bedak bayi dan lipstik doang, mana cukup untuk membuatmu terlihat menawan." Mawar diam sejenak, lalu menatap mamanya dengan tatapan yang penuh tanya dan ragu. "Sebenarnya kita mau ke mana sih, Ma? Kenapa sampai harus pakai baju bagus dan make up segala?" "Kita akan bertemu orang penting." "Siapa?" "Udah ayok ikut saja!" Tanpa memberi kesempatan bagi Mawar untuk bertanya lebih lanjut, Aulia langsung menggenggam tangan anaknya erat-erat, lalu menariknya berjalan cepat keluar dari rumah kontrakan yang sempit itu. Tak lama kemudian, sebuah angkot lewat di depan mereka, dan Aulia segera mengangkat tangan memberi isyarat agar kendaraan itu berhenti. Begitu pintu terbuka, dia segera menuntun Mawar masuk ke dalamnya. "Memangnya Mama ada uang, buat bawa aku ke salon? Kita makan aja setiap hari cuma pakai mie instan, sekalinya makan ayam ya ayam tiren." Baginya, apa yang dikatakan mamanya saat ini terdengar seperti lelucon belaka—sesuatu yang mustahil terjadi, mengingat kondisi keuangan mereka yang serba kekurangan. "Ada kok, Sayang." "Uang dari mana, Ma?" tanyanya pelan, suaranya terdengar penuh kekhawatiran. "Mama jangan ngutang terus sama orang ah, hutang kita 'kan udah banyak banget. Malu jadi omongan tetangga terus, Ma." Aulia hanya tersenyum mendengar kekhawatiran anaknya, lalu menepuk tangan Mawar dengan lembut seolah sedang menenangkan anak kecil. "Nggak apa-apa. Ini 'kan buat modal, Sayang," jawabnya dengan nada yang penuh keyakinan. "Asalkan misimu berhasil ... bukan cuma hutang ini, semua hutang kita saja pasti lunas, bahkan lebih dari itu. Kita akan jadi orang kaya, hidup enak, nggak perlu lagi memikirkan uang makan atau sewa rumah." Mawar hanya terdiam. Dia sama sekali tak mengerti misi apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh mamanya, namun untuk saat ini dia memilih untuk tidak menolak lebih jauh. Ada rasa penasaran yang tumbuh di hatinya, membuatnya ingin melihat ke mana sebenarnya mamanya akan membawanya, dan apa yang sebenarnya akan terjadi selanjutnya. *** selamat datang yang baru singgah, jangan lupa tinggalkan jejak komen, kasih ulasan bintang 5 dan gem-nya, biar Author semangat update.... ☺️☺️## وجهة نظر لوسياقدّم زعيم المجموعة نفسه باسم جيو. الآن، كنا نتحدث كلانا، وكان يعيد التفكير في هدفه للوصول إلى المدينة الجنوبية."أربع ساعات بالسيارة،" ظل يتمتم لنفسه. "وأنتما جئتما عبر الغابة. قد يستغرق ذلك أسبوعًا تقريبًا سيرًا على الأقدام، إن كنت متساهلًا في التقدير. ناهيك عن المخاطر."تقدمت امرأة وأمسكت بذراعه. "لكن إن استطعنا الوصول، سنُنهي هذه الحياة من التنقل ذهابًا وإيابًا لأنه ليس لدينا منزل." أمسكت يده وضغطتها على بطنها. "جيو، أرجوك.""هذا سبب إضافي يجعلني لا أريد المخاطرة بمثل هذه الرحلة. ماذا لو تأذيتِ يا أماري؟"اغرورقت عيناها لكنها هزّت رأسها. "أُفضّل أن أموت على أن أُنجب طفلنا في هذا العالم كما هو، حيث لا نعرف حتى أين سنُربّيه. جيو، أرجوك… جميعنا متعبون. إن استطعنا الوصول إلى المدينة الجنوبية…"التفتت نحوي وأمسكت يديّ. "سامحي زوجي. كان دائمًا يمتلك تلك الطبيعة المتشككة. في الواقع، كلنا هنا كنا أسرى لدى الذئاب حين كنا أطفالًا، واستطعنا الهرب—""أماري!" حاول جيو توبيخها على الكلام لكنها تجاهلته بهزّة كتف."ما الأمر يا جيو؟ أتريد أن تخبرني أن قائدة المدينة الجنوبية لم تسم
## وجهة نظر لوسياشعرت بيد ترسم دوائر صغيرة على فخذي، توقظني ببطء. كانت يدا ريان الاثنتان على المقود، ينظر أمامه إلى الطريق.من لمسني إذن؟ لا بد أنه هو. فلماذا يتظاهر الآن بغير ذلك؟"يجب أن نصل خلال ثلاثين دقيقة. لماذا لا تذهبين وتجهّزين نفسك؟" قال ريان، مشيرًا إليّ أن أنتقل إلى مؤخرة السيارة.أومأت. وبينما كنت أفكّ حزام الأمان، أبطأ قليلًا، محافظًا على ثبات السيارة بينما انتقلت إلى الخلف. بادئ ذي بدء، استغرقتني عشر دقائق كاملة لأستعيد توجهي وأُذكّر عقلي أين أنا وما الذي جئت لفعله بالضبط.أبقى ريان عينيه على الطريق طوال الوقت، وكنت ممتنة لذلك. بحدسه الشديد الملاحظة، لا شك أنه أدرك أن هناك شيئًا خاطئًا معي، لكنه لو لم يذكر الأمر، فهذا يعني أنه لم يظن أنه سيُلحق ضررًا بهذه المهمة.قد يكون ريان جريئًا، لكنه ليس انتحاريًا. لو كان وجودي سيُعرّض المهمة للخطر، لفضّل ألا نذهب على الإطلاق.أخيرًا، انتهيت وبقيت في المقعد الخلفي حتى توقفت السيارة. كان المكان الذي اختاره ريان لركن السيارة أشد ظلامًا من الليل في الخارج. بدا نفقًا متهدمًا كان يمتد سابقًا تحت الأرض.بمجرد أن نُخفي الرائحة حول السيار
## وجهة نظر لوسيابقي دانيال ملتصقًا بجانبي حتى غروب الشمس، يتبعني في أرجاء المنزل وأنا أستعد ببطء للرحيل.كنت بطريقة ما أكثر صفاءً في تفكيري من الأمس، أفكر في المتغيرات المحتملة التي قد تُعطّل المهمة، وأخطط لتعبئة أغراضي بشكل أمثل يتناسب مع مدة غيابنا.بينما اكتفى ريان بحقيبة بسيطة تحتوي على الأساسيات على الأرجح، وصلت حقيبتي إلى ما يقارب حجم حقيبة سفر صغيرة.حين نزلت الدرج، حدّق ريان في الصندوق ثم رفع نظره إليّ وكأنني أتصرف بسخافة. أبقيت نظرتي عليه لبضع ثوانٍ لأُفهمه أنني لا أمزح."حسنًا،" قال والتقط حقيبة السفر. "إن اضطررنا إلى الفرار، ماذا ستأخذين معك؟""حقيبة أساسياتي على ظهري. علاوة على ذلك، لا يوجد شيء مهم سأفتقده، لذا جهّزتها بتقنية التدمير الذاتي،" قلت وأنا أسير خلفه.إن كانت الذئاب تطاردنا، يمكنني رمي الحقيبة نحوها وتفجيرها لكسب مزيد من الوقت للفرار.أومأ ريان، مقيّمًا خياراتي بشكل عملي. أزعجني أنني شعرت بالسرور، بل وبقليل من الزهو لمديحه، لكنني على الأقل تمكنت من إخفاء هذا الشعور الغبي عن وجهي.كان بيتر ينتظر في الخارج حين خرجت. تحرك أولًا وتحسس ذراعيّ ثم رأسي. "أنتِ بخير،"
وجهة نظر لوسيااستقبلني شروق الشمس وأنا ما زلت غارقة في حوض ماء بارد، أحاول تهدئة الألم في صدري. حين تسللت الأشعة عبر قضبان النافذة، فتحت عينيّ ببطء.كم ساعة مضت؟ كان من المفترض أن نغادر أنا وريان عند الفجر.لماذا لم يأتِ لإيقاظي؟بالكاد تشكلت الفكرة في ذهني حتى سمعت طرقًا على باب غرفتي. جاء صوت دانيال من خلف الباب."مرحبًا يا لوسي. أيمكنني الدخول؟"حاولت الخروج من الحوض لكن يديّ خانتاني فسقطت إلى الوراء، وتمكنت من إمساك نفسي قبل أن يرتطم مؤخر رأسي بالبورسلين.وأثناء سقوطي، علقت يدي برأس الدُّش فسحبته للأسفل. تأرجح واصطدم بالحائط ثم بالمغسلة.دوّى الصوت في أرجاء الحمّام، موجعًا أذنيّ. فتح دانيال باب غرفتي دون انتظار ردّ، واندفع نحو الحمّام.حين رأى حالتي، اتسعت عيناه. "لوسيا!" حملني بين ذراعيه، أو حاول ذلك، قبل أن يُسقطني مرة أخرى. "أنتِ ملتهبة. متى بدأ هذا؟"كنت أحترق.حاولت الكلام لكن انفجر الألم في صدري، فخرجت الكلمات مبعثرة وكأنني نصف نائمة. لم أكن أراه بوضوح حتى.تجاهل دانيال درجة حرارة جسدي ورفعني بين ذراعيه. لامس جسده جسدي فشعرت بمدى غرابة حرارتي.كان بردًا شديدًا بالنسبة لي، ك
من وجهة نظر لوسياارتطم ظهري بقوة بالأرض، ففقدت أنفاسي.صحتُ، وأجبرت جسدي على الجلوس.كانت كاثي تمسك بذراعها، وتدفع قدميها نحوي. وامتدت ندبة طويلة على وجهها، رافضة أن تلتئم من جراء انفجار القنبلة.«اقتلها»، همسَت كاثي، وعيناها ترمقانني بنظرات حادة كالخناجر."هل أنتِ متأكدة أن هذه فكرة جيدة؟ أعني، أ
من وجهة نظر لوسيااستيقظت وأنا أتلعثم بينما يُسكب الماء على وجهي.جلستُ، فوجدتُ نفسي أنظر إلى عينين غير مألوفتين بلون أخضر غابي. «من أنت بحق الجحيم؟» قلتُ بحدة.تشوه وجهه بامتعاض. «الشيء الصحيح الذي ينبغي أن تقوليه هو "شكرًا"».شددت على الحبال المربوطة حول جذعي. "يبدو أن الخاطفين هذه الأيام أصبحوا
من وجهة نظر لوسيا«ظننت أنني سأموت»، قال دانيال وهو ينتحب على كتفي.رفعت عيني إلى السماء، وأنا أربت على كتفه. «هيا، هيا. لا بأس.»نظر بيتر إليّ من خلال مرآة الرؤية الخلفية مرة أخرى. «هل هناك مشكلة؟» سألته.«تبدين مختلفة، لوسيا.»لو لم يلاحظ بيتر ذلك، لربما شعرت بخيبة أمل."لماذا تقول ذلك؟""قبل بضع
من وجهة نظر لوسياسقط الكوب من يدي وتحطم على الأرض.عند سماع الصوت، قفز ريس وكاثي بعيدًا عن بعضهما، وما زالا يلهثان من قبلةهما.«ما هذا بحق الجحيم، ريس؟!» صرختُ، وأنا أقتحم الغرفة.«لوسيا، انتظري»، قال وهو يربط حزام بنطاله. «أستطيع أن أشرح...»"تشرح ماذا؟! لقد رأيت للتو قضيبك بين يدي امرأة أخرى." ا