Masukลูกชายของฉันตายแล้ว ถูกคนทุบหัวตายอยู่ในห้องน้ำที่แสนคับแคบ สามีที่เป็นครูใหญ่เร่งรีบมาถึงที่เกิดเหตุ แต่กลับอุ้มผู้ก่อเหตุซึ่งเป็นลูกชายของคนที่เขารักขึ้นรถโรงพยาบาล แล้วรีบร้อนจากไป ก่อนตาย ลูกชายปลอบใจฉันว่า “แม่ครับ อย่าร้องไห้เลย พ่อไม่เชื่อผม ผมไม่เสียใจเลยสักนิด” “ขอแค่แม่เชื่อผมก็พอแล้ว...” ในงานศพของลูกชาย ฉันโทรหากู้ถิงอวี้ เขากลับตะคอกใส่ฉันด้วยความโมโห “เสี่ยวซินต้องเย็บที่แขนสองเข็ม ก็เพราะถูกลูกชายของคุณข่วนจนเป็นแผล! ถ้าคุณยังไม่เลิกตอแยผมอีก ผมกลับไปเมื่อไหร่จะตบเขาให้ตาย!” ลูกชายของคุณ? ฉันมองรูแผลที่มีขนาดเท่าชามบนหน้าผากที่ไม่มีเลือดไหลออกมาแล้วของลูกชาย ก่อนจะหลับตาลง ใช่ เขาคือลูกชายของฉัน... เพราะฉะนั้น กู้ถิงอวี้ ลูกชายของฉันตายแล้ว ฉันกับคุณก็ไม่มีอะไรผูกมัดกันอีกแล้ว ……
Lihat lebih banyakNapas itu memburu, berpadu dengan desir angin malam yang menerobos jendela kamar sempit itu. Di bawah temaram cahaya bulan, tubuh mereka menyatu. Gerakan mereka kaku, canggung, tapi penuh gairah yang membara. Jemari itu menelusuri kulitnya dengan ragu, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh. Bibirnya bergetar saat membisikkan namanya di antara desahan tertahan.
"Revan…" Sebuah permohonan. Sebuah kepasrahan. Saat itu, dia percaya. Bahwa perempuan ini adalah segalanya. Bahwa malam itu akan menjadi awal dari kisah mereka selamanya. Bahwa cinta pertama tidak akan pernah berakhir. Tapi ia salah. Sebuah takdir dari status yang selama ini ia sembunyikan menariknya menjauh dari pelukan hangat gadis itu. Dan kini, yang tersisa hanyalah bayangan samar. Seakan ada sesuatu yang memisahkan mereka dengan paksa. "Jangan tinggalkan aku…" suara itu kembali terdengar, lemah dan menyedihkan. Revan mengulurkan tangan, mencoba meraih sosok itu… tapi dalam sekejap, semuanya menghilang. Cahaya meredup. Kehangatan itu lenyap. Dan yang tersisa hanyalah kekosongan. Siapa? Ia menutup matanya, mencoba mengingat. Tapi seperti biasa, hanya ada potongan-potongan yang tidak utuh. Sentuhan lembut, bisikan penuh emosi, dan aroma manis vanilla yang begitu familiar. Tapi wajahnya? Kosong. Sejak kecelakaan itu, ada bagian dari hidupnya yang terasa seperti lubang hitam. Sesuatu yang hilang, tapi dia bahkan tidak tahu apa. *** Alina melangkah masuk ke gedung megah itu dengan kepala tegak, meskipun di dalam hatinya ada badai yang berputar liar. Matanya menatap logo Revan Corp, perusahaan yang kini berada di bawah kendali pria yang dulu pernah ia cintai, dan kini bahkan tak mengingatnya. Tujuh tahun. Sudah tujuh tahun sejak Revan menghilang dari hidupnya, meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Dulu, ia pikir mereka akan selalu bersama, tapi kecelakaan itu mengubah segalanya. Revan lupa siapa dirinya, lalu menikah dengan wanita lain dalam pernikahan bisnis, sementara Alina harus merangkak sendirian untuk bertahan hidup. Dan kini, takdir membawanya kembali. "Dari CV yang saya terima, Anda memenuhi kualifikasi sebagai sekretaris baru CEO." Wanita di hadapannya, HRD perusahaan, meneliti berkasnya dengan ekspresi datar. "Kita akan langsung bertemu dengan Pak Revan. Pastikan Anda bekerja secara profesional." Alina hanya tersenyum tipis. Profesional? Itu akan sulit, karena bagi Alina, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah ajang pembalasan. HRD mengetuk pintu kantor CEO sebelum membukanya. "Silakan masuk." Alina menarik napas dalam, lalu melangkah ke dalam ruangan itu. Dan di sana, duduk di balik meja kayu mahoni, adalah pria yang telah menghancurkan hidupnya. Revan Arkana Alexander CEO tampan itu sedang fokus pada layar laptopnya, tanpa sedikit pun mengangkat kepala. Sosoknya masih sama seperti yang Alina ingat, bahkan mungkin lebih dewasa dan dingin. Jas hitamnya rapi tanpa cela, wajahnya begitu tenang, tapi aura pria itu kini lebih tajam, lebih berbahaya. "Pak Revan, ini sekretaris baru Anda," ucap HRD. Perlahan, Revan mengangkat wajahnya. Sejenak, mata mereka bertemu. Dan di detik itu, jantung Alina seolah berhenti berdetak. Apakah dia akan mengenalinya? Namun, yang keluar dari mulut pria itu justru… "Siapa namamu?" Dada Alina terasa sesak. Ingin rasanya tertawa pahit. Tujuh tahun lalu, pria ini pernah bersumpah akan mencintainya seumur hidup. Dan kini, dia bahkan tak tahu siapa dirinya. "Alina Delora, Pak." jawabnya, sembari meletakkan berkas data diri di meja CEO perusahaan elektronik ternama di negara ini. Revan membukanya. Membacanya dengan sekilas. Laki laki itu hanya fokus kepada bidang keahlian sekretaris barunya. "Bela diri apa yang kau kuasai?" "Taekwondo, Pak." Mata Revan menatapnya tajam, menyelidik. Sorot matanya mengintimidasi, seolah menelanjangi setiap inci keberadaannya. "Taekwondo?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Alina tetap berdiri tegak, menjaga ekspresinya tetap netral. "Tidak banyak wanita yang menguasai bela diri, apalagi mendaftar sebagai sekretaris," lanjut Revan. "Ada banyak hal yang bisa terjadi dalam dunia bisnis, Pak," jawab Alina datar. "Dan saya lebih suka jika bisa melindungi diri sendiri." Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Sudut bibirnya sedikit terangkat, tapi matanya tetap tajam. "Bukan hanya diri sendiri," ujarnya pelan. "Mulai sekarang, kau juga harus melindungiku." Alina menahan napas. Tangannya mengepal tanpa sadar. Sial, permainan ini dimulai lebih cepat dari dugaannya. "Maaf, Pak?" Revan melipat tangannya di atas meja. "Aku tidak hanya membutuhkan sekretaris biasa. Ancaman terhadap perusahaanku semakin besar, dan aku tidak bisa mempercayai banyak orang. Aku butuh seseorang yang bisa bekerja di dekatku, mengatur jadwalku, sekaligus memastikan aku tetap hidup. Karena itulah, meskipun kau lulusan universitas biasa dengan nilai dan prestasi biasa. Kau punya keunggulan yang tidak dimiliki calon lainnya." Alina mengeraskan rahangnya. Sebuah ironi. Pria yang dulu menghancurkan hidupnya, yang melupakannya begitu saja, kini meminta perlindungannya? Jika dulu ia hanya ingin mendekati Revan untuk balas dendam, kini keadaannya lebih menguntungkan. Dengan posisinya sebagai sekretaris sekaligus bodyguard, ia bisa masuk lebih dalam ke dalam lingkaran pria itu. Ia bisa mengendalikan permainan ini. Dengan senyum kecil, ia menjawab, "Saya mengerti, Pak. Saya akan melakukan pekerjaan saya dengan baik." Revan menatapnya sejenak, sebelum mengangguk puas. "Bagus. Mulai besok, kau akan bekerja lebih dekat denganku. Jangan kecewakan aku, Alina. Dan, selain bela diri, belajarlah menggunakan pistol. Aku sendiri yang akan mengajarimu setiap weekend. Kau tidak keberatan kan bekerja 24/7 untukku?!" "Tentu saja, Pak. Sekarang saya tahu kenapa gaji saya besar sekali." Revan membalas dengan senyum congkak. Hanya satu ujung bibirnya yang terangkat. "Sekarang pergilah. Persiapkan dirimu untuk esok hari." Alina membungkuk sedikit, lalu melangkah keluar dari ruangan itu dengan ekspresi tanpa cela. Tapi begitu pintu tertutup, ia menarik napas panjang. Sebuah permainan berbahaya baru saja dimulai. Dan kali ini, ia tidak akan menjadi pihak yang kalah.กู้ถิงอวี้มองฉันอย่างตะลึง “เรื่องนี้เกี่ยวอะไรกับเสิ่นโหรว?”“เพราะเสิ่นโหรวไปแล้ว ไม่มีใครดูแลคุณ ดังนั้นคุณเลยนึกถึงฉันขึ้นมา แต่ถ้าเธอกลับมา คุณก็จะเป็นเหมือนเมื่อก่อน ในหัวใจและในสายตาของคุณก็จะมีแต่แม่ลูกคู่นั้นใช่ไหม?”กู้ถิงอวี้ขมวดคิ้วด้วยความจนใจ “ผมบอกไปตั้งนานแล้ว ผมกับเสิ่นโหรวบริสุทธิ์ใจต่อกัน ทำไมคุณยังไม่เชื่อ?”ฉันนึกไม่ถึงเลยว่าผู้ชายคนนี้จะดื้อรั้นขนาดนี้ ฉันเลยเปิดเผยการเสแสร้งที่หลอกตัวเองของเขา“ความสัมพันธ์ที่บริสุทธิ์ใจต่อกัน ดึกๆ ดื่นๆ เธอโทรหาคุณ บอกว่าเน็ตที่บ้านเสีย ให้คุณไปซ่อมให้น่ะเหรอ?”“ความสัมพันธ์ที่บริสุทธิ์ใจต่อกัน เธอสวมชุดนอนสายเดี่ยว ถ่ายรูปใกล้ชิดกับคุณแล้วโพสต์ลงโมเมนต์ในไลน์น่ะเหรอ?”“ความสัมพันธ์ที่บริสุทธิ์ใจต่อกัน คุณดูแลเธอเป็นพิเศษ ให้ความสำคัญกับเธอก่อน แล้วเอาเงินส่วนกลางพาเธอไปเที่ยวน่ะเหรอ?”“ความสัมพันธ์ที่บริสุทธิ์ใจต่อกัน คุณไม่สนใจคำอธิบายของลูกชายตัวเอง แต่ไปเชื่อคำโกหกของสองแม่ลูก สุดท้ายก็ปล่อยให้ลูกชายแท้ๆ ถูกพวกเขาทำร้ายจนตายน่ะเหรอ?”ฉันสูดหายใจเข้า ไม่อยากจะยกตัวอย่างไปมากกว่านี้แล้ว“กู้ถิงอวี้ ไม่จำเป็นต้องนอกกาย
ศาลตัดสินไม่นานหลังจากนั้นโจวรุ่ยซินและเพื่อนร่วมชั้นหลายคนที่เกี่ยวข้องกับคดีนี้ได้รับโทษที่พวกเขาสมควรได้รับศาลยังได้ตัดสินว่าเป็นคดีแพ่ง โจวรุ่ยซินต้องชดเชยเงินจำนวนหนึ่งให้กับฉัน เสิ่นโหรวในฐานะผู้ปกครองจะต้องเป็นผู้ชดใช้ แต่ฉันเอาไปบริจาคให้กับเขตภูเขาที่ยากจนทันทีเสิ่นโหรวลาพักร้อนเป็นเวลานาน ช่วงเวลานี้ไม่ได้มาโรงเรียนเลย ฉันได้ยินมาว่าเธอแอบย้ายบ้านไปเงียบๆ เพราะถูกเพื่อนบ้านนินทากู้ถิงอวี้ก็ถูกพักงาน เพราะเว่ยหลินเฟิงตรวจเจอหลักฐานว่าเขารับสินบนชีวิตดูเหมือนจะกลับมาเป็นปกติ แต่ในใจของฉันกลับไม่สามารถสงบลงได้ขณะที่ฉันเดินอยู่ในโรงเรียน ก็มักจะหยุดเดินบ่อยๆ เพราะตรงหน้าเหมือนมีเงาของฮ่าวฮ่าวปรากฏขึ้นที่สนามบาสเกตบอล เด็กชายรูปร่างผอมเหงื่อโชกไปทั้งตัว การโยนลูกบาสก็ไม่ด้อยไปกว่านักบาสเหล่านั้นบนสนามกีฬาลู่วิ่ง ทุกเช้าเด็กชายจะวิ่งอย่างอดทน มีระเบียบวินัยในตัวเอง จนแม้แต่ฉันที่เป็นแม่ที่เอาแต่พูดถึงเรื่องควบคุมน้ำหนักแต่กลับห้ามปากไม่ได้ยังรู้สึกละอายใจในห้องเรียน เด็กชายที่ตั้งใจอ่านหนังสือ ตั้งใจเรียน แม้ว่าใบหน้าจะดูโตเป็นผู้ใหญ่บ้างแล้ว แต่เวลาที่เขาเห็นฉัน
เมื่อเสิ่นโหรวมาที่บ้านของฉัน กู้ถิงอวี้ก็กำลังโทรขอความช่วยเหลืออย่างร้อนรน“ผู้อำนวยการจาง ใช่แล้วครับๆ ผมกู้ถิงอวี้ มีเรื่องจะรบกวนท่าน…”ฉันเปิดประตูออกมาด้วยสีหน้าไม่แยแส แววตาแดงก่ำของเสิ่นโหรวก็มองมาที่ฉันอย่างเย็นชา“อาอวี้ล่ะ?”เมื่อเห็นว่าฉันไม่พูดอะไร เธอก็พยายามจะบุกเข้ามา แต่ฉันเตะไปที่หน้าท้องของเธอจนล้มลงไป“อู๋ลี่! เธอบ้าไปแล้วเหรอ?!”“ใช่ ฉันมันบ้า ตอนที่ลูกชายของเธอทุบลูกฉันจนตาย ฉันก็บ้าแล้ว!”ดวงตาของเสิ่นโหรวหลบทันที แล้วบ่นด้วยความน้อยเนื้อต่ำใจ“เสี่ยวซินไม่ได้ตีลูกชายของเธอเลยนะ แต่ลูกชายของเธอกลับข่วนแขนของเสี่ยวซิน! หนี้ก้อนนี้ฉันยังไม่ได้คิดบัญชีกับเธอเลย!”ในชีวิตนี้ฉันไม่เคยเห็นผู้หญิงคนไหนหน้าไม่อายขนาดนี้มาก่อน!“อยากคิดบัญชี งั้นเธอก็ไปแจ้งตำรวจสิ! คุยกับตำรวจเรื่องบุกรุกเข้าบ้านคนอื่นโดยพลการของเธอด้วย” ฉันพูดด้วยยิ้มเย็นชา“ลูกชายของเธอกำลังขาดเพื่อนเข้าคุกด้วยพอดี เธอก็ไปอยู่เป็นเพื่อนเขาสิ”ในที่สุดสีหน้าของเสิ่นโหรวก็อ่อนลง เธอทรุดตัวลงกับพื้นด้วยท่าทีน่าสงสาร น้ำตาไหลพรากราวกับสายฝนครู่ต่อมา จู่ๆ ก็มีร่างหนึ่งวิ่งออกมาจากด้านหลังฉัน
เมื่อฉันกลับถึงบ้านก็ดึกมากแล้วไฟในห้องนั่งเล่นยังเปิดอยู่ ฉันตรงเข้าห้องนอนโดยไม่แม้แต่จะมองร่างที่ยืนอยู่หน้ารูปของฮ่าวฮ่าว“ที่รัก...”ฝีเท้าของฉันชะงักทันที รู้สึกประหลาดใจและโศกเศร้ากู้ถิงอวี้ไม่ได้เรียกชื่อนี้กับฉันมาหลายปีแล้วนับตั้งแต่เสิ่นโหรวและลูกชายของเธอโผล่หน้ามา เขาจะเรียกฉันว่า ‘ครูอู๋’ หรือไม่ก็ ‘นี่’คำแรกเป็นการเรียกแบบให้เกียรติเวลาทำงาน ส่วนคำหลังเป็นการดูถูกเวลาอยู่บ้านฉันไม่สนใจเขา ผลักประตูห้องนอนและกำลังจะเดินเข้าไปแต่เสียงฝีเท้าเร่งรีบก็ดังขึ้น กู้ถิงอวี้คว้าแขนของฉันเอาไว้ฉันหันหน้าไปด้วยความโกรธ ตอนที่เห็นสภาพของเขา ฉันก็ตะลึงทันทีไม่ได้เจอกันแค่ไม่กี่ชั่วโมง แววตาของเขากลับดูเหนื่อยล้า ที่คางมีตอหนวด และรอยฝ่ามือที่ฉันตบเขาไปก่อนหน้านั้นเขาดูโทรมมาก ทว่าฉันเห็นแล้วกลับรู้สึกว่ามันน่าขำ“ที่รัก ผม...ผมไม่รู้ว่าเกิดเรื่องกับฮ่าวฮ่าว ผมผิดไปแล้ว ยกโทษให้ผมได้ไหม?”“ยกโทษเหรอ?” ฉันหัวเราะเย็นชา ชี้ไปที่ภาพของฮ่าวฮ่าวแล้วถาม“คุณทำให้ลูกชายของฉันฟื้นขึ้นมาได้ไหมล่ะ? คุณทำให้เหมือนว่าเรื่องทั้งหมดนี้ไม่เคยเกิดขึ้นได้ไหม? ถ้าคุณทำได้ ฉันจะยกโ
เมื่อจัดการงานศพของฮ่าวฮ่าวเสร็จแล้ว ฉันก็ตรงไปโรงพยาบาลในห้องพักผู้ป่วยพิเศษ ลูกชายของเสิ่นโหรวมีผ้าพันแผลรอบแขน กำลังกระโดดโลดเต้นพูดบางอย่างกับพวกเขาเมื่อเห็นฉันโผล่มา สีหน้าของกู้ถิงอวี้ก็เปลี่ยนไปทันที แล้วรีบเดินออกมา“ใครให้คุณมาที่โรงพยาบาล? อาการของเสี่ยวซินเพิ่งจะทรงตัว คุณอย่ามาเพิ่ม
“ฮ่าวฮ่าวไม่ต้องกลัวนะ แม่เรียกรถพยาบาลแล้ว เดี๋ยวก็จะมีคนมาช่วยลูกแล้ว อดทนอีกหน่อยนะลูก!”รอยเลือดลากเป็นทางยาวคดเคี้ยวอยู่บนพื้น ยาวไปจนถึงห้องน้ำ ย้อมดวงตาของฉันเป็นสีแดงนั่นเป็นเลือดของฮ่าวฮ่าวที่หนีเข้ามาในห้องน้ำในเวลานั้นเขาคงหวาดกลัวและเจ็บปวดมาก...ฉันปิดแผลบนหน้าผากของเขาด้วยมือที่ส
ฉันมาที่สำนักงานกฎหมายชื่อดังแห่งหนึ่ง เพื่อปรึกษาทนายเรื่องการกลั่นแกล้งในโรงเรียนฮ่าวฮ่าวจะตายไปโดยเปล่าประโยชน์ไม่ได้ เศษเดนพวกนั้นจะให้ลอยนวลอยู่ข้างนอก แล้วไปทำร้ายเด็กคนอื่นอีกไม่ได้ก่อนฉันจะไป จู่ๆ ก็ได้ยินเสียงคนเรียกชื่อฉัน“อู๋ลี่?”สีหน้าของเว่ยหลินเฟิงเต็มไปด้วยรอยยิ้มมีความสุขเข
“คุณพูดบ้าอะไร! เสี่ยวซินเป็นเด็กดีขนาดนั้น เขาจะรังแกลูกชายของผมได้ยังไง?”กู้ถิงอวี้โต้แย้งออกไปทันทีความสนใจของเขายังคงให้ความสำคัญกับลูกชายของคนรัก เขาไม่อาจยอมรับได้ว่า ‘ลูกชายที่แสนดี’ ตั้งแต่เล็กจนโตจะกลั่นแกล้งคนอื่นกู้ถิงอวี้มองมาที่ฉันด้วยสายตาไม่เป็นมิตร“คุณเป็นคนบอกเขาเหรอ? คุณใส่





