Mag-log inโรงเรียนอนุบาลเกิดไฟไหม้ ลูกสาววัยสี่ขวบของฉันก็อยู่ในนั้น ฉันกำชับสามีที่เป็นนักดับเพลิงซ้ำแล้วซ้ำเล่า: "เหนียนเหนียนอยู่ชั้นสองในห้องสอง!" แต่เขากลับพูดอย่างรำคาญ: "คุณแค่อยากจะขัดขวางไม่ให้ฉันช่วยลูกสาวของซวี่ซวี่ใช่ไหม คุณจะใจร้ายขนาดนั้นไม่ได้นะ" "ซวี่ซวี่เธออ่อนแอมาก ฉันทนดูเธอสูญเสียลูกสาวไม่ได้" "ถ้าเธอเสียลูกสาว เธอจะต้องตายแน่ๆ!" คืนนั้น เขาอุ้มลูกสาวของต้วนซวี่ซวี่ซึ่งเป็นรักแรกของเขาออกมาจากกองเพลิง และกลายเป็นวีรบุรุษ จนถึงดึกดื่น ฉันกอดเถ้ากระดูกของลูกสาวเราร้องไห้จนหมดสติ เขายังคงอยู่เคียงข้างต้วนซวี่ซวี่ "เย่ซ่านเหวิน ฉันจะทำให้คุณต้องเสียใจไปตลอดชีวิต!"
view more"Papa, kapan aku punya Mama?"
Kael Dimitri menghentikan gerakan tangannya di atas dokumen yang sedang diperiksa. Perlahan, pria itu mengangkat wajah dan menatap anak laki-lakinya yang berdiri di depan meja kerja dengan kedua tangan bertolak pinggang. Pertanyaan itu lagi. Entah sudah berapa kali Leonard menanyakan hal yang sama dalam sebulan terakhir. Hal itu terjadi sejak putranya bertemu seorang wanita yang selalu dia kira ibunya sebulan yang lalu di dekat kantor miliknya. "Leon, bukankah Papa sudah menjelaskan masalah ini?" Kael meletakkan pulpennya, berusaha mempertahankan kesabaran yang mulai menipis. "Kamu sudah punya Nenek, pengasuh, sopir pribadi, dan Papa. Apa lagi yang kurang?" "Mama." Satu kata yang membuat Kael ingin membenturkan kepalanya ke meja. Anak itu benar-benar keras kepala. Kael Dimitri bukan pria sembarangan. Sebagai pemilik salah satu konglomerasi terbesar di kota, dia terbiasa menghadapi investor yang sulit diajak bernegosiasi, pesaing bisnis yang licik, serta rapat panjang yang mampu membuat orang biasa ingin pensiun dini. Namun, menghadapi bocah berusia tujuh tahun yang terus meminta seorang ibu ternyata jauh lebih sulit daripada mengakuisisi perusahaan pesaing. "Dengar, Leon. Papa rasa kamu terlalu banyak bergaul dengan teman-temanmu. Coba jelaskan, untuk apa kamu membutuhkan Mama kalau kebutuhanmu sudah terpenuhi?" "Tapi aku mau Mama, pokoknya Mama. Emangnya supir bisa gantiin posisi Mama?" Kael terdiam. Sial. Anak itu mulai pandai berdebat. "Bukan begitu maksud Papa." "Terus?" Kael membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban yang cocok untuk telinga anak-anak. Dia akhirnya bersandar di kursinya, mengembuskan napas panjang, lalu menyalahkan satu-satunya pihak yang menurutnya bertanggung jawab atas kekacauan ini. Drama pendek. Sejak beberapa bulan terakhir, Kael memang memiliki kebiasaan menonton drama pendek di ponselnya setiap kali beristirahat. Awalnya hanya untuk mengisi waktu luang. Namun, siapa sangka cerita tentang CEO kaya yang ditipu perempuan bermuka dua itu perlahan meracuni pikirannya? Di hampir setiap drama yang ditontonnya, perempuan yang mendekati pria kaya ternyata mengincar harta, istri baru berubah menjadi ibu tiri kejam, dan anak-anak menjadi korban perebutan warisan. Yang lebih mengerikan, tokoh-tokoh bodoh dalam drama itu biasanya baru menyadari kesalahan mereka setelah seluruh hartanya ludes. Kael tentu tidak berniat menjadi salah satu dari mereka. Dia sudah cukup kaya untuk menjadi sasaran empuk para pemburu harta. Bagaimana jika dia menikah lagi, lalu istrinya perlahan meracuni pikirannya, menguasai rekening pribadinya, dan mengusir Leonard dari rumah? Tidak. Terlalu berbahaya. Lebih baik hidup sendiri daripada mempertaruhkan masa depan putra semata wayangnya. Lagi pula, Kael sudah pernah menikah. Pernikahan itu terjadi karena perjodohan keluarga, bukan karena cinta. Kini, setelah tujuh tahun menjadi duda, Kael tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk mengulang pengalaman itu. Baginya, pernikahan kedua hanya akan menambah masalah yang sebenarnya tidak perlu ada. "Papa sudah memutuskan. Kamu tidak membutuhkan Mama. Kamu sudah punya Nenek. Nenek bisa menemanimu ke sekolah, menghadiri acara pembagian rapor, bahkan membelikan apa pun yang kamu mau." Bibir Leonard maju beberapa sentimeter. "Tapi Nenek bukan Mama." "Leon—" "Semua teman-temanku punya Mama!" potong Leonard. "Kalau mereka dapat nilai bagus, Mama mereka datang, memeluk mereka, lalu bilang mereka hebat. Kalau mereka sakit, Mama mereka yang menemani. Kalau mereka sedih, mereka punya tempat buat menangis." Suara bocah itu mulai bergetar, tetapi dia buru-buru menegakkan dagunya, berusaha terlihat berani. "Sedangkan aku? Selalu Nenek. Kalau Nenek sibuk, aku sendirian. Waktu teman-temanku bertanya kenapa aku nggak pernah dijemput Mama, aku harus jawab apa?" Kael terdiam sejenak. Dia tidak pernah menganggap persoalan itu begitu penting. Selama ini, Leonard tidak pernah kekurangan apa pun. Mainan terbaru, pakaian mahal, kamar luas, sekolah terbaik—semuanya tersedia tanpa perlu diminta dua kali. Bukankah itu cukup? "Kalau Nenek nggak bisa datang saat pembagian rapor, apa aku harus menyewa paman pemadam kebakaran biar ada yang menemaniku?" Leonard melipat kedua tangannya di depan dada. "Setidaknya paman pemadam kebakaran itu bisa menyemprot teman-temanku kalau mereka mengejekku." Kael menekan pangkal hidungnya. Anak ini benar-benar susah dibujuk. "Leon, Papa sedang sibuk. Besok ada rapat penting, minggu depan perusahaan akan meluncurkan produk baru, dan Papa masih harus memeriksa semua laporan ini. Apa kamu nggak bisa mengerti Papa sekali saja?" Leonard langsung bungkam. Kedua tangannya yang semula terlipat perlahan turun. Dia mengepalkannya erat-erat, lalu menundukkan kepala agar ayahnya tidak melihat matanya yang mulai memerah. Dia tahu Papanya sibuk. Semua orang selalu mengatakan hal yang sama. Leonard tidak pernah meminta mainan yang mahal atau perjalanan ke luar negeri. Dia hanya ingin seseorang yang bisa dipanggil Mama, seseorang yang akan tersenyum ketika melihatnya pulang sekolah, atau yang akan memeluknya ketika dia merasa sedih. Apakah keinginannya benar-benar sesulit itu? "Papa selalu bilang sibuk," gumamnya. "Aku cuma pengen punya Mama." Suaranya pecah. "Kenapa Papa nggak mau mengabulkan satu permintaanku saja? Apa aku salah karena pengen punya Mama?' Kalimat itu membuat Kael terdiam selama beberapa detik. Namun, alih-alih memeluk putranya, pria itu justru menutup map di atas meja dengan suara keras. "Papa melakukan semua ini demi kamu!" Leonard tersentak. "Justru karena Papa memikirkanmu, Papa nggak akan sembarangan membawa perempuan asing ke rumah ini!" Kael bangkit dari kursinya. "Kamu nggak tahu seperti apa ibu tiri itu. Mereka bisa saja berpura-pura baik di depanmu, lalu memperlakukanmu dengan buruk saat Papa tidak ada." "Tapi aku cuma—" "Tidak ada tapi-tapian! Kamu mau Papa menikah dengan perempuan yang mengincar uang Papa? Bagaimana kalau dia mengambil semua harta Papa, lalu mengusirmu dari rumah? Kamu mau tidur di jalanan?" Leonard menatap ayahnya dengan mata membulat. Kael semakin yakin bahwa penjelasannya masuk akal. "Mulai sekarang, jangan meminta hal seperti ini lagi. Kamu tidak membutuhkan Mama tiri." Air mata Leonard jatuh juga saat itu. "Papa jahat!" Bocah itu berbalik dan berlari menuju pintu. Kael yang tidak menyangka putranya akan bereaksi sedemikian rupa segera menyusulnya. "Leon, kamu mau ke mana!" serunya. Leonard mendongak setelah berhenti beberapa detik dengan pipi basah dan hidung memerah. "Nyari Mama!" **** Leonard berjalan seorang diri menyusuri jalan besar. Dia masih sesegukan karena menangis. Dia pikir ayahnya akan mengabulkan permintaannya, tapi pria itu malah memarahinya. Di sinilah Leonard berdiri, di taman kota yang sedikit sepi siang itu. Dia mengedarkan pandangan, sampai matanya bertemu dengan sosok wanita yang dia temui di dekat kantor papanya. Mata bulatnya langsung berbinar cerah saat itu. "Bukannya itu Mama?"ต้วนถงถงนั่งอยู่ที่เบาะหลัง เมื่อเห็นฉัน เธอก็ชะงักไปเล็กน้อย จากนั้นอ้าปากกว้างทำท่าจะตะโกนฉันรีบพูดก่อน ชี้ไปที่คนสองคนที่กอดกันที่ริมแม่น้ำว่า "ถงถง เห็นไหม ลุงซ่านเหวินกำลังจะอยู่กับแม่ของหนูแล้ว"ถงถงเกาะติดหน้าต่างรถ ตาโตมองด้วยความสนใจฉันพูดต่อว่า "ถงถง ลุงซ่านเหวินต่อไปอาจจะรักแต่แม่ของหนูคนเดียวนะ...อาจจะไม่รักหนูแล้วด้วย""พวกเขาอาจจะมีลูกของตัวเองหลายคน แล้วตอนนั้น...""เธอโกหก!" ในที่สุดต้วนถงถงก็ตอบสนอง โต้กลับอย่างเสียงดังฉันลูบหน้าต้วนถงถงแล้วพูดว่า "ถ้าไม่เชื่อ ลองคิดดูสิว่าถ้าหนูกับแม่ของหนูเจออันตรายพร้อมกัน ลุงซ่านเหวินจะช่วยใคร?"พูดจบฉันก็ลงจากรถเพราะฉันรู้...ต้วนถงถงรักเย่ซ่านเหวินมาก เป็นความรักในแบบที่มากเกินจนผิดปกติ เธอต้องการให้เย่ซ่านเหวินเป็นพ่อของเธอเพียงคนเดียวไม่นานนัก ถงถงก็ลงมาจากรถและเดินไปทางเย่ซ่านเหวินกับต้วนซวี่ซวี่ทั้งคู่ยังคงยื้อดึงกันอยู่ ไม่ได้สังเกตว่าต้วนถงถงเดินไปถึงพวกเขาแล้วต้วนถงถงสูดหายใจเข้าลึกๆ แล้วจู่ๆ ก็ผลักต้วนซวี่ซวี่ลงไปในแม่น้ำ จากนั้นก็กระโดดตามลงไปด้วยแม่น้ำเหอผิงนั้น น้ำลึกจริงๆต้วนถงถงตีขาน้ำอย่างบ้าค
ในคืนเดียว เย่ซ่านเหวินถูกไล่ออกจากกองดับเพลิง อาชีพที่เขาเคยภาคภูมิใจก็พังทลายลงอย่างสิ้นเชิงส่วนต้วนซวี่ซวี่ก็ถูกให้ออกจากงานเพราะประวัติการเป็น "เมียน้อย" ที่ถูกเปิดเผย ทั้งแม่และลูกกลายเป็นคนที่สังคมรังเกียจกรรมตามสนองแต่แค่นี้ยังไม่พอ!ฉันต้องให้พวกเขาชดใช้สิ่งที่พวกเขาทำลงไป!สามวันต่อมา ฉันกับเย่ซ่านเหวินไปทำเรื่องหย่าไม่มีการโต้เถียงหรือดึงดันวุ่นวาย เขาเซ็นชื่ออย่างเงียบๆ ออกจากบ้านโดยไม่เอาอะไรเลย เหลือเพียงความเหนื่อยล้าและการสำนึกผิดฉันได้ยินเย่ซ่านเหวินพูดเสียงแหบแห้งกับฉันว่า "เสี่ยวอวี่ ขอโทษ..."ฉันหยุดเดิน "เย่ซ่านเหวิน ไม่ว่าคุณจะพูดขอโทษกี่ครั้ง""เหนียนเหนียนก็ไม่มีวันกลับมาได้"เขาหลับตาด้วยความเจ็บปวด ส่ายหัวอย่างอ่อนแรงต้วนซวี่ซวี่อุ้มลูกสาวรอเขาอยู่ที่หน้าสำนักทะเบียนเขต "ซ่านเหวิน ถงถงบอกว่าคิดถึงคุณแล้ว""ซวี่ซวี่ พวกเราไม่เหมาะสมกัน" เสียงของเย่ซ่านเหวินนิ่งสงบต้วนซวี่ซวี่มองเขาด้วยความไม่เชื่อ สีหน้าซีดเผือด "คุณพูดอะไรนะ? ซ่านเหวิน คุณยังโกรธฉันอยู่หรือเปล่า?""ถงถงยังเด็ก เธอไม่รู้อะไรเลย ถงถงบอกว่าเธออยากให้คุณเป็นพ่อของเธอ...""ไม่
ฉันให้คนพาอุ่นจือหยีไปที่สถานีตำรวจ ไม่นานต้วนซวี่ซวี่และเย่ซ่านเหวินก็มาถึงแม่ของฉันตะโกนด้วยความโกรธ "ถึงขั้นนี้แล้ว! เธอยังจะมีอะไรจะแก้ตัวอีก?!"ต้วนซวี่ซวี่เข้ามาขวางหน้าแม่ของเธอ พูดตะกุกตะกัก "คุณ...ทำอะไร มีอะไร...รอให้ทนายความของแม่ฉันมาก่อน...แล้วค่อยพูด!"ฉันคว้าคอเสื้อต้วนซวี่ซวี่ "ต้วนซวี่ซวี่! เธอให้ลูกสาวเธอวางเพลิง! แล้วยังให้แม่เธอหลอกกองดับเพลิงว่าไม่มีคนบนชั้นสอง!""เธอจงใจจะเอาชีวิตลูกสาวฉันจริงๆ นี่!"เย่ซ่านเหวินมองดูทุกสิ่งอย่างไม่อยากจะเชื่ออยู่พักหนึ่ง ก่อนจะค่อยๆ ได้สติ "คุณพูดอะไรนะ?"ฉันหัวเราะเยาะแล้วเปิดการบันทึกเสียงในโทรศัพท์คำพูดอันใสซื่อแต่แฝงไปด้วยความร้ายกาจของต้วนถงถง "หนูแค่จุดไฟเล่น อยากดูว่าลุงซ่านเหวินจะช่วยใคร..." ดังก้องชัดเจนในหูของทุกคนต้วนซวี่ซวี่ตื่นตระหนก เธอกอดต้วนถงถงแน่น แล้วร้องเสียงแหลมว่า "ถงถงยังเด็ก คำพูดของเด็กจะเชื่อได้ยังไง?""พวกเธอ...พวกเธออย่ามาใส่ร้ายเรา!"เธอหันไปกระโจนเข้าหาเย่ซ่านเหวิน ร้องไห้พูดอย่างน่าสงสาร "ซ่านเหวิน พวกเขาต้องทำอะไรบางอย่างให้ถงถงกลัวแน่ๆ...""ถงถงไม่ใช่เด็กแบบนั้น คุณก็รู้..."เย่าน
เย่ซ่านเหวินมือสั่นขณะเปิดกระดาษนั้น สีหน้าของเขาซีดเผือดทันที นั่นคือ...หนังสือยินยอมการฌาปนกิจของเหนียนเหนียน ที่มีเขียนไว้อย่างชัดเจน: เย่เหนียน อายุ 4 ขวบเขาทรุดลงนั่งกับพื้น สายตามองแวบไปอย่างว่างเปล่า"เย่ซ่านเหวิน เหนียนเหนียนจากไปแล้ว และมันเป็นเพราะนาย!" ฉันมองเขาด้วยสายตาเย็นชา แล้วพูดทีละคำ"ไม่ ไม่ใช่ฉัน... เพียงแค่ฉัน..." ทันใดนั้นเขาก็นึกขึ้นได้ ลุกขึ้นด้วยความเจ็บปวด "วันนั้น ครูใหญ่บอกฉันเองว่ามีคนอยู่แค่ชั้นหนึ่ง!""ฉันถึงได้..."พ่อของฉันไม่อยากมองเขาอีก จึงสั่งให้เจ้าหน้าที่รักษาความปลอดภัยไล่เย่ซ่านเหวินออกไป "ชายแต่งเข้าคนนี้! กล้ารังแกเสี่ยวอวี่กับเหนียนเหนียนได้ยังไง!""อ้อ ลุงหลี่ ไปสืบดูผู้อำนวยการคนนั้นหน่อย"ครอบครัวของเราทำธุรกิจด้านความปลอดภัย มีความสัมพันธ์ทั้งคนในกฎหมายและนอกกฎหมาย การค้นหาข้อมูลกับนักสืบเอกชนเป็นเรื่องง่ายมากลุงหลี่มีประสิทธิภาพสูงมาก ไม่นานก็หาข้อมูลทั้งหมดเกี่ยวกับผู้อำนวยการมาได้เมื่อฉันเห็นข้อมูลนั้น ฉันแทบทรุดลงแต่ก็ยืนประคองตัวกับขอบโต๊ะ "ผู้อำนวยการ, อุ่นจือหยี, คือแม่ของต้วนซวี่ซวี่"แม่ของฉันสีหน้าเปลี่ยนไปด้วยควา
ฉันหัวเราะออกมาฉันมองไปที่ต้วนซวี่ซวี่แล้วพูดว่า: "ใช่ ฉันเกือบลืมเธอไปได้ยังไง?""ถ้าไม่ใช่เพราะเธอ! เอาแต่หมุนวนอยู่รอบๆ ผู้ชายที่มีภรรยาแล้ว...""ถ้าไม่ใช่เพราะเธอ! ทำไมเหนียนเหนียนถึงได้...!""เธอ...!" ฉันยังพูดไม่หมด เย่ซ่านเหวินก็รีบดึงต้วนซวี่ซวี่ไปซ่อนด้านหลังเขา ยกมือขึ้นเหมือนคิดจะตบฉ
"เหนียนเหนียนมาไม่ได้"เย่ซ่านเหวินโกรธจัดทันที "เธอจะเอายังไงอีก?!""บอกไว้ก่อนเลยนะ! ถ้าไม่ใช่เพราะทุกคนอยากเจอพี่สะใภ้ ฉันจะไม่เรียกเธอมา!""อย่าทำให้เสียหน้านัก!"ฉันสูดหายใจลึก "โอเค ฉันจะพาเหนียนเหนียนไป"เสียง "เชอะ" ลอดมาจากอีกฝั่งของสาย แล้วพูดต่อว่า "ฉันก็บอกแล้วว่าเธอชอบทำตัวน่ะ! เหน
ฉันทรุดตัวลงคุกเข่าต่อหน้าเขา อ้อนวอนทั้งน้ำตาว่า "เย่ซ่านเหวิน ฉันขอร้องล่ะ ช่วยเหนียนเหนียนด้วย!""เธออยู่ข้างในจริงๆ! ฉันขอร้องล่ะ!""เธอหุบปากซะ!" เขาสะบัดฉันออก หมุนหน้าหนีด้วยความรังเกียจ "พาเธอออกไป! อย่าให้เธอเข้าใกล้กองไฟอีก!"ฉันถูกนักดับเพลิงหลายคนบังคับลากออกไป ดิ้นรนและร้องไห้ แต่ก็ไ
ตอนที่ได้รับโทรศัพท์แจ้งว่าโรงเรียนอนุบาลเกิดไฟไหม้ หัวใจฉันเต้นแรง ฉันรีบวิ่งออกไปโดยไม่ทันได้เก็บอะไรเลยเพราะว่าลูกสาววัยสี่ขวบของฉัน เหนียนเหนียน ตอนนี้อยู่ในนั้นมือของฉันสั่นระริก ฉันโทรหาสามีอย่างบ้าคลั่ง ครั้งแล้วครั้งเล่า...แต่ไม่ว่าจะโทรกี่ครั้ง ก็ไม่สามารถติดต่อได้เมื่อฉันมาถึงหน้าป





