Short
หลังจากฉันตายไป เขาเหยียบย่ำเถ้ากระดูกของฉัน

หลังจากฉันตายไป เขาเหยียบย่ำเถ้ากระดูกของฉัน

โดย:  หนทางยาวไกลจบแล้ว
ภาษา: Thai
goodnovel4goodnovel
8บท
9.7Kviews
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

วันที่สามหลังจากฉันตาย ซูสือเยี่ยนก็ได้รับสายโทรศัพท์ยืนยันศพ เขาโอบผู้หญิงอยู่ในอ้อมแขนพูดอย่างไม่ใส่ใจ “ตายแล้วก็ตายไปสิ เผาแล้วค่อยโทรบอกผม” ร่างของฉันถูกส่งเข้าเตาเผา พอกลายเป็นเถ้ากระดูกแล้ว เจ้าหน้าที่ก็โทรศัพท์หาซูสือเยี่ยนอีกครั้ง เขาจิ๊ปากด้วยความหงุดหงิด “รู้แล้วน่า จะไปเดี๋ยวนี้แหละ”

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

บทที่ 1

"Kami sudah bicara dengan pihak administrasi rumah sakit mbak. Kalau dalam waktu satu Minggu ke depan mbak tidak melunasi tunggakan biaya perawatan, kami terpaksa menghentikan semua hal yang berkaitan dengan perawatan ayah mbak."

Amora menatap kertas tagihan rumah sakit di tangannya dengan tatapan kosong. Angka-angka besar yang tertera di sana seolah menekan dadanya hingga sulit bernapas. Ia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas apa yang petugas administrasi itu katakan padanya. 

Ayahnya masih terbaring koma, bergantung pada alat-alat medis yang biayanya terus membengkak setiap hari. Sudah tidak ada lagi yang bisa dijual, tidak ada keluarga yang bisa diandalkan, dan penghasilannya sebagai karyawan pemasaran bahkan tidak cukup untuk membayar seperempat dari total tagihan itu.

Ingin meminjam pada kantornya, sangat tidak mungkin. karena dirinya juga baru saja bekerja sejak dua bulan yang lalu. kantor mana yang mau meminjamkan uang sebanyak ini pada karyawan yang baru bekerja dua bulan.

Amora menggigit bibir, pikirannya kacau, bingung harus mencari pinjaman dari mana lagi. Waktu terus berjalan, dan ancaman penghentian pengobatan ayahnya semakin mendekat.

Amora menjambak rambutnya. Entah sudah yang keberapa kali ia melakukan itu. Bahkan helaian rambutnya yang tercabut masih melilit di jemarinya.

Ia kembali meremas kertas tagihan itu dengan tangan gemetar, kepalanya tertunduk dalam kebingungan. Namun, di tengah kegalauannya, sebuah nama melintas di benaknya—Dirga. Bosnya di kantor, pria yang dulu pernah menjadi sosok yang diam-diam ia kagumi semasa SMA.

Sekarang, Dirga adalah CEO sukses dengan kekuasaan dan kekayaan yang tak terbatas. Tapi, Amora tahu betul seperti apa Dirga—dingin, tak tersentuh, dan selalu menjaga jarak dari semua orang, termasuk dirinya.

Tapi ia tak ada pilihan lain. Hanya Dirga yang bisa ia andalkan saat ini. Dan dalam doanya ia berharap, Dirga mau membantunya.

__

Amora berdiri di depan pintu apartemen Dirga, jantungnya berdegup kencang. Wajahnya sudah tidak asing, tetapi hatinya tetap bergemuruh. Dirga—pria yang dulu menjadi pusat perhatiannya saat SMA, meski perasaannya tak pernah dibalas. Kini, mereka bertemu lagi, namun dalam situasi yang sangat berbeda. Dirga bukan hanya pria yang dulu ia kagumi, tetapi juga bosnya di kantor, meskipun untuk saat ini, mereka berdua bukan berada dalam konteks pekerjaan.

Pintu terbuka, dan Dirga muncul. Tak ada senyuman, hanya tatapan datar yang langsung menyapu Amora. Dia mengenakan pakaian santai, tetapi aura dinginnya tetap terasa.

"Ada apa?" Tanya Dirga datar.

Amora menelan ludah, merasa seolah ada jarak yang tak bisa ia jembatani meski mereka pernah mengenal satu sama lain.

"Maaf, aku tahu ini mungkin tidak tepat, tapi... aku butuh bantuanmu," ujarnya, berusaha menyembunyikan kecemasannya.

Dirga mengerutkan kening, tetapi tidak ada perubahan signifikan pada ekspresinya. "Bantuan?" tanyanya singkat, seolah tidak terlalu tertarik dengan penjelasan lebih lanjut.

Amora merasakan ketegangan di udara. "Ayahku koma di rumah sakit... dan aku... aku tidak bisa membayar biaya pengobatannya. Mereka bilang, jika tidak segera dilunasi, mereka akan menghentikan perawatan." Suaranya mulai tercekat. "Aku tidak tahu harus pergi ke siapa lagi, Dirga. Aku... aku butuh bantuanmu."

Dirga tetap terdiam sejenak, menilai Amora dengan tatapan kosong, Amora merasakan panas di wajahnya, tidak tahu harus menjelaskan apa lagi. "Aku... tidak tahu siapa lagi yang bisa aku minta tolong. Aku hanya... butuh bantuanmu sekarang."

Dirga menghela napas pelan, lalu melangkah mundur, membuka pintu sedikit lebih lebar. "Masuk." Titahnya.

Amora melangkah masuk ke dalam apartemen Dirga, terkesan dengan kemewahan yang mengelilinginya. Ruangan luas, dengan lantai marmer mengkilap dan lampu gantung kristal yang memberikan kesan dingin dan elegan. Setiap detilnya terasa begitu terjaga, sama seperti Dirga—pria yang kini menjadi bosnya, namun di sini, mereka hanya dua orang yang terikat kenangan masa lalu yang jauh berbeda.

Dirga melangkah lebih dulu dan mengisyaratkan Amora untuk duduk di sofa kulit hitam yang terletak di tengah ruang tamu. Amora duduk dengan gugup, menahan perasaan cemas yang semakin menggerogoti dirinya.

Dirga duduk di sofa yang ada di seberang meja yang masih berhadapan dengan Amora, tatapannya tajam dan dingin, seperti seorang bos yang tidak terpengaruh oleh apa pun. "Jadi, kamu datang ke sini untuk meminta bantuan?" suaranya terdengar datar, tanpa sedikit pun ekspresi.

Amora menunduk, mencoba mengumpulkan keberanian. Amora mengangguk takut. "Aku sungguh tak tahu lagi harus meminta bantuan siapa Dirga." Ucapnya.

Dirga mendengus, ekspresinya tak berubah. "Kamu pikir aku akan membantu hanya karena kita pernah satu sekolah?" katanya dengan nada meremehkan. "Aku menerima kamu bekerja bukan karena kita kenal dulu, Amora. Jangan coba memanfaatkan momen ini."

Amora merasa tubuhnya kaku, setiap kata Dirga seolah menusuk, membuatnya merasa kecil. "Aku hanya... butuh bantuan, Aku tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini jika ayahku meninggal Dirga." Ucapnya lirih, suaranya tenggelam dalam keheningan yang berat.

"Dan Kamu pikir aku peduli dengan kondisimu saat ini? Sekarang Kamu bawahanku Amora, bukan teman satu sekolah lagi."

Jawaban Dirga membuat Amora semakin terpuruk. Hidup sendiri tanpa ayahnya saat ini menjadi momok paling menakutkan baginya. Ia tak mau itu terjadi dalam hidupnya.

Amora kembali menatap Dirga. Namun saat ia ingin buka suara Kembali, geraknya dihentikan karena ponsel Dirga yang tiba-tiba berbunyi.

Dirga langsung berdiri dari duduknya dan beranjak sedikit menjauh dari Amora.

Amora melirik ke arah Dirga. Kenangan bagaimana ia dulu menyukai Dirga secara diam-diam kembali terkenang di memorinya. Dan menerima kenyataan jika sekarang posisi Dirga adalah bosnya di kantor membuat Amora merasa kecil. Perasaan yang dulu ia punya untuk Dirga seketika memilih untuk bersembunyi dan mengunci diri di sudut hatinya yang paling dalam. Semuanya akan terasa sulit jika perasaan itu saat ini masih ada.

Amora menghela nafas panjang. Ia mencoba meyakinkan dirinya jika keberadaannya di sini hanya demi pengobatan ayahnya.

Dirga kembali ke ruang tamu setelah menerima telepon, langkahnya tenang namun berwibawa. Dia duduk di sofa di hadapan Amora, menyilangkan kaki dengan sikap santai, namun tatapannya tetap tajam dan tak terbaca. Suasana ruangan itu terasa semakin dingin, seolah memantulkan sikap Dirga yang tak terjangkau.

Amora menatapnya dengan penuh harap, meski ketegangan menggantung di udara. Napasnya sedikit tertahan ketika Dirga membuka mulut untuk berbicara.

"Aku akan membayar semua tunggakan biaya rumah sakit ayahmu," kata Dirga dengan nada datar, tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.

Mata Amora melebar. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Benarkah?  Dirga, ini bukan sebuah lelucon kan? Ini, Dirga, terima kasih banyak, aku—"

"Tapi," potong Dirga cepat, suaranya lebih rendah namun tetap penuh otoritas, "ada satu syarat."

Amora terdiam, merasa sesuatu yang besar akan segera terjadi. Jantungnya berdegup lebih kencang. "Syarat apa?" tanyanya dengan suara bergetar.

Dirga menatap lurus ke arahnya, matanya seperti berlian yang dingin dan tajam. "menikahlah denganku dan lahirkan seorang anak untukku."

*****

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ
ไม่มีความคิดเห็น
8
บทที่ 1
วันที่สามหลังจากฉันตาย ซูสือเยี่ยนก็ได้รับสายโทรศัพท์ยืนยันศพเขาโอบผู้หญิงอยู่ในอ้อมแขนพูดอย่างไม่ใส่ใจ “ตายแล้วก็ตายไปสิ เผาแล้วค่อยโทรบอกผม”ร่างของฉันถูกส่งเข้าเตาเผา พอกลายเป็นเถ้ากระดูกแล้ว เจ้าหน้าที่ก็โทรศัพท์หาซูสือเยี่ยนอีกครั้งเขาจิ๊ปากด้วยความหงุดหงิด“รู้แล้วน่า จะไปเดี๋ยวนี้แหละ”……ในตอนที่ซูสือเยี่ยนมาถึงก็คือหลังจากนั้นสองชั่วโมงเสื้อผ้าของเขายุ่งเหยิงเล็กน้อย คอเสื้อยังมีรอยลิปสติกติดอยู่ชัดเจนดูออกได้ไม่ยาก เขาเพิ่งเสร็จศึกรักมาพอเจอกับเจ้าหน้าที่ เขาก็พูดกระแทกกระทั้น “กระดูกของเสิ่นอี้อันล่ะ? ให้ผมมาเอาไม่ใช่เหรอ?”หลังจากเจ้าหน้าที่ยืนยันว่าเป็นเขาแล้วก็เอาโถที่บรรจุกระดูกของฉันยื่นให้เขาซูสือเยี่ยนรับมาแบบไม่ใส่ใจ ในดวงตาเต็มไปด้วยการล้อเลียน“นี่ก็คือกระดูกของเสิ่นอี้อันเหรอ? คงไม่ใช่ว่าเอากระดูกหมาแมวที่ไหนมาหลอกผมไปเรื่อยหรอกนะ”เจ้าหน้าที่ตกใจ “คุณซูครับ นี่เป็นกระดูกของคุณเสิ่นจริง ๆ นะครับ มีบันทึกอยู่ คุณจะดูไหมครับ?”ซูสือเยี่ยนยิ้มมุมปาก “ไม่ต้องแล้ว ผมเชื่อพวกคุณ”ฉันโล่งอก ไม่รู้เพราะอะไร ฉันตายไปแล้วแต่วิญญาณยังอยู่หลังจากฉันคิดทบ
อ่านเพิ่มเติม
บทที่ 2
ฉันเบิกตาโพลงแบบไม่อยากจะเชื่อ และเพิ่งจะเข้าใจเดี๋ยวนี้เองว่าซูสือเยี่ยนแค้นฉันถึงขนาดนี้แค้นจนถึงขึ้นที่ว่าความตายของฉันคือเรื่องที่ควรแก่การเฉลิมฉลองแต่ซูสือเยี่ยน ฉันตายแล้วจริง ๆ แค่ว่าคุณไม่เชื่อเท่านั้นรถจอดอยู่ที่ร้านชุดแต่งงาน ซูสือเยี่ยนเดินสาวเท้าเข้าไปอย่างรวดเร็วเขารีบร้อนอย่างนั้น เหมือนวันนั้นที่พวกเราจดทะเบียนสมรสแล้ว เขาพาฉันมาร้านชุดแต่งงานเขาในตอนนี้อยากเห็นฉันสวมชุดแต่งงานแบบอดรนทนไม่ไหวเขาโอบฉันอยู่ในอ้อมแขนด้วยความตื่นเต้น บอกว่าฉันคือเจ้าสาวที่สวยที่สุดในโลกแต่ตอนนี้ เขากำลังมองซูอี่ม่อใส่ชุดเจ้าสาวด้วยสีหน้าอ่อนโยนแบบนี้เหมือนกันเหน็บปอยผมข้างหูให้เธอแล้วพูดเสียงนุ่มนวลว่า “สวย”ซูอี่ม่อก้มหน้าก้มเขินอาย ในตอนที่เงินหน้าขึ้นอีกครั้ง ในดวงตาฉ่ำรื้น“สือเยี่ยน ในที่สุดก็ถึงวันนี้สักที”ในดวงตาของฉันเต็มไปด้วยความอึ้ง มองซูอี่ม่อจูบใบหน้าของสือเยี่ยนต่อหน้าต่อตาฉันอยากจะขวางทุกอย่างนี้เร็ว ๆแต่มือเท้าของฉันดันทะลุผ่านตัวของซูสือเยี่ยน ได้แต่มองเขาสวมแหวนเข้านิ้วกลางของซูอี่ม่อทั้งอย่างนั้นได้อย่างไร?ทำไมถึงเป็นซูอี่ม่อ?เธอคือคนที่ทำให้แ
อ่านเพิ่มเติม
บทที่ 3
ผ่านไปครึ่งเดือน ในที่สุดซูสือเยี่ยนก็กลับบ้านของเราเขาผลักประตูบ้านอย่างรุนแรงพลางตะโกน “เสิ่นอี้อัน ไสหัวออกมานะ”เขาผลักประตูบานแล้วบานเล่า แต่อย่างไรก็หาฉันไม่เจอหน้าที่บึ้งตึงของซูสือเยี่ยนเพิ่มระดับมากขึ้นเขาสั่งให้ลูกน้องหาที่อยู่ของฉันพลางพูดเสียงเย็นเยียบ “เสิ่นอี้อัน ในเมื่อจะหนี งั้นทางที่ดีเธอก็หนีให้ไกลหน่อย ไม่อย่างนั้น เอาไว้ฉันจับเธอได้แล้วต้องตีขาเธอให้หักแน่”แต่ผู้หญิงที่เขาต้องการตีให้เขาหัก ตอนนั้นอยู่ตรงหน้าของเขาแล้วไม่นานลูกน้องก็ส่งโลเคชันมากซูสือเยี่ยนอารมณ์บนใบหน้าของน่ากลัวมากขึ้นเรื่อย ๆ มองด้วยความสับสนจึงจะรู้ว่านั่นคือบ้านของจี้เหลียงชวน“ประธานซูครับ สายสุดท้ายของคุณผู้หญิงคือโทรหาคุณจี้ แต่คุณจี้ไม่เจอคุณผู้หญิง พวกเราสงสัยว่าเขาจะลักพาตัวคุณผู้หญิงครับ”ซูสือเยี่ยนตอบเสียงเย็น “รอฉันไป”ซูสือเยี่ยนไปถึงบ้านของจี้เหลียงชวนแบบด่วนจี๋เขาถีบประตูบ้านที่ปิดสนิทด้วยหน้าบึ้งตึงหนึ่งครั้ง สองครั้ง ในครั้งที่สามประตูได้เปิดออกแล้วจี้เหลียงชวนใบหน้าราบเรียบ ใต้ตามีสีเขียวคล้ำ“มีธุระเหรอ?”ซูสือเยี่ยนแสยะยิ้ม “นายเอาเมียฉันไปซ่อนไว้ที่ไหน
อ่านเพิ่มเติม
บทที่ 4
ซูสือเยี่ยนนิ่งไปพักหนึ่ง จี้เหลียงชวนฉวยช่องว่างนี้จ้วงหมัดเข้าไป“โอ๊ย...”จี้เหลียงชวนลูกขึ้นมาจากพื้นแล้วแลมองซูสือเยี่ยนที่ทำหน้าอึ้งงั้นจากด้านบนเขาพูดเสียงเย็นชา “พาคนของนายออกไปจากบ้านของฉันเดี๋ยวนี้”ซูสือเยี่ยนผุดลุกขึ้น ผลักจี้เหลียงชวนออกแล้วเดินเข้าไปในห้องทำงานบนโต๊ะมีรูปของฉันวางอยู่เต็มไปหมดฉันในทุกรูปมีเลือดอยู่เต็มใบหน้า บางรูปถึงขั้นว่าแยกใบหน้าไม่ออกฉันมองแค่แวบเดียวก็เบือนหน้าหนีฉันรู้ว่าภาพการตายของฉันดูไม่ได้ขนาดไหน ลูกตาข้างหนึ่งหลุดออกมาจากเบ้า หน้าผากด้านซ้ายยุบลงไปเป็นหลุมใหญ่ตอนแพทย์นิติเวชพิสูจน์ตัวตนของฉันยังต้องเสียเวลาไปมากแต่จี้เหลียงชวนกลับวางรูปพวกนี้อยู่บนโต๊ะโต้ง ๆ ฉันสะท้อนใจ เขาไม่กลัวฝันร้ายเหรอตอนนี้ซูสือเยี่ยนกำลังถือรูปพวกนี้อยู่ในมือ เขาราวกับกำลังพยายามหาอะไรสุดกำลัง ตั้งใจจนไม่ยอมพลาดจุดเล็ก ๆ ไปเนื่องจากเขาออกแรงมาก มุมหนึ่งของรูปจึงมีรอยพับ เขาฟังลูกน้องสาธยายพลางเคลื่อนสายตาไปยังหน้าจอคอมพิวเตอร์อย่างเหลือเชื่อในนั้นคือคลิปขณะฉันประสบอุบัติเหตุ รถยนต์สองคนอัดกันแรง ๆ รถของฉันแทบจะกระเด็นออกไปในพริบตาภาพนี้สะเทื
อ่านเพิ่มเติม
บทที่ 5
แต่ในตอนที่ฉันจะบอกซูสือเยี่ยนด้วยความตื่นเต้น ถึงนึกขึ้นมาได้ว่าเขาบล็อกฉันนานแล้วเขาบอกว่าฉันโหดเหี้ยมมาก ไม่อยากเกี่ยวข้องกับฉันอีกดังนั้นฉันจึงได้แต่ไปหาเขาด้วยตัวเอง กลับประสบอุบัติเหตุเสียชีวิตคาที่ระหว่างทางไปหาเขาตอนนี้คิดดูแล้ว เป็นฉันเองที่คิดไปฝ่ายเดียวในใจของเขา ซูอี่ม่อบริสุทธิ์ไร้มลทิน แล้วจะเป็นฆาตกรทำร้ายแม่ของเขาจนตายได้อย่างไร?เสียงริงโทนดึงสติของฉันกลับมาซูสือเยี่ยนที่ทำหน้าเย็นชาในแต่เดิม พอเห็นชื่อสายโทรเข้าแล้ว ใบหน้าก็ปรากฏอารมณ์ซับซ้อน“สือเยี่ยน พรุ่งนี้เป็นวันครบรอบวันตายของแม่แล้วนะคะ เราจะไปด้วยกันไหม?”“อื่ม ผมจะไปรับคุณ”“ค่ะ”แล้วจู่ ๆ เธอก็พูดขึ้นมาแบบลังเลอีก “งั้นเสิ่นอี้อันล่ะคะ? เธอจะมาไหม?”ซูสือเยี่ยนหน้าตึงฉับพลัน ตอบเรียบ ๆ ว่า “เธอตายไปแล้ว”หลังจากวางสาย ซูสือเยี่ยนเลี้ยวรถกลับทันทีฉันตามเขาไปยังฌาปนสถานดึกดื่นเที่ยงคืน ต่อให้ฉันเป็นผีก็ยังรู้สึกกลัวที่นี่อยู่ดีแต่ซูสือเยี่ยนกลับเหมือนปิดกั้นตัวเองโดยสมบูรณ์ เคาะประตูฌาปนสถานอย่างมุทะลุ“เถ้ากระดูกของเสิ่นอี้อันล่ะ? คืนผมมานะ”เจ้าหน้าที่คนหนึ่งทำหน้างง และจำได้ว่าเขาก
อ่านเพิ่มเติม
บทที่ 6
ซูสือเยี่ยนค้อมตัวเช็ดคราบสกปรกบนแผ่นหินหน้าหลุมของแม่ด้วยใบหน้าราบเรียบ“แม่ครับ จะบอกข่าวดีกับแม่อีกเรื่องนะ ผมจะแต่งงานกับอี่ม่อแล้ว”“เธอคือคนที่แม่เห็นแม่แต่เล็ก งานแต่งของเรา แม่น่าจะดีใจมากใช่ไหมครับ”“สำหรับเสิ่นอี้อัน แม่ ผมเสียใจแล้ว”ทันใดนั้นก็มีเสียงฟ้าร้องโครมคราม เมฆดำทะมึนรวมตัวกันแต่คำว่าเสียใจของซูสือเยี่ยนกลับชัดเจนยิ่งกว่าเสียงฟ้าร้อง ทำให้ฉันหูอื้ออึงฉันตามอยู่ข้างตัวซูสือเยี่ยนด้วยสายตาที่ว่างเปล่ามองเขาเปิดประตูรถให้ซูอี่ม่ออย่างรู้ใจ เลือกวันมงคลแต่งงานกันเธอพวกเราราวกับคู่รักฟ้าประธาน แต่การปรากฏตัวของฉันเป็นแค่เคราะห์หนึ่งที่พวกเขาต้องเผชิญตอนนี้พ้นเคราะห์ไปได้แล้ว พวกเขาจะได้ครองรักกันสักทีงานแต่งงานที่ฉันคาดหวัง ซูสือเยี่ยนกลับมอบให้ซูอี่ม่อแบบไม่ขาดตกบกพร่องชุดแต่งงาน แหวน บัตรเชิญเขาไม่สนอะไรทั้งนั้น ไม่สนใจบริษัท จดจ่ออยู่กับงานแต่งงานที่กำลังจะจัดขึ้นกับซูอี่ม่อเท่านั้นและเรื่องที่ควรแก่การฉลองก็คือดูเหมือนว่าฉันจะไปจากซูสือเยี่ยนได้แล้วเขาเดตกับซูอี่ม่อ ฉันไม่ได้ตามไปแบบควบคุมตัวเองไม่ได้เขาถ่ายรูปพรีเวดดิ้งกับเธอ ฉันก็นั่งรอ
อ่านเพิ่มเติม
บทที่ 7
ทั่วทั้งงานเกิดเสียงฮือฮาฉันก็มองไปบนเวทีตามสัญชาตญาณเหมือนกันวินาทีต่อมา ประตูใหญ่ก็ถูกผิดออก ตำรวจสองสามคนเดินเข้ามาจี้เหลียงชวนกลับพูดกลั้วหัวเราะขึ้นมากะทันหัน “ดูท่าคนบางคนยังไม่ถึงขั้นที่ไม่มีหัวใจเกินเยียวยา อี้อัน เรื่องสนุกเริ่มขึ้นแล้ว”ฉันมองจี้เหลียงชวนกดปุ่มหน้าจอใหญ่ที่ฉายรูปชุดแต่งงานในตอนแรก ตอนนี้ปรากฏภาพจากกล้องวงจรปิดท่อนหนึ่งท่อนหนึ่งคือคลิปที่ฉันประสบอุบัติเหตุทางรถยนต์ท่อนหนึ่งคือคลิปที่ซูอี่ม่อหนีออกจากบ้านใหญ่ตระกูลซูในที่สุดฉันก็เข้าใจว่าของขวัญชิ้นใหญ่ที่จี้เหลียงชวนบอกคืออะไรเขาต้องเปิดโปงโฉมหน้าที่แท้จริงของซูอี่ม่อในวันนี้งานแต่งงานที่เต็มไปด้วยความสุขในทีแรก ตอนนี้วุ่นวายไปหมด ผู้คนพากันกระซิบกระซาบซูอี่ม่อใบหน้าลนลาน ต้องการการปกป้องจากซูสือเยี่ยนซูสือเยี่ยนกลับผลักเธอออกเบา ๆ สายตาที่มองเธอราวกับมองขยะ“ซูอี่ม่อ คุณคิดว่าเรื่องพวกนั้นที่คุณทำจะปิดได้”“คุณทำให้แม่ผมตาย แล้วทำให้ซูอี่ม่อตายอีก”“คุณสมควรตาย”ซูอี่ม่อแผดเสียงร้องอย่างบ้าคลั่ง ซูสือเยี่ยนแค่มองเธอถูกตำรวจพาตัวไปด้วยสายตาเย็นชาเมื่อความผิดถูกเปิดโปง งานแต่งงนี้จึ
อ่านเพิ่มเติม
บทที่ 8
รถวิ่งเร็วมาก เงาสะท้อนนอกหน้าต่างแล่นผ่านไปอย่างรวดเร็วจี้เหลียงชวนกัดฟันแน่น กรามคมสันเกร็งแน่นเขาตื่นเต้นมาก จ้องข้างหน้าตาเขม็งฉันอยากบอกเขาว่าไม่ต้องขับเร็วอย่างนี้ ฉันไม่รีบนาทีต่อมา จี้เหลียงชวนเหมือนได้ยินเสียงในใจของฉันจึงลดความเร็วลงเขายิ้มพูด “จะถึงแล้ว อี้อัน เธอกลัวไหม?”ในสายตาของเขาซุกซ่อนอารมณ์ที่ฉันไม่เข้าใจฉันส่ายหน้า ไม่กลัวจี้เหลียงชวนฉีกยิ้มและพูดอย่างปลื้มใจ “ไม่กลัวก็ดีแล้ว อี้อัน ชาติหน้าอย่าได้ย่ำยีตัวเองแบบนี้”ฉันนิ่งไป อ้าปากพูดแบบไม่มีเสียงว่า “ได้”รถจอดอยู่ชายทะเลจี้เหลียงชวนไม่ยอมลงจากรถสักทีเขาจับพวงมาลัยรถ มือสั่นพวกเราต่างรู้ว่าพอลงจากรถก็คือการจากลาของจริงแล้วฉันประกบหลังมือของเขา ฉันรู้ว่าเขาสัมผัสไม่ได้ แต่ฉันก็ยังอยากทำอย่างนี้จี้เหลียงชวนยิ้ม “ลงรถเถอะ”เขากระตุกสร้อยคอออกจากคอสร้อยคอมีขวดแก้วอยู่ใบหนึ่ง ในนั้นบรรจุเถ้ากระดูกของฉันฉันกับจี้เหลียงชวนเดินอยู่บนชายหาดตามกันเขาเอามือล้วงกระเป๋าทั้งสองข้าง ปากยังคงยิ้มอยู่อย่างนั้นส่วนโปร่งแสงของฉันมีมากขึ้นทุกที ฉันหยุดลงตรงข้างโขดหินก้อนหนึ่ง“ตรงนี้เหรอ?”ฉันพย
อ่านเพิ่มเติม
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status