Karena itu, baik Mirae maupun Cecilia sama-sama menahan permusuhan mereka terhadap Lindsey. Apalagi di depan orang lain, Keluarga Lesmana masih berstatus sebagai pihak yang pernah membiayai pendidikan Lindsey.
Cecilia buru-buru melangkah menghampiri. "Nek, bukannya dokter bilang Nenek nggak boleh kena angin? Kenapa malah keluar?"
Wanda memandang Mirae dengan wajah penuh rasa lega. "Aku menyuruhmu cari Lindsey, tapi kamu nggak menemukannya. Siapa sangka, aku malah nggak sengaja ketemu dia. Aku mau makan sama Lindsey. Jangan ganggu kami."
Mirae mengangguk, tampak seperti menantu yang sangat menghormati orang tua.
Hari ini, suasana hati Wanda sedang baik. Dia mengabaikan Mirae dan langsung berjalan menuju restoran di depan.
Lindsey mengikuti di belakang. Dia bisa merasakan tatapan tajam tertuju padanya. Siapa lagi kalau bukan Mirae?
Mirae mengatupkan bibir. Wajahnya begitu muram. Lindsey sadar, sepertinya kali ini dirinya akan mendapat masalah.
Setelah keduanya berjalan cukup jauh, Mirae masih berdiri di tempat.
Cecilia menyembunyikan emosi di balik tatapan matanya, lalu kembali merangkul lengan Mirae dengan akrab. "Nenek dulu sempat tinggal di Kabupaten Sirata untuk memulihkan kesehatan. Hubungannya dengan Lindsey cukup dekat. Kalau Nenek sampai memihak Lindsey, masalah dulu mungkin ...."
Mirae mencibir, lalu menepuk punggung tangan Cecilia pelan. "Kesehatan nenekmu buruk. Mana mungkin Lindsey membicarakan hal-hal itu dan membuatnya tertekan?"
Cecilia menghela napas lega, tetapi masih memasang wajah cemas. "Kesehatan Brandon baru saja membaik setelah sekian lama. Aku nggak ingin dia kembali seperti dulu gara-gara Lindsey. Apa kita harus cari cara biar perempuan itu pergi dari ibu kota?"
Awalnya Mirae tidak ingin terburu-buru. Namun, Lindsey ternyata begitu tidak tahu diri sampai langsung mendekati ibu mertuanya. Sepertinya dia harus segera bertindak.
Sementara itu, di dalam ruang privat restoran, Lindsey perlahan duduk.
Wanda meminta para pengawalnya menunggu di depan pintu, lalu menatap Lindsey lekat-lekat. Tatapannya begitu lembut. "Dulu Nenek sebenarnya ingin menemani kamu di ujian masuk perguruan tinggi, tapi kesehatan Nenek nggak memungkinkan. Lindsey, gimana hasil ujianmu waktu itu?"
Ternyata selama bertahun-tahun, sang nenek memang tidak tahu apa-apa tentang Lindsey. Lindsey mulai bertanya-tanya, ketika dulu dirinya meminta bantuan kepada Wanda, apakah permintaannya benar-benar sampai kepadanya? Atau ada kesalahpahaman lain yang terjadi?
Tubuhnya pun sedikit lebih rileks. "Peringkat ke-50 sekota."
Mata Wanda langsung berbinar. Sebenarnya, kebanyakan orang tua dari kalangan mereka merupakan lulusan universitas ternama di luar negeri dan generasi muda yang berprestasi juga tidak sedikit. Nilai seperti itu sebenarnya tidak terlalu istimewa, tetapi Wanda tetap merasa bangga pada Lindsey.
"Bisa lulus dari universitas itu dan sampai sejauh ini, memang hebat. Kalau Brandon tahu, dia pasti senang. Dulu Nenek menyuruhnya membimbingmu belajar, tapi anak nakal itu selalu masang wajah masam."
Tangan Lindsey yang tersembunyi di bawah meja seketika mengepal. Kukunya menancap ke telapak tangan hingga terasa perih.
Pendidikan di kota kecil memang serba terbatas. Dia baru mulai belajar bahasa asing sejak SMP, itu pun pelafalan gurunya sendiri kurang baik.
Lindsey sudah belajar dengan sangat rajin, tetapi nilainya selalu sulit meningkat.
Setelah Wanda dan Brandon datang ke Kabupaten Sirata, Brandon membimbingnya belajar sejak dia berusia 12 tahun hingga 17 tahun.
Saat Lindsey berusia 17 tahun, Brandon meninggalkan Kabupaten Sirata bersama Wanda dan tidak sempat mendampinginya menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.
Brandon sangat pintar. Dialah orang paling cerdas yang pernah Lindsey kenal seumur hidupnya. Sesulit apa pun soal yang diberikan, dia selalu bisa menemukan cara untuk menyelesaikannya. Nilai Lindsey pun meningkat dengan cepat.
Jadi, meskipun pada siang hari Brandon sering menggodanya sampai dia kesal, menjelang sore dia tetap akan datang ke rumah Wanda untuk belajar dengannya.
Waktu itu, langit malam di pedesaan dipenuhi bintang terang. Suara serangga terdengar dari luar, sementara dari dalam rumah terdengar omelan Brandon.
"Aku sudah nggak tahan lagi. Lindsey, kenapa kamu bisa sebodoh ini? Daerah kalian ini tertinggal separah apa sih? Otakmu yang lemot begitu saja masih bisa masuk sepuluh besar."
Suara omelan Wanda langsung menyusul. "Brandon, kalau kamu terus bicara begitu ke Lindsey, Nenek akan robek mulutmu yang busuk itu."
Brandon langsung bungkam. Dia menopang pipinya dengan tangan, lalu memiringkan kepala menatap Lindsey. "Menurutku, kamu memang nggak berbakat belajar. Mending belajar seni saja. Wajahmu lumayan."
Wajah Lindsey seketika memerah. Wawasannya saat itu terlalu sempit. Dia bahkan tidak tahu apa maksud belajar seni. Sejak kecil, dia hanya tahu belajar adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib.
Melihat Lindsey kembali gugup hingga wajahnya memerah, Brandon langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Kamu selalu lucu kalau gugup. Wajahmu sampai merah begini."
Setelah puas tertawa, dia tetap mengajari Lindsey dengan serius. Lindsey sebenarnya sangat iri pada Brandon. Dia iri karena Brandon tidak perlu pergi ke sekolah, tetapi tetap memahami begitu banyak hal.
Belakangan, Lindsey baru tahu bahwa Brandon belajar secara daring. Otaknya memang jauh lebih cerdas daripada kebanyakan orang. Begitu cerdasnya sampai kakeknya berani mengirimnya ke tempat seterpencil itu, karena yakin hal itu sama sekali tidak akan mengganggu pendidikannya.
Ada orang yang memang terlahir berbakat.
Brandon yang dulu sangat berbeda dari yang sekarang. Sekarang, dia begitu dingin dan sulit didekati. Segalanya sudah berubah.
"Lindsey, kenapa kamu nangis?"
Panggilan lembut itu membuat Lindsey tersadar. Dia menatap Wanda, lalu baru menyadari bahwa pipinya sudah basah oleh air mata.
Wanda tidak tahu perkataan mana yang membuatnya menangis. Setelah berpikir sejenak, dia mengernyit.
"Jangan-jangan kamu sudah ketemu Brandon? Dia masih suka menggodamu?"
Wanda tentu tahu betapa jahil cucunya itu. Dulu, Brandon memang senang melihat Lindsey salah tingkah.
Namun, perubahan Brandon selama beberapa tahun terakhir sangat besar. Terlebih setelah memikul tanggung jawab Keluarga Kurniawan, dia sudah belajar menjadi setenang kakaknya. Seharusnya dia tidak lagi menggoda Lindsey seperti dulu.
Memikirkan hal itu, Wanda merasa sedikit sedih. "Brandon juga sudah berubah. Dulu dia memang seenaknya dan suka mencoba berbagai aktivitas menantang. Selama beberapa tahun di luar negeri, sepertinya dia mengalami banyak hal."
"Tapi setiap kali Nenek tanya, dia nggak pernah mau cerita apa-apa. Kamu juga jadi pendiam sekarang. Melihatmu begitu sungkan di depan Nenek, hati Nenek rasanya sakit."
Pelayan masuk membawa hidangan. Lindsey buru-buru mengusap air mata di pipinya.
"Ayo makan." Lindsey mengambil sepotong ikan kerapu yang lembut dengan sendok, lalu meletakkannya di mangkuk Wanda.
Namun, Wanda tidak menyentuhnya. "Kalau kamu punya masalah, ceritakan saja ke Nenek. Brandon sudah pulang dari luar negeri. Kamu juga bisa bicara dengannya."
Ternyata Wanda benar-benar tidak tahu apa-apa tentang hubungan penuh luka antara dirinya dan Brandon. Permintaannya dulu juga tidak pernah sampai kepada sang nenek.
Hati Lindsey terasa hangat. Semua ganjalan di dalam dirinya seketika lenyap. Wanda benar-benar orang tua yang sangat baik.
"Aku nggak punya masalah apa-apa. Hanya saja, ibu kota terlalu gemerlap. Dulu aku mulai sekolah agak terlambat. Di universitas pun aku bukan siapa-siapa. Bisa sampai seperti ini saja sudah bagus."
Wanda langsung tersenyum. Dia mengambilkan lauk untuk Lindsey. "Kamu harus lebih sering senyum. Dulu setelah nilaimu mulai naik, kamu pernah bilang kalau nanti sudah bisa cari uang banyak, kamu akan beliin Nenek kue ulang tahun terbesar di dunia."
Benar. Dulu, ketika masih muda dan belum mengerti apa-apa, Lindsey selalu berkata bahwa suatu hari nanti dia akan sukses. Namun, jalan menuju kesuksesan ternyata jauh lebih sulit daripada yang dia bayangkan.
Pipi Lindsey sedikit memerah. Dia tidak menyangka Wanda masih mengingat semuanya. Baru saja dia hendak mengatakan sesuatu, pintu ruang privat tiba-tiba didorong terbuka.
Bahkan sebelum orangnya terlihat, suara sindiran Brandon sudah terdengar. "Nenek punya semuanya, memangnya masih butuh kue ulang tahun dari dia? Selama ini, dia mana pernah memikirkan Nenek. Nenek saja yang terus membicarakannya."