Gelas ini dibuat bersama Brandon saat mereka pergi ke toko keramik. Di atasnya bahkan masih ada tanda tangan mereka berdua.
Setiap kali kenyataan terasa begitu menyakitkan hingga menusuk hatinya, Lindsey selalu mengeluarkannya dan menggenggamnya erat-erat untuk beberapa saat, seolah benda itu adalah obat yang bisa menyembuhkan lukanya.
Dari sudut matanya, Jinny melihat Lindsey masih menatap gelas itu dengan tatapan kosong. Sambil mengusap wajahnya dengan handuk, Jinny berkata, "Aku dengar dia beliin Cecilia vila di luar negeri, bahkan kasih kartu hitam ke putrinya."
"Kamu sudah tiga tahun sama dia, tapi yang kamu dapat cuma gelas keramik, batu-batu kecil yang kamu pungut sembarangan, dan daun yang kamu petik dari pinggir jalan?"
Kalau dulu, Lindsey pasti akan membantah seperti ini. "Kamu saja yang nggak ngerti. Yang penting itu kenangan yang dimiliki bersama."
Itulah jawaban Lindsey dulu.
Jinny pun selalu menggeleng setiap mendengarnya, lalu berkata, "Karena sifatmu itu, kamu jadi gampang dipermainkan orang."
Setiap kali mendengar ucapan Jinny, Lindsey hanya menunduk sambil memeluk gelas itu erat-erat. Bukan berarti dia tidak menyukai uang. Dia hanya terlalu mencintai Brandon, sehingga tidak ingin merasa berutang kepadanya.
Sejak kecil, Lindsey hidup serba kekurangan. Di rumahnya, pertengkaran selalu bermula dari masalah uang. Karena itu, baginya merasa berutang kepada Brandon dalam hal materi adalah sesuatu yang sangat memalukan.
Kalau dia menerima hadiah-hadiah mahal itu, hubungan mereka akan terasa tidak setara. Waktu itu, Lindsey hanya menginginkan hubungan yang setara.
Namun, setelah hubungan mereka terbongkar, semua orang justru mengatakan dia melakukan semua itu karena status Brandon. Mereka bilang dia berkhayal Brandon mencintainya, berkhayal bisa menggantikan posisi Cecilia.
Ketulusan yang dulu dia berikan sepenuh hati diinjak-injak begitu saja. Hanya Jinny yang membantunya membereskan "barang-barang rongsokan" dari tempat yang dulu mereka tinggali bersama, lalu memeluknya sambil menangis.
"Kamu cuma menginginkan cinta, makanya jadi begini. Dari dulu aku sudah bilang, setidaknya minta sesuatu yang nyata dari dia. Lindsey, jangan nangis lagi."
Bagaimana mungkin dia tidak menangis? Dulu, dia sampai merasa dirinya hampir buta karena menangis.
Jinny sebenarnya masih ingin melontarkan beberapa sindiran lagi, tetapi Lindsey tiba-tiba berkata, "Dulu aku memang bodoh banget."
Mendengar kata itu keluar dari mulut Lindsey, Jinny sampai terkejut. Lindsey terlalu penurut. Satu-satunya hal yang pernah dia lakukan di luar batas sepanjang hidupnya hanyalah menjalin hubungan dengan Brandon.
Jinny butuh beberapa saat untuk mencerna perkataan itu sebelum akhirnya tertawa kecil. "Kalau kamu sudah bisa berpikir seperti ini, baguslah. Jadi, semua ini mau kamu buang?"
"Ya. Buang saja." Dia memeluk kardus itu dan membawanya ke luar hingga ke bawah gedung.
Kompleks tempat mereka tinggal merupakan kawasan lama. Suasananya berisik, pengelolanya juga tidak peduli. Sampah di tempat pembuangan selalu menumpuk hingga meluber dan menguarkan bau busuk yang menyengat.
Lindsey memeluk kardus itu dengan kedua tangan dan berdiri di depan tempat sampah selama sepuluh menit sebelum akhirnya memasukkan semuanya sekaligus. Dia takut menyesal, jadi langsung berlari kembali ke atas.
Malam musim panas terasa pengap. Padahal jaraknya tidak jauh, ujung hidungnya sudah dipenuhi keringat karena berlari. Dia tidak pernah menyangka suatu hari nanti dirinya benar-benar tega membuang semua kenangan itu.
Sesampainya di ruang tamu, Lindsey melihat Jinny sudah meletakkan dua botol bir dingin di atas meja. Hari ini, Jinny masuk sif pagi, jadi malamnya dia bisa tidur nyenyak.
"Ayo, kita minum. Rayakan akhirnya kamu terbebas dari kutukan bernama Brandon."
Selama bertahun-tahun, Jinny yang menemani Lindsey melewati semuanya dan menyaksikan seluruh masa-masa sulitnya.
Lindsey perlahan duduk di sofa, membuka botol bir, lalu menyesapnya. Dulu dia tidak pernah minum minuman keras. Baru mencium baunya saja dia sudah ingin muntah.
Belakangan, demi pekerjaannya di rumah lelang dan jamuan bisnis yang harus dihadiri, dia jadi sering minum. Kemudian, dia akan diam-diam pergi ke kamar mandi untuk muntah dan buru-buru merapikan riasannya sebelum kembali menemui klien.
Uang yang dia hasilkan didapat dengan cara seperti itu.
Jinny mengangkat botol birnya. "Mulai sekarang, kalau ketemu mereka, menjauh saja. Dulu aku sudah bilang, dengan sifat Brandon yang seenaknya begitu, mana mungkin dia serius soal perasaan? Orang kayak dia bisa punya apa saja. Paling cuma karena bosan, jadi cari hiburan."
Jinny bukan tipe orang yang percaya pada cinta seperti Lindsey.
"Jinny, jangan bahas dia lagi. Mulai sekarang aku mau fokus cari uang."
Kedua kaleng bir saling beradu di udara.
....
Keesokan harinya, departemen tempat Lindsey bekerja menerima sebuah lukisan untuk dititipjualkan, tetapi pemiliknya ingin bertemu langsung dengannya.
Chandra mengusap keningnya. "Seorang nenek. Kelihatannya ramah."
Lindsey segera menuju ruang tamu. Saat melihat wanita tua yang berdiri sambil bertumpu pada tongkat, jemarinya seketika menegang. Itu adalah nenek Brandon dari pihak ayah.
Dulu, alasan Brandon dipindahkan ke Kabupaten Sirata sebenarnya juga karena diminta menemani sang nenek yang sedang tinggal di pedesaan untuk memulihkan kesehatannya.
Nenek Brandon tidak suka kota besar. Menurutnya, udara di desa lebih segar, sehingga kakeknya sekalian mengirim Brandon ke sana.
Lindsey sangat menyukai nenek Brandon. Beliau memiliki pembawaan yang anggun dan selalu tersenyum ramah.
Saat masih muda, Lindsey merasa orang tua seperti inilah yang dia inginkan dalam hidupnya. Sungguh berbeda dengan kedua orang tuanya yang selalu menuntutnya. Dia sangat iri kepada Brandon.
Namun, sejak berpisah di Kabupaten Sirata, dia tidak pernah lagi bertemu dengan sang nenek.
Kini, nenek Brandon masih membawa senyuman yang begitu dikenalnya. "Lindsey, sini, biar Nenek lihat."
Hidung Lindsey terasa perih. Air matanya hampir jatuh. Dulu, saat berada di titik paling putus asa, dia berusaha menemui sang nenek. Dia pikir nenek Brandon pasti akan membantunya. Namun, dia justru mendapat kabar bahwa sang nenek menolak permintaannya.
Lindsey menunduk tanpa berkata apa-apa. Sang nenek malah berjalan menghampirinya dan menggenggam tangannya.
"Kamu jadi cantik sekali. Nenek sejak dulu sudah tahu kamu pasti akan cantik sekali setelah dewasa. Selama beberapa tahun ini Nenek berkali-kali telepon keluargamu, tapi katanya kalian semua sudah pindah dan nggak ada yang tahu kalian pergi ke mana. Kok kamu jadi kurus sekali?"
Keluarganya tidak pernah pindah. Sepertinya seseorang sengaja mengatakan hal itu kepada sang nenek.
Mirae ingin Lindsey menghilang dari ibu kota. Kalau dia sampai tahu Lindsey bertemu dengan sang nenek, dia pasti tidak akan diam saja.
Lindsey menarik tangannya kembali dan melirik lukisan di samping mereka. Dengan kekayaan sang nenek, rasanya tidak mungkin beliau perlu datang ke rumah lelang hanya untuk menitipkan sebuah lukisan.
"Bu, ini lukisan yang ingin Anda titipkan untuk jual ya?"
Dia memanggil "Bu", bukan "Nenek".
Ada sedikit kekecewaan di mata sang nenek. Beliau menghela napas dan menepuk punggung Lindsey. "Tadi Nenek kebetulan lihat namamu di informasi publik rumah lelang ini. Jadi Nenek pikir, sekalian saja datang untuk coba peruntungan. Lukisannya ditinggal di sini. Temani Nenek makan siang ya?"
Seharusnya sebagai klien, Lindsey memang perlu menemaninya. Dia membuka mulut, lalu melihat beberapa pengawal yang berdiri di belakang sang nenek. Sepertinya mereka memang ditugaskan menemani beliau keluar.
Kondisi kesehatan sang nenek selama ini kurang baik. Keluarga Kurniawan seharusnya tidak mengizinkannya terlalu lama berada di luar.
Lindsey akhirnya mengangguk pelan. Sang nenek langsung tersenyum lebar dan menarik tangannya untuk berjalan. "Nenek sudah pesan restoran. Kamu pasti suka."
Lindsey masuk ke mobil nenek Brandon. Mobil itu sangat nyaman, sepertinya sengaja dimodifikasi karena hampir setiap bagiannya terasa empuk.
Sang nenek tersenyum menatapnya. "Kamu masih ingat dulu kamu sering masuk ke mobil Nenek untuk main? Kamu bahkan pernah masukin anggrek yang kamu gali dari gunung ke mobil."
Dulu, setiap kali sang nenek datang ke desa, kepala desa bersikap sangat hormat dan gugup. Sang nenek membeli sebuah rumah di sana. Di halaman rumah itu terparkir sebuah mobil mewah yang harganya mencapai puluhan miliar. Konon, pada hari pertama bahkan ada banyak pejabat yang datang mendampinginya.
Lindsey tidak tahu berapa harga mobil itu. Dia hanya merasa mobilnya sangat nyaman. Setelah akrab dengan sang nenek, dia sering bersembunyi di dalam mobil untuk tidur.
Sang nenek adalah orang yang sangat baik dan tidak pernah marah. Jadi, anggap saja ini hanya makan bersama untuk terakhir kalinya. Setelah itu, mereka tidak akan bertemu lagi.
Setibanya di deretan ruang privat restoran dan berbelok melewati lorong, Lindsey melihat Mirae dan Cecilia. Langkahnya terhenti. Secara refleks, dia bersembunyi di balik tanaman pot di samping.
Namun, Mirae sudah melihatnya. Ekspresinya seketika berubah. Hanya saja, begitu menyadari ibu mertuanya juga berada di sana, ekspresinya segera kembali normal.
Cecilia berdiri di sampingnya dengan senyuman manis dan patuh. "Ibu, gelang giok ini aku pilih sama Brandon. Suka nggak?"
Gelang giok hijau itu sudah melingkar di pergelangan tangan Mirae.
Cecilia memanggilnya "Ibu". Hanya orang yang sudah menikah dengan anggota Keluarga Kurniawan yang boleh memanggilnya seperti itu.
Mirae mengangguk dengan lembut. "Terima kasih. Malam ini ajak Brandon pulang makan bareng. Sudah lama kita nggak kumpul."
Cecilia tersenyum sambil merangkul lengan Mirae. "Setelah pulang, Brandon masih saja sibuk sama pekerjaannya. Kalau nggak ada Lala, mungkin nggak ada yang bisa menyuruhnya melakukan apa pun."
Mirae mengangkat sudut bibirnya. "Akhirnya ada juga yang bisa menaklukkannya."
Seolah baru menyadari keberadaan Lindsey di sana, senyum di mata Cecilia sedikit memudar. "Nenek, Lindsey."
Sang nenek memang kurang sehat dan selama beberapa tahun ini hampir tidak pernah keluar rumah. Cecilia sama sekali tidak menyangka akan bertemu mereka di sini.