로그인【ゾンビサバイバル&極限ラブストーリー】 ──《愛してる。だから、殺せた》── 渋谷に現れた1体のゾンビが、秩序ある日常を24時間で破壊した。 美咲は死なせない。俺も死にたくない ならば、ふたりで生き抜くしかない。 そのためなら、なんだってやってやる。 ──なんだって── これは、美咲を愛した俺が、人類の英雄になるまでの物語だ。
더 보기“Ah ...”
Sebuah suara aneh tiba-tiba terdengar oleh Widuri yang saat itu sedang turun ke lantai satu untuk mengambil minum. Suara siapa? Bukannya biasanya Emran, suaminya, sudah tertidur pulas di jam-jam larut seperti ini?
Widuri mengedarkan matanya ke depan, sembari menegakkan telinga untuk melihat ke arah ruang tengah yang temaram.
“Nggh …”
Suara yang Widuri yakini sebagai erangan seorang wanita itu justru semakin terdengar di telinganya.
Tak hanya sekali, namun berkali-kali, suara desahan dan juga deruan napas itu terus mengganggunya. Yang membuat Widuri terheran, adalah suara itu bukan terdengar dari kamar tidur, namun ruang tamu.
Seketika, Widuri tersadar, siapa pemilik suara rintihan tersebut. Suara siapa lagi kalau bukan suara Mawar Rosdiana. Detik itu juga, Widuri semakin sadar akan posisinya di rumah milik sang suami. Dia lupa, bahwa sang suami kini sudah memiliki istri lain yang lebih dicintai olehnya.
Mawar adalah istri kedua Emran yang ia nikahi satu bulan setelah ia menikah dengan Widuri. Ya, Widuri kini terjebak dalam kehidupan pernikahan poligami yang tidak dia inginkan. Andai saja dia tahu akan berakhir seperti ini, pasti Widuri tidak akan mau menerima perjodohan yang diajukan kedua orang tuanya saat itu.
Kedua orang tua Emran dan Widuri yang membuat perjanjian aneh sehingga menyebabkan putra putri mereka diikat dalam pernikahan. Widuri yang polos saat itu mengiyakan saja permintaan orang tuanya sebagai bukti baktinya. Dia tidak tahu jika Emran dan Mawar sudah berpacaran lama serta merancang pernikahan. Dia yang menjadi orang ketiga di hubungan mereka, dia yang seharusnya tidak berada di sini dan Widuri sangat menyesal. Widuri menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala mencoba menghalau beberapa ingatan di benaknya.
“Untuk apa juga aku di sini. Aku balik kamar saja,” lirih Widuri, mencoba tak peduli. Namun, wanita itu jelas tahu, bahwa dia hanya mencoba membohongi dirinya sendiri.
Siapa yang tak merasakan perih di hatinya ketika melihat sang suami bergumul dengan wanita lain di depan matanya? Terlebih ketika Widuri sendiri bahkan tak pernah terlelap di ruangan yang sama dengan Emran.
Baru saja ia hendak membalikkan badan kembali ke kamarnya di lantai dua. Tiba-tiba lampu di ruang tengah menyala dan Widuri sontak menyembunyikan tubuhnya di belakang lemari es.
“Mas Emran memang hebat. Aku sampai kewalahan,” ujar Mawar dengan suara manjanya. Mawar memang seorang wanita cantik, berambut panjang dengan paras ayu dan suara lembut nan manja.
Siapa saja yang melihat Mawar pasti akan terpesona dengan visualnya. Mungkin itu juga yang membuat Emran begitu mencintainya. Beda dengan Widuri. Dia bahkan tidak pandai merawat diri. Kulitnya sawo matang tidak seputih Mawar, belum lagi banyak jerawat tumbuh menghiasi wajahnya. Widuri sendiri juga tidak tahu mengapa wajahnya selalu berjerawat. Padahal dia sudah sering menghabiskan waktu ke salon kecantikan.
“Hmm ... kamu juga hebat, Sayang. Jadi besok mau gaya apa lagi?” Kini terdengar suara Emran menyahut.
Widuri hanya diam sambil mencoba menutup telinganya. Dia tidak mau iri, tapi kalau mau jujur dia merasa dianaktirikan oleh Emran. Bahkan hingga sekarang, Emran tidak pernah menyentuhnya. Saat malam pertama dulu, mereka langsung tidur saling memunggungi dan tanpa berkata sepatah kata pun.
“Kamu tuh, Mas. Gak capek apa minta tiap hari.”
Terdengar tawa renyah Emran. Tanpa disadari Widuri sangat suka tawanya. Sayangnya Emran tidak pernah memperlihatkan tawa itu saat bersama dengan Widuri. Emran selalu menjadi pendiam dan bersikap dingin pada Widuri berbanding terbalik saat bersama Mawar.
“Yang pasti kalau mau begituan jangan di sini, Mas. Di kamar saja, kalau Widuri lihat, gimana?”
“Alah ... dia sudah tidur gak bakal bangun. Kalau lagi sama aku, kamu gak perlu memikirkan tentang Widuri. Fokus saja ke aku, Mawar.”
Terdengar decakan keluar dari bibir Mawar.
“Mas ... kamu gak boleh gitu. Bagaimanapun Widuri juga istrimu. Bukankah kamu sudah janji padaku akan berlaku adil pada kami berdua. Kenapa sekarang kamu seakan tidak memenuhi janjimu itu?”
Widuri terdiam, tanpa disadari tubuhnya sudah merosot dan duduk di lantai. Sepertinya Emran dan Mawar sedang membicarakan dirinya. Widuri pikir Mawar selama ini yang memonopoli Emran, ternyata tebakannya salah.
“Iya, Sayang. Aku minta maaf.”
“Janji besok kamu juga akan berlaku manis ke Widuri?” Emran tidak menjawab hanya menganggukkan kepala.
Sayangnya gestur tubuh Emran tidak bisa dilihat Widuri. Gadis berwajah manis itu tampak terpekur sambil memeluk lutut melihat pantulan wajahnya di lantai. Kenapa juga mereka terus membahas tentang dirinya? Apa mereka tahu yang sedang dirasakan Widuri saat ini?
Tak lama Widuri mendengar suara langkah menjauh bersamaan bunyi suara pintu kamar terbuka kemudian tertutup. Widuri menghela napas lega sambil perlahan mengangkat kepala
“Sepertinya mereka sudah masuk kamar. Ya Tuhan ... kenapa juga tadi aku turun? Kenapa juga aku haus? Kalau harus mendengar semua ini.”
Widuri bersiap bangkit dan hendak kembali ke kamar saja. Cukup sakit hatinya melihat sekaligus mendengar interaksi mesra suaminya. Ia tidak mau membuat hatinya semakin terluka. Widuri perlahan bangkit dan membalikkan badan hendak ke kamar.
Namun, langkahnya segera terhenti dan mematung di tempatnya saat melihat Emran sedang berdiri bertelanjang dada di depannya. Widuri pikir Emran sudah masuk kamar, ternyata dia masih di sana dan kini hendak mengambil minum di kulkas.
Widuri bergeming di tempatnya sambil menatap Emran. Dia tidak pernah melihat suaminya bertelanjang dada di depannya. Widuri juga baru tahu jika tubuh suaminya sangat indah. Dada bidang, bahu lebar dengan jajaran roti sobek menghias perutnya. Tanpa sadar, Widuri menelan ludah mencoba menahan sebuah rasa aneh yang tiba-tiba merasuki tubuhnya.
Emran malah menatapnya dengan tatapan setajam pisau dan wajah yang tegang. Widuri merasa kalau suaminya saat ini sedang marah. Dia menyesali kebodohannya kali ini. Lalu tanpa diminta suara tanya yang menyakitkan telinga terlontar dari mulut Emran.
“Ngapain kamu di sini? Ngintip aku?”
淡い橙の光が湯気に溶け、狭い空間を柔らかく包んでいた。浴槽に浸かった俺にもたれ掛かる美咲。美咲の濡れた髪が俺の胸元に貼り付いている。湯に身体を沈めると、熱が疲労を溶かしていく。──これが最後の日常になる俺も、美咲も分かっていた。長い沈黙のあと、美咲が言った。「もしアンタが噛まれたら、アタシが殺してあげる」柔らかな蒸気の中、言葉すらも慈悲の刃のように優しかった。俺は答える。「……ありがとう、美咲。でも、死なないさ」美咲が動き、波紋が水面に広がった。「……ふたりで生きることが、こんなに難しくなるなんてね」美咲が小さく笑った。けれど声は、真剣だった。「生き残るわよ」「あぁ、約束だ」首だけで振り返った美咲と頷き合い、互いに顔を寄せる。水滴が頬を伝い、唇が触れた。短く、強く。それは、プロポーズよりも先に交わした、誓いのキスだった。*まだ外の日差しは強い。遅い昼食を済ませた俺たちは並んでベッドに横になった。冷房の風が静かに回り、遠くにはかすかなサイレン。その音も次第に遠ざかる。静まり返った街の中、隣から美咲の寝息が聞こえてきた。その手を握り締め、俺もすぐに、眠りに落ちた。*ブーブー。スマホが震え、目が覚める。画面には18時12分の文字。浮かぶ名前は──彩葉。通話だ。耳に当てた瞬間、お調子者の甲高い声が飛び込んできた。
「悟司、防具を付けていない人間を、ふたりで確実に殺すならどうやる?」その血生臭い仮定を、あくまで仮定として考える。「長物が欲しい。できれば、背後から気づかれる前に。二人なら囮が注目を引き、後ろからやる」「いいわ。囮役は身を守る防具を付ける。盾も欲しいわね。攻撃を防ぐ。そして、もう片方の手に持つのは」──包丁を手に取る美咲「それで刺すのか?」首を振りながら、包丁も振る美人。メンヘラも真っ青の猟奇的なシーンだった。「傍に寄りたくない。遠間から刺し殺す。手槍を作るわ」その言葉に浮かぶ。──盾と槍。盾を構えて、槍を突く。ふたりで作る槍衾。想像する。敵が俺ならどう戦うか。一方の槍を掴む、盾を掴む。フリーの槍に腹を刺される死ぬ。蹴りつける、槍に切られる。盾持ちの体当たりで転がされて、手の届かない距離から滅多刺しにされる。死ぬ。逃げる・・・はできるかもしれない。それ以外は無理だな。ケガすらさせられない。運動神経抜群の美咲が槍を振るっているとすれば、猶更だ。何度も死んだ。考えた。だが、槍を振うのは俺だ。この装備は・・・強い。「盾と槍か。古代の戦士みたいだな。防具がない時代の最適解……か」「そうね。訓練せずとも突きなら殺しやすい。包丁と物干し竿。これをベルトとガムテープでグルグル巻きにして、穂先と柄の強度を高める。実用に耐えると信じましょう」「って、盾はどうするんだ?」「家にはないわね、調達できればいいんだけど。手で持てる、円形か四角で、硬い素材がベスト」
【第2章 犯罪者の成れ果て、或いは、異様な戦士】──首筋を噛まれた。 皮膚に食い込む鋭く硬い歯の感触がやけに生々しい。 背中と胴体に回った腕が俺の身体を拘束する。肩口に絡みつく細い指。必死にしがみ付いて離れない。爪が布越しに食い込み、痛みを訴えている。 胸に押し当てられる身体は熱い。柔らかさと汗ばみが混ざった温度。だが、胴体に回された腕は固く、逃げ場を与えない。 目だけ動かして美咲を見る。髪が頬を掠めた。 セミロングの髪──光を受けて黒に近い茶色。 汗とシャンプーの匂いが混じった甘さが、呼吸のたびに肺に侵入してくる。艶めく毛先が唇に触れ、ざらつく。 肩から首筋を圧迫する重さ。歯の硬さと、熱い液体が皮膚に広がっていく感覚。圧迫感は痛みよりも、なぜか安堵に似ていた。 ──これで死ぬ 目の前にいるのは、美咲。その甘い匂いと、柔らかな抱擁に包まれながら。 美咲に噛まれ、抱かれ、死んでいくのだと理解した。*美咲に甘噛みされることしばし。触れる吐息は温かいのに、噛まれるたびに皮膚がひりつき、心臓が跳ねる。 彼女の顔には、冗談も色香も一切なかった。 研究者のような冷静さで、俺の身体に食らいつき、部位ごとに判定していく。 首筋。肩口。肩から手先。そのたびに「ここは噛みやすい」「ここも危険」と低く結論を落とす。 「ベッドに横になりなさい」 との美咲の声。 次に膝下に体重をかけ、噛みつこうとする美咲が「ゆっくり蹴って」と注文を付ける。 太ももに近いと膝で押しのけられる。足先や脛を噛む動きは丁度蹴りやすい。 下肢は守りやすいと彼女は頷いた。 キスから始まり、次々噛みつかれる感覚に耐えながら、俺は身を固くする。 「アンタを襲ってみたけど……顔面、首筋、肩口、肩から手先。ここは危険すぎる。他は噛みつきにくい。守れる。胴体と脚は難しいわね。転倒しているならもう死んだも同然だから守りは後回しでもいいか」 そこに感情はない。ただ生存のための分析。 ──しっかり検証するわよ ホントに噛むの!?と驚く俺に美咲は断言した。やれる準備はすべてやると。 それが逆に俺の胸を締め付ける。そこまでしても、生き残れるか分からないのだから。 こうやって、守るべき箇所を選んでいるのは理
パソコンを閉じ、美咲もローテーブルに座る。「駐屯地に受け入れてもらえるか……これは賭けね。フェンスを乗り越えて入る。保護されている内に役割を見つけて軍内で価値ある人材になる」「今の時点で、自衛隊がアタシたちに危害を加えるとは思えない。保護される可能性は十分にある。入れてもらえないかもしれないけど……そのときはそのときね。諦めず侵入する手を探しましょう」──もし断られたら?そのリスクを指摘しようとして、だからなんだと言う答えを自分で得る。ここに残っても、受け入れられなくても、死ぬだけだ。動いて、受け入れてもらえるなら生きる可能性が繋がる。もはや、0ではないという可能性に縋るしかない。「問題はどう行くかだな」練馬駐屯地の最寄り駅『平和台』まで電車で15分。一瞬で行ける。・・・動いていればな。最新の情報で運休が確定した。ダイヤ調整は諦めたらしい。「……徒歩で行く」「護国寺から練馬までか?」頷く美咲。「それしかないわよ」──ゾンビがいる中、歩きで延々と?正直怖い。危険すぎる。心はそう言っている。「幹線道路は渋滞。車は無理。音が出るバイクもダメ。自転車はいいけど、警戒が疎かになる。タックルされたら転倒して死ぬ」「だから、静かに偵察しつつ移動できる徒歩移動しかない」しかし、美咲の言葉を頭で《理解》してしまう。それしかない。ならば、問題はいつ動くか?そして、どうゾンビと戦うか?スマホを傾ける。勝ち気な美咲の待ち受け画像に時刻が出る。──14時38分まだ明るいが、もうす