Short
縛られた恋

縛られた恋

By:  時歓Completed
Language: Japanese
goodnovel4goodnovel
9Chapters
8.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

幼なじみの謝野景輝と私の仲を引き裂くため、江崎浦月は意図的にいじめを仕組んだ。私は罠にはまり、景輝だけを救った。しかし、浦月が雇った者たちが度を超え、彼女は不慮の死を遂げた。これにより、景輝は私を骨の髄まで憎むようになった。彼は、私がいじめを計画し浦月を死に追いやったと深く信じ込んでいた。結婚記念日、彼は私を高層ビルから突き落とした。その顔には容赦ない凶暴さが浮かんでいた。「これはお前が俺と月ちゃんに借りがあるからだ。星野奏音、お前は死ぬべきだ!」目を開けると、私は彼らがいじめられた日に戻っていた。今度は助けに入らなかった。後に、彼は雨の中で私の窗を叩き、嗄れた絶望的な声で言った。「奏ちゃん、なぜ俺を見捨てたんだ......」

View More

Chapter 1

第1話

Terlahir hanya lima menit lebih lambat dari kakak kembarku, aku dianggap sebagai pembawa sial oleh keluarga yang menyebabkan kematian Ibu.

Aku tumbuh di tengah pilih kasih keluarga dan kecemburuan kakakku sejak kecil, sampai akhirnya aku didiagnosis mengidap kanker stadium akhir.

Saat aku memutuskan untuk tidak lagi berhati-hati memohon kehangatan keluarga dan memilih pergi bebas ....

Mereka yang dulu mengabadikan justru menjadi gila.

...

"Aku ada di depan pintu."

Pacarku, Rian, terdiam selama dua detik mendengar suaraku yang serak. Namun ia tidak bertanya apa pun, hanya melambaikan tangan pada pelayan agar aku dibiarkan masuk.

Kakakku, Dito, yang melihatku lebih dulu. Senyum di wajahnya langsung hilang.

"Kamu ke mana saja, Nadia? Nggak tahu hari ini adalah ulang tahun Kadin? Kamu baru datang pas pestanya mau selesai."

Bunyi dentingan sendok garpu dan piring terdengar tidak menyenangkan. Ayah mendengus dingin.

"Cuma beda lima menit dari Kadin, tapi sama sekali nggak pengertian. Datang ke restoran mewah ini dengan berantakan kusam gitu, bisa nggak kamu setidaknya berdandan?"

Aku menarik kursi dan duduk diam.

Jadi mereka ingat. Ingat bahwa aku dan Kadin lahir di hari yang sama.

Mereka hanya tidak ingin merayakan ulang tahunku.

"Aku pergi membeli hadiah ulang tahun untuk kakak, nggak sempat ganti baju."

Aku menarik sudut bibir dan menjawab dengan tenang.

Melihat aku tidak membantah seperti biasanya, mereka semua terdiam sesaat.

Suasana menjadi canggung dan hening, sangat berbeda dari pemandangan hangat yang kulihat dari luar jendela tadi.

Ayah memalingkan wajahnya dan berkata, "Selalu aja cari alasan."

Dito berdehem, mencoba meredakan suasana.

"Nadia, jangan tersinggung sama kata-kata Ayah. Waktu kamu nggak ada, yang paling sering menyebut namamu itu justru Ayah."

Aku tetap tanpa ekspresi. Dalam hati aku menertawakan diri sendiri, paling sering menyebuk saat memarahi, mungkin.

Kemudian, Dito mengambil sepotong udang dan meletakkannya di mangkuk.

"Makanlah. Udang ini diterbangkan langsung, sangat segar dan manis. Ayah sengaja menyuruh kami menyisakan untukmu. Aku ingat kamu paling suka."

Menatap daging udang itu, dadaku terasa sesak. Jantungku seakan diremas, rasa mual tak tertahan naik ke tenggorokan.

Aku alergi makanan laut.

Yang suka udang dari dulu, adalah Kadin.

Aku tertawa dingin. "Ingatan kalian sangat bagus."

Ayah membanting meja.

"Kamu pasang muka ke siapa? Emang nya salah kalau keluarga melakukan segalanya demi kebaikanmu sendiri?!"

"Dari tiga bersaudara, cuma kamu yang paling nggak pernah bikin kami tenang. Dulu menyebabkan ibumu mati, sekarang mau membuatku dan kakakmu mati karena marah?!"

Setiap kata bagaikan jarum yang menusuk ke dalam daging dan darahku, menghilang tanpa jejak.

Yang tersisa hanya rasa sakit yang mendalam, mengalir ke seluruh tubuh.

Aku menjepit daging udang itu, mengunyah dan menelannya.

Rasanya memang manis dan lezat.

Hanya saja bagiku, mendapatkan sesuatu yang enak selalu menuntut harga yang sangat mahal.

Udang seperti itu. Cinta juga sama.

"Aku sangat merindukan Ibu. Aku juga nggak pernah berniat membuat kalian marah. Aku nggak mau makan udang hanya karena aku alergi makanan laut, dan nggak satu pun dari kalian mengingatnya."

Aku mengatakannya dengan tenang, seolah sedang menceritakan kisah orang lain.

Ekspresi Ayah jelas menunjukkan sedikit ketidaknyamanan, tapi ia tetap keras kepala.

"Siapa suruh kamu punya banyak penyakit. Kalau orang lain nggak ingat, kenapa kamu sendiri nggak bilang?"

Ekspresi kakakku sedikit berubah. Ia menarik tanganku.

"Nadia, kami adalah keluargamu. Dengan keluarga nggak perlu menahan diri. Cepat, dimuntahkan udang itu!"

Rian juga langsung berdiri dan berjalan ke sampingku.

"Alergi bukan hal sepele. Nadia, cepat dimuntahkan!"

Kekhawatiran di matanya tulus. Aku tertegun sesaat.

Saat aku hendak meraih tangannya, tiba-tiba terdengar seruan kaget di samping.

Rian seketika menepis tanganku, melangkah cepat menangkap Kadin yang hampir jatuh. Tangannya melingkari pinggang ramping Kadin dengan sangat akrab.

"Ada apa, Kadin? Apa kamu merasa nggak enak badan?"

Rian selalu tenang dan terkendali, jarang menunjukkan emosinya. Aku belum pernah melihatnya begitu cemas dan khawatir.

Aku menarik kembali tanganku yang menggantung di udara, merasa geli dan getir.

Kadin bersandar di dada Rian, menunjuk ke arah meja.

"Adik bilang dia menyiapkan hadiah ulang tahun untukku, jadi aku ingin membukanya dan melihatnya."

"Tapi kenapa ada darah di atasnya? Rian, Kak, Ayah ... aku takut ...."

Aku menatap lebih saksama. Di kotak kalung itu memang ada sedikit noda darah.

Mungkin tanpa sengaja tersentuh saat aku pingsan dan melukai denganku.

Ayah langsung melempar kotak itu jauh-jauh.

"Apa kamu nggak tahu Kadin takut darah?! Nadia, kamu mau mencelakai kakakmu?!"

Kalung itu adalah model terbaru musim ini. Aku menabung setahun penuh untuk membelinya.

Dito juga memandangku dengan kecewa.

"Nadia, semua orang tahu toko ini kemasannya selalu sempurna. Seberapapun nggak senangnya kamu, nggak seharusnya mengoleskan darah ke hadiah dan sengaja membuat Kadin nggak nyaman."

Rian baru saja menutup telepon ke dokter pribadinya, lalu berbalik dan memarahi.

"Nadia, jangan selalu mengandalkan statusmu sebagai adik untuk bertindak seenaknya. Minta maaf pada Kadin!"

Kadin menatapku, matanya penuh kemenangan yang sama sekali tidak ia sembunyikan.

Siapa pun yang pernah melihatku dan Kadin pasti tahu kami kembar. Tapi mereka semua memujiku karena lebih anggun dan cantik.

Ditambah lagi, aku unggul dalam segala hal yang kulakukan dan pelajari, jadi dia sudah lama iri padaku.

Kadin tampak murah hati dan lembut, tapi diam-diam selalu memanfaatkan pilih kasih Ayah dan Kakak untuk menyingkirkanku.

Sekarang, bahkan pacarku sendiri, Rian, berdiri di pihaknya.

Aku menutup luka di denganku yang masih berdarah. Seluruh tubuhku terasa dingin.

"Maaf, Kak."

"Aku yang salah, sudah membuat kalian nggak senang. Mulai sekarang ... nggak akan pernah lagi."

Aku berbicara pelan, lemah, dan patuh.

Seketika, raut jijik dan kebencian di mata mereka semua membeku.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status