Share

Bab 9

Author: 燃灯灯
Pagi-pagi tanggal 10, Sienna sudah menerima pesan dari Cedric.

Di dalamnya ada foto seorang pengacara sebagai saksi, beserta dua lembar surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani dan dibubuhi cap sidik jari.

[ Cedric: Puas? ]

Sienna mengangguk puas. Goresan tanda tangan itu memang tulisan Cedric. Hanya saja ... meski sudah ada pengacara yang menjadi saksi, jika Cedric benar-benar ingin ingkar, Sienna tetap tidak akan mampu melawan.

Namun, dia tidak merasa Cedric akan membuang waktu dan tenaga hanya untuk mempermainkannya.

Seperti yang pernah dikatakan pria itu, bukan berarti harus dirinya. Toh sekarang Thalia sudah kembali. Sebagai pasangan dalam pernikahan kontrak, sudah sewajarnya dia menyingkir.

[ Sienna: Lumayan. ]

[ Cedric: Besok siang aku suruh sopir jemput kamu. ]

[ Sienna: Y. ]

Di balik layar, Cedric menatap huruf "Y" yang baru saja muncul itu. Pelipisnya langsung berdenyut.

....

Rumah Keluarga Prasetya terletak di kaki Gunung Linur, pinggiran selatan ibu kota. Tempat ini dikelilingi pegunungan dan perairan. Pemandangannya sangat indah. Luasnya mencapai sekitar 60 hektare dengan taman klasik.

Sebelum terkena stroke, ayah Cedric, Darvis, gemar bermain golf. Dia bahkan membangun lapangan golf pribadi di bukit belakang. Namun, sekarang tempat itu lebih sering dipakai untuk mengajak anjing berjalan-jalan.

Awalnya Cedric ingin datang bersama Sienna. Namun, karena Darwin mengatakan ada urusan penting yang ingin dibahas, Cedric datang lebih dahulu.

Saat mobil berhenti, para pelayan segera membukakan pintu. Sienna turun dengan sepatu hak tinggi.

Gaun berkerah tegak dengan sulaman indah membalut tubuhnya yang ramping dan anggun. Sulur-sulur bunga plum melingkari pinggangnya, siluet burung bertengger di rantingnya, sementara brokat sutra berwarna putih keperakan itu memancarkan kilau lembut di bawah cahaya.

Rambut panjangnya disanggul rapi di belakang kepala, disematkan dengan tusuk rambut bermotif melati. Di telinganya tergantung sepasang anting mutiara yang sederhana dan elegan.

Sejak lahir, dia memang sudah memiliki paras yang cantik. Hanya dengan riasan tipis saja sudah lebih dari cukup. Tubuhnya semampai, pembawaannya anggun dan lembut.

Sekilas, dia tampak seperti seorang nona bangsawan dari zaman kuno yang baru saja melangkah keluar dari sebuah lukisan.

Para pelayan di samping langsung terpaku. Apa ini masih nyonya mereka yang dahulu? Nyonya yang hanya tahu mengikuti suaminya ke mana-mana dan selalu bersikap penurut itu?

Reaksi mereka membuat Sienna sangat puas. Memang itu tujuan yang diinginkannya. Makin besar perbedaannya, makin banyak perhatian yang akan tertuju padanya. Lalu ... yang perlu dia lakukan hanyalah membagikan kartu nama.

Sebagian besar tamu berkumpul di aula depan. Ada yang bermain kartu, ada yang bermain catur, ada pula yang bersantai mendengarkan kicauan burung peliharaan di bawah koridor.

Kemunculan Sienna langsung menarik perhatian. Para nyonya kaya di meja kartu saling berbisik, penasaran siapa wanita itu.

Saat mengetahui bahwa wanita itu adalah istri Cedric yang selama ini dianggap tidak pantas dibanggakan, mereka semua tercengang.

Sienna tidak memedulikan mereka. Tatapannya menyapu kerumunan hingga akhirnya menemukan sosok yang dicarinya di aula dalam.

Dia melangkah mendekat. "Sayang."

Cedric menoleh. Saat pandangannya tertuju pada sosok yang berjalan masuk dari pintu dengan cahaya matahari di belakangnya, kilatan kagum tak bisa disembunyikan dari matanya.

Bahkan ketika Sienna sudah berdiri di sampingnya dan menggandeng lengannya dengan akrab, dia masih belum sadar sepenuhnya.

Sienna mendekat. Aroma melati yang lembut terbawa angin koridor dan memenuhi napasnya.

Dia belum pernah melihat Sienna yang seperti ini. Parasnya memang selalu cantik, tetapi dia jarang berdandan. Pakaiannya sehari-hari lebih mengutamakan kenyamanan dengan kesan lembut.

Sienna melengkungkan bibirnya. Tatapan mereka bertemu. Wajahnya dipenuhi senyuman, tetapi tangan yang melingkar di lengan Cedric diam-diam mencubitnya kuat-kuat.

Sambil menggertakkan gigi, dia berbisik, "Terpukau sama kecantikanku ya, Sayang?"

Kata "Sayang" dia tekankan dengan sangat jelas. Suara yang sedikit meninggi itu masuk ke telinga Cedric. Entah kenapa, hatinya tergelitik.

Dahulu, dia sama sekali tidak merasa panggilan itu bisa terdengar seindah ini. Tatapannya tidak berpindah sedikit pun. Dia tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Sienna yang sedang mencubit lengannya.

Sambil mendekat, dia berbisik, "Lumayan."

Sienna mendengus pelan sambil meliriknya. "Ajak aku menyapa ayahmu."

....

Di gazebo halaman belakang, Darvis sedang bermain catur dengan seseorang. Dia mengenakan setelan tradisional yang membuat auranya tampak tenang dan berwibawa.

Meskipun stroke yang pernah dideritanya sudah sembuh setelah menjalani perawatan, kakinya masih belum pulih sepenuhnya, sehingga dia sering menggunakan kursi roda.

Darvis menjepit bidak catur di ujung jarinya. Setelah berpikir sejenak, dia menjatuhkannya perlahan. Seketika, hasil pertandingan pun ditentukan.

Lawan mainnya membungkuk ke depan, lalu tersenyum pasrah sambil melempar bidak caturnya ke dalam wadah.

"Benar saja .... Sudah bertahun-tahun, aku tetap nggak bisa ngalahin kamu."

Orang-orang di sekitar pun ikut memuji kemampuan Darvis bermain catur.

"Ayah." Sebuah suara memecah tawa di dalam gazebo.

Darvis menoleh. Seketika, dia melihat dua sosok berdiri di bawah anak tangga. Dia sedikit tertegun, lalu melambaikan tangan agar mereka naik.

"Ayah." Sienna ikut menyapa.

Cedric menggandeng Sienna, lalu memperkenalkannya kepada para tamu di samping. "Ini istriku, Sienna."

Sienna mengangguk sopan kepada mereka. Kemudian, dia menyerahkan kotak hadiah yang dibawa kepada Darvis. "Ayah, selamat ulang tahun."

Ketika dibuka, di dalamnya ada setelan tradisional hitam berkerah tegak, bermotif rusa dan bangau. Kancing simpul berlapis benang emas tersusun rapi, sementara motif awan berlapis emas pada ujung lengan menambah kesan anggun dan berwibawa.

Darvis mengangkat pakaian itu, lalu memperhatikannya dari atas sampai bawah. Wajahnya jelas menunjukkan kepuasan.

"Bagus sekali. Kamu yang bikin?"

Sienna sedikit membungkuk. "Semoga Ayah suka."

Darvis mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih."

Tatapan Cedric ikut beralih kepada Sienna. Kalau dahulu, dia pasti akan percaya bahwa pakaian ini benar-benar dijahit Sienna dengan tangannya sendiri. Namun sekarang, mengingat hubungan mereka yang sudah seperti air dan api, tentu dia tidak percaya lagi.

Bisa jadi Sienna hanya mengambil satu pakaian yang belum laku untuk dijadikan hadiah.

Darwin yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Nada bicaranya penuh sindiran. "Istri keponakanku memang luar biasa. Orang yang nggak tahu mungkin akan mengira dia berasal dari keluarga bangsawan terpandang."

Benar seperti dugaan Sienna. Darwin memang sengaja mempermalukannya di depan semua orang.

Dengan menyindir latar belakang keluarganya, dia ingin mempermalukan Darvis dan membuat semua orang merasa Keluarga Prasetya telah menerima menantu yang tidak pantas.

Semua itu hanya karena dahulu Sienna bersedia menikah dengan Cedric, membantu Cedric mendapatkan saham warisan, sekaligus menyingkirkannya dari perebutan kekuasaan. Itulah yang masih membuatnya menyimpan dendam.

Namun, ucapan seperti ini sudah terlalu sering Sienna dengar, jadi tak lagi mampu melukainya. Raut wajahnya sama sekali tidak berubah. Dia tetap tenang dan tidak rendah diri.

"Om bercanda. Asal-usul adalah sesuatu yang kita bawa sejak lahir, tapi ketulusan berasal dari diri sendiri. Bagiku, bisa berbakti ke orang yang lebih tua jauh lebih penting. Lagi pula, Keluarga Prasetya nggak pernah menilai seseorang hanya dari nama besar."

Darwin mendengus. "Nama besar? Yang benar-benar berguna adalah perempuan yang bisa membantu suaminya di dunia bisnis. Kalau cuma bisa mengerjakan pekerjaan rumah, apa bedanya dengan pembantu?"

Mendengar sindiran yang begitu terang-terangan, Sienna akhirnya mengerti mengapa yang memegang kendali Keluarga Prasetya sekarang adalah Darvis. Jelas karena kecerdasan emosional Darwin memang terbatas.

Sienna mengangkat pandangan. Nada bicaranya tetap lembut, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Om Darwin benar. Bisa membantu memang sebuah kemampuan. Tapi ...."

Dia menoleh ke arah Cedric sambil tersenyum. "Suamiku nggak butuh bantuanku. Dia sendirian pun mampu menopang seluruh perusahaan dengan mudah. Pilihan Ayah nggak pernah salah."

Di samping mereka, Darvis memainkan cincin giok di ibu jarinya dengan santai. "Sienna benar. Keluarga Prasetya nggak peduli pada status yang hanya sebatas gengsi. Kemampuan Cedric sudah terbukti dengan sendirinya."

Sienna kembali menatap Darwin. Suaranya sedikit merendah. "Kalau bicara soal membantu, menurutku dibandingkan sukses di dunia bisnis, berbakti kepada orang tua jauh lebih penting. Gimana menurut Om?"

Kalimat itu langsung membuat semua orang teringat, saat Tuan Tua meninggal dahulu, Darwin bahkan tidak muncul untuk terakhir kalinya.

Dahulu Sienna tidak pernah berani berbicara seperti ini kepada orang yang lebih tua. Dia takut akan membuat mereka tidak senang, lalu menghasut Cedric.

Sekarang? Dia bahkan berharap ada yang terus mendesak mereka untuk segera bercerai.

Wajah Darwin langsung menjadi masam. Dia masih ingat jelas, dahulu gadis ini begitu penurut dan mudah ditekan. Bagaimana mungkin dalam beberapa tahun saja berubah menjadi seperti sekarang?

Dengan wajah masam, dia berkata, "Cedric, seseorang yang lebih muda malah berani membantah orang yang lebih tua seperti ini, menurutmu pantas?"

Maksudnya sangat jelas, istrimu tidak tahu sopan santun.

Namun, sejak Sienna mulai berbicara tadi, tatapan Cedric tidak pernah lepas darinya. Kekaguman di matanya sama sekali tidak disembunyikan. Ditambah lagi, hubungan mereka memang sedang buruk.

Walaupun Cedric tidak menyukai istrinya, bukan berarti dia akan mengikuti ucapan Darwin. Dia hanya tersenyum tipis. "Menurutku Sienna benar. Om Darwin terlalu sensitif."

"Kamu ...." Wajah Darwin langsung berubah pucat karena marah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 62

    Kediaman Keluarga Hartono.Begitu Thalia tiba di rumah, Evron langsung memanggilnya ke ruang kerja.Lampu ruang kerja masih menyala. Evron sedang memegang kuas, berlatih kaligrafi di atas kertas. Perabot kayu merah bergaya klasik di ruangan itu diselimuti cahaya malam dari luar jendela, menciptakan

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 61

    Begitu kembali ke ibu kota, Stefan langsung menemui Sienna. Sienna sedang menunduk menikmati makan siangnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu lalu bertanya, "Beberapa waktu lalu kamu buru-buru pulang ke Kota Garmin. Apa terjadi sesuatu?"Stefan menunduk sambil mengambilkan lauk ke piring Sienna. Suara

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 60

    Saat Cedric keluar dari ruang rapat, Elric sudah berdiri di depan pintu kantornya.Cedric menyerahkan berkas di tangannya kepada sekretaris, lalu berjalan menghampiri sambil menunjuk ke arah ruangannya. Elric langsung mengerti. Dia lebih dulu membuka pintu, menunggu Cedric masuk, lalu menutupnya kem

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 59

    "Logikamu sebenarnya sama sekali nggak salah. Kamu bukan sengaja melakukan sesuatu yang seharusnya nggak dilakukan. Siapa pun pasti akan memilih menangani pihak yang kondisinya lebih parah dulu.""Tapi hasilnya?"Thiago mendekat, menatapnya dengan penuh selidik."Hasilnya, kamu nggak menyangka ayah

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 58

    Thiago dibohongi. Dia sudah duduk di restoran selama dua jam penuh, tetapi Cedric tidak juga muncul. Telepon tidak diangkat, pesan pun tidak dibalas.Sampai akhirnya Elric menelepon dan mengatakan bahwa Cedric ada urusan sehingga tidak bisa datang, barulah Thiago gemetar menahan lapar sambil mulai m

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 57

    Saat melihat Sienna di luar restoran tadi, dia memang marah. Ada perasaan seolah dirinya telah diprovokasi berkali-kali. Belakangan ini terlalu banyak orang muncul di sekitar Sienna. Saking banyaknya hingga membuatnya muak.Sienna tersenyum ceria kepada orang lain, tetapi selalu memasang wajah dingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status