"Apa sebenarnya yang mau kamu katakan?" Sienna bersandar di samping lemari kabinet sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
Padahal semua sudah diselidiki, tetapi pria ini tetap saja berputar-putar hanya untuk menyindirnya. Kenapa dahulu dia tidak pernah menyadari bahwa Cedric bisa begitu menyebalkan?
"Kalau kamu datang untuk bertengkar, maaf, aku nggak punya tenaga. Kalau kamu datang untuk memastikan sesuatu, bukannya kamu sudah lihat semuanya?"
Tangan Cedric yang memegang gelas air berhenti sejenak. Dia tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat terdiam, dia meletakkan gelas itu.
"Minggu depan Ayah ulang tahun yang ke-60. Kita harus pulang ke rumah utama."
Itu ... pemberitahuan?
"Aku nggak mau." Sienna menolak tanpa berpikir panjang.
Apa gunanya dia datang ke pesta ulang tahun ayah Cedric? Supaya para tetua keluarga kembali menyindirnya? Atau terus memainkan peran sebagai Nyonya Prasetya yang penurut, selalu mengikuti Cedric ke mana pun?
Dia hanya akan ditinggalkan oleh Cedric di tengah para tetua, lalu para om dan tante di sana akan mengomentari dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan akhirnya menutup semua dengan kalimat, "Entah apa yang dilihat Cedric dari gadis ini."
Selama tiga tahun, setiap kali pulang ke rumah utama, pemandangannya selalu sama. Sienna sudah muak. Daripada membuang waktu ke sana, lebih baik menyelesaikan beberapa desain lagi.
"Tahun ini Om Darwin dan istrinya juga pulang. Ayah berpesan semua anggota keluarga harus hadir."
Om Darwin dan istrinya? Sienna sedikit mengernyit. Dia masih ingat pasangan itu. Mereka pernah bertemu sekali di pesta pernikahannya.
Sepanjang acara, ekspresi mereka selalu dingin. Mereka bahkan tidak menyentuh gelas saat bersulang.
Konon, ayah Cedric dan adiknya itu memang sudah lama berselisih. Dahulu sebelum kakek Cedric meninggal, beliau menyerahkan Prasetya Group kepada ayah Cedric.
Darwin begitu marah hingga langsung pergi ke luar negeri, bahkan tidak menghadiri pemakaman ayahnya sendiri.
Belakangan, setelah ayah Cedric terserang stroke dan Prasetya Group dilanda kekacauan, Cedric yang baru lulus kuliah dipaksa naik menjadi presdir.
Darwin pun kembali ke tanah air untuk merebut kekuasaan. Dia membawa sekelompok orang membuat keributan di kantor pusat.
Demi mendapatkan saham warisan milik sang kakek, Cedric akhirnya terburu-buru menikah. Mendengar itu, Sienna pun menduga-duga. Jadi, Cedric datang hari ini karena takut kabar perceraian mereka akan menimbulkan masalah yang tidak perlu? Karena itu dia sengaja datang membujuknya?
"Kalau aku datang, kamu mau kasih keuntungan apa buatku?" tanya Sienna dengan terus terang.
Cedric tidak menyangka Sienna akan seblak-blakan itu. Dia tersenyum tipis. "Kamu mau minta apa? Rumah? Mobil? Atau fasilitas?"
Jadi di matanya, dirinya memang orang yang serendah itu?
Sienna menatapnya tanpa ragu, lalu mengucapkan setiap kata dengan jelas, "Tanda tangani surat perjanjian cerai kita."
Setelah kalimat itu terlontar, jari Cedric yang sejak tadi mengetuk sandaran sofa langsung berhenti. Jakunnya bergerak pelan.
Tatapan mereka bertemu. Ruang tamu begitu sunyi. Yang terdengar hanya bunyi jarum jam. Tik, tik, tik ....
Cedric menatapnya, seolah ingin menemukan sedikit saja tanda bahwa Sienna hanya sedang jual mahal. Namun, di mata bening itu yang ada hanya keteguhan yang belum pernah dia lihat.
Apa Sienna benar-benar begitu ingin meninggalkannya? Bahkan tidak sanggup bertahan sedetik pun lagi?
Beberapa hari ini, mereka hanya bertemu tiga kali. Setiap kali bertemu, topiknya selalu perceraian. Tatapan dingin, ucapan tajam. Mereka seolah sudah menjadi musuh bebuyutan.
Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa semuanya bisa jadi seperti ini?
Cedric menarik napas panjang, menekan rasa kesal dalam hati. Kemudian, dia berpura-pura santai. "Oke. Setelah semuanya selesai, aku akan menandatanganinya."
Sienna mengangkat alis. Jelas dia tidak menyangka Cedric akan menyetujuinya secepat itu. "Untuk jaga-jaga kalau kamu berubah pikiran, tanda tangani dulu, lalu serahkan ke pengacara. Nanti setelah tugasku selesai, aku akan ambil ke pengacara."
"Heh." Cedric tertawa sinis. "Kamu takut aku ingkar janji?"
Sienna menjawab dengan sangat jujur, "Itu bukan hal yang nggak mungkin."
Masalah seperti ini memang harus ada pihak ketiga. Kalau nanti Cedric berubah pikiran, dia harus menyalahkan siapa?
Cedric berdiri, melangkah mendekatinya. Tatapannya mengunci Sienna. Sorot matanya dipenuhi rasa geli. "Kamu benar-benar berpikir aku nggak bisa hidup tanpamu?"
Dia berkata dengan nada datar, "Tenang saja. Setelah urusan ini selesai, aku akan tanda tangan."
Ekspresi Sienna tetap datar. Suaranya jernih. "Kalau begitu, semoga Pak Cedric menepati janji."
Cedric memelotot tajam ke arahnya, lalu pergi dengan wajah muram.
Pintu dibanting hingga meninggalkan gemuruh. Sienna memandang ke arah foyer dengan wajah kesal. Benar-benar semaunya sendiri.
Seberapa buruk hidup pria itu sampai rela menyetir 20 kilometer hanya untuk marah-marah kepadanya? Dasar gila.
Namun, kekesalan Sienna lenyap dalam sekejap. Tatapannya tertuju pada segelas air yang masih tersisa di atas meja. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Alasan dia menyetujui permintaan Cedric bukan hanya karena surat perjanjian cerai, tetapi ada alasan lain.
Pada acara ulang tahun ke-60 Darvis, Darwin beserta keluarganya akan pulang. Acara kali ini pasti sangat meriah. Para nyonya keluarga terpandang di ibu kota hampir pasti akan hadir.
Seperti biasanya, Cedric akan membawanya berkeliling untuk bersulang, lalu meninggalkannya di tengah kelompok para nyonya.
Sienna tersenyum licik. Bukankah dia sedang memikirkan tempat yang tepat untuk memperkenalkan produknya?
Kesempatan itu justru datang sendiri. Tempatnya tepat, alasannya masuk akal, dan semuanya dilakukan secara wajar.
....
Suasana di dalam mobil sangat sunyi. Lampu kabin masih menyala, membuat garis wajah pria itu terlihat makin tegas.
Kedua tangan Cedric bertumpu di setir. Tatapannya menembus pagar besi, terus tertuju pada pintu rumah di halaman, tak pernah berpindah.
Baru setelah lampu lantai satu padam, dia mengalihkan pandangannya. Tangannya meraih map cokelat di kursi penumpang.
Sudah seminggu berlalu. Namun, dia belum pernah membukanya. Akhirnya, dia membuka pengikatnya, lalu mengeluarkan dua lembar dokumen di dalamnya.
[ Surat Perjanjian Cerai. ]
Tulisan itu benar-benar mencolok. Seumur hidup, dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya akan dicampakkan orang lain.
Awalnya dia berniat bicara baik-baik dengan Sienna. Dia bahkan menunggu dua jam di depan rumah sampai Sienna pulang kerja.
Namun hasilnya? Belum sempat bicara apa-apa, wanita itu sudah lebih dahulu membuatnya kesal setengah mati, seolah baru saja menelan bubuk mesiu.
Cedric mengernyit sambil membuka isi dokumen. Semula dia mengira Sienna akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menguras hartanya. Namun, setiap pasal dalam surat perjanjian itu disusun dengan sangat adil.
Benar seperti yang Sienna katakan, dia hanya mengambil apa yang memang menjadi haknya.
Di halaman terakhir dokumen itu tertera dua karakter dengan tulisan tangan yang anggun. Tintanya sudah lama mengering.
Ujung jari Cedric perlahan mengusap tanda tangan itu. Pikirannya melayang. Apa yang dipikirkan Sienna saat menandatangani dokumen ini?
Seandainya waktu itu dia langsung membuka map itu ketika tiba di kantor, lalu pulang untuk berbicara dengan Sienna, mungkin semuanya tidak akan berkembang sampai sejauh ini.
[ Alasan perceraian: Hubungan suami istri telah retak. ]
"Hubungan telah retak ...." Cedric menatap kata-kata itu lekat-lekat.
Hah! Jelas-jelas Sienna yang lebih dahulu merusaknya. Dia begitu dekat dengan pria lain. Siapa yang tahu sejak kapan mereka bermain di belakangnya?
Kalau dipikir-pikir, surat perjanjian ini masih kurang satu pasal. Pihak perempuan wajib memberikan ganti rugi atas kerugian mental yang dialami pihak laki-laki akibat kesalahannya sendiri.
Atas dasar apa dia yang mengajukan cerai? Kalaupun harus ada yang mengajukan, seharusnya korban seperti dirinya yang lebih dahulu melakukannya.
Memaksanya menandatangani surat itu saja sudah keterlaluan. Sekarang bahkan membawa pengacara? Apa kredibilitasnya memang serendah itu?
Cedric membanting amplop berisi surat perjanjian cerai itu, lalu memasukkannya dengan kasar ke laci penyimpanan di samping kursi.
Mesin mobil dinyalakan. Mobil perlahan melaju. Rumah itu terlihat makin kecil di kaca spion.
Cedric kembali teringat sikap Sienna tadi. Dari awal sampai akhir, tak sekali pun wanita itu menunjukkan wajah ramah.
Awalnya dia mengira Sienna akan meminta fasilitas atau bantuan promosi untuk merek kecil milik ayahnya sebagai syarat kembali ke rumah utama. Tak disangka, yang dimintanya justru tanda tangan.
Benar-benar tega. Semudah itu dia memutuskan hubungan.
Lampu jalan membuat sisi wajah Cedric berganti terang dan gelap. Tangannya menggenggam setir dengan makin erat. Jakunnya bergerak pelan.
Bukankah hanya perceraian? Dia ini Cedric. Tidak mungkin dia sampai terguncang hanya karena itu.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Dia menginjak pedal gas. Mobil pun memelesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya.