Share

Bab 10

Author: 燃灯灯
Sienna mengangkat alis sambil memandangi punggung Darwin yang menjauh. Setelah menahan diri selama tiga tahun, akhirnya hari ini dia bisa melampiaskan sedikit kekesalannya.

Toh mereka akan segera bercerai. Masih perlu takut menyinggung orang-orang Keluarga Prasetya?

Cedric merangkul pinggang ramping Sienna. Senyum samar tersimpan di matanya. "Aku nggak nyangka, ternyata di depan orang lain kamu begitu membelaku."

Sienna langsung mendorongnya, mengamatinya dari atas ke bawah. Sudut bibirnya berkedut.

"Itu cuma pura-pura. Jangan terlalu larut dalam peran, Pak Cedric."

"Pura-pura?" Cedric berdecak pelan.

....

Semua orang berkumpul di ruang tamu. Berkat kemampuan bicaranya yang selama ini diasah dengan susah payah, Sienna dengan cepat membaur ke dalam kelompok para nyonya.

Belum sampai setengah jam, dia sudah mendapatkan lima pesanan. Bahkan ada seseorang yang ingin memesan busana pengantin untuk putrinya.

Hal itu justru mengingatkannya pada satu hal. Busana untuk prosesi bersulang saat pernikahan, bahkan gaun pengantin, juga bisa menjadi lini yang patut dikembangkan. Tentu saja, itu baru bisa dipertimbangkan setelah butiknya berkembang lebih mapan.

Cedric duduk bersandar di sofa dengan kaki bersilang. Tatapannya terus mengikuti ke mana pun Sienna bergerak.

Sekarang, dia akhirnya mengerti kenapa Sienna bersedia datang. Ternyata, Sienna datang untuk mencari pelanggan.

Seorang pelayan masuk dan memberi tahu bahwa Thalia sudah tiba di depan. Cedric mengangguk.

Baru saja Cedric hendak keluar menjemput, Thalia sudah masuk dengan senyuman cerah. Saat memasuki ruangan, dia langsung menghampiri Darvis. "Om Darvis, sudah lama nggak bertemu."

Darvis mempersilahkannya duduk dan menanyakan kondisi ayahnya. Setelah mendengar bahwa operasinya berjalan lancar, dia pun merasa lega.

"Semua ini juga berkat Cedric. Kalau bukan karena bantuannya, semuanya nggak akan berjalan selancar ini."

Sorot mata Darvis meredup. Dia menggeleng pelan. "Jangan bilang itu bantuan. Memang sudah seharusnya dia berbuat begitu. Kalau dipikir-pikir, justru Keluarga Prasetya yang berutang pada keluargamu."

Thalia menggeleng. "Jangan bicara begitu, Om. Cedric sudah melakukan lebih dari cukup. Lagi pula, soal kejadian waktu itu ...."

Menyadari suasana mulai menjadi berat, Thalia segera mengalihkan pembicaraan. Dia menyerahkan hadiah yang dibawanya kepada Darvis, lalu suasana kembali menjadi cair.

....

Di sisi lain ruang tamu, Sienna memandangi pemandangan itu. Dadanya terasa sesak. Sorot matanya sedikit meredup. Dia meletakkan jeruk yang sedang dipegangnya, lalu bangkit meninggalkan ruang tamu.

Dia kembali teringat ayahnya. Setiap kali melihat Thalia, dia selalu teringat penyebab kematian ayahnya.

Keakraban mereka terhadap Thalia seolah terus-menerus mengingatkannya bahwa dirinya tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari Keluarga Prasetya.

Tentang kematian ayahnya, tak ada seorang pun yang benar-benar peduli.

Kadang, dia berpikir ... kalau dahulu dia tidak menikah dengan Cedric, bagaimana akhirnya?

Sienna tersenyum pahit. Mungkin ayahnya sudah meninggal sejak lama.

Keluarga terpandang memang tidak terlalu mementingkan rasa sayang. Baik rasa sayang antara ayah dan anak, maupun rasa sayang antara suami istri.

Dengan bosan, Sienna berdiri di tepi kolam sambil memberi makan ikan koi. Tiba-tiba, terdengar sebuah suara dari belakang.

"Bu Sienna?"

Melalui pantulan permukaan air, dia melihat wajah orang di belakangnya. Sienna berdiri dan menoleh tanpa berkata apa pun.

Thalia tersenyum lembut. "Aku sudah lama dengar kalau istri Cedric sangat cantik. Setelah bertemu hari ini, ternyata memang benar-benar memukau."

Jarak ruang tamu dan kolam cukup jauh. Sienna tidak percaya mereka bertemu secara kebetulan. Dia langsung bertanya. "Bu Thalia mencariku ada perlu apa?"

Tidak mungkin hanya untuk memujinya cantik, bukan?

Thalia jelas tidak menyangka Sienna akan seterus terang itu. Bulu matanya sedikit bergetar. "Tadi aku dengar Om Darvis bilang kamu bekerja sebagai desainer busana tradisional. Aku juga sempat lihat kemeja yang kamu bikin untuk beliau. Memang sangat cocok untuknya."

Sienna mengangkat alis. "Terima kasih, Bu Thalia."

Thalia menyelipkan rambut di balik telinga. Saat tersenyum, lesung pipinya tampak sangat manis. "Panggil aku Lia saja. Cedric biasanya juga manggil aku begitu."

Lia .... Ya, Sienna tahu Cedric memanggilnya begitu. Dia bahkan sudah mendengarnya berkali-kali. Dia pernah mendengarnya lewat telepon, pernah mendengarnya secara langsung, bahkan pernah mendengarnya dari balik sekat kamar mandi.

Nama itu seperti nyamuk yang terus berdengung. Ada di mana-mana.

Sienna langsung menghentikan upaya Thalia mendekatkan diri. Ekspresinya tetap datar. "Nggak perlu. Kurasa hubungan kita belum sedekat itu. Sepertinya ke depannya juga nggak akan."

Dia tidak tertarik, juga tidak ingin berurusan dengan wanita yang menjadi kekasih Cedric. Ini bukan serah terima jabatan setelah resign.

Ucapan itu membuat senyum Thalia membeku. Sesaat, dia tidak tahu harus menjawab apa.

Sienna justru memandanginya dengan penuh minat. Wanita di depannya mengenakan gaun putih. Rambut panjang terurai di belakang. Sepasang matanya besar dan cerah.

Mungkin karena dia memakai sepatu hak tinggi, Thalia tampak lebih pendek darinya. Tubuhnya mungil dan ramping. Jangankan pria, bahkan Sienna sendiri hampir merasa iba melihatnya.

Kini, Thalia sedikit mengernyit. Bibirnya terkatup rapat. Dia seolah sedang memikirkan cara menjawab ucapan Sienna barusan yang begitu terus terang dan tajam.

Melihat ekspresi itu, Sienna malah tidak tahu harus berbuat apa. Sejujurnya, dia lebih berharap Thalia bersikap terus terang, menarik kerah bajunya, lalu mempertanyakan kenapa dia merebut tempatnya.

Itu jauh lebih baik daripada terus berputar-putar seperti ini.

Beberapa saat kemudian, Thalia akhirnya berkata, "Sienna, apa hubunganmu dengan Cedric baik-baik saja? Apa ada masalah di antara kalian?"

Wanita ini sedang mengujinya. Apa dia sudah tahu mereka akan bercerai atau ....

Menghadapi pertanyaan yang penuh maksud seperti ini, Sienna tidak pernah menjawab secara langsung. Dia justru melontarkan pertanyaannya kembali, "Menurut Bu Thalia sendiri gimana?"

Thalia menjawab dengan canggung, "Aku hanya merasa ... kalian nggak terlihat seperti pasangan suami istri."

Sienna balik bertanya, "Kalau begitu, menurutmu pasangan suami istri seharusnya seperti apa?"

Melihat Thalia hanya menunduk tanpa menjawab, kesabaran Sienna habis. Dia hendak pergi.

Namun, Thalia kembali menghalanginya. "Sebenarnya ... aku datang untuk minta maaf."

Thalia meneruskan, "Soal Cedric yang membawa Profesor Rios ke Jermani. Kami mengambil kesempatan yang sebenarnya menjadi milikmu. Aku merasa sangat bersalah."

Tatapan Sienna tetap tenang. Namun, kedua tangannya yang tergantung di sisi tubuh perlahan mengepal.

"Aku tahu kejadian itu sedikit banyak memengaruhi hubungan kalian. Tapi Cedric cuma terlalu khawatir. Atas nama Cedric, aku minta maaf padamu."

"Kamu mewakilinya?" Sienna tertawa kecil. "Dengan status apa?"

Melihat Thalia memasang wajah polos, Sienna mencibir. "Bu Thalia nggak usah repot-repot soal urusan kami. Urus saja dirimu sendiri."

"Bukan ... bukan itu maksudku."

Kalau Thalia tadi langsung mempertanyakannya secara terang-terangan, Sienna mungkin masih akan menghargainya. Namun, wajah polosnya yang seolah tak bersalah dan setiap ucapannya yang penuh sindiran benar-benar membuatnya muak.

Sienna menyipitkan mata. Tatapannya tertuju pada Cedric yang sedang menelepon di bawah sebuah pohon tak jauh dari sana. Kemudian, dia tersenyum tipis. "Bu Thalia, operasi ayahmu berjalan lancar, 'kan?"

Thalia tertegun. Dengan bingung, dia mengangguk.

"Semoga ayahmu lekas pulih." Tanpa menunggu reaksi Thalia, Sienna langsung berbalik dan pergi.

Melihat punggung Sienna yang makin jauh, Thalia merasa kesal. Dari awal sampai akhir, dia tidak berhasil mengorek satu informasi pun.

Sienna sama sekali tidak seperti yang selama ini dikatakan orang-orang. Dia tidak bisa dilunakkan, juga tidak bisa ditekan.

....

Cedric menutup telepon. Begitu melihat Sienna berjalan ke arahnya, dia pun hendak mengatakan sesuatu. Namun, Sienna langsung melewatinya tanpa ekspresi, bahkan tidak meliriknya sedikit pun.

Melihat Thalia berdiri tidak jauh dari sana, Cedric menghampirinya. "Ada apa?"

Thalia mengernyit dan bertanya dengan hati-hati, "Ed, kalian ... mau cerai?"

Tatapan Cedric langsung berubah. Suaranya pun menjadi lebih rendah. "Dia yang bilang?"

Thalia menggeleng. "Nggak, aku cuma nebak. Tadi waktu aku nyebut namamu, dia kelihatan kayak nggak sabar."

Cedric terdiam sesaat. Tak terlihat emosi apa pun di wajahnya. "Oh, begitu, ya?"

Thalia mengangkat kepala, memandangi punggung Cedric yang menjauh. Di dalam hatinya muncul keraguan. Apa benar Cedric sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Sienna?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 62

    Kediaman Keluarga Hartono.Begitu Thalia tiba di rumah, Evron langsung memanggilnya ke ruang kerja.Lampu ruang kerja masih menyala. Evron sedang memegang kuas, berlatih kaligrafi di atas kertas. Perabot kayu merah bergaya klasik di ruangan itu diselimuti cahaya malam dari luar jendela, menciptakan

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 61

    Begitu kembali ke ibu kota, Stefan langsung menemui Sienna. Sienna sedang menunduk menikmati makan siangnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu lalu bertanya, "Beberapa waktu lalu kamu buru-buru pulang ke Kota Garmin. Apa terjadi sesuatu?"Stefan menunduk sambil mengambilkan lauk ke piring Sienna. Suara

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 60

    Saat Cedric keluar dari ruang rapat, Elric sudah berdiri di depan pintu kantornya.Cedric menyerahkan berkas di tangannya kepada sekretaris, lalu berjalan menghampiri sambil menunjuk ke arah ruangannya. Elric langsung mengerti. Dia lebih dulu membuka pintu, menunggu Cedric masuk, lalu menutupnya kem

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 59

    "Logikamu sebenarnya sama sekali nggak salah. Kamu bukan sengaja melakukan sesuatu yang seharusnya nggak dilakukan. Siapa pun pasti akan memilih menangani pihak yang kondisinya lebih parah dulu.""Tapi hasilnya?"Thiago mendekat, menatapnya dengan penuh selidik."Hasilnya, kamu nggak menyangka ayah

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 58

    Thiago dibohongi. Dia sudah duduk di restoran selama dua jam penuh, tetapi Cedric tidak juga muncul. Telepon tidak diangkat, pesan pun tidak dibalas.Sampai akhirnya Elric menelepon dan mengatakan bahwa Cedric ada urusan sehingga tidak bisa datang, barulah Thiago gemetar menahan lapar sambil mulai m

  • 绝不原谅!离婚后季小姐独美   Bab 57

    Saat melihat Sienna di luar restoran tadi, dia memang marah. Ada perasaan seolah dirinya telah diprovokasi berkali-kali. Belakangan ini terlalu banyak orang muncul di sekitar Sienna. Saking banyaknya hingga membuatnya muak.Sienna tersenyum ceria kepada orang lain, tetapi selalu memasang wajah dingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status