Bab2 "Bu, tidak perlu sekasar itu," pintaku dengan pelan. Istriku itu hanya diam dan menunduk. Aku tahu, saat ini dia pasti sangat terluka, atas segala ucapan kasar Ibu.Ibu menarik napas, dan mengabaikanku. "Kamu jelas sudah tahukan? Bahwa Danu, akan saya nikahkan lagi." Ibu menarik napas, "Jika kamu tidak ingin sakit hati dan terdzolimi, silahkan ajukan cerai ke anak saya! Tapi jika memilih dimadu, kamu dan Naomi akan tinggal bersama! Kamu melayani segala kebutuhan Naomi disana, karna Ibu nggak mau menantu Ibu Naomi, akan merasa susah tinggal disana." Hesti masih terdiam, mendengar ucapan Ibu. "Bagi Ibu, Naomi sangat berharga, karena dari rahimnya,kelak akan lahir keturunan keluarga Bramasta, setelah menikah dengan Danu. Tidak seperti kamu, sudah setahun menikah. Tapi masih tidak mampu memberikan Ibu cucu," tutur Ibu ke Hesti. Hesti menatap lekat Ibu, kemudian beralih sesaat menatapku. "Kenapa harus saya yang melayani-nya Bu? jika Naomi merasa memiliki hak yang sama, harusnya
Read More