Suara bising bandara selalu terasa seperti orkestra yang sumbang bagi Aksara. Ia membenci keramaian, namun pagi ini, ia membenci keheningan yang akan datang jauh lebih besar daripada kerumunan di hadapannya. Di sampingnya, Elang berdiri dengan tas carrier 60 liter yang tampak terlalu berat untuk punggungnya. Namun, lelaki itu tersenyum seolah ia tidak sedang membawa beban, melainkan sedang memanggul seluruh masa depannya. "Satu tahun itu cuma dua belas kali gajian, Aksa," celetuk Elang, mencoba memecah awan mendung yang menggantung di wajah sahabatnya itu. Aksara tidak menjawab. Ia justru sibuk memperhatikan ujung sepatu bot Elang yang masih bersih. Ia tahu, beberapa hari lagi, sepatu itu akan bersahabat dengan tanah merah dan pesisir jauh di Indonesia Timur. Aksara merogoh saku jaketnya, menggenggam jemari Elang yang kasar karena terlalu banyak blusukan hutan untuk riset-riset semasa kuliah. "Di sana nggak ada sinyal yang bagus, Lang. Kamu tahu itu," bisik Aksara. Suaranya n
Terakhir Diperbarui : 2021-05-01 Baca selengkapnya