MasukWaktu itu, tahun 2008, aku masih sangat amatir hingga tak tau apa bedanya kabel data dan USB. Dan, kamu mengataiku bodoh. Aku marah. Lebih ke malu, sih. Akhirnya aku mendiamkanmu dan beralih mendengarkan radio, kesukaanku waktu itu. Ada yang aneh ketika penyiar radio tersebut membacakan sebuah SMS (ya, waktu itu masih booming SMS 10x gratis 25x). Aku sampai mendekatkan kupingku ke radio butut yang setia menemani masa mudaku itu.
“Hai, SMS berikutnya datang dari nomor akhir 666 nih, request lagunya Filosofi yang judulnya Sadarilah. Salamnya buat seorang amatir yang barusan aku katai bodoh, aku minta maaf.” Deg. Jantungku serasa terhenti. Seorang yang merasa dirinya amatir, yang dikatakan bodoh hari itu, cuma aku aja, kan?? Aku bingung, senang, kesel, campur aduk jadi satu.
Caramu minta maaf yang menurutku terlampau manis, membuatku melompat kegirangan. Aku nggak peduli lagi dengan kata bodoh yang baru saja kau sematkan kepadaku. Yang aku ingat, aku
Waktu itu, tahun 2008, aku masih sangat amatir hingga tak tau apa bedanya kabel data dan USB. Dan, kamu mengataiku bodoh. Aku marah. Lebih ke malu, sih. Akhirnya aku mendiamkanmu dan beralih mendengarkan radio, kesukaanku waktu itu. Ada yang aneh ketika penyiar radio tersebut membacakan sebuah SMS (ya, waktu itu masih booming SMS 10x gratis 25x). Aku sampai mendekatkan kupingku ke radio butut yang setia menemani masa mudaku itu.“Hai, SMS berikutnya datang dari nomor akhir 666 nih, request lagunya Filosofi yang judulnya Sadarilah. Salamnya buat seorang amatir yang barusan aku katai bodoh, aku minta maaf.” Deg. Jantungku serasa terhenti. Seorang yang merasa dirinya amatir, yang dikatakan bodoh hari itu, cuma aku aja, kan?? Aku bingung, senang, kesel, campur aduk jadi satu. Caramu minta maaf yang menurutku terlampau manis, membuatku melompat kegirangan. Aku nggak peduli lagi dengan kata bodoh yang baru saja kau sematkan kepadaku. Yang aku ingat, aku
Apa yang bisa dilakukan hati ketika rindu dan benci merisak secara bersamaan, selain menuntaskan keduanya?***'Hari ini aku ada pameran buku di perpustakaan utama. Kalau ada waktu, tolong datang, ya. Ada buku yang kupersembahkan untukmu.' Sebuah pesan dari aplikasi hijau menghampiri layar ponsel Bhisma. Lelaki penyuka fotografi itu segera membukanya dan langsung mengetahui pengirimnya dari nama yang ia sematkan di nomor itu. Dolphin.Hatinya gamang. Benci dan rindu yang memenuhi hatinya sama besar. Ia tahu perempuan itu pandai menari dalam kata, persis seperti nama yang tersemat pada dirinya, Aksara, dan ia banyak menaruh kagum pada perempuan yang diketahuinya sangat menyukai boneka dolphin itu. Hal itulah yang kiranya membuatnya lambat laun benar-benar jatuh hati. Sembilan tahun silam.***Kala itu lelaki kecil yang masih mengenakan
Beberapa rindu ditakdirkan untuk tetap menjadi rahasia semesta. Namun, terkadang beberapa orang bertindak melampaui batasnya untuk bersikukuh mengungkapkannya dan yang mereka dapati tak jarang adalah kecewa.Maka, Aksa lebih memilih untuk mengikuti kehendak semesta. Ia pungut potongan rindu dan kenangan yang berjatuhan kala nama Bhisma kembali menjamah ingatannya. Lantas ia menyimpannya dalam tumpukan kata di balik jemarinya. Itulah yang ia sebut dengan membukukan kenangan.Persiapan pameran buku sudah 85%, semua proposal yang dibuat Bima dan anggotanya telah tersebar dan mendapat respons balik. Beberapa diantaranya meminang tawaran untuk kerja sama itu, beberapa senyap tanpa kabar. Aksa dan Bima semakin disibukkan dengan persiapan pameran. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktunya di UKM, bahkan hingga menginap, seperti sore ini."Kamu bikin buku apa tahun ini?" tanya Bima di sela aktivitasnya berhadapan dengan beberap
Perempuan itu bernama Aksa, Aksara Sendja Nirmala lengkapnya. Ia telah lama menjadi sahabat karib Bima, Bimasena Langit Permana. Persahabatan mereka telah terjalin sejak SMA dan berlanjut hingga mereka berada di kampus yang sama dan organisasi kemahasiswaan yang sama yang bergerak di bidang penulisan dan jurnalistik.Telah lama menjalin sahabat dan saling mengetahui baik-buruknya masing-masing, membuat keduanya nyaman untuk saling berbagi, entah itu masalah ataupun kebahagiaan. Tak jarang, keduanya juga seperti tikus dan kucing yang selalu bertengkar namun selalu berbaikan meski tanpa ada kata maaf dan saling memaafkan.Persahabatan mereka memang terlihat cukup manis di mata teman-teman yang menjadi saksi bagaimana mereka saling bergantung satu sama lain. Meski mereka berbeda jurusan, Aksa mengambil Sastra Indonesia dan Bima mengambil jurusan Hukum, namun dapat dipastikan di sela kosong jadwal kuliah ataupun istirahat siang, mereka akan sali
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Tapi juga bukan waktu yang cukup untuk melupakan seseorang yang pernah menjadi rumah. Aku masih ingat, dulu Bisma dan aku selalu berjalan pulang bersama. Kadang tanpa kata, kadang penuh tawa. Ia bukan tipe laki-laki yang banyak bicara, tapi entah kenapa, diamnya selalu bisa membuatku merasa aman. Ada keheningan yang tidak menakutkan di antara kami—sejenis sunyi yang justru terasa akrab. Kini, keheningan itu berubah jadi asing. Sudah tiga tahun sejak kami terakhir berbicara. Tiga tahun sejak pesan terakhirnya tak pernah kubalas. Tiga tahun sejak aku kehilangan arah dalam semesta yang dulu selalu ada namanya. Lucu, ya? Dulu aku yang memilih menjauh, kini aku yang tersesat dalam rindu yang bahkan tak punya tujuan. Aku masih bisa mengingat detail kecil tentangnya. Suaranya yang tenang saat memanggil namaku, cara ia menyelipkan gurauan di sela-sela keseriusannya, bahkan cara ia menatapku—selalu dalam, tapi tak pernah menuntut. Sementara







