LOGINDua bulan pertama adalah tentang perjuangan melawan jarak yang masih terasa manis. Bagi Aksara, Bandung tempatnya tinggal kini tidak lagi hanya berisi kemacetan dan lalu lalang kesibukan, melainkan ruang tunggu yang luas. Setiap kali ponselnya bergetar di atas meja kerja, jantungnya akan bereaksi lebih cepat daripada logika.
Elang benar-benar menepati janjinya, setidaknya di awal. Komunikasi mereka adalah sebuah ritual yang penuh pengorbanan. Elang sering bercerita bahwa untuk mendapatkan sinyal yang cukup stabil guna mengirimkan satu pesan suara atau foto berpiksel rendah, ia harus berjalan kaki selama empat puluh menit menanjak menuju sebuah bukit yang dinamai penduduk lokal sebagai 'Bukit Halo'. "Aksa, dengar ini," suara Elang dalam rekaman itu selalu diiringi desau angin yang kencang. "Ini suara laut dari atas bukit. Warnanya biru tua, hampir ungu. Aku sedang membayangkan kamu di sini dengan buku sketsamu, pasti kamu bingung memilih gradasi cat airnya." Aksara akan tersenyum sendiri membaca pesan-pesan singkat yang masuk di jam-jam tidak teratur. Kadang pukul tiga pagi, kadang tengah siang saat matahari NTT sedang ganas-ganasnya. Aksara membalasnya dengan telaten. Ia bercerita tentang pameran seni yang ia kunjungi, tentang kucing liar di depan galeri yang ia beri nama 'Rimbun'—sebuah penghormatan kecil untuk jurusan Kehutanan Elang—dan tentu saja, ia terus mengisi buku linen abu-abu itu. Halaman-halaman awal buku itu penuh dengan detail hujan. Rintik yang jatuh di kaca jendela kantor, genangan air di trotoar Sudirman, hingga bayangan payung-payung warna-warni di halte busway. Hitam dan putih, seperti permintaan Elang. Aksara sengaja menyisakan ruang kosong di setiap sudut sketsanya, seolah-olah ruang itu adalah tempat duduk yang ia sediakan untuk Elang saat pria itu pulang nanti. Namun, memasuki bulan ketiga, ritme itu mulai sumbang. Awan mendung yang biasanya hanya ada di dalam buku sketsa Aksara, mulai berpindah ke dunia nyata. Pesan-pesan dari Elang yang biasanya hadir dua hari sekali, mulai merenggang menjadi seminggu sekali. Puncaknya, memasuki minggu kedua di bulan ketiga, ponsel Aksara senyap. "Mungkin hujan besar di sana," gumam Aksara pada dirinya sendiri saat menatap layar ponsel yang gelap di jam makan siang. "Atau mungkin Bukit Halo sedang tertutup kabut." Aksara mencoba berpikiran positif. Ia tahu pengabdian di pelosok bukan sedang liburan. Elang sedang bekerja, menanam pohon, mengedukasi warga, dan mungkin sedang kelelahan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa dibohongi oleh insting seorang seniman: keheningan kali ini terasa berbeda. Bukan keheningan karena kendala teknis, melainkan keheningan yang terasa sengaja diciptakan. Di sisi lain peta, tepatnya di sebuah desa pesisir yang dikelilingi perbukitan gersang, Elang sedang duduk di sebuah balai kayu. Di hadapannya, sebuah laptop tua yang dipenuhi debu tanah merah sedang menampilkan data pemetaan hutan mangrove. Bahunya terasa kaku. Kelelahan fisik memang nyata, namun ada dinamika lain yang mulai menggeser fokusnya dari 'Bukit Halo'. "Kopi, Lang? Kamu sudah tiga jam tidak berkedip menatap layar itu." Seorang perempuan muncul dari balik pintu dapur umum. Namanya Ghea, lulusan Sosiologi dari sebuah universitas di Yogyakarta. Ghea adalah satu dari sepuluh orang dalam tim pengabdian mereka. Berbeda dengan Aksara yang tenang dan kontemplatif, Ghea adalah personifikasi dari energi yang meledak-ledak. Ia praktis, tangguh, dan memiliki tawa yang bisa didengar dari ujung dermaga. "Terima kasih, Ghe," Elang menerima gelas plastik berisi kopi hitam itu. "Data ini sedikit berantakan. Warga di dusun sebelah ternyata punya klaim berbeda soal batas lahan." Ghea duduk di samping Elang, tidak merasa perlu menjaga jarak yang canggung. "Itu urusanku nanti dengan pendekatan sosial. Kamu fokus saja pada pemetaannya. Jangan dipaksa semua malam ini. Kamu sudah jarang tidur." Elang menghela napas panjang, menyesap kopinya yang pahit. "Aku merasa kalau aku berhenti sebentar saja, aku akan kehilangan momentum." Ghea menatap Elang dengan tajam, namun ada kelembutan di sana. "Atau kamu takut kalau kamu berhenti, kamu akan mulai merasa rindu pada rumah? Dan itu membuatmu ingin pulang sebelum waktunya?" Elang terdiam. Ucapan Ghea tepat sasaran. Sejak tiba di sini, Elang memang menggunakan kerja keras sebagai obat bius. Ia merasa jika ia terus bergerak, ia tidak perlu menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tertinggal di Jakarta. Tentang perasaannya yang kacau, tentang janji yang ia bisikkan pada Aksara, dan tentang ketakutannya untuk kembali menjadi sosok yang hancur seperti saat ia putus cinta dulu. Di tempat ini, bersama Ghea, segalanya terasa baru. Ghea tidak tahu tentang masa lalu Elang yang menyedihkan. Ghea tidak tahu betapa Elang pernah menjadi pria yang tidak berdaya di lantai kos. Bagi Ghea, Elang adalah pemimpin tim yang andal, pria tangguh yang sanggup membelah hutan. Dan Elang menyukai versi dirinya yang ini—versi yang dilihat oleh Ghea. "Besok aku mau ke pasar di kota kecamatan," kata Ghea sambil merapikan beberapa berkas. "Ikut yuk? Kita butuh stok logistik, dan aku butuh teman untuk angkat-angkat barang. Anggap saja healing singkat dari mangrove." Elang teringat ponselnya di saku. Sudah seminggu ia tidak ke Bukit Halo. Ia tahu Aksara pasti sedang menunggu. Ada rasa bersalah yang menusuk pelan, namun rasa lelah dan keinginan untuk tetap berada dalam "gelembung baru" ini jauh lebih kuat. "Boleh," jawab Elang akhirnya. "Aku ikut." *** Di Bandung, hujan turun sangat deras sore itu. Aksara sedang berada di sebuah kafe, mencoba menyelesaikan sketsa tentang seorang pria yang berdiri di bawah payung robek. Namun, tangannya berhenti bergerak. Ia membuka akun media sosial salah satu rekan setim Elang, Hanin, yang kebetulan tidak memprivasi akunnya. Aksara jarang melakukan ini, ia merasa seperti pencuri privasi. Namun rasa cemas mendorongnya. Di sana, di sebuah unggahan cerita (story), ia melihatnya. Sebuah foto sekelompok orang sedang makan malam di pinggir pantai dengan api unggun kecil. Di tengah kerumunan itu, Elang duduk bersila. Ia tertawa—tawa yang sama renyahnya dengan tawa di bandara. Di sampingnya, seorang perempuan berambut pendek dengan jaket lapangan yang senada dengan milik Elang, sedang menyandarkan kepalanya dengan santai di bahu Elang sambil memegang tusukan marshmallow. Keterangan fotonya singkat, "Team-work makes the dream work. Malam penutupan bulan ketiga yang penuh drama lahan!" Aksara merasakan dadanya menyempit. Bukan karena cemburu yang meledak-ledak, melainkan karena rasa sadar yang dingin. Ia melihat Elang yang tampak begitu 'hidup' di sana. Elang yang tidak lagi membawa beban masa lalu di punggungnya. Elang yang seolah-olah sudah menemukan warna-warnanya sendiri, tanpa perlu menunggu buku sketsa dari Aksara penuh. Aksara menunduk, menatap buku linen abu-abu di depannya. Halaman yang sedang ia kerjakan terkena tetesan air—bukan dari atap yang bocor, melainkan dari sudut matanya yang tidak lagi sanggup membendung bendungan perasaan. Ia teringat ucapan Elang di bandara: "Sebagai apa pun kita nanti... kamu adalah orang pertama yang akan aku temui saat aku kembali." Dulu, kata-kata itu terdengar seperti janji suci. Sekarang, di tengah deru hujan Bandung yang berisik, kata-kata itu terdengar seperti sebuah kemungkinan yang menakutkan. 'Sebagai apa pun' bisa berarti banyak hal. Bisa berarti tetap sebagai sahabat, atau bisa juga berarti sebagai dua orang asing yang pernah saling mengenal dengan sangat baik. Aksara mengambil pensilnya kembali. Ia tidak menggambar hujan lagi. Ia menggoreskan garis-garis tegas yang membentuk siluet dua orang yang berdiri membelakangi satu sama lain. Jarak dua bulan pertama adalah jarak geografis yang bisa ditempuh dengan pesawat dan sinyal seluler. Namun, jarak di bulan ketiga ini adalah jarak yang berbeda. Ini adalah jarak yang tumbuh di dalam kepala dan hati, sebuah jurang yang perlahan-lahan mulai digali oleh keheningan dan kehadiran orang baru. Aksara menutup bukunya dengan suara 'buk' yang pelan. Ia tidak lagi menunggu getaran ponsel. Ia sadar, mungkin Elang tidak sedang kesulitan mencari sinyal. Elang mungkin hanya sedang menemukan suara baru yang lebih menarik untuk didengar daripada suara hujan yang selalu dikirimkan Aksara lewat doa-doanya. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak keberangkatan Elang, Aksara tidur tanpa meletakkan ponsel di samping bantalnya. Di luar, hujan masih turun, namun Aksara tidak lagi merasa perlu menggambarnya. Beberapa hal memang lebih baik dibiarkan luntur oleh air, sebelum sempat diberi warna.Lalu-lalang orang di sekitarnya perlahan memudar menjadi siluet kabur. Suara pengumuman penerbangan, deru koper yang ditarik, dan tawa orang-orang yang bertemu kembali, semuanya mendadak senyap di telinga Elang. Dunia Elang kini mengerucut hanya pada selembar kertas dan goresan tangan yang sangat ia kenali. Goresan tangan Aksara. Masih di bangku kosong dan dingin yang ia duduki, Elang membaca surat itu perlahan. **** Untuk Elang, Orang yang aku tunggu 12 kali gajian lamanya. Saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah menatap langit Paris yang dulu sering jadi bualan ringan kita. Tapi, percayalah, sejak itu, aku benar-benar menaruhnya menjadi mimpi dan doa untuk kita. Tapi, maaf kalau pada akhirnya aku harus menatap langit ini tanpamu. Aku yakin kamu juga sudah punya langit timur yang indah yang selalu kamu tatap setiap malam, yang membuatmu mudah melupakanku. Kamu selalu bilang bahwa kamu mencintai cakrawala, tapi kamu lupa bahwa cakrawala itu indah karena jarak. Begitu ka
Bandung sedang berada di titik kelembapan tertinggi, seolah langit pun enggan melepas uap air yang menyesakkan dada. Di sebuah studio apartemen yang minimalis namun artistik, Aksara menatap sebuah amplop biru dengan logo emas lembaga kebudayaan Prancis. Cité Internationale des Arts, Paris. Nama itu bukan sekadar institusi; bagi Aksara, itu adalah sebuah sekoci penyelamat yang dikirim semesta tepat sebelum ia karam dalam penantian yang sia-sia. Aksara berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Ia adalah definisi kecantikan yang "mahal"—bukan karena riasan, melainkan karena karakter yang terpancar. Wajahnya memiliki tulang pipi yang tegas dengan mata sayu yang selalu tampak menyimpan rahasia besar. Rambut hitamnya yang biasanya dibiarkan tergerai liar saat melukis, kini disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. A
Langkah Elang mendaki Bukit Halo terasa jauh lebih berat dari biasanya. Kali ini, bukan karena terjalnya medan atau kurangnya oksigen, melainkan karena bayangan sebuah lukisan yang seolah memburu di belakang punggungnya. Lukisan kursi bandara itu terus menghantui pelupuk matanya, membuat setiap tarikan napasnya terasa sesak.Sesampainya di puncak bukit yang sunyi, Elang menjatuhkan diri di atas batu besar yang sama tempat ia mencoba mengirim pesan berbulan-bulan lalu—pesan yang tak pernah sampai karena sinyal yang mati. Ia mengeluarkan ponselnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia ingin mengetik sesuatu, setidaknya ucapan terima kasih atas donasi buku yang luar biasa untuk warga desa, atau sekadar basa-basi untuk mencairkan es yang membeku di antara mereka. Namun, jemarinya membeku di atas layar. Bagaimana mungkin ia bisa berterima kasih pada seseorang yang baru saja ia tikam dengan pengkhianatan paling dingin?Alih-alih membuka ruang obrolan, Elang justru membuka aplikasi media sosial.
Bulan kesebelas di pesisir Timur dibuka dengan aroma debu semen dan kayu yang baru diserut. Proyek perpustakaan desa, yang sempat tersendat karena konflik internal tim, kini dipacu habis-habisan. Namun, di balik semangat pembangunan itu, suasana di barak pengabdian justru semakin pengap. Pemicu utamanya adalah sebuah percakapan telepon yang tertangkap oleh Hanin di suatu malam yang sangat sunyi. Hanin sedang mencari udara segar di balik rimbun pohon pisang ketika ia mendengar suara Ghea yang meninggi, disusul isakan yang berusaha ditekan. "Beny, dengar! Aku tidak bisa membohongi diriku lagi," suara Ghea terdengar tajam sekaligus gemetar. "Jangan pernah datang menjemputku ke dermaga bulan depan. Kita selesai. Ya, aku memutuskan ini secara sepihak. Aku sudah menemukan orang lain yang membuatku merasa lebih hidup daripada rencana pernikahan kaku yang kamu susun. Jangan hubungi aku lagi!" Klik. Ghea menutup telepon dengan napas tersengal, melempar status pertunangannya di Yogyakart
Lampu minyak di teras barak sudah lama padam, menyisakan bau sumbu yang hangus dan keheningan yang mencekam. Hanin berdiri dalam bayang-bayang pohon kelapa, tangannya gemetar mengepal di sisi tubuh. Pemandangan di depannya—pagutan bibir antara Elang dan Ghea yang begitu intens—terasa seperti belati yang menusuk nuraninya. "Puas, Lang?" suara Hanin memecah sunyi, tajam dan dingin seperti es. Elang tersentak, melepaskan tautannya dengan Ghea. Napasnya masih menderu, matanya yang biasanya jernih kini tampak keruh oleh kabut gairah dan rasa bersalah yang bertarung di sana. Ghea, di sisi lain, justru terlihat lebih tenang. Ia merapikan anak rambutnya dengan jemari yang stabil, seolah tak ada beban moral yang ia pikul. "Hanin, ini bukan waktu yang tepat—" "Lalu kapan waktunya, Lang?" potong Hanin, melangkah keluar dari kegelapan. "Nanti saat kamu pulang ke Bandung dan mendapati Aksara masih menunggu dengan sejuta janji yang kamu tabur? Kamu tahu apa yang kamu lakukan malam ini?
Bandung sedang berada di puncak musim penghujan, namun bagi Aksara, badai yang sesungguhnya terjadi di dalam keheningan studionya. Kesibukan menjelang pameran "Jejak yang Tertinggal" menjadi satu-satunya napas buatan yang membuatnya tetap tegak. Galeri seni Pak Danu malam itu dipenuhi aroma kopi mahal, wangi kayu pinus dari bingkai-bingkai baru, dan bisik-bisik apresiasi dari para kolektor. Tiga karya utama Aksara diletakkan di lorong transisi, sebuah posisi strategis yang memaksa setiap pengunjung berhenti sejenak. Lukisan bertajuk 'Sketsa Hujan dan Jejak Kehilangan' menjadi primadona. Di sana, Aksara menggambarkan kursi bandara dengan teknik chiaroscuro yang tajam—kontras antara cahaya lampu bandara yang dingin dan kegelapan di luar jendela yang dihantam hujan. Banyak pengunjung berdiri lama di depannya, beberapa tampak menyeka sudut mata, merasakan kesepian yang berteriak dari balik kanvas itu. "Kamu berhasil, Aksa. Kamu tidak hanya menggambar benda, kamu menggambar perasa







