Sketsa Hujan

Sketsa Hujan

last updateLast Updated : 2025-12-24
By:  silvia siwiOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10
6 ratings. 6 reviews
9Chapters
3.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aksara menepati janjinya untuk menunggu selama 12 kali gajian. Ia memelihara rindunya seorang diri kepada Elang, sahabat yang telah ia bantu berdiri dan bangkit dari keterpurukan. Sementara nun jauh di tanah pengabdian, Elang telah menemukan hati yang baru. Melupakan janjinya. "Sebagai siapapun nanti, kamu adalah orang pertama yang akan aku temui." Itu adalah janji yang Elang ucap sebelum meninggalkan Aksara. Tapi, Elang lupa untuk memastikan, apakah saat ia pulang, Aksara masih di tempat yang sama untuk menunggunya.

View More

Chapter 1

Buku Sketsa

Suara bising bandara selalu terasa seperti orkestra yang sumbang bagi Aksara. Ia membenci keramaian, namun pagi ini, ia membenci keheningan yang akan datang jauh lebih besar daripada kerumunan di hadapannya.

Di sampingnya, Elang berdiri dengan tas carrier 60 liter yang tampak terlalu berat untuk punggungnya.

Namun, lelaki itu tersenyum seolah ia tidak sedang membawa beban, melainkan sedang memanggul seluruh masa depannya.

"Satu tahun itu cuma dua belas kali gajian, Aksa," celetuk Elang, mencoba memecah awan mendung yang menggantung di wajah sahabatnya itu.

Aksara tidak menjawab. Ia justru sibuk memperhatikan ujung sepatu bot Elang yang masih bersih. Ia tahu, beberapa hari lagi, sepatu itu akan bersahabat dengan tanah merah dan pesisir jauh di Indonesia Timur. Aksara merogoh saku jaketnya, menggenggam jemari Elang yang kasar karena terlalu banyak blusukan hutan untuk riset-riset semasa kuliah.

"Di sana nggak ada sinyal yang bagus, Lang. Kamu tahu itu," bisik Aksara. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin pesawat dari kejauhan.

Elang tertawa kecil. Tawanya masih sama, renyah dan seolah tanpa beban, meski Aksara tahu ada retakan yang disembunyikan pria itu di baliknya. .

"Tapi ada hujan, kan? Kita sudah sepakat. Kalau kamu kangen, gambar hujan. Kalau aku kangen, aku bakal kirim rekaman suaranya lewat kurir kapal kalau perlu."

Elang mengeluarkan sebuah buku bersampul kain linen berwarna abu-abu dari saku depan tasnya. Sebuah buku yang tampak kontras dengan perlengkapan outdoor-nya yang serba teknis.

"Ini buku sketsa baru. Masih kosong. Aku mau kamu isi ini. Jangan cuma gambar gedung atau kopi di kafe. Gambar apa pun yang kamu rasain selama aku nggak ada. Hitam di atas putih dulu nggak apa-apa. Nanti, waktu aku pulang, aku mau lihat buku ini penuh dengan warna."

Panggilan terakhir bagi penumpang untuk segera memasuki pesawat terdengar seperti vonis. Elang menarik Aksara ke dalam pelukan singkat namun erat. Bau parfum kayu cendana milik Elang menyeruak, seolah ingin menetap lama dalam memori penciuman Aksara. Di dalam pelukan itu, Aksara memejamkan mata, mencoba merekam detak jantung Elang yang berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Janji satu hal," Elang berbisik sebelum melepaskan pelukan. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata Aksara, mencari sebuah jangkar.

"Sebagai apa pun kita nanti, entah itu sahabat, atau lebih dari itu... kamu adalah orang pertama yang akan aku temui saat aku kembali."

Aksara melepasnya dengan berat. Ada ribuan kata yang tertahan di tenggorokannya, namun yang keluar hanyalah anggukan lemah. Ia berdiri mematung, menatap punggung Elang yang perlahan mengecil, berbaur dengan ratusan orang lain, hingga akhirnya benar-benar hilang di balik pintu kaca keberangkatan.

Aksara duduk di kursi tunggu yang mulai mendingin oleh embusan AC bandara. Ia membuka halaman pertama buku sketsa pemberian Elang. Tekstur kertasnya sedikit kasar, mengundang jari-jarinya untuk menari di sana. Namun, pikirannya justru melayang jauh, terseret arus memori ke koridor kampus beberapa tahun silam.

Mereka dipertemukan oleh organisasi mahasiswa pecinta foto dan seni. Sebuah ruang sempit yang berbau larutan pengembang foto dan cat minyak. Elang adalah mahasiswa Kehutanan yang lebih suka memegang kamera daripada buku teks. Ia adalah pemburu momen, pengagum bayangan yang jatuh di permukaan tanah. Sementara Aksara adalah mahasiswa Seni Rupa yang dunianya berputar di antara kanvas dan palet warna.

Kala itu, tidak ada debar jantung yang aneh. Segalanya terasa linear dan masuk akal. Elang adalah pria dengan tawa paling keras yang memiliki kekasih cantik dari fakultas sebelah—seorang gadis yang tampak sempurna dalam setiap bidikan lensa Elang. Sedangkan Aksara, ia sedang terjebak dalam labirin cinta tak berbalas pada seorang senior yang bahkan jarang menyebut namanya.

Mereka adalah sahabat yang saling menertawakan patah hati masing-masing di bawah pohon angsana depan sekretariat. Di bawah guguran bunga kuning yang wangi, mereka sering berbagi sebatang rokok atau segelas kopi plastik dingin, mengeluhkan betapa rumitnya perasaan manusia dibandingkan dengan sudut pandang kamera atau teori warna.

Namun, semua berubah di tahun ketiga. Elang mendadak kehilangan cahayanya. Kabar putusnya hubungan Elang dengan kekasihnya meledak seperti bom yang menghancurkan seluruh rencana masa depannya. Elang limbung. Ia berhenti memotret. Ia berhenti tertawa. Bahkan, ia nyaris melepaskan skripsi yang tinggal beberapa bab lagi.

Aksara-lah yang menariknya kembali dari jurang itu. Aksara yang setiap sore membawakan nasi bungkus tanpa diminta, duduk di lantai kamar kos Elang yang berantakan dan pengap, menunggu dengan sabar sampai Elang siap untuk bicara—atau sekadar sanggup mengunyah makanannya.

Aksara menjadi saksi malam-malam di mana Elang hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Ia membantu Elang memilah data penelitian hutan yang berserakan, mengetikkan beberapa paragraf saat tangan Elang terlalu gemetar untuk menyentuh keyboard. Aksara menemani Elang sampai pria itu berhasil berdiri di podium wisuda dengan toga yang sedikit miring.

Ternyata, luka itu belum benar-benar sembuh. Keberhasilan akademis tidak otomatis menutup lubang di hati Elang. Pendaftaran program pengabdian ke pulau terpencil muncul seperti pintu keluar darurat.

Aksara tahu, bagi Elang, pulau itu bukan sekadar tempat mengabdi. Itu adalah tempat persembunyian. Sebuah cara untuk melarikan diri dari bayang-bayang masa lalu yang masih sering menghantui di setiap sudut kota ini.

Aksara melepasnya dengan berat dan tanpa kepastian. Di bandara tadi, ia ingin bertanya, "Apakah kamu lari darinya, atau kamu sedang menjauh dariku?" Namun, ia tahu jawaban itu tidak akan mengubah keberangkatan Elang.

Satu-satunya yang mereka miliki sebagai pengikat adalah ingatan yang sama tentang hujan pertama yang mereka lalui bersama di kantin kampus. Saat itu, mereka terjebak badai sore hari. Aroma tanah basah—petrichor—terasa begitu kuat, memenuhi rongga dada.

Mereka hanya diam, mendengarkan simfoni air yang menghantam atap seng. Di tengah kesunyian itu, Elang sempat menoleh dan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang entah mengapa membuat dunia Aksara terasa berhenti berputar sesaat. Mungkin, sejak hari itulah, benih perasaan itu mulai tumbuh diam-diam di hati Aksara, seperti lumut yang tumbuh perlahan di sela batu, tak terlihat namun mengakar kuat.

Kini, di terminal keberangkatan yang perlahan mulai sepi, Aksara mengambil pensilnya. Ia tidak menggambar pesawat yang lepas landas. Ia tidak menggambar orang-orang yang berpelukan. Ia menggoreskan garis miring pertama, tajam dan tegas, menggambarkan rintik hujan yang mulai membasahi kaca luar bandara.

Tangannya bergerak mengikuti ritme kerinduan yang mulai mengetuk. Di sudut kertas, di bawah sketsa hujan yang tampak begitu melankolis dalam balutan hitam dan putih, ia menuliskan sebait puisi dengan tulisan tangan yang sedikit bergetar. Sebuah doa sekaligus salam perpisahan yang ia simpan rapat dalam hati:

'Semoga, udara di sana sama menenangkannya seperti di sini, hujan yang kau jumpai di sana sama menyenangkannya dengan hujan pertama yang pernah terlewati di sini, dan malam di sana, sama tenangnya dengan malam-malam yang pernah kita lewati di sini.'

Aksara menutup buku itu. Ia tahu, mulai besok, setiap hujan yang jatuh akan menjadi surat yang ia tulis untuk Elang. Dan ia akan menunggu, sampai buku ini penuh dengan warna, sampai Elang kembali untuk membacanya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Erdes04
Erdes04
Aku merinding saat baca blurb nya, saking pandai nya dalam merangkai kata-kata 😍 Semangat Kak!
2021-06-02 15:37:59
2
1
Cahaya Alfatih
Cahaya Alfatih
Terkadang, Hujan emang suka bikin baper. Keren thor. Semangat ya
2021-06-01 12:59:34
1
1
Richa Susilo
Richa Susilo
Blurbnya keren 😻 Semangaaaaaaaat update, Thooor 😻😻😻😻
2021-06-01 11:08:48
1
1
Elraa Hafa06
Elraa Hafa06
Wah diksinya keren 😍 semangat lanjut thor!
2021-06-01 11:00:47
1
1
Novelalavina
Novelalavina
Aku suka hujan dan novelnya. Semangat Author! Aku juga mau promosi novel karya Novelalavina yang berjudul "Finding Love". Menceritakan kisah Anna yang menderita PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Terimakasih.
2021-06-01 10:02:13
1
1
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status