LOGINAksara menepati janjinya untuk menunggu selama 12 kali gajian. Ia memelihara rindunya seorang diri kepada Elang, sahabat yang telah ia bantu berdiri dan bangkit dari keterpurukan. Sementara nun jauh di tanah pengabdian, Elang telah menemukan hati yang baru. Melupakan janjinya. "Sebagai siapapun nanti, kamu adalah orang pertama yang akan aku temui." Itu adalah janji yang Elang ucap sebelum meninggalkan Aksara. Tapi, Elang lupa untuk memastikan, apakah saat ia pulang, Aksara masih di tempat yang sama untuk menunggunya.
View MoreSuara bising bandara selalu terasa seperti orkestra yang sumbang bagi Aksara. Ia membenci keramaian, namun pagi ini, ia membenci keheningan yang akan datang jauh lebih besar daripada kerumunan di hadapannya.
Di sampingnya, Elang berdiri dengan tas carrier 60 liter yang tampak terlalu berat untuk punggungnya. Namun, lelaki itu tersenyum seolah ia tidak sedang membawa beban, melainkan sedang memanggul seluruh masa depannya. "Satu tahun itu cuma dua belas kali gajian, Aksa," celetuk Elang, mencoba memecah awan mendung yang menggantung di wajah sahabatnya itu. Aksara tidak menjawab. Ia justru sibuk memperhatikan ujung sepatu bot Elang yang masih bersih. Ia tahu, beberapa hari lagi, sepatu itu akan bersahabat dengan tanah merah dan pesisir jauh di Indonesia Timur. Aksara merogoh saku jaketnya, menggenggam jemari Elang yang kasar karena terlalu banyak blusukan hutan untuk riset-riset semasa kuliah. "Di sana nggak ada sinyal yang bagus, Lang. Kamu tahu itu," bisik Aksara. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin pesawat dari kejauhan. Elang tertawa kecil. Tawanya masih sama, renyah dan seolah tanpa beban, meski Aksara tahu ada retakan yang disembunyikan pria itu di baliknya. . "Tapi ada hujan, kan? Kita sudah sepakat. Kalau kamu kangen, gambar hujan. Kalau aku kangen, aku bakal kirim rekaman suaranya lewat kurir kapal kalau perlu." Elang mengeluarkan sebuah buku bersampul kain linen berwarna abu-abu dari saku depan tasnya. Sebuah buku yang tampak kontras dengan perlengkapan outdoor-nya yang serba teknis. "Ini buku sketsa baru. Masih kosong. Aku mau kamu isi ini. Jangan cuma gambar gedung atau kopi di kafe. Gambar apa pun yang kamu rasain selama aku nggak ada. Hitam di atas putih dulu nggak apa-apa. Nanti, waktu aku pulang, aku mau lihat buku ini penuh dengan warna." Panggilan terakhir bagi penumpang untuk segera memasuki pesawat terdengar seperti vonis. Elang menarik Aksara ke dalam pelukan singkat namun erat. Bau parfum kayu cendana milik Elang menyeruak, seolah ingin menetap lama dalam memori penciuman Aksara. Di dalam pelukan itu, Aksara memejamkan mata, mencoba merekam detak jantung Elang yang berpacu sedikit lebih cepat dari biasanya. "Janji satu hal," Elang berbisik sebelum melepaskan pelukan. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata Aksara, mencari sebuah jangkar. "Sebagai apa pun kita nanti, entah itu sahabat, atau lebih dari itu... kamu adalah orang pertama yang akan aku temui saat aku kembali." Aksara melepasnya dengan berat. Ada ribuan kata yang tertahan di tenggorokannya, namun yang keluar hanyalah anggukan lemah. Ia berdiri mematung, menatap punggung Elang yang perlahan mengecil, berbaur dengan ratusan orang lain, hingga akhirnya benar-benar hilang di balik pintu kaca keberangkatan. Aksara duduk di kursi tunggu yang mulai mendingin oleh embusan AC bandara. Ia membuka halaman pertama buku sketsa pemberian Elang. Tekstur kertasnya sedikit kasar, mengundang jari-jarinya untuk menari di sana. Namun, pikirannya justru melayang jauh, terseret arus memori ke koridor kampus beberapa tahun silam. Mereka dipertemukan oleh organisasi mahasiswa pecinta foto dan seni. Sebuah ruang sempit yang berbau larutan pengembang foto dan cat minyak. Elang adalah mahasiswa Kehutanan yang lebih suka memegang kamera daripada buku teks. Ia adalah pemburu momen, pengagum bayangan yang jatuh di permukaan tanah. Sementara Aksara adalah mahasiswa Seni Rupa yang dunianya berputar di antara kanvas dan palet warna. Kala itu, tidak ada debar jantung yang aneh. Segalanya terasa linear dan masuk akal. Elang adalah pria dengan tawa paling keras yang memiliki kekasih cantik dari fakultas sebelah—seorang gadis yang tampak sempurna dalam setiap bidikan lensa Elang. Sedangkan Aksara, ia sedang terjebak dalam labirin cinta tak berbalas pada seorang senior yang bahkan jarang menyebut namanya. Mereka adalah sahabat yang saling menertawakan patah hati masing-masing di bawah pohon angsana depan sekretariat. Di bawah guguran bunga kuning yang wangi, mereka sering berbagi sebatang rokok atau segelas kopi plastik dingin, mengeluhkan betapa rumitnya perasaan manusia dibandingkan dengan sudut pandang kamera atau teori warna. Namun, semua berubah di tahun ketiga. Elang mendadak kehilangan cahayanya. Kabar putusnya hubungan Elang dengan kekasihnya meledak seperti bom yang menghancurkan seluruh rencana masa depannya. Elang limbung. Ia berhenti memotret. Ia berhenti tertawa. Bahkan, ia nyaris melepaskan skripsi yang tinggal beberapa bab lagi. Aksara-lah yang menariknya kembali dari jurang itu. Aksara yang setiap sore membawakan nasi bungkus tanpa diminta, duduk di lantai kamar kos Elang yang berantakan dan pengap, menunggu dengan sabar sampai Elang siap untuk bicara—atau sekadar sanggup mengunyah makanannya. Aksara menjadi saksi malam-malam di mana Elang hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Ia membantu Elang memilah data penelitian hutan yang berserakan, mengetikkan beberapa paragraf saat tangan Elang terlalu gemetar untuk menyentuh keyboard. Aksara menemani Elang sampai pria itu berhasil berdiri di podium wisuda dengan toga yang sedikit miring. Ternyata, luka itu belum benar-benar sembuh. Keberhasilan akademis tidak otomatis menutup lubang di hati Elang. Pendaftaran program pengabdian ke pulau terpencil muncul seperti pintu keluar darurat. Aksara tahu, bagi Elang, pulau itu bukan sekadar tempat mengabdi. Itu adalah tempat persembunyian. Sebuah cara untuk melarikan diri dari bayang-bayang masa lalu yang masih sering menghantui di setiap sudut kota ini. Aksara melepasnya dengan berat dan tanpa kepastian. Di bandara tadi, ia ingin bertanya, "Apakah kamu lari darinya, atau kamu sedang menjauh dariku?" Namun, ia tahu jawaban itu tidak akan mengubah keberangkatan Elang. Satu-satunya yang mereka miliki sebagai pengikat adalah ingatan yang sama tentang hujan pertama yang mereka lalui bersama di kantin kampus. Saat itu, mereka terjebak badai sore hari. Aroma tanah basah—petrichor—terasa begitu kuat, memenuhi rongga dada. Mereka hanya diam, mendengarkan simfoni air yang menghantam atap seng. Di tengah kesunyian itu, Elang sempat menoleh dan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang entah mengapa membuat dunia Aksara terasa berhenti berputar sesaat. Mungkin, sejak hari itulah, benih perasaan itu mulai tumbuh diam-diam di hati Aksara, seperti lumut yang tumbuh perlahan di sela batu, tak terlihat namun mengakar kuat. Kini, di terminal keberangkatan yang perlahan mulai sepi, Aksara mengambil pensilnya. Ia tidak menggambar pesawat yang lepas landas. Ia tidak menggambar orang-orang yang berpelukan. Ia menggoreskan garis miring pertama, tajam dan tegas, menggambarkan rintik hujan yang mulai membasahi kaca luar bandara. Tangannya bergerak mengikuti ritme kerinduan yang mulai mengetuk. Di sudut kertas, di bawah sketsa hujan yang tampak begitu melankolis dalam balutan hitam dan putih, ia menuliskan sebait puisi dengan tulisan tangan yang sedikit bergetar. Sebuah doa sekaligus salam perpisahan yang ia simpan rapat dalam hati: 'Semoga, udara di sana sama menenangkannya seperti di sini, hujan yang kau jumpai di sana sama menyenangkannya dengan hujan pertama yang pernah terlewati di sini, dan malam di sana, sama tenangnya dengan malam-malam yang pernah kita lewati di sini.' Aksara menutup buku itu. Ia tahu, mulai besok, setiap hujan yang jatuh akan menjadi surat yang ia tulis untuk Elang. Dan ia akan menunggu, sampai buku ini penuh dengan warna, sampai Elang kembali untuk membacanya.Lalu-lalang orang di sekitarnya perlahan memudar menjadi siluet kabur. Suara pengumuman penerbangan, deru koper yang ditarik, dan tawa orang-orang yang bertemu kembali, semuanya mendadak senyap di telinga Elang. Dunia Elang kini mengerucut hanya pada selembar kertas dan goresan tangan yang sangat ia kenali. Goresan tangan Aksara. Masih di bangku kosong dan dingin yang ia duduki, Elang membaca surat itu perlahan. **** Untuk Elang, Orang yang aku tunggu 12 kali gajian lamanya. Saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah menatap langit Paris yang dulu sering jadi bualan ringan kita. Tapi, percayalah, sejak itu, aku benar-benar menaruhnya menjadi mimpi dan doa untuk kita. Tapi, maaf kalau pada akhirnya aku harus menatap langit ini tanpamu. Aku yakin kamu juga sudah punya langit timur yang indah yang selalu kamu tatap setiap malam, yang membuatmu mudah melupakanku. Kamu selalu bilang bahwa kamu mencintai cakrawala, tapi kamu lupa bahwa cakrawala itu indah karena jarak. Begitu ka
Bandung sedang berada di titik kelembapan tertinggi, seolah langit pun enggan melepas uap air yang menyesakkan dada. Di sebuah studio apartemen yang minimalis namun artistik, Aksara menatap sebuah amplop biru dengan logo emas lembaga kebudayaan Prancis. Cité Internationale des Arts, Paris. Nama itu bukan sekadar institusi; bagi Aksara, itu adalah sebuah sekoci penyelamat yang dikirim semesta tepat sebelum ia karam dalam penantian yang sia-sia. Aksara berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Ia adalah definisi kecantikan yang "mahal"—bukan karena riasan, melainkan karena karakter yang terpancar. Wajahnya memiliki tulang pipi yang tegas dengan mata sayu yang selalu tampak menyimpan rahasia besar. Rambut hitamnya yang biasanya dibiarkan tergerai liar saat melukis, kini disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. A
Langkah Elang mendaki Bukit Halo terasa jauh lebih berat dari biasanya. Kali ini, bukan karena terjalnya medan atau kurangnya oksigen, melainkan karena bayangan sebuah lukisan yang seolah memburu di belakang punggungnya. Lukisan kursi bandara itu terus menghantui pelupuk matanya, membuat setiap tarikan napasnya terasa sesak.Sesampainya di puncak bukit yang sunyi, Elang menjatuhkan diri di atas batu besar yang sama tempat ia mencoba mengirim pesan berbulan-bulan lalu—pesan yang tak pernah sampai karena sinyal yang mati. Ia mengeluarkan ponselnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia ingin mengetik sesuatu, setidaknya ucapan terima kasih atas donasi buku yang luar biasa untuk warga desa, atau sekadar basa-basi untuk mencairkan es yang membeku di antara mereka. Namun, jemarinya membeku di atas layar. Bagaimana mungkin ia bisa berterima kasih pada seseorang yang baru saja ia tikam dengan pengkhianatan paling dingin?Alih-alih membuka ruang obrolan, Elang justru membuka aplikasi media sosial.
Bulan kesebelas di pesisir Timur dibuka dengan aroma debu semen dan kayu yang baru diserut. Proyek perpustakaan desa, yang sempat tersendat karena konflik internal tim, kini dipacu habis-habisan. Namun, di balik semangat pembangunan itu, suasana di barak pengabdian justru semakin pengap. Pemicu utamanya adalah sebuah percakapan telepon yang tertangkap oleh Hanin di suatu malam yang sangat sunyi. Hanin sedang mencari udara segar di balik rimbun pohon pisang ketika ia mendengar suara Ghea yang meninggi, disusul isakan yang berusaha ditekan. "Beny, dengar! Aku tidak bisa membohongi diriku lagi," suara Ghea terdengar tajam sekaligus gemetar. "Jangan pernah datang menjemputku ke dermaga bulan depan. Kita selesai. Ya, aku memutuskan ini secara sepihak. Aku sudah menemukan orang lain yang membuatku merasa lebih hidup daripada rencana pernikahan kaku yang kamu susun. Jangan hubungi aku lagi!" Klik. Ghea menutup telepon dengan napas tersengal, melempar status pertunangannya di Yogyakart






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore