LOGINHujan pertama di pembuka Oktober sore itu, ternyata tidak hanya meninggalkan genangan dan sisa sampah yang berserakan. Tetapi juga kenangan mendalam dan sebuah hati yang terserak tak karuan. Sejak sore itu, lepas hujan pertama itu, hati sejoli sahabat berlain jenis itu tidak lagi sama. Ada hati yang dipenuhi bunga-bunga dan secercah mimpi untuk bersama, tapi ada satu hati lagi yang menyimpan sebongkah teka-teki, juga rasa takut kehilangan yang begitu tinggi. Hujan pertama kala itu adalah awal dari segenap rindu, benci, luka, dan hal lain yang tak sempat terselesaikan. Aksara Sendja Nirmala dan Bimasena Langit Permana adalah dua hati yang terbentuk dari sketsa luka dan hujan yang sama. Akankah keduanya bisa kembali melewati hujan bersama lagi tanpa adanya luka dan kecewa?
View MoreTiga tahun bukan waktu yang sebentar.
Tapi juga bukan waktu yang cukup untuk melupakan seseorang yang pernah menjadi rumah. Aku masih ingat, dulu Bisma dan aku selalu berjalan pulang bersama. Kadang tanpa kata, kadang penuh tawa. Ia bukan tipe laki-laki yang banyak bicara, tapi entah kenapa, diamnya selalu bisa membuatku merasa aman. Ada keheningan yang tidak menakutkan di antara kami—sejenis sunyi yang justru terasa akrab. Kini, keheningan itu berubah jadi asing. Sudah tiga tahun sejak kami terakhir berbicara. Tiga tahun sejak pesan terakhirnya tak pernah kubalas. Tiga tahun sejak aku kehilangan arah dalam semesta yang dulu selalu ada namanya. Lucu, ya? Dulu aku yang memilih menjauh, kini aku yang tersesat dalam rindu yang bahkan tak punya tujuan. Aku masih bisa mengingat detail kecil tentangnya. Suaranya yang tenang saat memanggil namaku, cara ia menyelipkan gurauan di sela-sela keseriusannya, bahkan cara ia menatapku—selalu dalam, tapi tak pernah menuntut. Sementara aku sibuk menatap orang lain. Lelaki yang kukira bisa memberi arti pada segala hal yang aku cari. Lelaki yang hanya sementara mampir, meninggalkan luka, lalu pergi tanpa pamit. Dan di titik itulah, aku sadar: Yang selama ini menungguku tanpa pernah benar-benar kuminta untuk menunggu… adalah Bisma. Aku menyesal. Tapi penyesalan tidak pernah punya ruang untuk kembali, bukan? Malam-malamku kini sering diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama: Sedang apa Bisma sekarang? Apakah ia masih mengingatku? Apakah ia sudah bahagia, bersama seseorang yang bukan aku? Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara seperti kabut pagi yang tak kunjung sirna. Kadang aku ingin menulis namanya di langit, sekadar memastikan bahwa semesta tahu betapa aku masih mencarinya. Tapi mungkin semesta pun sudah lelah mendengar namanya dari pikiranku yang tak pernah benar-benar bisa melepaskan. Ada hari-hari di mana aku sengaja membuka pesan lama. Menelusuri percakapan kami yang sederhana—tentang kopi, buku, atau hujan. Tentang hal-hal kecil yang dulu tak pernah kupikir akan jadi kenangan paling hangat yang kupunya. “Aku nggak suka hujan,” kataku waktu itu. “Kenapa?” tulisnya cepat. “Karena selalu membawa kenangan yang nggak bisa kuulang.” “Berarti kamu takut kenangan, bukan hujan.” Dan aku tertawa saat itu. Tapi sekarang, kalimat itu kembali seperti mantra yang menampar pelan. Mungkin benar, aku takut kenangan. Karena di dalamnya, selalu ada Bisma—dan aku yang tak lagi punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Ada masa di mana aku berharap, waktu bisa sedikit berbelas kasih. Membiarkan kami bertemu lagi, meski hanya sebentar. Sekadar mengucap “maaf” yang dulu tak pernah sempat. Tapi setiap kali aku berpikir begitu, aku sadar sesuatu: Mungkin pertemuan ulang tidak selalu berarti keajaiban. Bisa jadi, justru luka yang terulang. Aku pernah mendengar seseorang berkata, “Kadang, kehilangan adalah cara semesta menyelamatkanmu dari dirimu sendiri.” Dan aku bertanya-tanya, apakah kehilangan Bisma termasuk di dalamnya? Malam ini aku berjalan di jalan yang dulu pernah kami lalui bersama. Langkahku pelan, seperti takut mengusik kenangan yang tertidur di antara gemerisik daun. Aku menatap kursi taman tempat kami dulu sering duduk. Dulu di sana, kami pernah diam lama sekali, hanya memandangi lampu jalan yang redup. Saat itu aku merasa tenang. Sekarang, aku hanya merasa hampa. Aku mengingat sesuatu. Hari terakhir kami bicara. Bisma datang ke kampus dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Matanya sembab, tapi bibirnya tetap tersenyum. “Aksara,” katanya pelan. “Kalau suatu hari aku pergi, kamu bakal nyari aku nggak?” Aku menertawainya saat itu. Kupikir itu lelucon. “Pergi ke mana sih? Dunia ini sempit, Bis.” “Tapi hati manusia luas,” jawabnya. “Kadang kita bisa tersesat di dalamnya.” Aku tidak mengerti maksudnya waktu itu. Tapi kini, kalimatnya terasa seperti ramalan yang jadi nyata. Karena sekarang, aku benar-benar tersesat di dalam hatiku sendiri. Aku menyesal tidak pernah peka. Tidak pernah sadar bahwa setiap perhatiannya bukan sekadar kebiasaan, tapi cinta yang tulus, diam, dan sabar. Cinta yang tidak berteriak, tapi selalu ada. Andai waktu bisa diulang, aku ingin memeluknya. Aku ingin berkata, “Terima kasih sudah mencintaiku dengan caramu yang sunyi.” Tapi waktu tidak pernah berjalan mundur. Ia hanya terus maju, menyeretku bersama rasa bersalah yang tak pernah benar-benar selesai. Kini, setiap kali hujan turun, aku mendengarnya dalam dua versi: Versi dulu, saat kami meneduh bersama di bawah atap kantin, tertawa karena air menetes tepat di depanku. Dan versi kini, saat aku meneduh sendirian, dengan hati yang basah oleh air mata yang bahkan tidak sempat jatuh. Kadang aku ingin menulis surat untuk Bisma. Bukan untuk dikirim, hanya untuk menenangkan hati. “Bis, bagaimana kabarmu? Aku berharap kamu bahagia, meski bukan denganku. Maaf kalau dulu aku sibuk mencari seseorang yang bahkan tidak tahu caranya menghargai kehadiranmu. Maaf karena aku baru sadar, rumah itu bukan tempat, tapi seseorang. Dan kamu… adalah rumah yang pernah aku abaikan.” Setiap huruf yang kutulis terasa berat, seperti menarik kembali semua kenangan yang selama ini berusaha kulupakan. Tapi mungkin memang begitu cara kehilangan bekerja—ia tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah tempat: dari tangan, ke dada. Kini, setiap kali aku bercermin, aku melihat versi diriku yang dulu tidak bisa memahami cinta yang sederhana. Cinta yang tidak minta dibalas, tapi berharap dimengerti. Aku ingin percaya bahwa suatu hari nanti aku bisa sembuh. Tapi malam ini, aku masih belajar menerima kenyataan bahwa kami telah menjadi asing. Aneh, bagaimana seseorang yang dulu tahu segalanya tentangmu—dari caramu tertawa sampai nada suaramu saat marah—kini bahkan tidak tahu kabarmu. Aneh, bagaimana jarak bisa mengubah dua orang yang pernah begitu dekat menjadi dua bintang di langit berbeda, hanya bisa saling menatap tanpa pernah benar-benar bersentuhan lagi. Tiga tahun. Dan aku masih di sini, berdiri di antara kenangan yang belum tuntas. Aku ingin melupakan, tapi setiap kali mencoba, aku malah semakin ingat. Karena Bisma bukan sekadar nama, ia adalah bagian dari masa lalu yang membentuk siapa aku sekarang—seorang Aksara yang belajar bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti memilikinya. Aku berjalan pulang dengan langkah yang lambat. Angin malam menyentuh wajahku lembut, seolah berkata bahwa semuanya sudah berlalu. Tapi aku tahu, beberapa hal tidak pernah benar-benar usai. Rasa rindu, misalnya. Ia tidak hilang. Hanya bersembunyi, menunggu saat yang tepat untuk kembali menyapa. Dan malam ini, ia datang lagi. Membisikkan satu kalimat yang menekan dadaku dengan lembut: “Bisma, aku merindukanmu. Tapi mungkin, di hidupmu yang sekarang, aku memang sudah bukan siapa-siapa.” Aku menatap langit, dan untuk pertama kalinya aku mengakui, menjadi asing darimu ternyata lebih menyakitkan daripada kehilanganmu.Waktu itu, tahun 2008, aku masih sangat amatir hingga tak tau apa bedanya kabel data dan USB. Dan, kamu mengataiku bodoh. Aku marah. Lebih ke malu, sih. Akhirnya aku mendiamkanmu dan beralih mendengarkan radio, kesukaanku waktu itu. Ada yang aneh ketika penyiar radio tersebut membacakan sebuah SMS (ya, waktu itu masih booming SMS 10x gratis 25x). Aku sampai mendekatkan kupingku ke radio butut yang setia menemani masa mudaku itu.“Hai, SMS berikutnya datang dari nomor akhir 666 nih, request lagunya Filosofi yang judulnya Sadarilah. Salamnya buat seorang amatir yang barusan aku katai bodoh, aku minta maaf.” Deg. Jantungku serasa terhenti. Seorang yang merasa dirinya amatir, yang dikatakan bodoh hari itu, cuma aku aja, kan?? Aku bingung, senang, kesel, campur aduk jadi satu. Caramu minta maaf yang menurutku terlampau manis, membuatku melompat kegirangan. Aku nggak peduli lagi dengan kata bodoh yang baru saja kau sematkan kepadaku. Yang aku ingat, aku
Apa yang bisa dilakukan hati ketika rindu dan benci merisak secara bersamaan, selain menuntaskan keduanya?***'Hari ini aku ada pameran buku di perpustakaan utama. Kalau ada waktu, tolong datang, ya. Ada buku yang kupersembahkan untukmu.' Sebuah pesan dari aplikasi hijau menghampiri layar ponsel Bhisma. Lelaki penyuka fotografi itu segera membukanya dan langsung mengetahui pengirimnya dari nama yang ia sematkan di nomor itu. Dolphin.Hatinya gamang. Benci dan rindu yang memenuhi hatinya sama besar. Ia tahu perempuan itu pandai menari dalam kata, persis seperti nama yang tersemat pada dirinya, Aksara, dan ia banyak menaruh kagum pada perempuan yang diketahuinya sangat menyukai boneka dolphin itu. Hal itulah yang kiranya membuatnya lambat laun benar-benar jatuh hati. Sembilan tahun silam.***Kala itu lelaki kecil yang masih mengenakan
Beberapa rindu ditakdirkan untuk tetap menjadi rahasia semesta. Namun, terkadang beberapa orang bertindak melampaui batasnya untuk bersikukuh mengungkapkannya dan yang mereka dapati tak jarang adalah kecewa.Maka, Aksa lebih memilih untuk mengikuti kehendak semesta. Ia pungut potongan rindu dan kenangan yang berjatuhan kala nama Bhisma kembali menjamah ingatannya. Lantas ia menyimpannya dalam tumpukan kata di balik jemarinya. Itulah yang ia sebut dengan membukukan kenangan.Persiapan pameran buku sudah 85%, semua proposal yang dibuat Bima dan anggotanya telah tersebar dan mendapat respons balik. Beberapa diantaranya meminang tawaran untuk kerja sama itu, beberapa senyap tanpa kabar. Aksa dan Bima semakin disibukkan dengan persiapan pameran. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktunya di UKM, bahkan hingga menginap, seperti sore ini."Kamu bikin buku apa tahun ini?" tanya Bima di sela aktivitasnya berhadapan dengan beberap
Perempuan itu bernama Aksa, Aksara Sendja Nirmala lengkapnya. Ia telah lama menjadi sahabat karib Bima, Bimasena Langit Permana. Persahabatan mereka telah terjalin sejak SMA dan berlanjut hingga mereka berada di kampus yang sama dan organisasi kemahasiswaan yang sama yang bergerak di bidang penulisan dan jurnalistik.Telah lama menjalin sahabat dan saling mengetahui baik-buruknya masing-masing, membuat keduanya nyaman untuk saling berbagi, entah itu masalah ataupun kebahagiaan. Tak jarang, keduanya juga seperti tikus dan kucing yang selalu bertengkar namun selalu berbaikan meski tanpa ada kata maaf dan saling memaafkan.Persahabatan mereka memang terlihat cukup manis di mata teman-teman yang menjadi saksi bagaimana mereka saling bergantung satu sama lain. Meski mereka berbeda jurusan, Aksa mengambil Sastra Indonesia dan Bima mengambil jurusan Hukum, namun dapat dipastikan di sela kosong jadwal kuliah ataupun istirahat siang, mereka akan sali






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore