Beranda / Romansa / Sketsa Hujan / Pesan yang Tak Pernah Sampai

Share

Pesan yang Tak Pernah Sampai

Penulis: silvia siwi
last update Terakhir Diperbarui: 2021-05-01 14:32:07

Keheningan adalah jenis kebisingan yang paling menyakitkan bagi Aksara. Jika pada bulan ketiga ia masih sering mengecek ponsel dengan harapan yang meluap, pada bulan keempat, ia mulai belajar untuk membunuh harapan itu sebelum sempat tumbuh.

Aksara berhenti mengirim pesan. Tidak ada lagi cerita tentang kucing Rimbun, tidak ada lagi foto langit Bandung yang kelabu, dan tidak ada lagi pengingat untuk makan. Ia memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari radar Elang. Bukan karena marah yang meledak, melainkan karena ia merasa sedang menjaga sisa-sisa martabatnya yang masih ada.

"Aksa, kamu terlihat... berbeda," ujar Pak Danu, pemilik galeri kecil tempat Aksara sering memamerkan karyanya. "Sketsamu belakangan ini kehilangan detailnya, tapi entah kenapa terasa lebih berat."

Aksara menatap kanvas besar di hadapannya. "Mungkin karena saya berhenti mencoba menjelaskan semuanya melalui gambar, Pak. Saya hanya ingin merekam apa yang hilang."

Pak Danu mengangguk paham. "Ada pameran kolektif bulan depan, temanya 'Jejak yang Tertinggal'. Saya ingin kamu menyumbang tiga karya utama. Kamu punya waktu tiga minggu."

Aksara mengiyakan. Ia butuh pengalihan. Ia butuh tempat untuk menumpahkan seluruh sesak yang tersisa dari buku linen abu-abu itu. Buku itu kini ia simpan di laci terdalam mejanya, terbungkus kain hitam, seolah-olah itu adalah artefak dari peradaban yang sudah runtuh.

Sementara itu, di pesisir Timur, udara mulai terasa berbeda bagi Elang. Kesibukan program pengabdian memang menyita waktu, namun kehadiran Ghea-lah yang pelan-pelan mengisi celah kosong yang ditinggalkan Aksara.

Ghea adalah sosok yang gigih. Ia tidak hanya menjadi rekan diskusi yang hebat, tapi juga mulai memperhatikan detail-detail kecil kebutuhan Elang. Ghea sering membawakan air kelapa saat Elang kelelahan di lapangan, atau sengaja duduk di sampingnya saat malam hari hanya untuk mendengarkan keluh kesah tentang data pemetaan yang kacau.

Diam-diam, Ghea mulai melakukan pergerakan yang rapi. Ia memiliki tunangan di Jogjakarta, teman sekelasnya waktu kampus. Pelan-pelan, sosok Beny, tunangannya, mulai tergeser dari hatinya. Ghea mulai jarang membalas pesan Beny, sering beralasan sinyal buruk atau kelelahan kerja, demi bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk ngobrol atau melakukan hal lain bersama Elang.

Elang, yang fokusnya terpecah antara pengabdian dan rasa bersalah pada Jakarta, sama sekali tidak tahu bahwa perempuan yang selalu menyemangatinya itu sebenarnya sudah terikat janji dengan orang lain.

Namun, keheningan dari Jakarta tetap mengusik Elang. Sudah tiga minggu ia tidak menerima satu pun pesan dari Aksara. Awalnya, ia merasa punya "ruang napas", namun kelegaan itu perlahan berubah menjadi kekosongan yang ganjil.

"Ghe, menurutmu... kalau seseorang tiba-tiba berhenti bicara tanpa alasan, itu tandanya apa?" tanya Elang tiba-tiba saat mereka berdiri di tepi dermaga kayu.

Ghea berhenti mencatat, ia menoleh dan tersenyum tipis—sebuah senyum yang menyimpan maksud tertentu.

"Tergantung. Bisa jadi dia lelah bicara karena tidak pernah didengar, atau dia sudah menemukan orang lain yang lebih enak diajak bicara. Di Jakarta kan banyak orang keren, Lang. Tidak seperti di sini yang isinya cuma hutan dan kita."

Elang terdiam. Ucapan Ghea seperti api yang sengaja disulut di lahan kering. Berhasil memengaruhi pikiran Elang. Malam itu, didorong oleh rasa cemas yang mendadak memuncak, Elang memutuskan untuk mendaki Bukit Halo sendirian. Ia butuh bicara dengan Aksara. .

Malam di Bukit Halo sangat sunyi. Elang duduk di atas batu besar, memegang ponselnya yang akhirnya mendapatkan dua batang sinyal. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul dari I*******m. Unggahan dari akun galeri Pak Danu.

"Sneak peek untuk pameran 'Jejak yang Tertinggal'. Karya terbaru dari Aksara Sendja Nirmala: 'Sketsa Hujan dan Jejak Kehilangan'.

Elang menatap detail sketsa itu. Sebuah kursi kosong di bandara dengan latar hujan abu-abu di baliknya. Elang merasa dadanya sakit. Goresan tangan Aksara tampak seperti visualisasi atas luka dan kehilangan yang nyata. Ia merasa bersalah karena membiarkan jarak membentanf luas di antara perasaan mereka. Elang kembali bimbang.

Dengan tangan gemetar karena udara dingin dan panik, Elang mengetik pesan singkat. Pesan yang seharusnya menjadi jembatan untuk pulang.

"Aksa. Aku minta maaf. Jangan berhenti menggambar hujan. Ketika aku pulang nanti, kamu akan tetap jadi orang pertama yang aku temui. Tolong, bersabarlah lebih lama. Jangan tutup bukunya dulu. Aku merindukanmu."

Jari Elang menekan tombol kirim.

Tepat pada detik itu, sebuah dentuman keras terdengar dari arah desa di bawah bukit. Generator listrik utama desa meledak akibat beban berlebih. Seketika itu juga, seluruh lampu di pemukiman padam. Di puncak bukit, menara BTS kecil yang dayanya bergantung pada aliran listrik desa ikut mati seketika.

Layar ponsel Elang menunjukkan ikon loading yang berputar-putar.

Sending...

Elang mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara, mencari sisa-isa frekuensi yang mungkin masih tertinggal di awan. Namun sia-sia. Sinyal di sudut kanan atas ponselnya berubah menjadi tanda silang merah.

Message Failed to Send.

"Ayo... kumohon, terkirimlah!" geram Elang. Ia mencoba menekan tombol resend berkali-kali, namun langit seolah menutup pintunya rapat-rapat. Sinyal benar-benar mati total seiring dengan padamnya listrik di seluruh area.

Di Bandung, di sebuah kamar yang dingin, ponsel Aksara tergeletak sunyi di atas meja. Tidak ada getaran, tidak ada bunyi notifikasi. Aksara sedang berada di kamar mandi, mencuci kuas-kuasnya dari warna hitam yang pekat. Ia menatap air hitam yang mengalir ke lubang pembuangan, merasa seolah-olah harapannya pada Elang ikut larut ke sana.

Aksara tidak pernah tahu bahwa malam itu, di sebuah bukit jauh di Timur, Elang hampir saja memohon padanya untuk tetap tinggal. Ia hanya tahu bahwa ponselnya tetap sepi, mengonfirmasi dugaannya bahwa ia memang sudah terlupakan.

Sementara di bawah bukit, Ghea berdiri di depan kamarnya yang gelap karena mati lampu. Ia menatap ke arah Bukit Halo, tahu bahwa Elang ada di sana mencoba menghubungi "masa lalunya".

Ghea tersenyum kecil dalam kegelapan. Ia baru saja menghapus pesan dari tunangannya tanpa membaca isinya. Baginya, kegelapan dan matinya sinyal malam ini adalah sekutu terbaik untuk memastikan Elang tetap berada dalam genggamannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sketsa Hujan   Surat dari Aksara

    Lalu-lalang orang di sekitarnya perlahan memudar menjadi siluet kabur. Suara pengumuman penerbangan, deru koper yang ditarik, dan tawa orang-orang yang bertemu kembali, semuanya mendadak senyap di telinga Elang. Dunia Elang kini mengerucut hanya pada selembar kertas dan goresan tangan yang sangat ia kenali. Goresan tangan Aksara. Masih di bangku kosong dan dingin yang ia duduki, Elang membaca surat itu perlahan. **** Untuk Elang, Orang yang aku tunggu 12 kali gajian lamanya. Saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah menatap langit Paris yang dulu sering jadi bualan ringan kita. Tapi, percayalah, sejak itu, aku benar-benar menaruhnya menjadi mimpi dan doa untuk kita. Tapi, maaf kalau pada akhirnya aku harus menatap langit ini tanpamu. Aku yakin kamu juga sudah punya langit timur yang indah yang selalu kamu tatap setiap malam, yang membuatmu mudah melupakanku. Kamu selalu bilang bahwa kamu mencintai cakrawala, tapi kamu lupa bahwa cakrawala itu indah karena jarak. Begitu ka

  • Sketsa Hujan   Awan yang Berpapasan

    Bandung sedang berada di titik kelembapan tertinggi, seolah langit pun enggan melepas uap air yang menyesakkan dada. Di sebuah studio apartemen yang minimalis namun artistik, Aksara menatap sebuah amplop biru dengan logo emas lembaga kebudayaan Prancis. Cité Internationale des Arts, Paris. Nama itu bukan sekadar institusi; bagi Aksara, itu adalah sebuah sekoci penyelamat yang dikirim semesta tepat sebelum ia karam dalam penantian yang sia-sia. Aksara berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Ia adalah definisi kecantikan yang "mahal"—bukan karena riasan, melainkan karena karakter yang terpancar. Wajahnya memiliki tulang pipi yang tegas dengan mata sayu yang selalu tampak menyimpan rahasia besar. Rambut hitamnya yang biasanya dibiarkan tergerai liar saat melukis, kini disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. A

  • Sketsa Hujan   Hujan di Bukit Halo

    Langkah Elang mendaki Bukit Halo terasa jauh lebih berat dari biasanya. Kali ini, bukan karena terjalnya medan atau kurangnya oksigen, melainkan karena bayangan sebuah lukisan yang seolah memburu di belakang punggungnya. Lukisan kursi bandara itu terus menghantui pelupuk matanya, membuat setiap tarikan napasnya terasa sesak.Sesampainya di puncak bukit yang sunyi, Elang menjatuhkan diri di atas batu besar yang sama tempat ia mencoba mengirim pesan berbulan-bulan lalu—pesan yang tak pernah sampai karena sinyal yang mati. Ia mengeluarkan ponselnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia ingin mengetik sesuatu, setidaknya ucapan terima kasih atas donasi buku yang luar biasa untuk warga desa, atau sekadar basa-basi untuk mencairkan es yang membeku di antara mereka. Namun, jemarinya membeku di atas layar. Bagaimana mungkin ia bisa berterima kasih pada seseorang yang baru saja ia tikam dengan pengkhianatan paling dingin?Alih-alih membuka ruang obrolan, Elang justru membuka aplikasi media sosial.

  • Sketsa Hujan   Donasi Aksara

    Bulan kesebelas di pesisir Timur dibuka dengan aroma debu semen dan kayu yang baru diserut. Proyek perpustakaan desa, yang sempat tersendat karena konflik internal tim, kini dipacu habis-habisan. Namun, di balik semangat pembangunan itu, suasana di barak pengabdian justru semakin pengap. Pemicu utamanya adalah sebuah percakapan telepon yang tertangkap oleh Hanin di suatu malam yang sangat sunyi. Hanin sedang mencari udara segar di balik rimbun pohon pisang ketika ia mendengar suara Ghea yang meninggi, disusul isakan yang berusaha ditekan. "Beny, dengar! Aku tidak bisa membohongi diriku lagi," suara Ghea terdengar tajam sekaligus gemetar. "Jangan pernah datang menjemputku ke dermaga bulan depan. Kita selesai. Ya, aku memutuskan ini secara sepihak. Aku sudah menemukan orang lain yang membuatku merasa lebih hidup daripada rencana pernikahan kaku yang kamu susun. Jangan hubungi aku lagi!" Klik. Ghea menutup telepon dengan napas tersengal, melempar status pertunangannya di Yogyakart

  • Sketsa Hujan   Teguran Keras

    Lampu minyak di teras barak sudah lama padam, menyisakan bau sumbu yang hangus dan keheningan yang mencekam. Hanin berdiri dalam bayang-bayang pohon kelapa, tangannya gemetar mengepal di sisi tubuh. Pemandangan di depannya—pagutan bibir antara Elang dan Ghea yang begitu intens—terasa seperti belati yang menusuk nuraninya. "Puas, Lang?" suara Hanin memecah sunyi, tajam dan dingin seperti es. Elang tersentak, melepaskan tautannya dengan Ghea. Napasnya masih menderu, matanya yang biasanya jernih kini tampak keruh oleh kabut gairah dan rasa bersalah yang bertarung di sana. Ghea, di sisi lain, justru terlihat lebih tenang. Ia merapikan anak rambutnya dengan jemari yang stabil, seolah tak ada beban moral yang ia pikul. "Hanin, ini bukan waktu yang tepat—" "Lalu kapan waktunya, Lang?" potong Hanin, melangkah keluar dari kegelapan. "Nanti saat kamu pulang ke Bandung dan mendapati Aksara masih menunggu dengan sejuta janji yang kamu tabur? Kamu tahu apa yang kamu lakukan malam ini?

  • Sketsa Hujan   Lagu untuk Ghea

    Bandung sedang berada di puncak musim penghujan, namun bagi Aksara, badai yang sesungguhnya terjadi di dalam keheningan studionya. Kesibukan menjelang pameran "Jejak yang Tertinggal" menjadi satu-satunya napas buatan yang membuatnya tetap tegak. Galeri seni Pak Danu malam itu dipenuhi aroma kopi mahal, wangi kayu pinus dari bingkai-bingkai baru, dan bisik-bisik apresiasi dari para kolektor. Tiga karya utama Aksara diletakkan di lorong transisi, sebuah posisi strategis yang memaksa setiap pengunjung berhenti sejenak. Lukisan bertajuk 'Sketsa Hujan dan Jejak Kehilangan' menjadi primadona. Di sana, Aksara menggambarkan kursi bandara dengan teknik chiaroscuro yang tajam—kontras antara cahaya lampu bandara yang dingin dan kegelapan di luar jendela yang dihantam hujan. Banyak pengunjung berdiri lama di depannya, beberapa tampak menyeka sudut mata, merasakan kesepian yang berteriak dari balik kanvas itu. "Kamu berhasil, Aksa. Kamu tidak hanya menggambar benda, kamu menggambar perasa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status