MasukBandung sedang berada di puncak musim penghujan, namun bagi Aksara, badai yang sesungguhnya terjadi di dalam keheningan studionya. Kesibukan menjelang pameran "Jejak yang Tertinggal" menjadi satu-satunya napas buatan yang membuatnya tetap tegak.
Galeri seni Pak Danu malam itu dipenuhi aroma kopi mahal, wangi kayu pinus dari bingkai-bingkai baru, dan bisik-bisik apresiasi dari para kolektor. Tiga karya utama Aksara diletakkan di lorong transisi, sebuah posisi strategis yang memaksa setiap pengunjung berhenti sejenak. Lukisan bertajuk 'Sketsa Hujan dan Jejak Kehilangan' menjadi primadona. Di sana, Aksara menggambarkan kursi bandara dengan teknik chiaroscuro yang tajam—kontras antara cahaya lampu bandara yang dingin dan kegelapan di luar jendela yang dihantam hujan. Banyak pengunjung berdiri lama di depannya, beberapa tampak menyeka sudut mata, merasakan kesepian yang berteriak dari balik kanvas itu. "Kamu berhasil, Aksa. Kamu tidak hanya menggambar benda, kamu menggambar perasaan yang ditinggalkan," puji Pak Danu sambil menepuk bahu Aksara. Aksara tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. Pikirannya melayang pada sebuah buku linen abu-abu di laci kamarnya yang masih tersimpan rapat. Di sudut galeri, Kinan memperhatikannya dengan dada sesak. Sebagai sahabat dekat yang juga merupakan teman akrab Hanin—rekan setim Elang di pesisir Timur—Kinan memikul beban rahasia yang berat. Lewat panggilan telepon larut malam, Hanin sudah menceritakan segalanya: tentang Elang yang mulai tertawa lepas karena Ghea, tentang kedekatan mereka yang sudah melampaui batas profesional, dan tentang Elang yang mulai jarang membahas 'Bandung'. "Aksa," panggil Kinan, mendekat sambil membawa segelas air putih. "Pamerannya sukses besar. Kamu harusnya senang. Gimana kalau besok kita rayakan? Ada kafe baru nih, konsepnya estetik dan kekinian banget, kamu pasti suka." Aksara menggeleng pelan sambil merapikan letak brosur di meja. "Jangan sekarang, Nan. Simpan dulu lokasinya. Aku sudah janji pada diriku sendiri, tempat-tempat indah seperti itu mau aku kunjungi pertama kali bareng Elang kalau dia pulang nanti." Kinan nyaris tersedak udara. "Aksa, ini sudah bulan keempat. Kamu melewatkan konser band favorit kita, menolak diajak ke Puncak, bahkan sekarang kafe cantik pun kamu tabung? Hidupmu bukan hanya soal menunggu Elang pulang." "Satu tahun itu cuma dua belas kali gajian, Nan," sahut Aksara tenang, mengulangi kalimat Elang di bandara dulu seolah itu adalah ayat suci. "Aku ingin saat dia kembali nanti, aku punya daftar tempat yang belum pernah kusentuh agar kami bisa menciptakannya sebagai kenangan baru yang utuh. Tanpa ada bayang-bayang orang lain di sana." Kinan ingin sekali berteriak saat itu juga. Ia ingin mengguncang bahu Aksara dan mengatakan bahwa di belahan Indonesia yang lain, Elang mungkin sedang menciptakan kenangan baru setiap detiknya dengan perempuan bernama Ghea. Namun, melihat binar harapan di mata Aksara yang begitu tulus menjaga janji, Kinan kehilangan suaranya. Ia hanya bisa memberi isyarat halus yang mungkin takkan pernah dimengerti Aksara. Di pesisir Timur, matahari terbenam dengan warna jingga yang menyakitkan indahnya. Di teras barak yang sederhana, Elang duduk bersandar pada tiang kayu yang mulai lapuk. Tugas pemetaan mangrove untuk hari itu sudah selesai, menyisakan keletihan yang membuat pikirannya melantur. Tanpa sengaja, jemarinya membuka folder arsip di ponselnya. Ia menemukan sebuah catatan digital berisi potongan puisi yang pernah ditulis Aksara untuknya. Baris-baris kalimat yang dulu terasa seperti doa, kini dibacanya kembali dengan perasaan yang berkecamuk. ' Semoga, udara di sana sama menenangkannya seperti udara yang ada sini, hujan yang kau jumpai di sana sama menyenangkannya dengan hujan pertama yang pernah terlewati di sini, dan malam di sana, sama tenangnya dengan malam-malam yang pernah kita lewati di sini.' Elang membacanya berulang-ulang. Kata-kata Aksara selalu memiliki ritme yang magis, sesuatu yang memicu insting seninya yang lain. Selain memotret, Elang adalah pemetik gitar yang andal. Baginya, nada adalah cara paling jujur untuk membuang sesak. Ia mengambil gitar akustik miliknya, mulai memetik senar secara acak. Awalnya hanya melodi minor yang muram, namun perlahan, bait puisi itu mulai menyatu dengan petikannya. Elang mulai bergumam, menyusun melodi untuk baris-baris tersebut. Namun, anehnya, meski kata-kata itu milik Aksara, emosi yang ia tuangkan justru bersumber dari sisa-sisa lukanya pada mantan kekasihnya dulu. Ia menggunakan puisi Aksara sebagai kerangka untuk meratapi masa lalunya sendiri. Ghea, yang baru saja selesai mandi, berdiri di balik pintu kayu yang terbuka sedikit. Ia terpaku mendengarkan suara serak Elang yang menyatu dengan deburan ombak. Baginya, Elang yang sedang bermain musik adalah sosok yang seribu kali lebih menarik daripada Elang yang sedang bekerja di lapangan. Ghea merasa melodi itu ditujukan untuk seseorang yang istimewa, dan ia sangat ingin orang itu adalah dirinya. Ghea melangkah keluar, duduk di lantai teras tepat di samping kaki Elang. Elang menghentikan petikannya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Lagu itu... indah sekali, Lang," bisik Ghea. Matanya menatap Elang dengan binar yang tak bisa disembunyikan lagi. "Liriknya sangat dalam. Tentang siapa?" Hanin, yang kebetulan sedang berada di samping barak, menajamkan pendengarannya. Ia tahu betul baris lirik yang baru saja dinyanyikan Elang adalah kutipan puisi Aksara. Ia bersiap mendengar Elang menyebut nama sahabatnya itu. Elang menatap Ghea. Di bawah remang cahaya lampu minyak, wajah Ghea tampak begitu nyata dan ada di sana untuknya. Ghea yang membawakannya air kelapa, Ghea yang mendengarkan keluh kesahnya, Ghea yang tidak membiarkannya merasa kesepian di pulau ini. "Lagu itu untuk kamu, Ghe," jawab Elang enteng, seolah kata-kata itu tidak bermakna berat. Bagi Elang, itu mungkin hanya cara untuk menyenangkan hati teman dekatnya, atau mungkin cara untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sudah benar-benar berpindah ke hati yang baru. Tapi bagi Ghea, itu adalah konfirmasi. Konfirmasi bahwa ia telah berhasil menggeser siapapun yang ada di masa lalu Elang, dan alasan kuat baginya untuk segera menanggalkan cincin tunangan dari Beny di Yogyakarta. Hanin yang mendengar itu merasa muak dan ingin sekali menimpuk kepala Elang dengan batu. Ia menatap Elang dengan pandangan tak percaya. Tega sekali, batinnya. Elang menggunakan puisi Aksara untuk memikat perempuan lain. Ghea tersenyum sangat lebar, sebuah kemenangan kecil yang terasa manis. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Elang. "Terima kasih, Lang. Lagu ini akan jadi lagu favoritku selamanya.." Di bawah langit Timur yang kian pekat, ribuan bintang seolah tumpah dan memaku pandangan pada dua sosok di teras barak itu. Suara gitar Elang masih mengalun, namun ritmenya tak lagi teratur. Ada getaran yang tak sinkron antara petikan jari dan degup jantungnya. Puisi Aksara yang ia jadikan lagu—sebuah karya yang ditenun dari ketulusan seseorang di Bandung—kini hanya menjadi latar suara bagi ketegangan yang merambat di antara Elang dan Ghea. Ghea tak lagi hanya bersandar. Ia merapatkan duduknya, mengikis setiap inci jarak yang tersisa hingga bahu mereka bersentuhan erat. Aroma sabun mandi yang segar bercampur dengan aroma malam yang lembap dari pakaian Ghea menyerbu indra penciuman Elang. Perempuan itu mendongak, menatap Elang dengan binar takjub yang terang-terangan, seolah Elang adalah satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan pesisir ini. Lagu itu terhenti di tengah bait. Jari Elang diam membeku di atas senar. Dalam temaram lampu minyak yang bergoyang ditiup angin, fokus Elang jatuh pada wajah Ghea yang hanya berjarak beberapa senti darinya. Ia adalah lelaki normal, dan pesona Ghea malam ini terasa begitu intimidatif. Matanya turun, terpaku pada bibir mungil Ghea yang dipoles sapuan lipstik pink lembut—warna yang kontras dengan kulitnya yang mulai menggelap terbakar matahari pulau. Ghea tidak berpaling. Ia justru memberikan senyum tipis, sebuah undangan bisu yang membuat logika Elang berhamburan. "Lagunya... belum selesai, Lang," bisik Ghea. Suaranya rendah, nyaris hilang tertelan suara ombak, namun terasa begitu jelas di telinga Elang. Elang menelan ludah. Ada pergulatan hebat di kepalanya. Wajah Aksara yang sendu di bandara sempat melintas, namun segera terhapus oleh kehadiran Ghea yang begitu nyata dan hangat di depannya. Ghea yang ada di sini, yang memujinya, yang menatapnya seolah ia adalah pahlawan. Tangannya yang kasar karena kerja lapangan bergerak ragu, namun akhirnya mendarat di sisi wajah Ghea, menyelipkan anak rambut perempuan itu ke belakang telinga. Ghea memejamkan mata, menikmati sentuhan itu, sementara Elang semakin terhipnotis oleh kedekatan yang terlarang ini. Ia bisa merasakan napas Ghea yang hangat menerpa wajahnya. Segala janji tentang "orang pertama yang akan ditemui" dan "satu tahun yang hanya dua belas kali gajian" mendadak terasa seperti dongeng dari masa kecil yang sudah lama ia lupakan. Di sini, di bawah langit Timur, hanya ada ia, Ghea, dan tarikan gravitasi yang tak tertahankan. Elang mencondongkan tubuhnya, perlahan namun pasti, mengabaikan suara hati yang mencoba memperingatkannya. Aroma parfum Ghea yang bercampur dengan wangi malam yang lembap seolah menjadi candu yang mengaburkan logika Elang. Sebagai lelaki normal yang telah lama mengubur keinginan fisiknya di tengah kerasnya medan pengabdian, pertahanannya runtuh seketika. Ia tidak lagi melihat Ghea sebagai rekan tim, melainkan sebagai oase di tengah gurun kesepian yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Saat bibir mereka akhirnya bertemu, ada sebuah ledakan rasa yang kacau di dalam dada Elang. Ia mencium Ghea dengan hangat, sebuah ciuman yang dalam, yang ia lampiaskan unuk seluruh rindu yang telah berkarat di hatinya. Namun, di balik kehangatan itu, ada sebuah kebenaran yang getir. Elang menciumnya dengan intensitas yang ganjil—ia seolah sedang mencari kembali rasa yang pernah hilang. Apakah ia merindukan mantannya yang telah memberinya luka sedalam samudera? Ataukah ia hanya sekadar merindukan sensasi sentuhan itu sendiri? Elang tidak tahu. Yang ia rasakan hanyalah bibir Ghea yang lembut dan nyata, sangat kontras dengan bayangan Aksara yang semakin hari semakin terasa seperti mimpi yang sulit digapai. Ghea menyambut ciuman itu dengan tangan yang meremas pelan kemeja Elang, memberikan seluruh dirinya sebagai pelarian bagi pria itu. Elang memejamkan mata erat-erat, mencoba menenggelamkan rasa bersalahnya. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia seolah sedang mencium semua kenangan manis yang pernah ia miliki, tak peduli milik siapa kenangan itu sebenarnya. Petikan gitar yang tadi melantunkan puisi Aksara kini tergeletak bisu di samping mereka. Bait-bait tentang "malam yang tenang seperti malam-malam yang pernah kita lewati di sini" baru saja dikhianati oleh sebuah tindakan yang tak mungkin bisa ditarik kembali. Malam itu, di bawah langit Timur, Elang benar-benar tersesat. Ia menemukan kehangatan di bibir Ghea, namun di saat yang sama, ia kehilangan arah untuk pulang ke Bandung. Dan semua adegan itu, disaksikan oleh sepasang mata yang sedari tadi mengamati mereka dengan seksama. Mata Hanin.Lalu-lalang orang di sekitarnya perlahan memudar menjadi siluet kabur. Suara pengumuman penerbangan, deru koper yang ditarik, dan tawa orang-orang yang bertemu kembali, semuanya mendadak senyap di telinga Elang. Dunia Elang kini mengerucut hanya pada selembar kertas dan goresan tangan yang sangat ia kenali. Goresan tangan Aksara. Masih di bangku kosong dan dingin yang ia duduki, Elang membaca surat itu perlahan. **** Untuk Elang, Orang yang aku tunggu 12 kali gajian lamanya. Saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah menatap langit Paris yang dulu sering jadi bualan ringan kita. Tapi, percayalah, sejak itu, aku benar-benar menaruhnya menjadi mimpi dan doa untuk kita. Tapi, maaf kalau pada akhirnya aku harus menatap langit ini tanpamu. Aku yakin kamu juga sudah punya langit timur yang indah yang selalu kamu tatap setiap malam, yang membuatmu mudah melupakanku. Kamu selalu bilang bahwa kamu mencintai cakrawala, tapi kamu lupa bahwa cakrawala itu indah karena jarak. Begitu ka
Bandung sedang berada di titik kelembapan tertinggi, seolah langit pun enggan melepas uap air yang menyesakkan dada. Di sebuah studio apartemen yang minimalis namun artistik, Aksara menatap sebuah amplop biru dengan logo emas lembaga kebudayaan Prancis. Cité Internationale des Arts, Paris. Nama itu bukan sekadar institusi; bagi Aksara, itu adalah sebuah sekoci penyelamat yang dikirim semesta tepat sebelum ia karam dalam penantian yang sia-sia. Aksara berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya untuk terakhir kali sebelum berangkat. Ia adalah definisi kecantikan yang "mahal"—bukan karena riasan, melainkan karena karakter yang terpancar. Wajahnya memiliki tulang pipi yang tegas dengan mata sayu yang selalu tampak menyimpan rahasia besar. Rambut hitamnya yang biasanya dibiarkan tergerai liar saat melukis, kini disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. A
Langkah Elang mendaki Bukit Halo terasa jauh lebih berat dari biasanya. Kali ini, bukan karena terjalnya medan atau kurangnya oksigen, melainkan karena bayangan sebuah lukisan yang seolah memburu di belakang punggungnya. Lukisan kursi bandara itu terus menghantui pelupuk matanya, membuat setiap tarikan napasnya terasa sesak.Sesampainya di puncak bukit yang sunyi, Elang menjatuhkan diri di atas batu besar yang sama tempat ia mencoba mengirim pesan berbulan-bulan lalu—pesan yang tak pernah sampai karena sinyal yang mati. Ia mengeluarkan ponselnya. Tangannya sedikit gemetar. Ia ingin mengetik sesuatu, setidaknya ucapan terima kasih atas donasi buku yang luar biasa untuk warga desa, atau sekadar basa-basi untuk mencairkan es yang membeku di antara mereka. Namun, jemarinya membeku di atas layar. Bagaimana mungkin ia bisa berterima kasih pada seseorang yang baru saja ia tikam dengan pengkhianatan paling dingin?Alih-alih membuka ruang obrolan, Elang justru membuka aplikasi media sosial.
Bulan kesebelas di pesisir Timur dibuka dengan aroma debu semen dan kayu yang baru diserut. Proyek perpustakaan desa, yang sempat tersendat karena konflik internal tim, kini dipacu habis-habisan. Namun, di balik semangat pembangunan itu, suasana di barak pengabdian justru semakin pengap. Pemicu utamanya adalah sebuah percakapan telepon yang tertangkap oleh Hanin di suatu malam yang sangat sunyi. Hanin sedang mencari udara segar di balik rimbun pohon pisang ketika ia mendengar suara Ghea yang meninggi, disusul isakan yang berusaha ditekan. "Beny, dengar! Aku tidak bisa membohongi diriku lagi," suara Ghea terdengar tajam sekaligus gemetar. "Jangan pernah datang menjemputku ke dermaga bulan depan. Kita selesai. Ya, aku memutuskan ini secara sepihak. Aku sudah menemukan orang lain yang membuatku merasa lebih hidup daripada rencana pernikahan kaku yang kamu susun. Jangan hubungi aku lagi!" Klik. Ghea menutup telepon dengan napas tersengal, melempar status pertunangannya di Yogyakart
Lampu minyak di teras barak sudah lama padam, menyisakan bau sumbu yang hangus dan keheningan yang mencekam. Hanin berdiri dalam bayang-bayang pohon kelapa, tangannya gemetar mengepal di sisi tubuh. Pemandangan di depannya—pagutan bibir antara Elang dan Ghea yang begitu intens—terasa seperti belati yang menusuk nuraninya. "Puas, Lang?" suara Hanin memecah sunyi, tajam dan dingin seperti es. Elang tersentak, melepaskan tautannya dengan Ghea. Napasnya masih menderu, matanya yang biasanya jernih kini tampak keruh oleh kabut gairah dan rasa bersalah yang bertarung di sana. Ghea, di sisi lain, justru terlihat lebih tenang. Ia merapikan anak rambutnya dengan jemari yang stabil, seolah tak ada beban moral yang ia pikul. "Hanin, ini bukan waktu yang tepat—" "Lalu kapan waktunya, Lang?" potong Hanin, melangkah keluar dari kegelapan. "Nanti saat kamu pulang ke Bandung dan mendapati Aksara masih menunggu dengan sejuta janji yang kamu tabur? Kamu tahu apa yang kamu lakukan malam ini?
Bandung sedang berada di puncak musim penghujan, namun bagi Aksara, badai yang sesungguhnya terjadi di dalam keheningan studionya. Kesibukan menjelang pameran "Jejak yang Tertinggal" menjadi satu-satunya napas buatan yang membuatnya tetap tegak. Galeri seni Pak Danu malam itu dipenuhi aroma kopi mahal, wangi kayu pinus dari bingkai-bingkai baru, dan bisik-bisik apresiasi dari para kolektor. Tiga karya utama Aksara diletakkan di lorong transisi, sebuah posisi strategis yang memaksa setiap pengunjung berhenti sejenak. Lukisan bertajuk 'Sketsa Hujan dan Jejak Kehilangan' menjadi primadona. Di sana, Aksara menggambarkan kursi bandara dengan teknik chiaroscuro yang tajam—kontras antara cahaya lampu bandara yang dingin dan kegelapan di luar jendela yang dihantam hujan. Banyak pengunjung berdiri lama di depannya, beberapa tampak menyeka sudut mata, merasakan kesepian yang berteriak dari balik kanvas itu. "Kamu berhasil, Aksa. Kamu tidak hanya menggambar benda, kamu menggambar perasa







