Suara mobil terdengar berhenti di depan rumah, kupastikan wajah sangat manis sebelum bergegas membuka pintu. Harus ceria, dia tak boleh menemukan raut berduka. Aku menuruni anak tangga sembari mengatur napas, menenangkan diri.Saat kubuka pintu, Dyo turun dari mobil dengan wajah lelah. Ish! Dia menunjukkan ekspresi yang begitu mengkhawatirkan, tetapi aku tak akan simpati. Hanya efek capek karena bersama simpanannya di hotel.“Kamu terlihat begitu lelah, apa pekerjaannya sangat berat sampai suamiku begitu menyedihkan?” Aku menyambut dengan tanya manja seperti biasa, tak akan kuubah sikap kekanakan ini demi menjaga keutuhan rumah tangga sekalipun keinginan menghantam kepalanya ke tembok sangat besar.“Lumayan, kenapa?” timpalnya dengan nada meledek, “kangen, mau langsung melepas rindu?”“Iya dong, Mas. Kangen banget, seminggu ini enggak dibelai.” Aku sangat ingin muntah saat ini, tetapi kutahan.Apa jadinya kalau aku mendadak bersikap dingin dan membiarkan Dyo, dia akan curiga. Kemudian
Read More