Dua puluh lima tahun mendiami rumah ini, Senja sungguh sangat tidak menyangka jika pada akhirnya, selain lapak, rumah peninggalan mendiang kedua orang tuanya ini pun harus rela dia lepaskan begitu saja. "Ayah, Ibu, maafkan aku ..." lirih suara Senja hampir hilang ditelan isak tertahan. Kesedihan hatinya seolah tak terukur, namun satu hal yang dia yakini, bahwa di surga sana, Ayah dan Ibu pasti memahami keputusan maha berat serta alasan yang memaksa dirinya menyerah tanpa perlawanan kepada Yusuf Akhyar, yang tak lain mantan suaminya. Dada Senja seolah terhimpit batu besar, sampai-sampai dia buru- buru melafalkan istigfar berkali-kali. Yah, Senja memang telah memutuskan untuk menyerah. Bukan karena dirinya kalah, melainkan karena lelah. Jujur saja, Senja merasa tak lagi punya energi untuk berurusan dengan Yusuf Akhyar, mantan suaminya. Tekadnya telah bulat, bahwa apapun itu, asal dirinya bisa terlepas sepenuhnya dengan pria itu maka Senja akan melakukannya, sekalipun rasan
Baca selengkapnya