Suara mesin heart-rate monitor berdetak konstan, mengisi kesunyian ruangan putih yang beraroma antiseptik tajam. Di samping ranjang rumah sakit, Bang Ridwan duduk dengan mata merah dan bahu yang sedikit membungkuk. Pria itu menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap begitu saja dari hadapannya."Kana? Kamu sudah dengar suara Kakak, Dek?" tanya Bang Ridwan dengan suara serak, nyaris berbisik.Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Kelopak mataku terasa sangat berat, seperti tertimpa beban berton-ton. Tenggorokanku kering, panas, dan menyakitkan saat aku mencoba menelan ludah."Air..." bisikku lemah, hampir tak terdengar.Tanpa membuang waktu, Bang Ridwan langsung mengambil gelas plastik di nakas, memasukkan sedotan plastik, dan mengarahkannya dengan hati-hati ke bibirku. Aku meneguknya pelan-pelan. Sensasi dingin air itu terasa menyelamatkan nyawaku, menyegarkan kembali kesadaranku yang masih berkabut tebal."Alhamdulillah. Sebentar, Kakak panggil Dokter Acha dulu," ujar
อ่านเพิ่มเติม