Home / Romansa / Desember Ke-30 / Kosong yang Berisik

Share

Kosong yang Berisik

Author: Aeza
last update publish date: 2026-08-31 20:55:16

Suara mesin heart-rate monitor berdetak konstan, mengisi kesunyian ruangan putih yang beraroma antiseptik tajam. Di samping ranjang rumah sakit, Bang Ridwan duduk dengan mata merah dan bahu yang sedikit membungkuk. Pria itu menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap begitu saja dari hadapannya.

"Kana? Kamu sudah dengar suara Kakak, Dek?" tanya Bang Ridwan dengan suara serak, nyaris berbisik.

Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Kelopak mataku terasa sangat berat, seperti tertimp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Desember Ke-30   Laptop yang Menunggu

    Layar ponsel pintar di tanganku menyala terang, memantulkan cahaya putih ke wajahku yang masih pucat akibat sisa-sisa pemulihan operasi. Jari telunjukku bergetar pelan di atas layar sentuh, ragu-ragu menekan tombol kirim aplikasi pesan instan yang sudah terbuka sejak lima menit lalu. Di dalam kolom chat itu, sebuah kalimat pendek telah tersusun rapi: Aku sudah selesai operasi. Semuanya berjalan lancar. Tujuan pengirimannya jelas: Aroon. Pria yang selama beberapa bulan terakhir mengisi sebagian besar ruang di kepala, hati, dan bahkan draf novel terbaruku."Dek, supnya keburu dingin kalau kamu terus-menerus melototin HP itu," suara Kak Dinah terdengar dari ambang pintu kamar, membawa mangkuk keramik berisi uap panas yang mengepul tipis. Langkah kakinya mendekat, lalu ia meletakkan mangkuk itu di atas meja nakas tepat di sebelah laptop perak yang tertutup rapat. "Siapa sih yang ditungguin balesannya sepagi ini? Aroon?"Aku buru-buru mematikan l

  • Desember Ke-30   Kepulangan ke Rumah

    Udara pagi Semarang menyambut langkahku saat mobil yang dikemudikan Bang Ridwan memasuki halaman rumah. Setelah lima hari mendekam di ruang rawat inap dengan bau antiseptik yang menusuk hidung, aroma tanah basah dan daun mangga di halaman depan terasa begitu mewah. Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati sensasi oksigen yang masuk tanpa ada rasa sakit di balik tengkorak kepalaku."Pelan-pelan, Dek. Jangan buru-buru keluar," tegur Bang Ridwan dari balik kemudi, buru-buru turun dan membukakan pintu mobil untukku."Aku bukan porselen yang gampang pecah, Bang," protesku meski tetap menerima uluran tangannya untuk menyangga tubuhku yang masih terasa sedikit limbung.Sebelum kaki kananku sempat menapak lantai teras, pintu utama rumah terbuka lebar. Sosok Kak Dinah muncul dengan apron merah muda melingkar di pinggangnya, membawa spatula kayu di tangan kanan seolah ia baru saja meninggalkan penggorengan di dapur. Wajahnya langs

  • Desember Ke-30   Potongan Kenangan yang Hilang

    Suara langkah kaki berlalu-lalang di luar kamar rawat inap rumah sakit swasta di Semarang itu terdengar samar di telingaku. Setelah Dokter Acha selesai memeriksa kondisi fisik dan kesadaran pasca-operasiku, suasana kembali senyap. Hanya ada aku, Bang Ridwan yang masih setia duduk di kursi sudut ruangan, dan sebuah laptop berwarna perak yang tergeletak di atas meja nakas di samping tempat tidur."Kana, benar-benar tidak ada yang terasa sakit lagi di bagian kepala?" tanya Bang Ridwan untuk kesekian kalinya, menatapku dengan sorot mata penuh kekhawatiran seorang kakak yang baru saja melihat adiknya keluar dari ruang operasi besar."Hanya sedikit pusing dan berat di bagian belakang, Bang. Seperti habis dipakai mikir maraton semalaman," jawabku pelan, mencoba tersenyum tipis untuk meredakan ketegangan di wajahnya. "Tapi kepalaku terasa lebih bersih. Tidak ada lagi dengung konstan yang biasa kudengar sebelum tidur.""Baguslah

  • Desember Ke-30   Kosong yang Berisik

    Suara mesin heart-rate monitor berdetak konstan, mengisi kesunyian ruangan putih yang beraroma antiseptik tajam. Di samping ranjang rumah sakit, Bang Ridwan duduk dengan mata merah dan bahu yang sedikit membungkuk. Pria itu menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap begitu saja dari hadapannya."Kana? Kamu sudah dengar suara Kakak, Dek?" tanya Bang Ridwan dengan suara serak, nyaris berbisik.Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Kelopak mataku terasa sangat berat, seperti tertimpa beban berton-ton. Tenggorokanku kering, panas, dan menyakitkan saat aku mencoba menelan ludah."Air..." bisikku lemah, hampir tak terdengar.Tanpa membuang waktu, Bang Ridwan langsung mengambil gelas plastik di nakas, memasukkan sedotan plastik, dan mengarahkannya dengan hati-hati ke bibirku. Aku meneguknya pelan-pelan. Sensasi dingin air itu terasa menyelamatkan nyawaku, menyegarkan kembali kesadaranku yang masih berkabut tebal."Alhamdulillah. Sebentar, Kakak panggil Dokter Acha dulu," ujar

  • Desember Ke-30   Ayah di Mana?

    “Jangan lupa berdoa sebelum masuk ruangan operasi, Dek. Setelah dibius juga, sampai kesadaranmu hilang, tetap baca doa,” pesan Kak Dinah melalui panggilan video.“Iya, Kak,” sahutku saat masih di ruang rawat inap.“Semoga operasinya lancar, Tante,” seru Allisya saat panggilan video beralih ke nomor pribadi Kak Puspa.“Sampai ketemu dua hari lagi, Tante. Mega akan menyusul ke Semarang, ya,” ujar Kak Maya seraya melambaikan tangan Mega yang berada dalam pangkuannya.Panggilan video berakhir satu per satu, kursi roda yang kududuki mulai didorong oleh Bang Ridwan menuju ruang operasi.Jadwal operasiku pukul sebelas pagi, saat jam besuk sudah berjalan selama satu jam. Jadi, Bang Nanda dan Dila tidak harus berebut untuk masuk menemuiku. Mereka berdua sudah menunggu di depan bangunan operasi, lalu memelukku bergantian.“Tenang, aku sudah dapat izin dari Bang Nanda dan istriku,” ujar Bang N

  • Desember Ke-30   Percakapan Paling Misterius

    Aku kembali dengan membawa rasa perih yang kubuat sendiri.Satu minggu setelah kembali ke Semarang, aku kembali berkonsultasi dengan Dokter Acha. Setelah memastikan semua kenangan yang kujaga selama ini sudah terketik rapi, aku segera melakukan pembicaraan mengenai tanggal pasti kapan operasiku akan dilaksanakan.Aku sudah memberi tahu keluargaku di Kalimantan. Bang Ridwan memastikan dia menemaniku satu pekan sebelum operasi dan satu pekan pasca operasi nanti.Ada satu informasi yang membuatku sedikit terguncang, satu bulan sebelum operasi aku menanyakan sesuatu kepada Dokter Acha, mengonfirmasi informasi yang kubaca di mesin pencarian.“Apa itu bisa terjadi, Dok?” tanyaku di akhir sesi konsultasi.“Bisa saja, banyak kemungkinan yang bisa menjadi efek samping setelah operasimu nanti, tapi tenang saja, Kana. Peralatan medis sekarang makin canggih, kita juga akan melakukan treatment sebelum prosedur utama dilakukan di ruang operasi,

  • Desember Ke-30   Cinta Mengenaskan di Paris

    Sedikit merasa mengenaskan di kota romantis Paris, aku sedikit terhibur dengan kehadiran pesan email dari Coksa. Coksa membalas sapaanku melalui surat elektronik dengan memberitahukan lokasinya sekarang.Kalimat yang membuat perasaanku campur aduk adalah pernyataannya akan sesuatu. Hal yang

  • Desember Ke-30   Novel Little Woman Cetakan Pertama

    Coksa bilang akan menambah satu hari waktunya di Stuttgart sebelum kembali berburu Little Woman cetakan pertama. Dan sekarang, Coksa mengajakku sarapan bersama sebelum dia mengantarku ke stasiun.Tadi malam, saat membereskan barang-barangku di hotel, aku teringat lemon gin yang aku beli di

  • Desember Ke-30   Ketenangan Semu

    Aku harus merogok kocek lebih dalam, biaya pengiriman tiga kali lipat dari harga tiga karung umbi tulip yang akan aku kirim ke Indonesia. Namun, tidak apalah, daripada tidak terkirim dan aku bingung mau diapakan ketiga keranjang yang memenuhi tanganku sekarang. Aku tidak mungkin memberikannya pad

  • Desember Ke-30   Jadilah Egois Sesekali

    Pertanyaan dari Kak Silvia masih terngiang-ngiang, bahkan sampai aku bertemu dengan Kak Jovanka di sebuah kafe di Jalan Diponegoro, di Surabaya.“Ngelamun aja nih,” sapa seseorang yang kukenali sebagai Kak Jovanka.Seperti foto yang selalu dia pasang pada profil kontaknya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status