LOGINUdara pagi Semarang menyambut langkahku saat mobil yang dikemudikan Bang Ridwan memasuki halaman rumah. Setelah lima hari mendekam di ruang rawat inap dengan bau antiseptik yang menusuk hidung, aroma tanah basah dan daun mangga di halaman depan terasa begitu mewah. Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati sensasi oksigen yang masuk tanpa ada rasa sakit di balik tengkorak kepalaku.
"Pelan-pelan, Dek. Jangan buru-buru keluar," tegur Bang Ridwan dari balik kemudi, buru-buru
Layar ponsel pintar di tanganku menyala terang, memantulkan cahaya putih ke wajahku yang masih pucat akibat sisa-sisa pemulihan operasi. Jari telunjukku bergetar pelan di atas layar sentuh, ragu-ragu menekan tombol kirim aplikasi pesan instan yang sudah terbuka sejak lima menit lalu. Di dalam kolom chat itu, sebuah kalimat pendek telah tersusun rapi: Aku sudah selesai operasi. Semuanya berjalan lancar. Tujuan pengirimannya jelas: Aroon. Pria yang selama beberapa bulan terakhir mengisi sebagian besar ruang di kepala, hati, dan bahkan draf novel terbaruku."Dek, supnya keburu dingin kalau kamu terus-menerus melototin HP itu," suara Kak Dinah terdengar dari ambang pintu kamar, membawa mangkuk keramik berisi uap panas yang mengepul tipis. Langkah kakinya mendekat, lalu ia meletakkan mangkuk itu di atas meja nakas tepat di sebelah laptop perak yang tertutup rapat. "Siapa sih yang ditungguin balesannya sepagi ini? Aroon?"Aku buru-buru mematikan l
Udara pagi Semarang menyambut langkahku saat mobil yang dikemudikan Bang Ridwan memasuki halaman rumah. Setelah lima hari mendekam di ruang rawat inap dengan bau antiseptik yang menusuk hidung, aroma tanah basah dan daun mangga di halaman depan terasa begitu mewah. Aku menarik napas dalam-dalam, menikmati sensasi oksigen yang masuk tanpa ada rasa sakit di balik tengkorak kepalaku."Pelan-pelan, Dek. Jangan buru-buru keluar," tegur Bang Ridwan dari balik kemudi, buru-buru turun dan membukakan pintu mobil untukku."Aku bukan porselen yang gampang pecah, Bang," protesku meski tetap menerima uluran tangannya untuk menyangga tubuhku yang masih terasa sedikit limbung.Sebelum kaki kananku sempat menapak lantai teras, pintu utama rumah terbuka lebar. Sosok Kak Dinah muncul dengan apron merah muda melingkar di pinggangnya, membawa spatula kayu di tangan kanan seolah ia baru saja meninggalkan penggorengan di dapur. Wajahnya langs
Suara langkah kaki berlalu-lalang di luar kamar rawat inap rumah sakit swasta di Semarang itu terdengar samar di telingaku. Setelah Dokter Acha selesai memeriksa kondisi fisik dan kesadaran pasca-operasiku, suasana kembali senyap. Hanya ada aku, Bang Ridwan yang masih setia duduk di kursi sudut ruangan, dan sebuah laptop berwarna perak yang tergeletak di atas meja nakas di samping tempat tidur."Kana, benar-benar tidak ada yang terasa sakit lagi di bagian kepala?" tanya Bang Ridwan untuk kesekian kalinya, menatapku dengan sorot mata penuh kekhawatiran seorang kakak yang baru saja melihat adiknya keluar dari ruang operasi besar."Hanya sedikit pusing dan berat di bagian belakang, Bang. Seperti habis dipakai mikir maraton semalaman," jawabku pelan, mencoba tersenyum tipis untuk meredakan ketegangan di wajahnya. "Tapi kepalaku terasa lebih bersih. Tidak ada lagi dengung konstan yang biasa kudengar sebelum tidur.""Baguslah
Suara mesin heart-rate monitor berdetak konstan, mengisi kesunyian ruangan putih yang beraroma antiseptik tajam. Di samping ranjang rumah sakit, Bang Ridwan duduk dengan mata merah dan bahu yang sedikit membungkuk. Pria itu menggenggam tanganku erat-erat seolah takut aku akan lenyap begitu saja dari hadapannya."Kana? Kamu sudah dengar suara Kakak, Dek?" tanya Bang Ridwan dengan suara serak, nyaris berbisik.Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Kelopak mataku terasa sangat berat, seperti tertimpa beban berton-ton. Tenggorokanku kering, panas, dan menyakitkan saat aku mencoba menelan ludah."Air..." bisikku lemah, hampir tak terdengar.Tanpa membuang waktu, Bang Ridwan langsung mengambil gelas plastik di nakas, memasukkan sedotan plastik, dan mengarahkannya dengan hati-hati ke bibirku. Aku meneguknya pelan-pelan. Sensasi dingin air itu terasa menyelamatkan nyawaku, menyegarkan kembali kesadaranku yang masih berkabut tebal."Alhamdulillah. Sebentar, Kakak panggil Dokter Acha dulu," ujar
“Jangan lupa berdoa sebelum masuk ruangan operasi, Dek. Setelah dibius juga, sampai kesadaranmu hilang, tetap baca doa,” pesan Kak Dinah melalui panggilan video.“Iya, Kak,” sahutku saat masih di ruang rawat inap.“Semoga operasinya lancar, Tante,” seru Allisya saat panggilan video beralih ke nomor pribadi Kak Puspa.“Sampai ketemu dua hari lagi, Tante. Mega akan menyusul ke Semarang, ya,” ujar Kak Maya seraya melambaikan tangan Mega yang berada dalam pangkuannya.Panggilan video berakhir satu per satu, kursi roda yang kududuki mulai didorong oleh Bang Ridwan menuju ruang operasi.Jadwal operasiku pukul sebelas pagi, saat jam besuk sudah berjalan selama satu jam. Jadi, Bang Nanda dan Dila tidak harus berebut untuk masuk menemuiku. Mereka berdua sudah menunggu di depan bangunan operasi, lalu memelukku bergantian.“Tenang, aku sudah dapat izin dari Bang Nanda dan istriku,” ujar Bang N
Aku kembali dengan membawa rasa perih yang kubuat sendiri.Satu minggu setelah kembali ke Semarang, aku kembali berkonsultasi dengan Dokter Acha. Setelah memastikan semua kenangan yang kujaga selama ini sudah terketik rapi, aku segera melakukan pembicaraan mengenai tanggal pasti kapan operasiku akan dilaksanakan.Aku sudah memberi tahu keluargaku di Kalimantan. Bang Ridwan memastikan dia menemaniku satu pekan sebelum operasi dan satu pekan pasca operasi nanti.Ada satu informasi yang membuatku sedikit terguncang, satu bulan sebelum operasi aku menanyakan sesuatu kepada Dokter Acha, mengonfirmasi informasi yang kubaca di mesin pencarian.“Apa itu bisa terjadi, Dok?” tanyaku di akhir sesi konsultasi.“Bisa saja, banyak kemungkinan yang bisa menjadi efek samping setelah operasimu nanti, tapi tenang saja, Kana. Peralatan medis sekarang makin canggih, kita juga akan melakukan treatment sebelum prosedur utama dilakukan di ruang operasi,
Kami hanya menaruh barang-barang di kamar ketika sampai di hotel, karena keinginan ketiga keponakanku tidak bisa ditolak lagi, mereka sudah ingin cepat-cepat diajak jalan. Setelah dibujuk agar lebih tenang untuk ukuran anak-anak dan remaja, barulah kami melanjutkan perjalanan.Bang R
Keesokan harinya seperti janji Bang Nanda kemarin, pukul delapan pagi dia sudah sampai di hotel tempatku dan Bang Ridwan menginap. Bang Ridwan masih duduk menikmati kopi paginya bersama sepotong roti di restoran hotel. Aku menghampiri Bang Nanda di tempat parkir dan mengajaknya untuk sarapan.&nbs
Kurang lebih dua jam kemudian aku dan Bang Ridwan sampai di Semarang. Banyak perubahan pada bandara ini, dahulu saat pertama kali melangkahkan kaki di Semarang, bandara ini masih kecil. Saat menunggu antrean bagasi, aku segera menghubungi Bang Nanda–teman yang aku kenal dari dunia maya kare
Isakan Kak Maya belum reda, ia bicara dengan suaminya melalui ponsel. Aku sudah di kamarku, bersama si kecil Mega yang telah terlelap.Setelah makan malam yang sempat tertunda atas pengumuman rencana kepindahanku ke Semarang, kami kembali memutuskan untuk menyelesaikan acara makan malam ke







