MasukSuara ketukan pintu depan yang bergesek pelan memecah keheningan sore di ruang tamu rumahku. Belum sempat aku bangkit dari sofa empuk tempatku meringkuk, suara suara riuh sudah menerobos masuk.
"Kana! Sini kamu, jangan coba-coba sembunyi!" teriak suara melengking yang sangat familier, langsung disusul oleh derap langkah cepat yang mendekati ruang tengah.
Kak Nanda dan Dila muncul dari balik tirai pembatas ruangan dengan tangan penuh kantong plastik be
"Kana, saya serius." Suara Dokter Acha memotong cepat, nadanya mengeras di ruang periksa yang berbau antiseptik. "Operasi otak bukanlah prosedur cabut gigi. Jaringan di kepala Anda baru saja pulih dari trauma besar. Kalau Anda terus memaksa memori yang hilang itu kembali dengan cara merusak pola istirahat, yang hancur bukan cuma naskah novelmu, tapi kewarasanmu sendiri."Aku menunduk, menatap jemariku sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. "Aku tidak sedang merusak diri sendiri, Dok. Aku hanya... mencoba mencari bagian dari diriku yang tertinggal.""Bagian yang tertinggal atau sengaja ditinggalkan?" Dokter Acha menatapku tajam, melemparkan pertanyaan telak yang langsung menghantam ulu hatiku. Ia melipat berkas rekam medis di depannya dengan suara deheman keras. "Dengar, Kana. Otak manusia punya mekanisme pertahanan diri yang luar biasa. Kalau ada memori atau nama yang terasa kabur, itu artinya tubuhmu sendiri yang menolak untuk mengin
"Mana bisa kamu bilang tidak apa-apa kalau tanganmu masih gemetar saat mengetik, Kana?" tegur Kak Nanda tajam, berdiri di ambang pintu kamar sambil melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi tidak terima.Aku mendengus pelan, menarik tangan kananku dari atas meja dan menyembunyikannya di balik selimut putih yang menutupi kakiku. "Tanganku gemetar karena kopi tadi terlalu pahit, Kak Nanda, bukan karena naskah ini. Lagipula, paragraf terakhirnya tinggal dua kalimat lagi selesai. Kalau aku berhenti sekarang, rasanya seperti menggantung nasib orang lain."Dila yang duduk di kursi sudut kamar langsung mendengus keras, melempar gulungan tisu bekas ke tempat sampah. "Nasib orang lain kepalamu puyeng! Tokoh utama di novelmu itu kamu sendiri, Kana! Mau dibikin menderita sampai bab berapa lagi sih? Sadar diri sedikit, kamu baru saja keluar dari meja operasi otak sebulan lalu!""Justru karena aku baru selesai operasi, aku haru
Layar ponsel yang telungkup di atas meja nakas mendadak bergetar hebat, memecah lamunanku yang terantuk pada sisa-sisa aroma teh hangat dan suara tawa Kak Nanda yang masih menggantung di ruang tamu. Aku menatap benda pipih itu dari tepi ranjang, merasakan debar yang sama persis seperti saat pertama kali aku menjejakkan kaki di Bangkok tanpa peta, tanpa arah, dan tanpa mengenali siapa pun kecuali bayangan seorang pria berwajah teduh yang menawarkan payung lipat di tengah guyuran hujan sore yang kejam."Dek, kamu melamun lagi? Itu tehnya diminum, nanti keburu pait," suara Kak Dinah mendadak muncul di ambang pintu, membawa handuk kecil kering yang ia sangkutkan di bahunya. Wanita itu melangkah masuk, tatapannya langsung menembus mataku yang basah oleh bayangan semu yang baru saja berputar di kepala. "Jangan bilang kamu lagi mikirin Aroon lagi? Sudah, operasi kamu sudah selesai. Fokus sembuh dulu.""Aku nggak mikirin dia, Kak. Cuma... bayanganny
Suara ketukan pintu depan yang bergesek pelan memecah keheningan sore di ruang tamu rumahku. Belum sempat aku bangkit dari sofa empuk tempatku meringkuk, suara suara riuh sudah menerobos masuk."Kana! Sini kamu, jangan coba-coba sembunyi!" teriak suara melengking yang sangat familier, langsung disusul oleh derap langkah cepat yang mendekati ruang tengah.Kak Nanda dan Dila muncul dari balik tirai pembatas ruangan dengan tangan penuh kantong plastik berlogo supermarket lokal dan beberapa kotak makanan beraroma harum. Kak Nanda langsung meletakkan bawaannya di atas meja kopi dengan bunyi debuman kecil, sementara Dila langsung merentangkan tangan dan memelukku erat-erat tanpa aba-aba."Aduh, Dila, pelan-pelan. Tulang rusukku masih penyesuaian sama gravitasi," gerutuku setengah berbisik, meski aku tetap membalas pelukan hangat sahabatku itu dengan sebelah tangan."Biarin aja! Abisnya kamu ditelepon susah
Layar ponsel pintar di tanganku menyala terang, memantulkan cahaya putih ke wajahku yang masih pucat akibat sisa-sisa pemulihan operasi. Jari telunjukku bergetar pelan di atas layar sentuh, ragu-ragu menekan tombol kirim aplikasi pesan instan yang sudah terbuka sejak lima menit lalu. Di dalam kolom chat itu, sebuah kalimat pendek telah tersusun rapi: Aku sudah selesai operasi. Semuanya berjalan lancar. Tujuan pengirimannya jelas: Aroon. Pria yang selama beberapa bulan terakhir mengisi sebagian besar ruang di kepala, hati, dan bahkan draf novel terbaruku."Dek, supnya keburu dingin kalau kamu terus-menerus melototin HP itu," suara Kak Dinah terdengar dari ambang pintu kamar, membawa mangkuk keramik berisi uap panas yang mengepul tipis. Langkah kakinya mendekat, lalu ia meletakkan mangkuk itu di atas meja nakas tepat di sebelah laptop perak yang tertutup rapat. "Siapa sih yang ditungguin balesannya sepagi ini? Aroon?"Aku buru-buru mematikan l
Layar ponsel pintar di tanganku menyala terang, memantulkan cahaya putih ke wajahku yang masih pucat akibat sisa-sisa pemulihan operasi. Jari telunjukku bergetar pelan di atas layar sentuh, ragu-ragu menekan tombol kirim aplikasi pesan instan yang sudah terbuka sejak lima menit lalu. Di dalam kolom chat itu, sebuah kalimat pendek telah tersusun rapi: Aku sudah selesai operasi. Semuanya berjalan lancar. Tujuan pengirimannya jelas: Aroon. Pria yang selama beberapa bulan terakhir mengisi sebagian besar ruang di kepala, hati, dan bahkan draf novel terbaruku."Dek, supnya keburu dingin kalau kamu terus-menerus melototin HP itu," suara Kak Dinah terdengar dari ambang pintu kamar, membawa mangkuk keramik berisi uap panas yang mengepul tipis. Langkah kakinya mendekat, lalu ia meletakkan mangkuk itu di atas meja nakas tepat di sebelah laptop perak yang tertutup rapat. "Siapa sih yang ditungguin balesannya sepagi ini? Aroon?"Aku buru-buru mematikan l
Kami hanya menaruh barang-barang di kamar ketika sampai di hotel, karena keinginan ketiga keponakanku tidak bisa ditolak lagi, mereka sudah ingin cepat-cepat diajak jalan. Setelah dibujuk agar lebih tenang untuk ukuran anak-anak dan remaja, barulah kami melanjutkan perjalanan.Bang R
Keesokan harinya seperti janji Bang Nanda kemarin, pukul delapan pagi dia sudah sampai di hotel tempatku dan Bang Ridwan menginap. Bang Ridwan masih duduk menikmati kopi paginya bersama sepotong roti di restoran hotel. Aku menghampiri Bang Nanda di tempat parkir dan mengajaknya untuk sarapan.&nbs
Kurang lebih dua jam kemudian aku dan Bang Ridwan sampai di Semarang. Banyak perubahan pada bandara ini, dahulu saat pertama kali melangkahkan kaki di Semarang, bandara ini masih kecil. Saat menunggu antrean bagasi, aku segera menghubungi Bang Nanda–teman yang aku kenal dari dunia maya kare
Isakan Kak Maya belum reda, ia bicara dengan suaminya melalui ponsel. Aku sudah di kamarku, bersama si kecil Mega yang telah terlelap.Setelah makan malam yang sempat tertunda atas pengumuman rencana kepindahanku ke Semarang, kami kembali memutuskan untuk menyelesaikan acara makan malam ke







