Hari itu setelah perkuliahan usai, Randi baru saja membereskan bukunya dan hendak pulang ketika Sari memanggilnya dari belakang.“Rand, tunggu sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan.”Randi berhenti, menoleh dengan sikap yang sudah lebih waspada. “Silakan, ada apa?”Sari mendekat, lalu menatapnya dengan pandangan yang berbeda dari biasanya — lebih lembut, tapi juga terlihat tegang.“Rand, kemarin kamu mengirim pesan dan bicara soal batasan. Aku mengerti, tapi aku ingin jujur saja padamu,” ucapnya pelan.“Silakan bicara saja,” jawab Randi singkat.“Aku menyukaimu. Sejak pertama kali sekelompok tugas, aku melihat bagaimana kamu bertindak, bagaimana kamu menjawab pertanyaan, bagaimana kamu selalu siap membantu orang lain. Semakin lama, perasaan itu semakin tumbuh. Aku berharap ada kesempatan untuk lebih dekat denganmu,” ungkap Sari terus terang.Randi terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada tegas tapi tetap sopan.“Terima kasih sudah jujur, Sari. Aku menghargai perasaanmu, tapi aku ti
続きを読む