Suasana di dalam kamar tidur Gandhi terasa sangat mencekam. Hanya ada suara napas yang tersengal-sengal, isak tangis yang tertahan, dan detak jam dinding yang terdengar sangat keras seolah mempercepat waktu. Gandhi terbaring lemah di atas kasur, matanya terpejam rapat, keningnya basah oleh keringat dingin. Setiap kali ia mencoba membuka mata, pandangannya terasa kabur seolah dunianya runtuh seketika.Di samping tempat tidur, Shireen duduk dengan tubuh gemetar, tangannya masih memegang tangan ayahnya yang terasa semakin dingin. Air matanya tak berhenti mengalir, membasahi pipinya yang pucat. Di hadapannya, Sarah masih berlutut di lantai, tubuhnya terguncang hebat karena tangisan yang tidak lagi dapat ditahan. Ia tahu, semua kedoknya terbongkar, dan tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri.Alkan berdiri agak menjauh, bersandar pada tiang jendela dengan kedua tangan disilangkan di dada. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan ketajaman yang membuat siapa pun merasa ta
続きを読む