Siang itu, langit Jakarta mulai tertutup awan, menyisakan semburat hitam yang terasa menyesakkan bagi Helena. Di dalam mobil mewahnya yang melaju membelah kemacetan, wanita itu terisak dalam diam. Air matanya jatuh tak terbendung, membasahi tangannya yang gemetar hebat.Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Syla yang penuh kekecewaan kembali terbayang. Helena membenci dirinya sendiri. Ia menyesali sikap dinginnya, namun di saat yang sama, tubuhnya bereaksi secara naluriah, ia gemetar ketakutan. Trauma masa lalu dengan mantan suaminya, sosok monster yang kerap melakukan kekerasan, masih menghantui setiap sel sarafnya.“Maafkan Ibu, Syla...” bisiknya lirih di antara isak tangis.Dahulu, ia tidak punya pilihan. Meninggalkan Syla adalah syarat mutlak agar pria kejam itu setuju untuk bercerai. Helena berpikir ia berhasil menyelamatkan diri, namun kini ia sadar ia telah menghancurkan kehidupan putrinya. Dengan tangan yang masih bergetar, ia merogoh ponsel dan me
Read more