로그인Di lantai bawah, Helena menatap Max dengan tatapan memohon. "Lalu bagaimana, Max? Meski terlambat... aku ingin membujuknya. Aku ingin Syla kembali."
Max terdiam sejenak, menatap kosong ke arah taman luar yang mulai gelap. "Tidak ada cara lain, Bu. Syla sudah dibutakan oleh kebencian. Kita harus menghancurkan Sidney dulu lalu mengambil alih seluruh asetnya. Biarkan mereka jatuh hingga ke titik terendah."Suara Max terdengar dingin tanpa ampun. "Setelah mereka tidak punya apa-Di lantai bawah, Helena menatap Max dengan tatapan memohon. "Lalu bagaimana, Max? Meski terlambat... aku ingin membujuknya. Aku ingin Syla kembali."Max terdiam sejenak, menatap kosong ke arah taman luar yang mulai gelap. "Tidak ada cara lain, Bu. Syla sudah dibutakan oleh kebencian. Kita harus menghancurkan Sidney dulu lalu mengambil alih seluruh asetnya. Biarkan mereka jatuh hingga ke titik terendah."Suara Max terdengar dingin tanpa ampun. "Setelah mereka tidak punya apa-apa lagi, selanjutnya terserah Ibu. Ibu bisa datang sebagai penyelamat dan mengajak putri Ibu pulang. Saat itulah dia tidak punya pilihan selain bersandar pada Ibu.""Tapi..." Max menjeda kalimatnya, "jika aku tahu dia melakukan kejahatan yang lebih parah di luar pemalsuan wasiat ini, Ibu tidak boleh melindunginya. Hukum tetap harus berjalan."Helena mengangguk pelan dengan wajah lesu. "Baiklah."Max berbalik, meninggalkan ibunya yang masih meratapi nasib di sofa. Ia
Di lantai bawah, suasana mendadak hening. Max berdiri mematung di dekat jendela besar, sementara Helena memperhatikan putranya dari sofa. Sebagai ibu, ia sadar ada sesuatu yang mengusik ketenangan Max. Wajah kaku putranya itu seakan sedang menahan badai besar yang siap meledak kapan saja."Ada apa, Max?" tanya Helena lembut.Max tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh, menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Syla kemarin datang menemuiku."Tring!Gelas teh yang dipegang Helena berdenting halus saat bersentuhan dengan tatakannya. Tangan wanita itu bergetar. Ia terdiam, raut wajahnya berubah tegang, namun ia memilih bungkam, seolah sedang menimbang-nimbang rahasia yang harus ia simpan selamanya."Dia bilang, dia adik kandungku," lanjut Max dengan suara rendah. "Aku tidak memiliki ingatan apa pun tentangnya. Karena itu, aku menganggapnya gila dan mengusirnya."Helena membuang muka, menatap hampa ke arah lantai. Ia
Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, suasana mendadak terasa berat. Ana duduk gelisah di sofa, jemarinya meremas satu sama lain, sementara matanya sesekali melirik ke arah meja kerja besar di sudut ruangan.Di sana, Max berdiri sebelum akhirnya duduk dengan khidmat. Wajahnya mengeras, sangat serius, seolah dunia sedang dipertaruhkan dalam tumpukan kertas yang diberikan Fero. Bunyi lembaran dokumen yang dibalik terdengar tajam di tengah keheningan.Pikiran Ana melantur jauh pada bisikan Fero sebelumnya. "Sebenarnya siapa yang mereka maksud?" batin Ana getir. Tangannya tanpa sadar mengelus perutnya yang masih rata. "Jangan bilang... ada gadis lain di luar sana yang juga sedang mengandung anaknya?"Rasa sesak yang asing merayapi dada Ana. Ia merasa seperti terjebak dalam labirin rahasia pria yang kini menjadi suaminya.Sementara itu, di balik meja kerja, Max terpaku pada baris demi baris hasil penyelidikan Fero tentang Syla.Max menari
Ana duduk terdiam di deretan kursi tunggu rumah sakit. Aroma antiseptik yang tajam biasanya membuatnya mual, namun perhatiannya kini teralih sepenuhnya pada layar televisi besar yang terpasang di sudut ruangan.Sebuah berita finansial sedang memutar cuplikan konferensi pers megah. "...kehadiran Djiwa Group, perusahaan global yang baru saja meresmikan cabang utamanya di Indonesia, diprediksi akan mengubah peta ekonomi nasional secara drastis. Di sisi lain, saham Sidney Group dilaporkan anjlok ke titik terendah dalam satu dekade terakhir. Para analis menduga ada persaingan pasar yang memojokkan Sidney... mereka bahkan mulai mempertanyakan langkah apa yang akan diambil oleh direktur perusahaan untuk menghadapi krisis tersebut."Mata Ana menyipit. Nama Djiwa Group terdengar asing namun otoritasnya mampu mengguncangkan dunia. Saat itulah, sebuah bayangan tinggi menutupi pandangannya."Ayo. Aku sudah selesai."Max berdiri di depan, menggenggam kantong p
Matahari siang itu bersinar terik di atas gedung Kantor Urusan Agama, namun hawa dingin justru merayapi tengkuk Ana. Di tangannya, sebuah buku kecil berwarna hijau terasa begitu berat. Ana menatap benda itu dengan pandangan kosong, jemarinya yang ramping gemetar halus saat menyentuh sampulnya."Aku menikah lagi..." batinnya berteriak, tenggelam dalam ketidakpercayaan. "Dan kali ini, dengan om tiriku sendiri!"Ia memberanikan diri menoleh, menatap sosok tinggi tegap di sampingnya. Max berdiri dengan wibawa yang mengintimidasi meski hanya dalam balutan kemeja formal sederhana yang lengannya digulung hingga siku."Ayo kita pergi," ucap Max singkat. Langkah kakinya sudah bersiap maju menuju mobil yang terparkir di pelataran."Eh, anu... Pak!" Ana memanggil, membuat langkah pria itu terhenti. "Soal permintaan Ayah tentang makan malam keluarga---apa benar tidak apa-apa? Jika anda keberatan, saya bisa bicara lagi dan membujuk Ayah untuk membatalkannya."
Siang itu, langit Jakarta mulai tertutup awan, menyisakan semburat hitam yang terasa menyesakkan bagi Helena. Di dalam mobil mewahnya yang melaju membelah kemacetan, wanita itu terisak dalam diam. Air matanya jatuh tak terbendung, membasahi tangannya yang gemetar hebat.Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Syla yang penuh kekecewaan kembali terbayang. Helena membenci dirinya sendiri. Ia menyesali sikap dinginnya, namun di saat yang sama, tubuhnya bereaksi secara naluriah, ia gemetar ketakutan. Trauma masa lalu dengan mantan suaminya, sosok monster yang kerap melakukan kekerasan, masih menghantui setiap sel sarafnya.“Maafkan Ibu, Syla...” bisiknya lirih di antara isak tangis.Dahulu, ia tidak punya pilihan. Meninggalkan Syla adalah syarat mutlak agar pria kejam itu setuju untuk bercerai. Helena berpikir ia berhasil menyelamatkan diri, namun kini ia sadar ia telah menghancurkan kehidupan putrinya. Dengan tangan yang masih bergetar, ia merogoh ponsel dan me
Kediaman keluarga Pratama terasa tenang. Meski tak semegah rumah keluarga Sidney, perabotan di sini tertata rapi. Areta, yang kini menghuni tubuh Arana, teringat bahwa keluarga ini terpaksa memecat pelayan demi membiayai pengobatannya. "Biar Leo saja yang mengantar Ana ke atas," tawar Leo sigap. C
"S-sakit... Kenapa gelap sekali?" batin Reta. Hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang menyentak kesadaran Reta. Namun, rasa nyeri yang hebat di sekujur tubuh memaksanya tetap terpejam. "Argh!" Reta mengerang, merintih dalam sesak. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, ia tertegun. Dunianya jun
Cahaya lampu kristal memantul sempurna pada lantai marmer kediaman Ana yang biasanya tenang.Malam ini, rumah mereka bertransformasi. Karangan bunga lili putih dan peony merah muda menghiasi setiap sudut guna merayakan dua peristiwa penting.Keberhasilan proyek besar pertama Leo
Tut... Tut... Tut... Suara monoton alat medis itu adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Reta. Aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, kontras dengan hawa sejuk pendingin ruangan yang membelai kulit. Reta mengerang pelan. Matanya mengerjap, beradaptasi dengan cahaya lampu pu







