Home / Romansa / Kadrun / Chapter 33

Share

Chapter 33

last update publish date: 2026-08-01 20:26:54
Pagi itu Siti sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja lebih awal. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding kamar kos.

Seragam barunya membungkus tubuhnya dengan cukup pas—kemeja merah marun dan rok hitam selutut. Tidak semewah pakaian yang pernah dikenakannya ketika menemani Bram menghadiri berbagai acara, tetapi setidaknya masih terlihat rapi. Lebih penting lagi, seragam itu ia dapatkan dari pekerjaannya sendiri.

Siti bar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kadrun   Chapter 38

    Kantor dinas sudah hampir kosong ketika Brewok masih duduk di depan komputer. Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam sore. Di luar jendela, hangat matahari sudah tidak lagi terasa, parkiran kantor tersebut pun tinggal terisi dua unit motor dan satu unit mobil dinas.Di ruangannya, Brewok tampak serius sendirian di hadapan layar komputer yang sedang menyala. Sementara, suara pendingin ruangan yang mulai tua terdengar mendengung mengisi kesunyian. Sesekali mesin itu bergetar dan mengeluarkan bunyi seperti orang sedang mendengkur.Di meja-meja lain, komputer telah mati. Kursi-kursi tersusun rapi, cangkir kopi kosong tertinggal di atas tatakan, dan kalender meja terbuka pada tanggal yang sama. Dari lorong, terdengar suara petugas kebersihan menyeret tempat sampah.Brewok belum beranjak.Tubuhnya condong ke depan. Matanya menyipit membaca deretan angka pada layar komputer. Tangan kanannya memegang tetikus, sedangkan tangan kirinya sesekali mengusap jenggot yang tumbuh lebat di dagu.S

  • Kadrun   Chapter 37

    Hari itu Kadrun kembali mengunjungi sentra batik binaannya di Seberang Kota Jambi. Rumah panggung tua yang selama beberapa bulan terakhir terasa lengang kini kembali dipenuhi kehidupan.Kain-kain mori berwarna putih membentang di atas meja panjang. Sebagian telah dipenuhi garis-garis pola, sedangkan yang lain masih bersih menunggu sentuhan tangan para pembatik. Kompor-kompor kecil menyala di sudut ruangan, menjaga lilin malam tetap cair di dalam wajan. Asap tipis mengepul dari permukaannya, membawa aroma khas campuran parafin dan damar yang meresap ke dinding kayu.Suara para perempuan bercakap dalam bahasa Melayu Jambi terdengar bersahut-sahutan. Sesekali tawa mereka meledak, disusul teguran ketika seorang anak kecil berlari terlalu dekat dengan wajan berisi malam panas.“Jangan berlari di situ, Nak! Keno malam panas, menangis kau sampai besok!”Anak itu segera berbalik, lalu berlari ke halaman sambil masih tertawa.Di bagian belakang rumah, beberapa helai kain yang sudah dicelup pew

  • Kadrun   Chapter 36

    Hari sudah menjelang petang ketika Kadrun kembali ke kontrakannya. Sisa hujan pagi masih menetes dari ujung atap, jatuh satu per satu ke dalam ember bekas cat yang diletakkan di sudut teras.Tik. Tik. Tik.Suara itu menyambutnya bersama aroma tanah basah dan wangi tumisan bawang dari rumah Mak Tijah. Beberapa anak berlarian tanpa alas kaki di lorong kontrakan. Salah seorang di antara mereka hampir menabrak Kadrun sebelum berbelok sambil tertawa keras.Kadrun tiba di depan kontrakannya. Ia membuka pintu perlahan.Ruangan di dalam kontrakan terasa lebih hangat. Tirai jendela dibiarkan terbuka sehingga cahaya senja berwarna keemasan menyelinap masuk dan jatuh di atas lantai semen. Di atas meja kecil tersedia dua piring yang ditutup tudung saji, sedangkan pakaian yang sebelumnya menumpuk di kursi telah dilipat rapi.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kontrakan sempit itu kembali terasa seperti rumah.Kadrun melepaskan sepatu, lalu berjalan menuju kamar.Siti sedang berbaring menya

  • Kadrun   Chapter 35

    Hujan semalam meninggalkan genangan di halaman parkir depan rumah panggung Sentra Batik Seberang Kota Jambi. Air berwarna kecokelatan memenuhi lubang-lubang kecil di tanah. Sesekali permukaannya bergetar tertimpa tetesan air yang masih jatuh dari ujung atap seng.Udara pagi terasa lembap. Aroma tanah basah bercampur dengan bau malam dari tungku pembatik yang menyala sejak subuh.Mobil dinas berpelat merah berhenti tidak jauh dari tangga rumah panggung. Kadrun membuka pintu, lalu turun sambil berhati-hati agar sepatu pantofelnya tidak menginjak genangan. Ia merapikan baju batik berwarna cokelat dengan motif angso duo yang dikenakannya.Brewok turun dari sisi lain sambil mengempit map berisi data pengrajin binaan.“Aku makin curiga dengan pengusaha itu,” katanya tanpa basa-basi.Kadrun tidak menjawab. Ia berdiri di samping mobil dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.Suasana kampung di Seberang Kota Jambi pagi itu berbeda dari biasanya. Sentra batik yang umumnya hanya ramai oleh suara

  • Kadrun   Chapter 34

    Di ruang kerja Bram Wijaya, pendingin udara terasa lebih dingin daripada biasanya. Tirai-tirai tinggi menutupi sebagian jendela, menyisakan garis cahaya yang jatuh tepat di atas meja kayu berwarna hitam.Eko berdiri tegak di depan meja itu dengan kedua tangan bertaut di belakang tubuhnya.“Lapor, Bos. Siti sudah mulai bekerja.”Bram tidak segera menanggapi. Ia masih membaca dokumen di tangannya, seolah kabar tentang Siti tidak lebih penting daripada angka-angka yang tercetak di sana.“Bagus,” jawabnya akhirnya.“Tapi bukan di tempat Jay.”“Aku tahu.”Eko mengangkat wajah. Alisnya sedikit bertaut.“Bos sudah tahu?”Bram meletakkan dokumen itu dengan tenang. Tatapannya beralih kepada Eko, membuat lelaki bertubuh kekar tersebut buru-buru menundukkan kepala.“Bukankah aku yang menyuruh Jay mengarahkannya ke sana?”Eko terdiam.Barulah ia memahami bahwa pertemuan Siti dengan Jay, tawaran pekerjaan, bahkan tempat karaoke baru itu bukanlah rangkaian kebetulan. Semuanya sudah diatur Bram deng

  • Kadrun   Chapter 33

    Pagi itu Siti sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja lebih awal. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding kamar kos.Seragam barunya membungkus tubuhnya dengan cukup pas—kemeja merah marun dan rok hitam selutut. Tidak semewah pakaian yang pernah dikenakannya ketika menemani Bram menghadiri berbagai acara, tetapi setidaknya masih terlihat rapi. Lebih penting lagi, seragam itu ia dapatkan dari pekerjaannya sendiri.Siti baru hendak menyisir rambut ketika telepon genggamnya berdering.Nama yang muncul di layar membuat seluruh tubuhnya menegang.Bram Wijaya.Jarinya membeku di udara. Ia hanya memandangi layar hingga panggilan itu berakhir dengan sendirinya.Kamar kembali sunyi.Siti mengembuskan napas lega. Ia meletakkan telepon genggamnya di atas kasur, lalu mengambil sepasang sepatu yang baru dikeluarkan dari kotaknya.Kriingg!Siti terlonjak.Seharusnya nada dering ini segera kuganti, batinnya. Bunyi nyaring itu

  • Kadrun   Chapter 8

    Siti kembali ke rumah subuh hari seperti waktu sebelumnya. Dia berjinjit memasuki kamar tidur untuk mencegah Kadrun terbangun dari tidurnya. Siti sangat hati-hati membuka pintu lemari pakaian, berharap deritnya tidak akan terdengar. Namun, lemari itu sudah terlalu tua. Sehingga sepelan apapun Sit

  • Kadrun   Chapter 7

    Kadrun terbangun dari tidurnya mendengar suara lemari pakaian dibuka pelan-pelan. Dia mengintip dari balik kelopak mata yang tidak dibukanya penuh. Kadrun mendapati sosok Siti mengendap-endap menaruh tas dan sepatu kembali di lemari. Dia juga melepaskan satu persatu perhiasan dan gaun yang dikena

  • Kadrun   Chapter 6

    Kadrun terbelalak menatap punggung mulus Siti yang memakai dress hitam terbuka baik di sebelah belakang maupun depan. Beberapa bagian tubuh montoknya tampak meronta-ronta hendak dibebaskan. Sepatu high heel setinggi 7 inci yang tipis dan tajam berwarna senada dengan dress yang ia kenakan

  • Kadrun   Chapter 5

    Kadrun termenung di depan komputer di kantornya. Dia hanya bisa berdoa agar istrinya tidak terlalu cepat punya anak. Walaupun dia sebenarnya sangat ingin segera punya anak. Akan tetapi Kadrun tidak ingin buru-buru kehilangan sang istri. Dia mencintai perempuan itu, dan dia masih berharap tidak ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status