Emili terbangun. Padahal niatnya cuma rebahan, tapi malah ketiduran. Ia cek ponsel—puluhan panggilan tak terjawab dan pesan beruntun. 'Ayah ibumu di kampus' — Hana. Matanya melotot. 'Cepat ke sini. Sepertinya kamu harus datang ke kampus' — Maya. 'Emili, maaf tapi Ayah dan Ibu mencarimu di kampus. Mungkin mereka pikir kamu kuliah.' — Evan. "Ini gawat...!" pekik Emili panik. Ia langsung telepon Danil, tak diangkat. Ia kirim pesan: 'Ini penting. Ayah dan Ibuku nyari aku di kampus, pliss bantu aku.' Emili mengirim pesan. Emili cuci muka, bedak tipis, liptint. Untung sudah mandi dan pakai baju rapi. Rambutnya masih dicepol dan leher terekspos, ada bekas ulah Danil di sana, tapi ia tak sadar. Ia pun berangkat ke kampus diantar sopir. Tiba di kampus, Emili buru-buru mencari orang tuanya. Ia menemukannya di kantin, tempat paling ramai, bersama Maya dan Hana. Semua mata menatapnya sambil berbisik. Efek isu perselingkuhan Danil. "Ah, malunya," lirih Emili, tapi ia tetap mel
Baca selengkapnya