“Arghh... Bagaimana ini? Aku pasti membuatnya marah. Sepertinya aku bakal dipecat. Oh, Tuhan! Sekaratlah dompetku," gumam Emili sambil memukul-mukul kepalanya pelan saat mengingat kejadian di kantor. Sebenarnya ia tidak setegar kelihatannya saat berargumen dengan bosnya tadi. Begitu keluar dari ruangan Danil Fernando, lututnya gemetar ketakutan dan tubuhnya terasa tidak berdaya. Ia masih meratapi nasibnya di saat pintu kamarnya dibuka. “Eh, Ibu. Kenapa belum tidur?” Emili membenarkan posisinya dan mencoba mengabaikan pikiran yang sejak tadi mengganggunya. “Ibu mau bicara, Em. Tapi jangan dianggap beban, ya.” Bu Tiara tahu, apa pun yang akan keluar dari mulutnya hanya akan menjadi beban untuk anak gadisnya itu. Namun, setidaknya ia memberi tahu Emili sejak awal. “Kenapa memangnya, Bu? Bicara saja. Bicara itu bukan beban, Bu,” Emili agak bercanda. “Ibu mau bicara serius, bukan sembarangan pembicaraan ini, Em,” kata Bu Tiara terlihat agak canggung dan ragu. “Bicara saja, Bu,
Read more