Beberapa hari kemudian... "Eh, menantuku sudah datang..." seru Bu Rita bahagia begitu melihat Danil dan Emili. "Mah, apa kabar?" balas Emili sambil menyalami Mama mertuanya, tak lupa memberi pelukan hangat. Ada rasa bersalah menyusup ke hatinya karena membohongi wanita paruh baya itu. "Mamah baik, kamu gimana, Sayang?" "Emili juga baik, Mah," sahutnya sambil melepas pelukan. "Ada kabar baik apa nih?" celetuk Pak Denis yang baru bergabung. "Pah, apa kabar?" sapa Emili sambil menyalami tangannya. "Papah baik, Nak. Gimana? Papah bakal punya cucu apa belum nih?" canda Pak Denis. Meski bercanda, harapan di matanya nyata. Mendengar itu Emili melirik Danil. "Belum, Pah. Doakan saja," jawab Danil sambil menghampiri Emili. "Sayang, kamu mandi dulu sana," kata Danil, alasan untuk menghindari bahasan anak. "Oh iya, Emili ke atas dulu Pah, Mah. Badan Emili bau, belum mandi," Emili mengikuti permainan Danil. "Iya, Sayang. Habis itu sarapan bersama ya," timpal Bu R
Read more