Pagi itu… "Wahai jiwa-jiwa yang mengantuk, bangunlah dari tidurmu!" Suara panitia menggema dari speaker, nadanya main-main. Emili terjaga. Ia mendapati dirinya masih di pelukan Danil yang tertidur pulas. Hendak bangun, tapi pesona Danil menahannya. Ia betah menatap wajah itu, berusaha mengabaikan kejadian semalam dan menganggapnya mimpi. Sayang, ingatan itu terlalu kuat. Bekas kissmark masih ada, meski Danil sengaja tidak membuatnya di tempat yang terlihat. Dan di bawah sana, masih terasa perih. "Aku pasti tampan, makanya kamu liatin terus," kata Danil, tiba-tiba membuka mata. Emili buru-buru bangun, salah tingkah. "Aku pergi duluan," ucap Emili lalu kabur, uantung ia sudah rapi, ia sempat mandi semalam. Di luar, mahasiswa dan partnernya sudah berkumpul, wajah masih mengantuk, mendengar arahan Evan. Meski Emili telat, tak ada yang berani menegur. "Tepat jam delapan semua kumpul lagi untuk perang sesungguhnya. Oke?" teriak Evan. "Siap, Komandan!" "Tidak boleh ada yan
Baca selengkapnya