Keesokan harinya, Emili bersiap-siap untuk masuk kerja, tadinya ia ingin benar-benar menunggu kedatangan Danil, tapi ia tidak terbiasa seperti itu, semakin ia berdiam saja di rumah, semakin hatinya gundah gulana memikirkan kehamilan Alea. Saat tiba di kantor ia disapa oleh rekan kerjanya, semua orang menjadi ramah sejak tau, dia adalah istri Danil, biasanya ia tidak dipedulikan bahkan tidak dianggap ada. Ia tetap menyambut ramah dengan terpaksa, mengingat kelakuan mereka sebelumnya yang sering menyuruhnya melakukan ini dan itu. "Hei, Emili!" sapa Dian, hanya dia yang benar-benar ramah padanya sejak awal. "Hei, Di." "Eh, Mau tau dong, bagaimana cara kamu mendekati Pak Danil," hampir setiap saat ia membahas itu. "Kenapa sih, Di, baru juga datang." "Aku tuh pengen banget punya suami kaya Pak Danil, bagi tips lah." "Dian, jodoh dan takdir sudah ditentukan tuhan." "Iya sih, tapi kan..." Dian masih ngotot, tapi ia berhenti karena terdengar suara yang memanggil Emili. "Emi
Baca selengkapnya