Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar, menyinari punggung lebar Joseph yang masih terlelap. Archy terbangun lebih dulu, ia berbaring menyamping sambil menatap wajah suaminya. Dalam tidur, wajah Jo terlihat jauh lebih tenang, tidak ada rahang yang mengeras atau tatapan tajam yang mengintimidasi. Hanya ada hembusan napas yang teratur.Archy mengulurkan tangan, jemarinya menelusuri garis rahang Jo yang tegas, lalu turun ke lengan suaminya yang dipenuhi tato. Ia teringat betapa berbedanya Joseph dengan Nathan. Nathan adalah sutra yang halus, sementara Joseph adalah kulit yang kasar namun mampu melindungi dari cuaca paling ekstrem sekalipun."Udah puas liatin ketampanan gue, Bu Archy?"Suara berat dan serak khas bangun tidur itu membuat Archy tersentak. Jo membuka matanya sedikit, lalu menyeringai nakal. Tanpa peringatan, ia menarik tangan Archy dan membawanya ke bibirnya, mengecup telapak tangan itu lama."Jo, udah siang! Kamu harus ke kantor, inget hari ini ada rapat koord
Dernière mise à jour : 2026-02-12 Read More