LOGIN"Jonathan menghilang, tamu telah berkumpul untuk menyaksikan pernikahan kalian. Bagaimana ini, Archy?" Archy bagai disambar petir ketika mendengar calon Pengantinnya itu menghilang di hari Pernikahan. Semua tamu sudah berkumpul pagi itu dan Archy sudah berdandan sangat cantik demi Pernikahannya tersebut. Lalu, sekarang bagaimana? Haruskah Archy membatalkan Pernikahannya hingga membuat malu semua orang dari pihak keluarganya serta keluarga Jonathan? "Aku akan menggantikan Kak Jonathan." Muncul sosok sama persis dengan Jonathan di ruang ganti tersebut, yakni Joseph. Lelaki itu merupakan adik kembar Jonathan yang memiliki kebalikan sifat dari sang Kakak. Archy tidak pernah menyukainya, Joseph ini lebih mirip preman dibanding seorang Pengusaha! Bagaimana bisa ia yang tidak pernah ikut campur urusan keluarga itu tiba-tiba mengajukan diri menggantikan sang Kakak? "Gak! Pengantinku itu Kakaknya, bukan adiknya!" Archy bersikeras menolak saat semua keluarga menatapnya. "Aku bakal nunggu Nathan untuk datang, dia pasti datang!" Joseph berjalan mendekat, ia mencengkram pergelangan tangan Archy hingga gadis itu meringis kesakitan. Sorot mata Joseph sangat tajam dan menakutkan, mungkin karena situasi cukup genting. "Aku juga tidak mau menikah denganmu tahu? Kamu bukan tipeku dan aku tidak tertarik sama sekali dengan pernikahan! Upaya ini kulakukan agar kamu serta keluargaku tidak menanggung malu. Gak usah rese, kita bisa bercerai sesudah ini. Ikuti saja kemauan Ayah dan berhenti merengek anak manja!"
View MoreSinar matahari pagi menyelinap malu-malu di balik gorden, memberikan pencahayaan alami pada pemandangan yang sanggup membuat jantung Archy berdegup di luar irama normalnya. Di sampingnya, Joseph masih terlelap dengan posisi bertelanjang dada. Rambut hitamnya yang berantakan menutupi sebagian kening, sementara lengannya yang kokoh dan penuh tato melingkar posesif di pinggang Archy, seolah mengunci istrinya agar tidak beranjak ke mana-mana.Archy menopang dagu dengan tangan kirinya, menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat. Ia memperhatikan setiap inci wajah itu—bulu mata yang ternyata cukup lentik, hidung bangir, hingga rahang tegas yang semalam berkali-kali menyentuh ceruk lehernya."Ganteng banget sih, heran. Padahal kelakuan kayak gorila," bisik Archy pelan, jemarinya gatal ingin menyentuh tato di lengan Jo.Tiba-tiba, sudut bibir Jo terangkat membentuk seringai tipis. Tanpa membuka mata, ia menarik pinggang Archy hingga tubuh mereka menempel tanpa celah."Ih maen tarik a
Layar iMac di ruang kerja Archy menampilkan sederet foto hasil jepretan kemarin. Archy menopang dagu, matanya berbinar menatap setiap inci tubuh Joseph yang tertangkap kamera. Dengan latar belakang ranjang yang berantakan dan pencahayaan yang dramatis, Jo terlihat sangat maskulin, liar, namun tetap elegan."Sempurna," gumam Archy tanpa sadar.Diam-diam, Archy mengunggah beberapa foto itu ke akun portofolio profesionalnya tanpa mencantumkan nama asli Jo—ia hanya menuliskan 'The Muse'. Siapa sangka, dalam hitungan jam, notifikasi ponselnya meledak. Puluhan agensi model internasional dan beberapa brand fashion lokal bertanya-tapa siapa pria misterius itu. Mereka menawarkan kontrak iklan dengan angka yang fantastis."Chy! Lo apain foto gue?!"Pintu ruang kerja terbuka dengan dentuman keras. Jo masuk sambil membanting ponselnya ke meja. "Gue baru buka Instagram dan muka gue ada di mana-mana! Ini agensi-agensi dari mana lagi yang nge-DM gue? Mereka pikir gue mau jadi pajangan apa?!"Archy t
Kepulangan dari Amerika Serikat membawa Jo dan Archy kembali ke realita kesibukan di Jakarta. Meski begitu, suasana di antara mereka sudah jauh berbeda. Tidak ada lagi kecanggangan atau keraguan; yang ada hanyalah benang-benang asmara yang semakin hari semakin membelit kuat. Namun, ada satu aturan yang ditetapkan Papa Jo sebelum mereka pulang: Archy harus istirahat total dan mereka belum diperbolehkan melakukan hubungan suami istri sampai Archy benar-benar pulih seratus persen. Satu minggu di Indonesia, Archy mulai merasa bosan. Ia memutuskan untuk mulai mencicil desain terbarunya untuk koleksi musim panas pria. "Jo, berdiri di situ! Lepas kemejamu," perintah Archy sembari memegang kamera DSLR dan beberapa sketsa kain di tangannya. Jo yang sedang asyik menyesap kopi hitamnya langsung tersedak. "Apa? Lo mau jadiin gue manekin? Ogah! Cari model bule aja di agensi, banyak yang nganggur." "Enggak mau! Tubuh kamu itu proporsional banget, Jo. Bahu kamu lebar, pinggang kamu kecil, da
Sinar matahari pagi New York menembus kaca jendela ruang rawat inap dengan lebih ceria hari ini. Kondisi Archy sudah jauh membaik; rona merah di pipinya telah kembali, dan binar matanya tidak lagi sayu tertutup demam. Ia sudah bisa duduk bersandar di tumpukan bantal, meskipun selang infus masih setia menggantung di tangan kirinya.Di sofa seberang, Papa Jo duduk dengan wibawa tenangnya sembari melipat koran pagi. Sementara Joseph, seperti biasa, duduk di pinggir ranjang sembari mengupas jeruk untuk Archy—meskipun lebih banyak yang masuk ke mulutnya sendiri daripada ke mulut istrinya.Papa berdeham, suaranya yang berat seketika membuat suasana santai itu berubah menjadi sedikit formal. Ia menatap Joseph dengan pandangan yang sangat intens."Jo, dengerin Papa," ujar Papa pembuka. "Archy sudah membaik, tapi kejadian kemarin harus jadi pelajaran besar buat kamu. Papa tahu kamu masih muda, tapi kamu harus paham kapasitas fisik istrimu. Tubuh wanita itu memang kuat, tapi punya batasannya se
Rencana awal untuk terbang ke Paris dan menikmati romansa di bawah Menara Eiffel resmi dibatalkan. Alasannya? Sangat tidak logis bagi seorang Joseph Suryakancana, namun sangat mutlak bagi seorang Archy. Jo tidak mengerti kenapa istrinya berubah pikiran setelah menonton tayangan di Youtube."Aku mau
Sisa-sisa isak tangis di balkon tadi perlahan digantikan oleh kehangatan di ruang tengah. Joseph tidak membiarkan Archy menjauh darinya bahkan barang satu inci pun. Ia duduk di sofa dengan kaki panjangnya yang selonjoran, sementara Archy meringkuk nyaman di antara kedua kakinya, bersandar pada dada
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar, menyinari punggung lebar Joseph yang masih terlelap. Archy terbangun lebih dulu, ia berbaring menyamping sambil menatap wajah suaminya. Dalam tidur, wajah Jo terlihat jauh lebih tenang, tidak ada rahang yang mengeras atau tatapan tajam yang meng
Setelah mobil Joseph dan Archy meninggalkan pelataran rumah Eyang Putri, suasana di dalam kediaman besar itu perlahan mulai mencair. Nathan, yang awalnya berniat langsung pulang, terpaksa menunda langkahnya karena Mama memintanya mengambilkan kotak obat Eyang yang tertinggal di ruang keluarga.Namu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.