Sinar matahari sore menembus celah-celah daun bambu, menciptakan pola-pola cahaya hangat di atas rumput. Kedua anak kecil itu kini duduk melingkar bersama Martis, Estias, dan Brakas. Rasa takut yang semula membelenggu perlahan memudar, tergantikan oleh rasa hangat dari roti gandum dan air danau pemurni yang diberikan oleh Martis. Bocah laki-laki berusia 11 tahun itu ternyata masih terus memeluk erat adiknya yang berusia 7 tahun. Sang adik menyandarkan kepala kecilnya di bahu kakaknya, menggenggam erat pinggir kain lusuh sang kakak seraya menatap Martis dengan mata bulat yang bening. "Nama saya Rian," buka bocah laki-laki itu dengan suara kecil yang bergetar. "Dan ini adik saya, Lina." jelasnya pada Martis. "Rian dan Lina... nama yang indah," ujar Martis lembut. "Apa yang terjadi pada kalian hingga bisa terbaring pingsan di hutan ini, Nak?" Rian menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata seketika menetes perlahan, jatuh mengenai jemari tangan Lina. Kenangan buruk yang amat m
Ler mais