Esok harinya, fajar menyingsing di Ujung Timur Desa Lembah Asri. Cahaya keemasan mentari membias menyapu embun pagi di atas rumput, memancarkan kedamaian yang hangat di seluruh penjuru desa. Di teras rumah kayu, Mia dan Rafaela berdiri menemani Rian dan Lina yang baru saja terbangun dari tidur lelap mereka. Martis melangkah keluar dari teras setelah merengkuh lembut bahu Mia dan mengusap kepala Rian serta Lina. Di halaman depan, Estias dan Brakas sudah bersiap tegak. Zirah batu emas dan perunggu merah mereka berpendar dingin di bawah sinar mentari pagi, memancarkan aura Dominion yang sarat akan ketegasan mutlak, namun aura konyol pada mereka berdua tetap nampak, itu sepertinya sudah melekat dan tak bisa dibuang. "Martis," tegur Estias dengan suara berat yang teratur. "Jejak ke arah mana yang akan kita susuri?" Kali ini dia memasang wajah serius, namun justru terlihat lucu. Martis memejamkan matanya sejenak, mengaktifkan pendaran Mata Penglihat Kehampaan dari balik kelopak mata
Ler mais