Bagas tampaknya masih membutuhkan waktu agar leluasa membahas hal-hal yang sempat mereka ributkan semalam. Untungnya, semua itu tidak berpengaruh apa pun pada suasana meja makan pagi ini. Adem ayem saja seperti biasanya. Malahan adanya perdebatan antara ayah dan anak yang meramaikan sarapan mereka.“Memangnya Nagi yakin bakal kepilih lagi?” kata Bagas di sela-selanya mengunyah roti bakar dalam mulutnya, “Pede boleh, tapi jangan kepedean. Nanti kalau nggak kepilih malah nangis lagi.”“Kok Papa ngomong gitu? Nagi yakin pasti kepilih lagi kok. Nagi juga sudah coba latihan sama mba Ratih kemarin. Iya, kan, Bunda?” Kali ini Nagisa beralih pandangan ke arah sang bunda, berusaha mencari dukungan atas perkataan sang papa.Daya mengangguk. “Pokoknya siapa pun yang terpilih nanti, Nagi nggak boleh sedih loh, ya.”“Nangis pun nggak boleh?” Nagisa kembali bertanya.“Loh, ya boleh dong! ‘Kan sedih itu wajar, Sayang. Tapi, nggak boleh lama-lama.”Diam. Ha
Terakhir Diperbarui : 2026-09-11 Baca selengkapnya