Denzel geram melihat Velove, napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan amarah yang nyaris meledak. Di balik kaca antipeluru, Velove masih tertawa, sebuah suara melengking yang terdengar seperti suara hinaan ditelinga Denzel. Langkah kaki Denzel yang awalnya hendak menerjang pintu sel tertahan tertahan oleh jemari halus Audrey yang melingkar di lengannya. “Denzel, mau ke mana?” Audrey mengerutkan dahi, menatap Denzel yang tampak menahan amarahnya. “Aku akan menghajarnya, Audrey! Dia tertawa seperti borang gula membuat ku muak!” geram Denzel. Audrey mengusap dada Denzel dengan lembut, "Denzel, jangan terpancing. Dia sengaja membuatmu kesal!" bisiknya lembut, matanya menatap Denzel dengan penuh permohonan. "Sekarang, Lorenzo tidak di sini. Kamu harus segera koordinasi dengan tim lain, kan?" Denzel memejamkan mata sejenak, mencoba menetralkan amarahnya yang terasa membakar pembuluh darahnya. Ia menoleh ke arah Audrey, melihat wajah istrinya yang masih pucat namun penuh keteguh
Last Updated : 2026-01-02 Read more