LOGINSetelah aktivitas mandi yang cukup panas dan menguras tenaga, Denzel membantu Audrey berpakaian. Mereka mengenakan pakaian serba hitam yang melambangkan duka sekaligus kesiapan untuk berperang. Denzel mengenakan jas hitam dengan rompi antipeluru di dalamnya, sementara Audrey mengenakan dress hitam sederhana namun elegan, lengkap dengan mantel yang menyembunyikan perlindungan yang sama, anti peluru. Mereka juga menyembunyikan senjata api dibaliknya. Denzel menggandeng tangan Audrey menuju lift. Wajahnya kini benar-benar mendingin, kembali menjadi sosok pemimpin Shaquille yang tak kenal ampun. "Ingat, tetap di dekatku. Jangan lepaskan tanganku sedetik pun saat kita di mansion dan pemakaman," bisik Denzel tegas. ”Iya, aku mengerti, Denzel!” Audrey mengangguk, ia menggenggam tangan Denzel erat, menyalurkan dukungan penuh lada suaminya. Saat mereka melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu di lobi, ponsel Denzel yang berada di saku jasnya bergetar pelan. Denzel tidak la
Denzel melirik Audrey yang masih terlelap dengan sisa-sisa rona merah di pipinya karena aktivitas panas beberapa jam yang lalu. Ia meraih ponsel itu dengan tangan yang kembali mendingin, seolah emosi hangat yang ia rasakan beberapa jam lalu langsung terhisap habis oleh insting waspadanya. Denzel menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. [Ya, Aksa. Ada apa?] Suara Aksa di seberang sana terdengar sangat berat, penuh dengan nada darurat yang membuat bulu kuduk Denzel berdiri. [Denzel, aku baru saja sampai di mansion. Jenazah Tuan Besar dan Nyonya sudah tiba dengan pengawalan ketat. Trustin sudah mengambil alih koordinasi keamanan di sini.] [Bagus. Lanjutkan prosesnya di mansion.] Denzel menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya. [Oke.. Lalu, bagaimana dengan anggota keluarga yang lain? Apa harus mengabari mereka?] [Jangan! Tidak perlu,] potong Denzel cepat. [Kondisi saat ini masih darurat. Lorenzo masih berkeliaran dan aku tidak ingin ada lebih
Denzel bersandar di dinding marmer yang dingin, kepalanya mendongak dengan mata terpejam, sementara napasnya tersengal siap merasakan kehangatan basah dan lembut yang akan membungkus pusat gairahnya. Audrey menatap Denzel dengan mata yang sayu namun penuh tekad. Tangannya yang lembut meraih Anaconda milik Denzel yang sudah menegang sempurna, berdenyut menuntut kebebasan. Perlahan, Audrey mendekatkan wajahnya, membiarkan napas hangatnya menyentuh ujung kejantanan Denzel yang sensitif. “Sshhh... Audrey... Lakukan, baby,” geram Denzel serak. Tanpa menunggu lama, Audrey mulai melumat ujung Anaconda itu dengan sensual. Ia menenggelamkannya perlahan ke dalam mulutnya, merasakan ukuran yang memenuhi rongga mulutnya hingga ke pangkalnya. Lidahnya mulai bermain, menjilat dan memutar di bagian kepala yang sensitif layaknya sedang menikmati es krim yang paling lezat di dunia. “Oouugghhh... Damn, baby! Kamu akan membuatku gila malam ini!” erang Denzel. Tangannya yang besar merayap ke kep
Setelah Denzel menyelesaikan administrasi dan surat kematian orang tuanya, ia segera menghubungi Trustin lagi untuk memastikan kondisi di mansion. [Trustin, apa semua baik-baik saja?!] [Tadi pengawal melaporkan ada yang mendekat kearah mansion, tapi.. Mereka telah memasang perangkap berlapis ratusan meter sebelum mendekat kearah Mansion! Jadi semua telah dilumpuhkan!] [Bagus Trustin! Kamu memang jauh lebih hebat masalah strategi perang.. Tadi Lorenzo kali mengancamku!] Denzel menceritakan apa yang Aksa laporkan dan pesan ancaman itu. [Hmm.. Oke, kirim tim ke area pemakaman sekarang.. Masukkan mata-mata kesana..! Besok lakukan eksekusi sesuai situasi dan kondisi seperti yang aku katakan.. Minta Aksa siapkan sekarang! Tapi kalau bisa temukan Lorenzo sebelum pemakaman! Aku akan hadir di sana!] [Oke, aku akan sampaikan pada Aksa! Terima kasih Trustin! Jaga dirimu! Minta pengawal buat perangkap lagi!?] [Tenang saja, kalau kamu mau kembali, beritahu dulu agar aku matikan sistem pera
Denzel menarik Audrey menjauh, melindunginya dari pemandangan mengerikan itu. Audrey menangis sesenggukan di dada Denzel, sementara di layar ponsel, Trustin mematung dalam diam, air mata mengalir deras di wajahnya saat menyaksikan kematian Papanya secara langsung. “Denzel, Papa dan Mama..” lirih Audrey. Belum sempat Denzel menanggapi, suara Trustin terdengar bergetar di layar monitor. [Denzel apa yang terjadi? Katakan Denzel, apa mereka.. Baik-baik saja?!] Belum juga Denzel sempat menjawab Trustin, dokter keluar dengan wajah tertunduk. Keheningan dan ketegangan yang menyiksa begitu terasa di lorong rumah sakit. ”Pak Denzel... Saya minta maaf. Tuan Besar Shaquille tidak bisa diselamatkan," ujar dokter itu pelan. "Dan Nyonya Besar Shaquille.. Beliau terkena serangan jantung yang terlalu parah akibat syok. Beliau menyusul Tuan Besar hanya beberapa detik kemudian." Dokter satunya menyampaikan hasil pemeriksaannya. Dunia seolah runtuh bagi Denzel. Dalam satu malam, ia menemuk
Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman saat Denzel melangkah lebar melewati lorong VVIP Rumah Sakit. Tubuh Audrey terasa bergetar di pelukan Denzel, sementara Aksa sibuk mengkoordinasi pengamanan di setiap sudut gedung. Helikopter medis tadi tiba lebih cepat, namun laporan dari unit gawat darurat membuat langkah Denzel terasa berat. "Kondisi Tuan Besar kritis, Denzel. Pendarahan internal akibat tekanan air laut terlalu ekstrem untuk seusianya.." bisik Aksa dengan nada rendah. Belum sempat Denzel menjawab, pintu ruang perawatan di sebelah ruang ICU terbuka. Wanita misterius yang pingsan di dermaga tadi keluar dengan bantuan kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. "Bawa aku padanya... Bawa aku pada suamiku," rintih wanita itu. Suaranya serak, penuh duka yang telah tertimbun belasan tahun. Denzel menatap wanita itu dengan emosi yang berkecamuk. Antara benci, rindu, dan keraguan. Namun mel







