Setelah rapat yang melelahkan itu selesai, Denzel segera menarik Audrey menjauh dari kerumunan kolega yang ingin menyalami mereka. Ia membawa Audrey kembali ke ruang kerjanya dan langsung mengunci pintu. Klik. Suara riuh tepuk tangan dari aula besar masih terdengar sayup-sayup hingga ke ruangan Denzel. Namun, bagi Denzel, kebisingan itu hanyalah latar belakang yang tidak penting. Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, fokusnya hanya satu, wanita di depannya. Denzel menyudutkan Audrey ke pintu. Napasnya memburu, matanya yang gelap menatap Audrey secara intens, seakan siap melahap istrinya sekarang juga. "Denzel... Tamu-tamu masih di bawah. Paman Jacksonville, Aiden, Elena, Trustin dan Bu sarah... Mereka akan mencari kita," bisik Audrey, suaranya bergetar antara cemas dan gairah. "Biarkan mereka mencari, aku hanya ingin meluangkan waktu sebentar," geram Denzel rendah. Tangannya merayap ke tengkuk Audrey, jemarinya membelai kulit halus di sana. "Aku sudah berpura-pura tenang di
Read more