Ladang Bangkai pun berhenti dari gerakannya, ia masih memasang kuda-kuda walau mulutnya lepaskan tawa yang lantang, seakan melecehkan jurus lawan tadi."Ha, ha, ha, ha...! Permainan seperti itu ternyata masih menjadi andalan bagimu, Demit Lanang! Murahan sekali!"Dengan masih bersikap dingin, Demit Lanang berkata, "Apakah kau mempunyai permainan yang tidak murahan! Jika memang kau memilikinya, tolong tunjukkan kepadaku dan aku akan menilainya juga, Ladang Bangkai!""O, jadi kau ingin menjajal kekuatanku? Baik, kurasa kau akan menyesal sesampainya di neraka nanti. Heaaahhh...!"Ladang Bangkai melompat dalam satu gerakan seperti bayangan berkelebat. Kapak lebarnya dihantamkan bagai ingin membelah kepala Demit Lanang.Wuukkk...Laapp...! Demit Lanang hilang, kapak itu menghantam tanah bekas tempat berdirinya si Demit Lanang.Jrruubb ..!Dan begitu Ladang Bangkai menengok ke kiri, ternyata Demit Lanang ada di sebelah kirinya dengan
続きを読む