Pagi datang tanpa suara, seolah takut mengganggu keheningan yang hangat di kamar itu. Alma terbangun perlahan, masih setengah terbuai mimpi, hingga matanya menangkap sosok Midas berdiri di depannya. Lelaki itu tersenyum. Memperlihatkan senyum yang tidak slengekan, tidak bercanda, melainkan tenang, lembut, dan penuh makna.Alma refleks duduk. “Aku… maaf. Sepertinya aku tertidur di kamarmu,” ucapnya pelan, ada rasa canggung yang manis di suaranya.Midas menggeleng pelan. “Tidak apa-apa.” Lalu, tanpa peringatan, ia menarik tangan Alma. “Bersiaplah. Kita keluar.”“Keluar?” Alma mengerjap. “Hei, aku belum mandi!”“Tidak perlu!”Beberapa menit kemudian, Alma menatap bayangannya sendiri di cermin, wig hitam dengan poni, topi ditarik rendah, jaket tebal menutup lekuk tubuhnya. Midas pun tak kalah asing, topi, kacamata gelap, jaket panjang. Mereka tertawa kecil, tertahan, seperti dua orang yang sedang melakukan kenakalan rahasia.Mereka keluar diam-diam, melewati penjagaan yang lengah, padahal
Last Updated : 2025-12-13 Read more