Mita masih menatap lelaki di hadapannya, seolah takut sosok itu menghilang jika ia berkedip terlalu lama. Lelaki di hadapannya adalah Midas yang sama, namun juga berbeda. Tatapannya kini dingin, sikapnya tegas, bahunya memikul terlalu banyak rahasia. Menjadi istri lelaki seperti itu… jantung Mita berdegup tak menentu. Ia mencintainya, itu pasti. Tapi cinta saja tak selalu cukup.“Midas,” suaranya bergetar, menahan ragu yang mengendap. “Apa… kau benar-benar mencintaiku?”Midas menoleh. Tak ada senyum berlebihan, tak ada kata puitis yang dipaksakan. Hanya kejujuran yang telanjang. Ia melangkah mendekat, meraih kedua tangan Mita, menautkannya di dadanya. “Dengar detaknya,” ucapnya pelan. “Setiap detik yang masih ada, nyawaku sekarang milikmu. Aku… mencintaimu, dan aku sadar itu.”Mita tercekat.“Aku sudah kehilangan terlalu banyak,” lanjut Midas, nadanya rendah namun pasti. “Dan aku tak akan kehilanganmu. Aku akan menemui ayahmu. Bukan untuk formalitas. Tapi untuk meminta izin, dengan ca
Last Updated : 2026-01-02 Read more