Midas tertawa keras. Bukan tawa gila, melainkan tawa rendah yang menggema di ruangan sempit itu, membuat Tomi tanpa sadar mundur setengah langkah. Matanya yang dingin menatap lurus, seolah jeruji, ancaman, dan tekanan tak pernah ada.“Kau lucu, Tomi,” ucap Midas tenang, senyumnya miring. “Kalian semua terlalu percaya bahwa aku bisa disingkirkan.”Tomi menelan ludah. Ia memaksakan nada tegas, lalu mengeluarkan kartu terakhirnya. “Aku akan mengadakan jumpa pers. Aku akan membersihkan namamu. Mengatakan ke publik bahwa kau bukan pencipta virus itu. Ini jaminanku.” Ia berhenti sejenak. “Tapi ada syarat.”Midas menyilangkan tangan, menunggu, seperti raja yang tahu bidaknya akan jatuh sendiri.“Tamrin,” kata Tomi akhirnya. “Dia terinfeksi J Blood. Kau harus menyembuhkannya.”Ruangan itu hening. Lalu, Midas tertawa lagi. Kali ini lebih pelan, lebih berbahaya. Ia mendekat, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Tomi. “Kau baru saja menyerahkan lehermu sendiri.”Senyum Midas melebar, penuh ke
Last Updated : 2025-12-26 Read more