Fayyara yang berada di samping Verlyn langsung pasang badan, tapi Verlyn dengan tenang mengoperasikan tangannya pelan, menahan sekretarisnya agar tidak bertindak jauh. Verlyn menatap sosok pria di hadapannya. Pakaian Steven tampak sedikit kusut, matanya menyiratkan lelah dan penyesalan yang dalam. Verlyn menghembuskan napas pendek, lalu mengangguk tipis. Ia tahu urusan masa lalu ini harus diselesaikan secara tenang dan dewasa agar tidak ada lagi ganjalan menjelang hari bahagianya. "Fayyara, tunggu di dalam aja. Aku bakal bicara sebentar sama dia," ujar Verlyn tenang. "Tapi, Nona—" "Enggak apa-apa, cuma sebentar," potong Verlyn lembut tapi tegas. Verlyn kemudian menatap Steven. "Kita bicara di taman belakang gedung saja. Di sini terlalu terbuka." Tanpa menunggu jawaban, Verlyn melangkah lebih dulu menuju area taman terbuka di bagian belakang gedung Kizen Group. Steven berjalan di sisinya,
Read more